One Night Only

One Night Only
Extra Part 11. Jujur ( End )


__ADS_3

"I--tu, Collin, ayah anak ini Collin," bohong Astrid.


"Jangan berbohong Astrid, dan kita jangan melakukan kesalahan yang sama," bujuk Feng.


Astrid mengingat kejadian dulu yang dia lupakan. Dia merasa seperti dejavu, saat Feng mendapatkan hasil test kehamilannya dan Astrid berbohong dengan mengatakan bahwa anak itu adalah anak Collin.


Astrid merasakan kepalanya pusing, kilas balik kejadian yang pernah dialaminya dengan Feng kembali sepotong demi sepotong.


Melihat Astrid yang memegang kepalanya, Feng menjadi khawatir.


"Astrid! Apa yang terjadi?" Feng memegang bahu Astrid dan mencoba memeluknya kembali.


"Lepaskan aku! Pergi!" usir Astrid. Dia menatap Feng dengan marah dan benci.


"Astrid! Jangan membuatku cemas!" Feng masih mencoba menenangkan Astrid.


"Bayiku, apa yang terjadi pada bayiku?" Astrid menangis, dia ingat saat Feng tidak sengaja melukainya.


Feng sadar, Astrid pasti telah mengingat kejadian yang mereka alami yang membuat Astrid keguguran.


"Maafkan aku, aku berjanji akan membuatmu bahagia dan melindungimu dan bayi kita." Feng kembali mencoba meraih Astrid.


"Tidak, bayi itu telah pergi. Aku bukan ibu yang baik, aku tidak bisa menjaganya," isak Astrid. Dia berdiri dari brangkar dan melepas selang infusnya. Astrid seperti orang yang setress, dia mencari sesuatu.


"Astrid! Apa yang ingin kau lakukan?" Feng cemas, jika Astrid melukai dirinya. Feng melihat darah di pergelangan tangan Astrid yang menetes akibat dia tarik paksa.


Feng mencoba mendekati Astrid lagi dan memeluknya dengan sekuat tenaga. Astrid memberontak.


"Tenanglah, ingat saat ini kau sedang hamil!" bujuk Feng.


Astrid berhenti memberontak. Feng merasa Astrid sudah tenang, melonggarkan pelukannya. Astrid, memegang perutnya.


"Bayiku, kali ini aku akan menjagamu," cicit Astrid.


Darah masih menetes dari pergelangan tangan Astrid. Feng menuntun Astrid kembali ke brangkar. Astrid menurut, Feng membersihkan darah dengan tissu. Feng, menekan tombol emergency.


"Ada yang bisa kami bantu?" suara perawat dari speaker.


"Infusnya lepas dan darah mengalir dipergelangan tangan istri saya," ujar Feng.


"Saya akan ke sana." perawat menutup panggilan.


Tidak lama perawat datang dengan membawa perlengkapan untuk membersihkan luka Astrid. Dia kembali memasang infus di pergelangan tangan satunya lagi. Sementara Astrid hanya pasrah. Dia sibuk dengan pikirannya. Setelah selesai perawat meninggalkan kamar Astrid.


"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Feng hati-hati.


Astrid menatap Feng, kemudian dia kembali menangis. Astrid telah menyadari bahwa, karena pikirannya sendiri dan prasangka yang belum tentu, membuat dia tidak jujur kepada Feng.


"Maaf!" hanya itu yang diucapkan Astrid.

__ADS_1


Bagaimanapun Astrid juga ikut andil dalam semua yang mereka alami. Seharusnya Astrid dapat merasakan bahwa Feng tulus mencintainya. Astrid ingat dengan catatan yang ditinggalkan Feng. Astrid tidak peduli lagi dengan asumsi orang terhadap hubungan mereka. Terserah jika orang-orang menganggap dia wanita matre dan tidak pantas bersama Feng. Yang terpenting Astrid mencintai pria ini dan pria ini juga mencintainya.


Feng tidak paham dengan permintaan maaf Astrid


"Maaf, untuk apa?" bingung Feng.


Astrid meraih tangan Feng dan menggenggam jarinya, kemudian mencium tangan Feng.


"Maaf, jika selama ini aku tidak jujur, aku hanya takut kau tidak mencintaiku dan tidak mengingingkan anak, aku--," Astrid tidak meneruskan kalimatnya karena Feng telah memotongnya.


"Aku sangat mencintaimu, asalkan kau wanita itu. Aku pasti ingin punya anak dan akan terikat selamanya bersamamu," sela Feng.


"Terima kasih, maaf karena aku berbohong, anak ini punyamu," jujur Astrid.


Feng memeluk Astrid.


"Aku tahu, hanya saja aku penasaran kenapa kau berbohong kali ini?" tanya Feng. Dia mengurai pelukannya dan menatap Astrid.


"Aku tidak ingin kau berpikir aku menerimamu karena kau kaya dan juga aku tidak ingin orang-orang menganggapku wanita matre." Astrid menundukan wajahnya, tidak berani menatap Feng.


"Aku tidak peduli jika kau wanita matre, yang penting aku mencintaimu. Kau boleh menghabiskan semua uangku."


Astrid memukul bahu Feng.


"Aku bukan wanita seperti itu," rajuknya.


Feng tersenyum dan mencium bibir Astrid sekilas.


"Apa mereka akan menerimaku?" Astrid cemas, jika keluarga Feng tidak mau menerimannya?


"Tenang saja, mereka pasti akan menerimamu."


*


*


*


Astrid telah keluar dari rumah sakit. Dia hanya satu malam berada di sana dan Feng menjaganya dengan baik. Feng telah meminta izin Su Yi untuk menikahi Astrid.


Astrid izin 2 hari tidak masuk kantor. Di hari dia keluar dari rumah sakit, Feng mengajak Astrid makan malam bersama keluarganya sekaligus memperkenalkan Astrid secara resmi kepada seluruh keluarga.


Astrid sangat gugup, dia tidak mematut bayangannya di cermin. Khawatir ada yang salah dengan penampilannya. Astrid memakai dress pendek di bawah lutut dengan lengan panjang. Gaun sederhana dengan motif floral berwarna peach. Terkesan adem dan sopan ditubuh Astrid.


Astrid turun ke lantai satu, Feng telah menunggunya. Feng memperhatikan penampilan Astrid yang anggun.


"Sudah siap?" Feng memberikan lengannya, agar Astrid bisa menggandengnya.


Astrid hanya tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


"Nenek, kami pergi," ujar Astrid.


"Hati-hati di jalan, semoga berhasil," ujar Su Yi, dia berharap cucunya mendapatkan kebahagiaan.


Astrid dan Feng sampai di rumah keluarga Li, rumah klasik nan mewah tersebut membuat Astrid kagum. Memasuki rumah semakin membuat Astrid kagum dengan isinya. Fidelia menyambut Asttrid dan Feng.


"Akhirnya kalian sudah datang, ayo, semua telah berkumpul di ruang makan," ujar Fidelia.


"Apa kami terlambat?" Astrid merasa tidak enak.


"Tidak, kalian datang tepat waktu." Fidelia berjalan menuju ruang makan, diikuti Feng dan Astrid.


Feng tahu Astrid gugup, dia menggenggam tangan Astrid, memberinya kekuatan.


"Tenang saja, mereka pasti akan menerimamu," bisik Feng. Tentu saja, Feng telah mewanti-wanti ayahnya, agar menerima dan bersikap baik kepada Astrid. Jika tidak Feng akan kabur lagi dari rumah.


Mereka sampai di ruang makan, di sana telah ada orang tua Feng, nenek, Jimmy, suami Fidelia serta anak pertama mereka.


"Nenek, Papa, Mama dna Jimmy, kenalkan Astrid, calon istri saya." Feng memperkenalkan Astrid kepada anggota keluarganya.


"Saya Astrid Yi, senang berjumpa dengan kalian." Astrid membungkukan badannya memberi hormat kepada keluarga Feng.


Fini Li, nenek Feng berdiri dari duduknya dan menghampri Astrid dan Feng. Dia mengelilingi Astrid memandangi Astrid dengan instens, Astrid merasa di trlanjangi. Hal itu membuat Astrid semakin gugup.


"Apa kau wanita subur?" tanya Fini.


"Mama!" sanggah Feronica. Dia merasa tidak enak dengan Astrid. Apa lagi Astrid beberapa bulan lalu baru mengalami keguguran. Feronica takut jika Astrid akan bersedih.


"Nenek tenang saja akan hal itu, delapan bulan lagi kalian akan mendapatkan anggota keluarga baru," bangga Feng.


Sementara Astrid menjadi malu, tentu saja, mereka belum menikah resmi tapi dia telah hamil.


"Itu berita bahagia, Feng ajak dia duduk," ujar Felix Li.


Feng mengajak Astrid duduk di kursi samping, tempat Feng biasa duduk.


Mereka makan sambil membahas kapan pesta pernikahan Feng dan Astrid akan digelar.


🍒🍒🍒


Akhirnya tamat juga, semoga kalian suka ya.


Terima kasih telah sabar mengikuti cerita ini. Mampir di karya saya yang lain ya. Saya akan fokus dikarya baru dan menyelesaikan karya The Last Vampir Hunter.


Untuk karya baru, jangan lupa mampir dan beri dukungan ya besties.


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2