
Semakin hari Fania semakin kesal dengan surat kaleng yang diterimanya. Semua surat itu dia kumpulkan untuk diberikan pada Johan.
Saking banyaknya surat kaleng, dia menyimpan semua surat itu didalam plastik besar.
Fania membawa surat itu ke belakang sekolah. Ternyata dia melihat sosok Johan yang sedang mengobrol dengan teman-temannya di belakang sekolah.
Sambil menunggu teman-teman Johan pergi, Fania berdiam diri tak jauh dari posisi Johan. Johan menyadari kalau Fania sudah menunggunya dari tadi.
"Yaudah loe semua pergi deh. Minta duit anak-anak lain," ucap Johan mengarahkan semua anggota gengnya meninggalkan belakang sekolah dan melakukan apa yang ia suruh.
"Keluar lo!" ketus Johan yang menunggu kedatangan Fania.
Fania datang membawa kantong plastik besar miliknya. Sontak saja melihat wajah Johan ia semakin geram.
Johan yang membawa pengaruh buruk pada anak-anak lainnya sehingga kejengkelan Fania semakin memuncak.
Fania mengangkat plastiknya dan melemparkan ke wajah ganteng Johan.
__ADS_1
"Apa-apan sih lo!" ucap Johan sambil mengerutkan keningnya. Dia tak mengerti apa yang saat ini Fania lakukan. Belum membuka isi plastik yang Fania lempar.
"Itu dari fans elo!" ketus Fania.
"Fans apa? apa isinya?" tanya Johan datar sambil mengangkat satu alisnya.
Fania melanjutkan "Loe buka aja sendiri! bilang sama fans-fans lo jangan ganggu gue!"
Akhirnya Johan mengerti dengan ucapan Fania yang terakhir. Akhirnya Fania merasa terusik dengan perempuan-perempuan pemujanya.
Sambil berjalan meraih plastik yang dilempar Fania, kemudian dia membukanya dan tersenyum tipis. Dibaca Johan satu surat yang berisi ancaman pada Fania.
Fania menghentikan langkahnya. Ia melirik wajah Johan yang seakan-akan cuek terhadapnya.
Johan juga seakan tak peduli dengan surat-surat kaleng itu. "Ya lo pikirlah! kok masih nanya apa urusannya sama loe?" ketus Fania.
"Gue nggak peduli. ini nggak ada urusannya sama gue. Itu urusan elo, kan suratnya buat lo bukan buat gue," kata Johan sambil membuang seluruh isi plastik ke tong sampah.
__ADS_1
Fania semakin jengkel dengan sikap Johan yang tak mau tau tentang surat itu. Dia segera memalingkan wajahnya dan meninggalkan Johan.
Sial! kenapa jadi dia yang lebih ketus dari gue! harusnya gue yang marah karena terusik dengan cewek-cewek yang suka sama dia. Batin Fania.
Dengan rasa jengkelnya ia memasuki kelas. Baby langsung menghampiri Fania. "Loe kenapa sih Fan? akhir-akhir ini bete terus gue lihat," tanya Baby penasaran dengan tingkah Fania.
"nggak kenapa-napa" jawab Fania pelan yang tidak menyadari perbuatan Baby padanya.
Baby yang memiliki sifat licik dan menusuk dari belakang. Awalnya dia memang tulus berteman dengan Fania sebelum ia tahu kalau Fania ternyata sudah kenal dekat dengan Johan.
Itu membuatnya murka dan ingin memberi Fania pelajaran. Anak baru seperti dia tak pantas bersanding dengan pria terkeren di sekolahnya.
Hanya Baby yang pantas menjadi pacar Johan. Terlebih mereka sudah satu kelas sejak duduk di kelas satu.
Fania duduk dikursinya diiringi Baby yang duduk berada disebelahnya. Lagi-lagi sudah banyak surat kaleng yang ada di lacinya.
"Baby lo tahu nggak sih siapa yang naro surat-surat ini di laci gue," tanya Fania penasaran.
__ADS_1
"Lah mana gue tau. dari tadi gue di kantin. Pas loe datang tuh gue juga baru datang," kata Baby sambil menutupi senyum sinisnya.