Nona CEO & Mr.Mafia

Nona CEO & Mr.Mafia
peur


__ADS_3


Tiba-tiba Reagan sudah ada di depan pintu dengan tatapan mata yang biasa, yang terus mengarah pada Eldpora. Tatapannya memang biasa, namun itu cukup menyeramkam...


Eldpora seketika terjatuh dan kelopak matanya melebar saat melihat Reagan, "bukanya kau bilang ingin pergi makan? kenapa ada di sini?" ucap Reagan sangat dingin sambil perlahan mendekat pada Eldpora.


"tidak, jangan mendekat!" teriak Eldpora sebari berusaha untuk bangun dan melangkahkan kakinya ke belakang.


Tangan Eldpora terus meraba meja dan memegang tempat lilin dan melemparkannya pada Reagan, Reagan terus mendekat namun tatapan matanya berubah menjadi kemarahan.


"Jelaskan padaku apa itu?" tanya Eldora berusaha untuk tenang.


"Kau bisa melihatnya sendiri bukan?" ucap Reagan dingin.


"Kenapa ada potoku disana?, siapa orang-prang di poto itu?" tanya Eldpora yang semakin serius.


"Keluar, itu bukan urusanmu" ketus Reagan.


Eldpora seketika berlari keluar dengan nafas yang tak beraturan meninggalkan Reagan sendiri disana, Reagan terdiam dan melihat papan kaca yang sudah ia buat, banyak sekali poto-poto wajah orang di sana, poto yang sudah di beri tanda X berwarna merah dan ada yang tidak.


Termasuk juga terdapat poto Eldpora, "hampir saja dia melihat ini" gumam Reagan pelan mendekat ke papan itu dan membuka spase kosong yang terdapat di belakang papan, dan mengambil sebuah toples kaca yang di balut dengan kain berwarna merah.


Reagan mengambil dan menaruhnya di meja, lalu membuka kain merah itu. "Tuan aku masih belum mengerti kenapa kau menyuruhku mengambil satu ma*a musuhmu setelah membu*uhnya, benarkah hanya sekedar tanda peringatan darimu?" gumam Reagan pelan setelah melihat isi botol kaca itu.

__ADS_1


Ya, botol kaca itu adalah sebuah bukti berapa orang yang telah Reagan bu*uh, namun ma*ta-ma*a yang Reagan ambil hangalah ma*a orang dengan pangkat tertinggi yang terlibat dalam kasus yang ia kerjakan.


"Menjijikan menyimpan milik orang-orang seperti mereka" ketus nya sambil membungkus botol itu lagi dan menyimpannya di tempat yang berbeda.


"Sepertinya aku harus menyuruh Han untuk memasang kunci scan wajah di pintu ruangan ini" ucap Reagan sebari pergi dari ruangan itu dan menutup pintunya.


...


...


"Apa magsudnya tadi?" Tanya Eldora pada dirinya sendiri yang kebingungan di dalam kamarnya.


"Biasanya seorang pembunuh berantai yang memiliki hal seperti itu" Pikirnya yang semakin cemas akan keberadaan Reagan.


Dan tanpa sengaja ia menabrak Reagan yang berada di belakangnya, ia tersungkur, namun Reagan dengan cepat menggapai tangan Eldpora. "Apa hobimu sekarang menabrakku?" tanya Reagan yang masih memegang tangan Eldpora.


"Tidak, Lepas" jawab Eldpora.


"Kenapa?, takut padaku?" ucap Reagan datar.


"Menurutmu?" ucap Eldpora yang datar dan melebarkan kelopak matanya.


"Siapa yang tidak takut padamu?" lanjutnya dengan tegang.

__ADS_1


"Aku pikir kau tidak takut padaku, bukankah begitu?" ucap Reagan yang terus memojokkan tubuh Eldpora ke tembok.


...


Suasana hening tiba-tiba menyelimuti ruangan itu karena tidak ada satupun kata terucap dari mulut Eldpora, ia hanya sedikit menunduk dan diam...


Reagan melihat wajah Eldpora dengan detailnya, terlihat bulu mata Eldpora yang sangat panjang terpampang dari sudut pandang Reagan, dan juga bibirnya yang terlihat menggoda.


Reagan menaruh tangannya di bawah dagu Eldpora dan menggerakkannya ke atas, mata mereka saling menatap satu sama lain, dan Reaganpun memejamkan matanya lalu mulai mencium Eldpora dengan lembutnya.


Namun Eldpora masih saja terdiam dan matanyapun tidak berkedip, mata Eldpora malah melihat langit-langit kamarnya lalu pikirannya entah kemana. Air mata perlahan menampakkan dirinya di ujung mata Eldpora.


"Bukankah kau akan lari jika benar kau takut, atau bahkan membenciku?, kau selalu berkata kau akan pergi dari sini, tapi yang kurasa kau tak bisa meninggalkan tempat ini, atau bahkan tak bisa meninggalkanku" ucap Reagan tenang.


Mendengar itu Eldpora menatap Reagan tajam, namun Reagan menatap Eldpora dengan tatapan kosongnya. "Banyak kesempatan di hari-hari kemarin untuk kau bisa pergi, dan bahkan saat itu kau lebih memilih menolongku ketimbang kau pergi lalu mewujudkan keinginanmu untuk membongkar semua kejahatanku. Bukankah begitu?" lanjutnya.


.


.


~


__ADS_1


terimakasih ❤️


__ADS_2