One Night Only

One Night Only
Catatan Feng


__ADS_3

Setelah Feng pergi, Astrid menatap notebooknya. Dia memang sempat membaca halaman pertama dari diary yang ditulisnya. Astrid menaiki tangga dan meninggalkan ruangan pendingin.


Astrid melihat rombongan Feng dan Kevin yang keluar dari ruangan Mr. Huang. Mereka melewati meja Astrid. Kevin berhenti dan bertanya kepada Astrid.


"Astrid, main-mainlah ke rumah, Hope rindu padamu." Kevin dan Selena telah tinggal di rumah baru mereka.


"Baik, Mr. Kwok, saya akan mengunjungi kalian dan mengajak nenek." Astri berdiri dari kursinya.


"Saya akan memberitahu Hope dan Selena. Saya permisi dulu," pamit Kevin. Dia sempat melihat interaksi antara Feng dan Astrid yang biasa saja. Seperti tidak saling mengenal. Sebenarnya Kevin penasaran dengan hubungan mereka. Namun, dia tidak ingin ikut campur. Kecuali Feng maupun Astrid meminta bantuan maupun pendapatnya.


Kevin berjalan meninggalkan, meja Astrid yang diikuti Feng dan Mr. Huang. Feng hanya menundukan wajahnya dan meninggalkan Astrid.


"Mr. Kwok, kenal denganmu?" todong Lena yang dari tadi sudah sangat penasaran mengapa Kevin menyapa Astrid.


"Tidak terlalu kenal, aku mengenal istrinya dan putranya." Astrid berusaha menghindar karena tidak ingin yang lain berabggapan bahwa dia diterima bekerja karena kenal dengan pemilik perusahaan.


"Kau kenal istrinya? Si Queen of Gambler?" Lena melotot tidak percaya. Dia juga salah satu penggemar Queen of Gambler.


"Eh, iya. Lena aku harus mencatat stock. Lain kali kita bicara lagi." Astrid menghindari pembicaraan.


"Bukankah kau baru dari sana?" tegur Lena. Sayang Astrid telah pergi dari mejanya.


Astrid menyibukkan diri dengan memeriksa stock. Dia ingin mengalihkan pikiran dari kata-kata Feng. Tidak terasa jam pulang datang. Astrid baru menyadarinya karena satpam datang memeriksa semua ruangan.


"Nona Astrid, anda belum pulang?"


"Ya, ampun aku tidak tahu, jam berapa sekarang?" Astrid melirik jam tangannya dan ternyata pukul tujuh. Astrid segera meninggalkan ruang pendingin.



Keesokan harinya, Astrid bekerja seperti biasa, dia menyibukan diri dengan pekerjaan. Astrid melupakan tentang diarynya. Diary itu hanya tersimpan di dalam tas Astrid.

__ADS_1


Astrid larut dalam pekerjaan, tanpa sadar jam pulang kantor terlewat satu jam. Astrid membereskan barang-barangnya dan menuju halte bus. Udara malam mulai menusuk tulang Astrid, dia lupa membawa mantel dan syal untuk menghangatkan diri. Astrid menarik rapat blazer yang dipakainya.


Tidak butuh waktu lama bagi Astrid untuk menunggu bus. Bus datang dan Astrid menaikinya, Astrid larut dalam pikiran tentang perasaannya kepada Collin? Bagaimana bisa, pria yangbdiharapkannya selama ini dan saat putus dengan pria itu. Astrid hanya merasa biasa saja. Tidak terluka sama sekali.


Bus berhenti di halte desa Venetia, Astrid turun dan menuju rumahnya. Sebelum memasuki rumah, Astrid melirik rumah Collin. Mobil Collin sudah tidak ada di pekarangan rumahnya.


Apakah Collin sudah pergi bekerja?


Astrid memasuki rumahnya dan disambut oleh Su Yi.


"Apa kau lembur lagi?" Su Yi sedang menonton di ruang tengah.


"Iya, Nek." Astrid menghampiri Su Yi dan duduk di sampingnya. Astrid kemudian meletakkan kepalanya di paha Su Yi.


"Apa ada masalah?" heran Su Yi dengan tingkah cucunya. Astrid hanya akan bermanja dengannya saat dia sedang ada masalah atau merasa sedih.


"Tidak, ada aku hanya capek, Nenek," bohong Astrid.


"Astrid, bangun! Sebaiknya kau mandi dan makan dulu setelah itu baru tidur kembali." Su Yi menepuk bahu Astrid.


Wanita muda itu mengeliat dan duduk dari tidurnya.


"Berapa lama aku tertidur?" Astrid mengucek mata dan menetralkan pandangan.


"Lebih kurang satu jam. Nenek akan memanaskan makanan untukmu. Kau pergilah mandi," perintah Su Yi. Dia berjalan meninggalkan Astrid untuk ke dapur.


"Nenak, tidak usah repot-repot, aku bisa melakukannya sendiri. Nenek istirahatlah. Besok weekend, aku tidak bekerja, jadi biarkan aku melakukannya. Aku akan mandi." Astrid mencium Su Yi sekilas dan pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Selesai mandi, Astrid ingin langsung tidur, dia mengambil ponsel melihat apakah baterai ponselnya cukup. Astrid melihat notebooknya dan teringat permintaan Feng tentang satu malam saja untuk bersamanya.


Astrid mulai membaca buku hariannya itu, di sana di jelaskan tentang kejadian yang Astrid alami bersama Feng. Di halama terakhir catatan Astrid tertulis suatu kalimat yang berbeda dari tulisannya.

__ADS_1


'Jika kau mengatakan saat itu dengan jujur bahwa kau mencintaiku. Mungkin kisah kita akan berbeda?'


'Saat ini aku hanya berharap, perasaanmu yang mencintaiku akan kembali dan kita akan bersama selamanya. Aku akan menjadikanmu ratu di istana cintaku. Aku akan melindungimu dari apapun yang akan menyakitimu!'


Astrid merasakan perasaannya bergetar, jantungnya berdetak dengan cepat. Astrid memegang dadanya, mencoba menetralkan detak jantung yang semakin kencang. Wanita muda itu menitikkan air mata, dia merasa cengeng.


Apakah sebaiknya, dia memberi keaempatan kepada Feng?


Astrid memasukan notebook dan ponselnya, dia melirik jam dinding yang terpampang di depannya. Waktu telah menunjukan hampir jam sebelas malam. Astrid berlari keluar dari kamar dan menuruni tangga.


Su Yi yang tengah mengambil minum, melihat Astrid yang pergi dengan tergesa-gesa.


"Apa yang terjadi, mau kemana kau?" heran Su Yi, dia membatalkan untuk meminum air tersebut.


"Nenek, ada hal yang harus aku lakukan. Mungkin aku tidak akan pulang, percaya lah, aku akan baik-baik saja." Astrid kembali melanjutkan langkahnya.


"Setidaknya, katakan kau mau kemana?" Su Yi tidak akan tenang jika Astrid tidak memberitahu kemana tujuannya.


"Aku akan ke apartment Feng, ada hal yang ingin aku pastikan,"


"Pergilah." Su Yi mengizinkan Astrid, setidaknya jika terjadi sesuatu kepada Astrid dia bisa bertanya kepada Feng.


🍒🍒🍒


Maaf aku jarang up, mohon berikan dukungan agar aku semangat upnya🙏🙏


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad

__ADS_1


Tiktok : lady_mermad


__ADS_2