One Night Only

One Night Only
Sepotong Ingatan


__ADS_3

Semua pererta rapat akhirnya berdiri dari kursi masing-masing dan keluar dari ruangan rapat. Astrid ingin berdiri, hanya saja tangannya masih digenggam Feng.


Mei Mei sengaja menunggu Feng keluar agar dia bisa mengajak Feng mengobrol sambil ke luar. Mei Mei melirik Astrid dan memberinya tanda agar segera keluar dari ruang rapat. Jangan duduk manis begitu di samping Feng. Astrid mengabaikan. Bagaimana bisa Astrid pergi jika Feng belum melepaskan tangannya.


"Ayo, Astrid," ajak Lena.


"Sebentar aku menyusun ini dulu," tunjuk Astrid pada peralatan tulisnya.


"Ayo Mr. Li," ajak Mr. Huang. Feng melepaskan tangan Astrid dan berdiri dari kursi. Dia berjalan ke luar ruangan seakan tidak terjadi apa-apa. Mr. Huang dan Mei Mei yang mencari perhatian kepada Feng juga langsung berdiri dan mengikuti Feng.


Lena memberi jalan kepada mereka. Sementara Astrid mengepal tangan memberitanda seakan-akan memukul Feng.


"Dasar, sekarang sok cool lagi," gerutu Astrid.


"Kau kenapa menggerutu sendiri?" tanya Lena dengan heran. Astrid mengambil buku dan penanya. Berjalan keluar ruangan.


"Bukan apa-apa, ayo pergi," ajak Astrid.


Mereka berjalan ke luar, ternyata Feng, Mr. Huang dan Mei Mei masih berada di samping pintu keluar ruang rapat. Astrid melihat Mei Mei tertawa sok cantik, sambil sesekali memberikan sentuhan menggoda kepada Feng. Entah apa yang mereka bicarakan sampai Mei Mei tertawa seperti itu.


Lena dan Astrid meminta izin melewati mereka. Feng masih saja sempat-sempatnya memegang jari Astrid sekilas. Dan saat Astrid melihat ke arahnya, Feng bahkan seperti tidak melakukan apa-apa terhadap Astrid. Astrid menatap kesal ke arah Feng, sementara Feng hanya meliriknya dengan tenang.


Astid dan Lena di meja mereka, mereka bekerja seperti biasa. Astrid masih kesal dengan ajakan Feng untuk mentraktir mereka nanti malam sepulang bekerja. Padahal Astrid ingin pergi menonton dengan Collin.


Astrid ke gudang untuk memeriksa ketersediaan stock mereka. Saat memasuki ruangan pendingin kaki Astrid seperti berat untuk melangkah. Dia merasa pernah ke sini dan berada di dalam ruangan pendingin. Sekilas Astrid mendapat penglihatan saat dia bercinta dengan Feng.


Apa itu, kenapa ada bayangan erotis seperti itu? Astrid ketakutan sekaligus merasakan gairahnya terpancing.


"Saya bisa melihat hasil stock sendiri," terdengar suara Feng yang menolak ditemani oleh seseorang. Namun. Astrid tidak tahu itu siapa.

__ADS_1


"Apa anda yakin, Mr. Li?" tanya Manager Astrid. Ternyata Feng tengah berjalan menuju ruangan pendingin bersama Manager Astrid.


"Tidak apa-apa, bukankah aku telah biasa untuk melihat ruangan pendingin sendirian?" elak Feng.


"Astrid!" panggil Manager Astrid yang bernama Donny Yen saat melihat Astrid yang masih memegang handle pintu.


"Mr. Yen, Mr. Li!" sapa Astrid sedikit membungkukkan tubuhnya.


"Astrid kau akan memeriksa stock hari ini?" tanya Mr. Yen.


"Ya, Mr. Yen," jawab Astrid sopan. Dia sedikit kikuk karena Feng selalu memandanginya seolah-olah akan menelanjangi Astrid.


"Mr. Li, kebetulan Astrid, berada di sini, biarkan dia sambil memeriksa menemani, anda," tawar Mr. Yen. Tentu saja Feng sangat senang. Dia sengaja untuk memeriksa gudnag saat melihat Astrid ke sini. Namun, Mr. Yen bersikeras untuk menemaninya yang tentu saja ditolak oleh Feng dengan hormat.


"Boleh saja. Miss Yi, anggap saja aku tidak ada. Jadi kau bisa bekerja tanpa terganggu," ucap Feng. Dia memberikan senyuman manis kepada Astrid. Namun. Astrid melihatnya justru seperti senyuman mengejek.


"Kalau begitu, saya permisi dulu," pamit Mr. Yen. Mr. Yen adalah pria berusia sekitar empat puluh tahun. Dia telah menikah dan memiliki dua orang anak.


Astrid langsung membuka pintu dan masuk ke dalam ruang pendingin. Saat Feng ingin masuk pintu trlah tertutup, Feng kembali membuka pintu dan menutupnya.


Astrid memulai pekerjaannya, sambil sesekali melirik kepada Feng. Astrid melihat Feng mengangkat salah satu ikan yang besar. Mungkin berat ikan itu sendiri mencapai sepuluh kilo. Otot lengan Feng terpampang dibalik jas hitamnya. Astrid kagum melihat otot-otot tersebut. Ditambah lagi saat masuk ke sini Astrid telah membayangkan bagaimana rasanya Feng membuatnya begitu bahagia.


Feng yang merasa sedang diperhatikan, kemudian melirik ke arah Astrid. Astrid cepat-cepat membuang muka, pura-pura tidak memperhatikan Feng. Astrid pura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Feng hanya tersenyum dengan tingkah Astrid.


"Apa yang kau catat," ucap Feng tepat di telinga Astrid, posisi Feng telah berada di belakang Astrid. Astrid terkejut dan refleks memutar tubuh menghadap Feng. Hal itu membuat Astrid mencium bibir Feng. Astrid tercengang, memelototkan mata ke arah Feng dengan posisi masih mencium Feng.


Feng bukannya memberi jarak malahan memegang pinggang Astrid, membuat tubuh Astrid semakin rapat kepada Feng. Astrid yang tadi mendapat kilasan balik samar-samar tentang kejadian yang menimpa di ruang pendingin menjadi panas wajahnya. Padahal mereka berada di ruang pendingin.


Feng ******* bibir Astrid, dia tidak memikirkan lagi, jika ada yang datang dan melihat mereka. Astridpun bukan melepaskan atau berontak, dia malahan menikmati ciuman Feng. Kilas kejadian yang mereka alami hanya memperlihatkan adegan erotis yang mereka lakukan bukan penolakan yang awalnya dilakukan Astrid sebelum dia sendiri tergoda.

__ADS_1


Astrid berpikir, apakah dia memang telah melupakan Collin dan menikah dengan Feng? Saat mengingat Collin Astrid mencoba melepaskan diri dari Feng. Astrid mendorong dada Feng agar menjauh. Astrid tidak boleh tergoda, yang dia sukai hanya Collin. Apalagi hubungan mereka seperti semakin dekat. Jarang sekali Astrid memiliki kesempatan seperti itu. Dulu perhatian Collin kepadanya hanya sebatas adik. Namun, sekarang Collin telah menganggapnya sebagai seorang wanita.


"Hentikan!" tolak Astrid, masih mendorong dada bidang Feng. Feng menghentikan ciuman mereka dan menarik wajahnya agar melihat kepada Astrid.


Astrid tahu bahwa pandangan Feng adalah pandangan mendamba. Dan, Astrid menyadari bahwa Feng adalah pria normal yang telah memiliki istri. Tentu dia mempunyai kebutuhan pria yang harus disalurkan minimal setiap minggunya. Namun, Astrid tidak ingin gegabah dan menyesali apa yang telah dia lakukan.


Meskipun notebooknya mengatakan bahwa dia tertarik dengan Feng. Akan tetapi, satu sisi Astrid masih bimbang. Mungkin nanti dia akan melihat isi notebook itu lagi. Astrid sendiri heran mengapa dia membuat diary di notebooknya. Padahal Astrid bukanlah wanita yang suka menulis kejadiaan yang dialaminya.


Jika harus menulis isi hati, harusnya Astrid telah menulis perasaannya terhadap Collin karena dia telah menyukai Collin selama bertahun-tahun.


"Kenapa? Apakah kau tidak menyukainya?" tanya Feng, dia masih menatap Astrid dengan curiga. Padahal tadi Astrid menikmati dan membalas ciuman Feng. Lalu sekarang, apa yang membuat Astrid menghentikannya?


"Aku ingat kejadian di sini," ujar Astrid.


🍒🍒🍒


Jangan lupa nyawer ya, besties !


Sambil nunggu authir up, silahkan mampir ke karya temanku ya besties!


...BENIH YANG KAU TINGGALKAN...



Please Follow akun NT ini sekalian ig dan tik tok author ya!


Ig : lady_mermad


Tiktok : lady_mermad

__ADS_1


__ADS_2