One Night Only

One Night Only
Collin dan Astrid


__ADS_3

"Kau benar. Kita tidak menyadarinya," balas Collin. Maksud Collin adalah dia baru menyadari keberadaan Astrid sebagai seorang wanita saat ini. Selama ini dia hanya menganggap Astrid sebagai adik perempuan yang harus dilindunginya, tidak lebih.


Astrid mengangkat tangan dan membentuk bingkai, seolah-olah dia tengah memfoto langit yang berbintang.


"Lihat ada bintang jatuh!" tunjuk Astrid pada cahaya yang seperti hujan meteor. Collin mengalihkan pandangannya yang tadi melihat Astrisd menjadi melihat ke langit.


"Jarang kita melihat pemandangan ini," sahut Collin.


"Indah, sangat indah, sepertinya kita harus sering-sering ke sini hanya untuk melihat keindahan ini," ujar Astrid, dia masih fokus memandang langit yang dihiasi bintang.


Collin mengangkat sedikit tubuhnya dan menghadap Astrid dengan cara menyamping. Collin memperhatikan wajah Astrid, entah sejak kapan Astrid bertransformasi menjadi wanita yang cantik?


Apakah Collin yang tidak menyadarinya atau karena dia hanya melihat Astrid seperti anak-anak yang harus dia lindungi?


Collin menyingkirkan sejumput rambut Astrid yang dengan nakal menutupi wajahnya. Collin menyelipkan rambut tersebut ke telinga Astrid. Collin menatap intens ke arah Astrid, fokusnya ke bibir pink Astrid. Astridpun menatap Collin dengan tatapan memuja dan berharap Collin untuk menciumnya. Astrid melupakan perkataan Feng bahwa dia adalah suaminya. Karena Astrid belum bisa menerima itu.


Collin menyentuh bibir Astrid dengan sensual. Dia mendekatkan wajah ke arah Astrid bersiap untuk mencium bibir pink milik Astrid. Jarak di antara mereka semakin terkikis, lima centimeter lagi. Bibir Collin akan berada di bibir Astrid.


"Aw!" teriak Collin memegang kepalanya yang terkena lemparan kaleng minuman. Membuat momentnya yang akan mencium Astrid menjadi buyar.


Astrid duduk dari posisi tidurnya di pasir. Dia menatap cemas kepada Collin. "Kau baik-baik saja? Kau tidak apa-apa, bukan?" cerocos Astrid.


"Aku baik-baik saja," jawab Collin yang mengusap kepala belakangnya. Cukup sakit juga, hanya saja Collin menahannya, agar tetap terlihat keren di depan Astrid.


Jika dulu dia tidak peduli pandangan Astrid kepadanya, seperti apa. Sekarang dia harus mulai memikirkannya, agar Astrid tetap menyukainya.


Collin membingkai wajah Astrid dengan kedua tangannya. Menatap intens wajah Astrid. Hal itu seketika membuat Astrid memerah.


Apakah Collin akan kembali menciumnya? Melanjutkan kegiatan mereka yang tertunda?


Sementara Feng yang telah melempar Collin dengan kaleng, semakin kesal saat Collin masih mencoba untuk mencium Astrid. Feng mencari kaleng minumannya lagi. Feng memang telah keluar dari mobilnya dan bersembunyi di balik pondok.


Feng melihat batu kecil yang bisa dia jadikan untuk melempar kepada kepala Collin. Agar pikiran Collin tidak lagi mencoba untuk mencium Astrid. Astrid hanya miliknya. Feng bersiap melempar batu kecil tersebut. Namun, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Membatalkan niat Feng yang akan melempari Collin.


Hujan juga membatalkan niat Collin untuk mencium Astrid. Collin dan Astrid saling berpandangan, kemudian mereka tertawa. Collin berdiri dan menarik tangan Astrid untuk berdiri juga. Bukannya berteduh mereka malahan berlari saling mengejar.

__ADS_1


Feng masih memperhatikan mereka dan dapat Feng lihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Astrid.


Feng menjadi ragu, apakah dia tetap memperjuangkan Astrid atau membiarkan Astrid bahagia dengan Collin?


Feng memutar kepala, menghapus pikiran terakhir. Dia tidak boleh menyerah, dia belum melakukan apa-apa untuk memperjuangkan Astrid. Feng kembali menuju mobil dengan pakaiaan sedikit basah. Dia terus memperhatikan Astrid yang bermain hujan di pantai.


"Kenapa bisa hujan, ya? Padahal tadi cuaca sangat cerah," ujar Collin.


"Mungkin saja sedang ada rubah yang tengah menikah," sahut Astrid asal.


"Itu hanya mitos," balas Collin.


"Apapun itu, aku senang, kita bisa bermain hujan." Astrid kembali berlari sambil menarik ranting kayu membentuk garis lurus.


Collin kembali mengejarnya. Saat berhasil memegang Astrid, mereka berpelukan, sambil tertawa.


Collin menyadari bahwa dia harus berangkat bekerja. Dia melirik jam di tangan.


"Astrid, maaf, sudah waktunya aku pergi bekerja," ujar Collin memberitahu Astrid.


"Lain kali, kita akan melakukan kegiatan yang sama. Bagaimana kalau kita hiking?" tawar Collin.


"Bukan ide buruk," jawab Astrid.


"Ayo, aku antar ke rumah nenek Su Yi. Aku juga harus berganti pakaiaan. Kau juga, jangan sampai sakit." Collin berjalan menuju mobilnya, diikuti Astrid. Mereka masuk ke dalam mobil. Collin mengarahkan mobil ke rumah Su Yi.


Sebenarnya dari tempat mereka sekarang menuju rumah Su Yi, tidak jauh, dengan berjalan kakipun bisa.


Feng kembali mengikuti mobil Collin, dapat Feng lihat bahwa mereka menuju rumah Su Yi. Feng seidkit lega, setidaknya Astrid tidak bersama Collin lagi.


Astrid turun dari mobil Collin, melambaikan tangan saat mereka berpisah. Astrid ke rumah Su Yi dan Collin menuju rumahnya yang berada di samping rumah Su Yi. Rumah Collin menjadi tertinggal setelah rumah Su Yi di bangun ulang.


Feng menunggu sedikit jauh dan hanya memperhatikan rumah Su Yi. Tidak lama Feng melihat Collin yang keluar dari rumah dan memasuki mobilnya. Kemudian mobil Collin meninggalkan perkarangan rumahnya.


Setelah mobil Collin menjauh, Feng menjalankan mobil menuju rumah Su Yi. Feng keluar dari mobilnya dan mengetuk pintu rumah Su Yi.

__ADS_1


Su Yi membukakan pintu, dia melihat Feng yang juga sedikit basah. Sebelumnya Astrid yang basah kuyup datang. Su Yi tidak habis pikir kenapa mereka seperti sengaja basah.


"Feng!" panggil Su Yi. Dia membuka pintu rumah dengan lebar, memberi Feng akses untuk masuk.


"Nenek, aku datang untuk menjemput Astrid," ujar Feng.


"Apakah kalian bertengkar?" penasaran Su Yi. Dia tahu bahwa Astrid masih belum menerima tentang pernikahan mereka.


"Tidak, hanya saja Astrid, dia bilang ingin ke sini," balas Feng.


"Oh, syukurlah, jika kalian tidak bertengkar," tenang Su Yi.


"Dimana Astrid?" tanya Feng.


"Dia berada di lantai atas," jawab Su Yi. Feng langsung menuju lantai dua. Feng memang telah tahu seluk beluk rumah ini karena saat pembangunan ulang Feng sendiri yang diutus Kevin untuk memantaunya.


Kamar Astrid berada di lantai dua, sedangkan kamar Su Yi di lantai satu. Alasannya Su Yi tidak kuat lagi naik turun tangga. Feng menaiki tangga dengan cepat.


Feng membuka pintu kamar tanpa mengetuknya. Feng terpaku melihat pemandangan di depannya. Feng rela untuk waktu berhenti saat ini agar dia terus bisa melihat ini.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Astrid dia melempar bantal ke arah Feng. Membuat Feng kembali sadar. Bukannya keluar dan menutup pintu. Feng malah masuk dan menutup pintu. Bahkan Feng tidak malu melihat pemandangan yang menyambutnya.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambil nunggu aku up silahkan mampir ke karya temanku ya besties!


...CINTA BERTANDA MERAH...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2