
"Aku tidak mencari gara-gara denganmu, bukankah kau yang datang dan mencari gara-gara denganku?" sindir Astrid. Dia tidak akan mau diintimidasi oleh Mei Mei.
Apa pedulinya dengan siapa Mei Mei?
"Kau lancang sekali, lihat saja, dan aku tidak akan memanggilmu Kakak," elak Mei Mei. Dia tidak akan takut dengan senior karena direktur adalah keluarganya. Jadi dia merasa di atas angin.
"Terserah kau saja, asal jangan menggangguku," imbuh Astrid.
"Tidak level aku untuk mengganggumu," ejek Mei Mei.
"Kau merasa tidak level, Namun, merasa tersaingi, bukan?" sindir Astrid, sambim tersenyum meremehkan Mei Mei.
"Tersaingi? Denganmu? Apa kau tidak memiliki kaca di rumah? Kau berada jauh dari levelku. Lihat saja pakaiaanmu terlalu memaksakan dan membeli barang palsu," ejek Mei Mei.
"Palsu? Berarti kau tidak bisa membedakan yang asli dan yang palsu. Atau jangan-jangan kau terbiasa membeli barang palsu?"
Enak saja Mei Mei mengatakan pakaiaan yang dipakai Astrid palsu. Mungkin jika Astrid yang membeli, dia tidak akan membeli pakaiaan ini. Namun, merk lokal yang hargwnya terjangkau. Tapi, Astrid tidak akan pernah membeli barang palsu hanya untuk tampil memukau.
Mei Mei tidak terima dengan ejekan Astrid. Dia mengeluarkan sebuah nota dan memperlihatkannya kepada Astrid.
"Ini, kau lihat sendiri berapa harganya?" Mei Mei menyerahkan nota tersebut kepada Astrid. Astrid tidak mengambilnya. Apa peduli Astrid dengan nota itu. Mei Mei menyerahkannya kepada Lena. Lena dengan polos menerima dan melihat nota tersebut. Mata Lena terbelalak dengan harga yang ditampilkan nota tersebut. Ini setara gaji mereka satu bulan bahkan lebih.
Mei Mei sendiri sengaja membeli baju baru karena dia tahu hari ini adalah jadwal Feng untuk rapat bulanan dengan tim Fresh from the Sea. Jadi dia harus tampil cantik dan menonjol dari yang lain. Agar Feng terpaku melihat padanya.
"Astrid, harganya lebih dari satu bulan gajiku," bisik Lena.
"Tapi aku tidak peduli, selama bukan uangku yang dia gunakan," cuek Astrid.
__ADS_1
"Kau benar." Lena tertawa, dia kemudian menutup mulut saat menerima pelototan dari Mei Mei.
"Ayo, semuanya ke ruang rapat, sebelum Mr. Li berada di sana!" teriak salah satu pria yang bagian service.
"Aku akan mengambil tempat duduk, di samping kursi yang biasanya di duduki Mr. Li," ucap Mei Mei berjalan berlenggak-lenggok menuju ruang rapat, meninggalkan Astrid dan Lena.
"Ayo, kita juga harus bersiap-siap, kau tahu terkadang tim marketing sering sekali menjadikan kita sebagai kambing hitam atas target penjualan beberapa toko yang tidak mencapai target," beritahu Lena.
"Sebentar aku ambil notebook dulu," balas Astrid. Dia mencari Notebooknya di dalam lemari dan laci.
Astrid membaca sekilas notebook itu, di sana ada catatan kejadian yang dialami Astrid dan Feng.
Hari ini aku mendapat wawancara di Fresh from the Sea. Aku sangat terkejut karena salah satu pewawancara adalah Feng. Dia memang pria baik, tidak hanya menampungku, dia bahkan menawarkan untuk memberitahu Kevin agar menerimaku bekerja. Tapi, aku menolaknya karena kebaikan Feng telah banyak padaku.
Saat di lift seorang pria mesum mencoba melecehkanku. Bersyukur Feng menolong dan membuat takut pria cabul itu. Lift sangat padat aku sangat terkejut saat Feng memegang asetku, aku pikir dia juga cabul ternyata wanita gendut yang mendorongnya.
Apa yang terjadi dengan jantungku, kenapa berdetak dengan kencang. Saat di parkiran Feng bilang dia minta maaf dan anggap tidak terjadi apa-apa. Aku merasa kecewa? Mengapa aku merasa kecewa? Apa aku menyukai Feng?
"Astrid ayo cepat!" panggil Lena, saat Astrid terlalu lama berjalan. Lena terpaksa kembali lagi untuk menyuruh Astrid cepat.
"Iya," jawab Astrid. Dia menutup notebooknya. Dia berpikir apakah karena itu kejadian yang memulai kedekatannya dengan Feng?
"Astrid, ayo!" panggil Lena lagi saat melihat Astrid masih bengong. Astrid kemudiaan berjalan menuju ruangan rapat. Astrid melihat Feng dan Mr. Huang juga berjalan menuju ruang rapat.
Feng melirik ke arah Astrid, begitupun dengan Astrid, pandangan mereka saling terpaku. Sampai Lena menarik tangan Astrid untuk masuk ke dalam. Membuat tatapan mereka terputus.
Astrid duduk di samping Lena, dalam ruangan itu telah duduk sepuluh orang. Feng dan Mr. Huang masuk, Feng memperhatikan kursi kosong di samping Astrid. Mr. Huang mengajak Feng duduk di tempat yang biasa diduduki Feng. Namun, Feng justru duduk di samping Astrid, mau tidak mau Mr. Huang mengikuti Feng duduk di sebelah Feng.
__ADS_1
Mei Mei merasa terkecoh, kenapa Feng tidak duduk di kursi biasanya? Padahal kursi di samping Feng tersebut, telah sengaja diwanti-wanti oleg Mei Mei bahwa hanya dia yang boleh duduk di sana.
Sepanjang rapat Mei Mei menatap Astrid penuh benci. Saat tim marketing mempresentasikan Plan dan Evaluasi kinerja mereka. Mereka seperti biasa, menyalahkan tim warehouse dan logistik karena ketersediaan stock yang kurang. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Lena, tim mereka menjadi kambing hitam.
Astrid geram saat timnya disalahkan. Feng melirik, dia yakin Astrid pasti tidak terima. Feng mengambil tangan Astrid di bawah meja dan menggenggamnya. Astrid memandang Feng. Namun, Feng pura-pura tidak terjadi apa-apa. Astrid menarik tangannya dari tangan Feng, tapi, Feng tidak mau melepaskan tangan Astrid bahkan menariknya kembali dan meletakan tangan mereka yang saling bertaut di paha Feng. Astrid hanya pasrah, jika dia masih bersikeras tentu akan membuat keributan dan peserta rapat akan tahu.
Bahkan saat Feng bertanya maupun berbicara dia masih saja memegang tangan Astrid. Astrid menjadi geram. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tatapan penuh benci dari Mei Mei masih berlangsung. Dia kemudian mencoba mencari perhatian dari Feng. Akan tetapi, sungguh sayang Feng tidak memperhatikannya.
Setelah itu tim Astrid mempresentasikan rencana dan evaluasi kerja mereka. Manager Astrid cukup kompeten dalam memaparkan presentasi mereka.
Astrid teringat isi dari notebooknya. Dia melirik Feng. Menurut Astrid Feng sangat keren dalam bekerja dan menyelesaikan pekerjaannya dengan baik-baik. Pandangan Astrid sedikit berubah terhadap Feng. Perasaan takut Astrid perlahan hilang.
Akhirnya rapat selesai, Feng ingat bahwa dia harus membuat Astrid tidak pulang cepat dan pergi bersama Collin.
"Oh iya, semua yang ada di sini, sepulang bekerja akan saya traktir," ucap Feng.
"Asik!" teriak semuanya kecuali Astrid. Dia tengah menimbang untuk izin.
"Saya harap kalian semua akan bisa hadir tanpa terkecuali," tekan Feng. Dia tidak ingin Astrid mundur dan tidak ikut. Tujuan Feng hanya untuk menjauhkan Astrid dari Collin. Bukan menjadi dermawan dengan mentraktir semua orang.
🍒🍒🍒
Jangan lupa nyawer ya, besties !
Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!
Ig : lady_mermad
__ADS_1
Tiktok : lady_mermad