
Dokter telah memberitahu Feng hasil dari pemeriksaan Astrid dan Astrid dinyatakan mengalami amnesia disosiatif yaitu penderita mengalami trauma psikologis. Trauma psikologis yang dialami bisa seperti depresi, stres, menjadi korban pemerkosaan atau kejahatan lainnya. Biasanya peristiwa yang dilupakan adalah peristiwa traumatik di masa lalu atau yang memberikan stres yang berlebihan kepada orang tersebut.
"Dalam kondisi ini, pikiran atau perasaan dan informasi yang menyebabkan trauma akan dibuang oleh otak untuk menghindari rasa sakit akibat trauma" jelas Dokter.
Feng sedih dengan informasi yang diberitahukan oleh dokter. Itu artinya mengingat Feng adalah salah satu yang membuat Astrid depresi dan dia membuang semua kenangan mereka yang menurut Astrid menyakitkan.
Dokter menyarankan agar Astrid melakukan sesi therapi kontrol dengannya, agar dia mulai bisa menghadapi hal-hal yang membuat dia trauma dan setress.
Feng terduduk lemah setelah keluar dari ruangan dokter. Feronica melihat Feng dan menghampirinya.
"Feng, apa yang terjadi?" cemas Feronica. Dia mengajak Feng untuk berdiri.
"Mama! Kenapa Mama, di sini?" heran Feng. Dia melihat kesekeliling. Feng berpikir mungkin Feronica ke sini bersama Fidelia.
"Fidelia, sedang melahirkan." Feronica mengajak Feng pergi dari sana mereka berjalan menuju kamar rawat inap Astrid.
"Fidelia, sungguh beruntung," cicit Feng. Ini adalah kelahiran anak kedua Fidelia.
"Kau dan Astrid masih punya kesempatan. Suatu saat kalian akan memiliki anak kembali," do'a tulus Feronica. "Apakah Astrid baik-baik saja?" tanya Feronica.
Feng kemudian menceritaka kondisi Astrid.
"Bukankah itu hal baik?' ucap Feronica, dia menghentikan langkahnya.
"Maksud Mama?" heran Feng, dia juga ikut berhenti.
"Ini kesempatanmu, untuk meraih cintanya dan anggap saja kau memulai dari nol lagi," saran Feronica.
"Benar, terima kasih, Ma." Feng mencium pipi ibunya kemudian berlari meninggalkan Feronica.
Feng membuka pintu kamar Astrid.
"Bagaimana? Apa hasilnya? Aku tidak gila, bukan?" cecar Astrid begitu Feng ada di sana.
"Tidak, kau tidak gila, kau normal," jawab Feng. Dia terus mendekati Astrid.
"Apa aku katakan, test itu hanya membuang-buang uang saja," kesal Astrid. "Kenapa nenek belum juga sampai?" Astrid melihat ke arah pintu berharap Su Yi segera datang. Astrid benar-benar merasa tidak nyaman hanya berdua dengan Feng saja.
Insting Astrid mengatakan bahwa dia harus menghindari Feng dan jangan berurusan dengannya.
"Tenang saja, biaya rumah sakit telah aku bayar," jawab Feng. Dia duduk di samping Astrid.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Pergilah! Menjauh dariku. Aku merasa tidak nyaman!" hardik Astrid.
Pintu dibuka dan Su Yi masuk. Astrid dan Feng memandang ke arah Su Yi. Astrid merasa lega saat melihat Su Yi.
"Nenek!" Astrid tersenyum dengan kedatangan Su Yi.
Su Yi membawakan makanan untuk Feng.
"Feng, apa kau sudah makan?" Su Yi membuka kantong yang dibawanya.
"Belum,"
"Kalau begitu makan ini." Su Yi menyerahkan makanan kepada Feng.
"Terima kasih." Feng memakan makanannya. Dia memang sangat lapar, apalagi Feng merasa otaknya bekerja sangat keras. Hari ini Feng sengaja izin tidak masuk kantor. Bersyukur Kevin mengizinkannya.
"Nenek, apakah harus Mr. Li yang menjagaku?" Astrid masih mencoba membujuk Su Yi, agar hanya Su Yi yang menjaganya.
"Astrid, Bukankah, Feng menjagamu dengan baik?"
"Benar, hanya saja aku merasa tidak nyaman. Apakah aku sudah boleh pulang?" harap Astrid.
"Kita hanya bisa menunggu informasi dari dokter," Su Yi mengambil jeruk dan membukanya.
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku, kenapa aku berada di sini?" tanya Astrid tiba-tiba. Dia memang sering menanyakan hal itu. Namun, baik Feng maupun Su Yi tidak ada yang menjawab.
Feng menyudahi makannya, meminum dan menutup makanan. Feng berdiri menuju arah Astrid.
"Kau mengalami keguguran." akhirnya Feng mengatakannya. Semoga hal ini tidak membuat Astrid sedih.
"Apa? Aku hamil dan keguguran?" Astrid meyakinkan diri bahwa yang didengarnya tidak salah?
"Ya, sayang," Kali ini Su Yi yang menjawab. Dia memberikan jeruk kepada Astrid.
"Apa itu anakmu?" Astrid berharap itu tidak benar. Jika dia pernah hamil anak Feng, bagaimana dengan Collin? Astrid ingat dia hanya menyukai Collin. Lalu, bagaimana dia bisa punya anak dengan Feng?
"Ya,"
"Apa karena itu kau menjagaku? Bagaimana bisa? Tapi, itu tidak masalah lagi. Aku sekarang baik-baik saja, kau boleh pergi. Aku tidak peduli hubungan apa yang kita miliki," cerocos Astrid.
"Aku tidak akan pergi, kau istriku." Feng telah duduk di samping brangkar Astrid dan menggenggam tangan Astrid. "Aku akan selalu menjagamu." Feng memeluk Astrid.
__ADS_1
Seketika harapan Astrid untuk bersama Collin sirna. Su Yi pun tidak mengatakan apa-apa, dia telah berjanji memberi Feng kesempatan.
"Nenek, katakan apakah itu benar?" mohon Astrid beharap ini tidak benar. Su Yi hanya diam saja. Diam Su Yi diartikan Astrid bahwa dia memang telah menikah dengan Feng. "Tidak, ini tidak benar. Aku mencintai Collin, bagaimana bisa aku menikah denganya," panik Astrid.
Su Yi menjadi tidak tega, dia ingin mengatakan yang sebenarnya. Feng tahu maksud Su Yi.
"Nenek, bisakah memberi waktu kami?" pinta Feng.
Su Yi mengerti, dia kemudian keluar, memberi waktu kepada Feng dan Astrid.
"Astrid, aku tahu kau masih bingung, kau mengalami hilang ingatan sebagian. Jadi kau melupakan beberapa hal," terang Feng.
Astrid berpikir, apakah ingatan yang hilang itu adalah saat dia menikah dengan Feng? Apakah dia mencintai Feng sehingga menikah dan memiliki anak dnegannya?
Astrid sangat mengerti dirinya, dia tidak akan mau menikah maupun memberikan ke perawanannya, jika dia tidak mencintai orang itu dan apakah itu artinya dulu Astrid mencintai Feng? Akan tetapi, bagaimana dengan instingnya yang mengatakan bahwa dia harus menjauh dari Feng karena akan membuatnya terluka?
"Bisakah kita bercerai?" pinta Astrid akhirnya. Feng menatap tajam mata Astrid. Dia tidak menyangka Astrid akan mengatakannya.
Astrid dapat melihat kesedihan dari tatapan Feng. Entah mengapa Astrid menjadi tidak tega.
Apakah pria di depannya ini mencintainya?
"Aku tidak akan berpisah denganmu," jawab Feng akhirnya. Dia beranjak dari brangkar Astrid dan menghadap jendela luar. Mencoba menenangkan perasaannya yang terluka karena permintaan Astrid.
Feng tidak boleh menyerah, dia harus berjuang. Hanya Astrid yang dia inginkan.
"Maaf, bagaimana mungkin aku bisa bersamamu sementara aku tidak ingat," cicit Astrid. Feng kembali menghadap Astrid dan duduk di sampingnya. Dia kembali menggenggam tangan Astrid.
"Beri aku kesempatan, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku," mohon Feng.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Sambil nunggi silahkan baca karya trman author ya
...CINTA & DENDAM...
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad