
Selama diperjalanan Astrid memikirkan perkataan Su Yi tentang menstruasinya. Astrid memang belum haid lagi dan ini seharusnya sudah dua kali dia haid.
Astrid singgah ke apotik yang ada di jalan menuju halte bus. Dia membeli test pack. Meskipun ragu, Astrid harus mencobanya. Lalu, bagaimana jika dia benar-benar hamil? Apa yang harus dilakukannya? Apakah dia harus memberitahu Feng? Atau dia akan menjadi ibu tunggal? Tidak, Astrid tidak boleh membiarkan anaknya lahir tanpa ayah. Dia ingat dengan Hope, anak itu sangat menderita karena tidak memiliki ayah dan sekarang dia sangat bahagia. Jadi, Astrid pikir dia harus memberitahu Feng. Astrid menggelengkan kepala, untuk mengusir segala hal yang telah dia pikirkan. Toh, semua belum terjadi?
"Selamat pagi," sapa Astrid kepada pelayan apotik.
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan.
"Saya ingin membeli alat tes kehamilan," jawab Astrid dengan sedikit gugup. Dia takut jika ada tetangga yang melihat dia membeli alat itu. Dan Astrid tidak ingin menjadi bahan gunjingan mereka.
"Sebentar saya akan ambilkan beberapa merk yang bisa anda pilih." Penjaga apotik tersebut berjalan ke etalase yang berada di belakangnya dan mengambil beberapa alat tes kehamilan.
Astrid menunggu sambil memperhatikan sekelilingnya. Dia berharap jangan ada bertemu dengan tetangganya. Akan sangat kacau jika tetangganya tahu dia membeli alat tes kehamilan. Apalagi nyonya Huang yang terkenal sebagai biang gosip.
Penjaga toko kembali menghampiri Astrid dengan membawa beberapa merk tes kehamilan.
"Ini stock yang kami miliki, anda, mau yang mana, Nona?" tanya penjaga toko ramah, sambil menperlihatkan tes kehamilan yang telah dia ambil.
Astrid memilih alat tes kehamilan tersebut dan membaca kelebihan dan kekurangan masing-masing alat.
"Menurutmu, mana dari alat ini yang paling akurat?" Astrid meminta pendapat penjaga apotik.
"Merk ini yang biasanya sering digunakan." Penjaga apotik memberikan satu alat tes kehamilan.
__ADS_1
Astrid mengambilnya, dia juga membeli merk lain untuk lebih meyakinkan. Setelah membayarnya, Astrid langsung menuju halte bus.
Sampai di kantor, Astrid ingin segera mencoba alat tersebut. Beruntung masih pagi dan hanya beberapa karyawan yang datang. Astrid memasuki kamar mandi kantor dan mencoba alat tes kehamilan tersebut.
"Tidak, ini pasti salah," cicit Astrid, dia mencoba alat yang lain. Namun, hasilnya masih sama.
Semua alat tersebut telah digunakan dan hasilnya sama, positif. Astrid memasukan hasil test tersebut ke dalam kantongnya lagi dan membuangnya ke dalam tong sampah.
Astrid bingung, apa yang harus dilakukannya? Apakah perusahaan akan tetap memperkerjakannya?
Astrid ke luar dari kamar mandi dan duduk di kursi kerjanya. Wanita itu mengeluarkan ponsel, menimbang untuk memberitahu Feng.
"Kau sudah datang rupanya," suara Lena menganggetkan Astrid yang tengah melamun.
"Lena, ya aku sudah datang," gugup Astrid. Hal itu membuat Lena curiga. Apalagi Astrid sedikit pucat.
"Hah, benarkah?" Astrid memegang pipinya.
"Apa kau sakit?" Lena meraba kening Astrid.
Tidak panas.
Astrid menyingkirkan tangan Lena dari dahinya.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin hanya masuk angin, sebentar lagi juga baik." Astrid menghidupkan laptopnya.
"Jika kau sakit, sebaiknya istirahat saja," usul Lena.
"Tenang, aku baik-baik saja, kok."
Lena pasrah dan membiarkan Astrid mengerjakan pekerjaannya.
"Aku keluar sebentar." Astrid berdiri dari duduknya dan menuju balkon yang ada di ruangannya. Dia mencoba menghubungi Feng, untuk memberitahu tentang ini. Feng, tidak mengangakat telepon dari Astrid.
"Mungkin sebaiknya, aku harus ke dokter dulu, sebelum memberitahu Feng," batin Astrid.
Astrid kembali ke ruangannya.
"Astrid, kita ada meeting dadakan dengan perwakilan Li F group." Lena memberitahu Astrid.
"Apa?"
🍒🍒🍒
Tetap sabar menunggu ya, paling sisa 2 bab lagi sebelum benar-benar ending.
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
__ADS_1
Ig : lady_mermad
Tiktok : lady_mermad