
Di sana Reagan mengeluarkan banyak keringat dan tubuhnya agak gemetar...
"Sial" gummanya pelan.
Drertdrertdretr-
Suara ponsel milik Jay berbunyi...
"Mengganggu saja" ucapnya sambil mengangkat teleponya.
"Ada apa?" ucap Jay....
"Yasudah aku akan kesana sebentar lagi" kalimat terakhir Jay lalu menutup teleponnya.
"Baiklah sudah bermain-mainnya, aku akan datang lagi" ucap Jay sebari mengabil jas nya dan beranjak pergi.
"Lepaskan borgolnya" ucap Reagan tidak jelas.
"Ah, aku lupa" jawab Jay sebari melemparkan kuncinya ntah kemana (tidak terlihat karena gelap) lalu pergi begitu saja.
...
"Sial!!! sial!!! sial!!! aaaaagkkhh" teriak Reagan dengan sekencang kencangnya sebari memukulkan tangannya ke lantai sampai luka dan darah terpampang, dan suaranya benar-benar terdengar sampai keluar kamar.
Sangat terasa aura marah menyelimuti ruangan itu, ditambah dengan kamarnya yang sudah hancur berantakan. Reagan duduk di bawah lantai pinggir kasur dengan nafasnya yang tidak stabil, di tambah lagi kepalanya yang sedikit mulai pusing.
Ia menunduk, mengeluarkan suara seperti menangis, namun... dia tidak mengeluarkan air mata sedikitpun...
Ruangan yang gelap penuh dengan kenangan masalalu yang mulai muncul di pikirannya, ia menggretakkan gigi dan memegang kepalanya dan menahan rasa sakit yang tidak terpampang bentuk fisiknya...
"Reagan?! kau dimana?" tanya Eldpora yang tiba-tiba datang, dan ia tidak membawa senter tafi karena kehabisan baterai, alhasil ia harus menebak-nebak jalan.
__ADS_1
...
"Keluar" ucap Reagan dingin.
"Ya, benar, aku harus menyalakan lampunya dulu" ucap Eldpora.
"Jangan ngalakan lampunya!!" ucap Reagan yang tiba-tiba meninggikan suaranya dan membuat Eldpora terkejut.
Lagi-lagi Reagan mengeluarkan suara menahan sakit, suara tarikan dan hembusan nafas yang sangat terdengar...
"Aku harus apa?, lagi-lagi aku seperti ini" ucap Eldpora dalam hatinya yang bimbang.
...
"Hentikan!!! hentikan!!! hentikan!!!" ucap Reagan sebari mengeluarkan suara kesakitan dan tiba-tiba menutup matanya dengan kencang.
Ia merungkup kesakitan di lantai, dan Eldpora masih terdiam membeku di depan pintu, ia sekilas melihat penampakkan Reagan karena cahaya yang melewati celah jendela yang terbuka.
"Aku harus nyalakan lampunya dulu!" tekatnya dalam hati yang akan beranjak pergi.
Namun sebelum itu, tiba-tiba petir menyambar dan cahayanya lebih menerangi ruangan kamar itu, dan Eldpora melihat seutuhnya keberadaan Reagan yang tergeletak lalu di susul dengan hujan yang sangat lebat...
Dan Eldpora tiba-tiba tertegun lalu terjatuh karena melihat keadaan Reagan dengan tubuh yang penuh luka, keadaan tragis yang baru saja ia lihat pertama kali. "Reagan" panggilnya pelan.
Eldpora menutup mulutnya dan mulai menangis karena apa yang ia baru lihat barusan. Namun ia berusaha tidak terdengar seperti menangis...
Eldporapun berusaha mendekati Reagan...
__ADS_1
Ia berjongkok di sebelah Reagan yang terbaring telungkup di lantai, "apa kau baik-baik saja?, apa sangat terasa sakit?" tanyanya sebari perlahan memegang bahu Reagan.
Reagan tidak menjawab, ia masih bergumam seperti tadi, seolah-olah ada orang yang menyerangnya. "aku mohon jangan seperti ini" ucap Eldpora sambil memandang punggung Reagan yang penuh dengan luka.
"Lelaki itu merobek-robek baju Reagan?" gumamnya dalam hati sebari melihat beberapa kain yang tersobek seperti baju di lantai.
"Apa yang kamu sembunyikan selama ini" gumam Eldpora.
"Bangunlah, jangan seperti ini! kenapa kau seperti ini! ini membuatku takut!" ucap Eldpora yang semakin menangis.
"Buka matamu! jangan melihat bayangin itu!" ucap Eldpora beberapa kali sebari menepuk-nepuk wajah Reagan sampai Reagan membuka matanya.
"Tenanglah" gumamnya pelan sebari menatap lembut Reagan.
Eldpora memegang tangannya Reagan yang masih belum tenang itu, kepalanya semakin terasa sakit dan sakit...
Dan terus mengeluarkan suara menahan rasa sakit itu, Eldpora mengangkat dan membuat Reagan duduk. "dia menyiksaku, dia akan membunuhku" gumam Reagan tidak jelas.
Eldpora menempatkanya di pelukannya, Reagan masih belum tenang dan badannya terus bergetar, "kau akan biak-baik saja disini" ucapnya.
"Bahkan dia tidak mengeluarkan air matanya saat ia seperti ini" gumamnya.
"Dia pasti benar-benar trauma akan sesuatu hal, apa sebab pria tadi?, tapi bukanya mereka kekasih? (apa? bagaimana?)" lanjutnya.
"Aku benar-benar khawatir dengan lukanya! apa-apaan luka ini, aku melihatnya tidak bisa tenang, aku seperti melihat kegelapan dalam dirinya yang membuatnya tidak punya hati" ucap Eldpora dalam hati yang terus menyeka air matanya itu.
.
.
Bersambung~
__ADS_1
•
Terimakasih