Nona CEO & Mr.Mafia

Nona CEO & Mr.Mafia
frisson


__ADS_3


"Aku benar-benar khawatir dengan lukanya! apa-apaan luka ini, aku melihatnya tidak bisa tenang, aku seperti melihat kegelapan dalam dirinya, apa ini yang membuatnya tidak punya hati?" ucap Eldpora dalam hati yang terus menyeka air matanya itu.


"Apa? kenapa aku jadi mewajarkan itu?!" ketusnya kesal dengan pikirannya yang tak karuan itu.


...


"Dia sudah agak tenang... sebaiknya aku nyalakan lampu dulu" gumam Eldpora dalam hati.


"Kau sudah tenang? aku akan nyalakan lampu, kau diam diaini dulu ya?" ucap Eldpora.


Reaganpun menyandarkan dirinya di ujung kasur dan Eldpora bergegas pergi untuk menyalakan lampu, namun saat menuruni tangga lampu rumah semua tiba-tiba menyala dan saat Eldpora di ruang tamu untuk keluar ia mendapati satu pelayan yang masuk...


"Nona? ada apa tadi? kenapa semua lampu rumah tadi mati?" tanya si pelayan.


"Itu... " ucap Eldpora yang terputus.


"Bagaimana ini? apa aku harus menjelaskan kejadian tadi... tapi Reagan..." gumamnya dalam hati.


"Aku juga tidak tahu, tadinya aku juga mau periksa apa yang terjadi..." ucap Eldpora.


"Apa nona dan tuan Reagan tidak apa-apa?" tanya si pelayan lagi.


"Iya tidak apa-apa" ucap Eldpora...


"Kalo gitu saya kempali ke rumah belakang ya, permisi" ucap si pelayan sebari memberi salam.


...

__ADS_1


"Huft, lalu sekarang bagaimana?" ucap Eldpora dalam hati sebari berjalan balik menuju kamar Reagan.


... "Apa aku seharusnya pergi sekarang?, dan tadi kenapa aku tidak mencelakainya saja?" ucap Eldpora yang tiba-tiba berhenti berjalan dan menatap pintu keluar.


"Kenapa aku ini?!!, aaahh aku sudah gila" ucapnya yang berlari ke arah kamar Reagan.


...


"Reagan" panggilnya saat masuk kedalam kamar Reagan, namun ia tidak melihat Reagan di sana.


"Kamarnya benar-benar hancur" gumam Eldpora pelan.


"Kau dimana?" ucapnya yang sedikit meninggikan suaranya, dan berjalan kearah dress room dan ia melihat Reagan disana sedang memakai kaos.


Mereka saling menatap, namun mereka tidak mengucapkan satu katapun. "pergilah" ucap Reagan dingin.


Eldpora tidak menjawab dan malah terus melirik Reagan terus, tidak sekalipun berkedip. "jangan menatapku seperti itu" ucapnya lagi.


"Aku tidakpapa pergilah" ucapnya.


Eldpora tetap terdiam menatap Reagan sebelum akhirnya membalikkan badan untuk pergi...


"Tunggu, aku ingin meminta sesuatu" ucap Reagan.


"Rahasiakan semua yang kau lihat tadi" lanjutnya.


"Kenapa di rahasiakan?" tanya Eldpora menatap Reagan.


"Patuhilah apa yangku katakan dan pergilah" ucap Reagan yang menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan kencang.

__ADS_1


"Ibu... maafkan aku telah menaruh simpati pada orang yang telah membunuhmu" gumam Eldpora dalam hati sebari melangkahkan kaki untuk pergi dengan kepala menunduk.


...


Reagan terduduk dan bersandar di pintu kamar mandinya, ia bengong dan terus menatap langit-langit kamar mandi.


"Ibu... apa aku salah? apa aku telah mengecewakanmu selama ini?" gumamnya pelan.


"Apa jika ibu disini ibu akan biarkan saja semuanya berjalan seperti ini?, aku lelah... tapi aku sungguh tidak apa-apa, ibu jangan khawatiri aku disana, kita akan bersama lagi setelah aku menyelesaikan semuanya... tunggu aku..." lanjutnya sebari berusaha berdiri dan berjalan ke shower room untuk memberikan dirinya.


Ia membuka semua pakaian yang ia kenakan dan mulai membasahi dirinya, menutup mata lalu membilas rambut sesikit demi sedikit... perlahan bayangan-bayangan kejadian saat Reagan masih kecil muncul tak jelas, dimana awal mula luka di punggungnya itu terbuat.


Reagan berusaha untuk tidak ingat dan melupakan kejadian-kejadian itu, namun...


"Kenapa dia sampai bisa kemari!!!!!!" teriak Reagan yang sangat-sangat keras sambil memukulkan tangannya dua kali yang penuh luka itu ke penghalang kaca di shower room sampai kaca itu retak...


...


"Aku takut.." gumam seseorang terkejut di sofa dress room dekat pintu kamar mandi, yang ternyata itu adalah Eldpora, ia datang untuk membawakan peralatan obat yang ia simpan di kursi sebari menunggu Reagan selesai.


"Sepertinya lebih baik aku kembali saja, dia benar-benar marah" gumamnya dalam hati gemetaran dan pergi dengan perasaan khawatir.


Eldpora akhirnya berjalan cepat, dan buru-buru masuk ke kamar itu, menutup pintu dengan tergesa-gesa, iapun duduk di ujung kasur dengan bola mata yang tak bisa diam...


.


.


Bersambung~

__ADS_1



terimakasih 🌤️


__ADS_2