
Akhir-akhir ini seluruh siswa disibukkan dengan pelajaran, tugas hingga les tambahan. Tak ada waktu untuk bersenang-senang lagi bagi anak kelas tiga.
Mereka harus fokus mengejar pelajaran demi mendapatkan nilai yang bagus agar bisa lulus dari sekolah. Tidak bagis Johan, meski ia sering dibantu dan diajari oleh Fania. Watak keras Johan tak pernah hilang.
Sikap arogannya dan sifatnya yang dingin terus saja menghantui anak-anak lainnya. Kegiatannya untuk memalak dan membully anak lainnya adalah kesenangan baginya.
Meski akhir-akhir ini ia sering bersembunyi di belakang sekolah agar tak bertemu dan ketahuan oleh Fania. Tapi ia terus memaksa teman-temannya untuk memberikan setoran jajan padanya melalui anggota gengnya.
Johan juga sering memberikan pengaruh buruk pada anggota gengnya. Selain mereka suka merokok, johan bersama gengnya juga sering tawuran dengan anak sekolah lainnya.
Tapi saat tawuran tentu saja dia bersama teman-Temannya telah melepaskan seragamnya dan menggunakan kaos biasa. Bisa malu dia dan tercoreng sekolahnya jika mereka ketahuan tawuran dengan anak-anak lainnya. Masa anak yang bersekolah di sekolah populer ikut tawuran.
__ADS_1
Karena pulang cepat di hari Jumat, Johan sepakat berkumpul bersama teman-temannya. Mereka menongkrong di warung kelontong yang tak jauh dari sekolah.
Setiap anak yang lewat diminta uang sakunya untuk menambah uang Johan dan teman-temannya. Tiba-tiba ada seorang anak yang menolak memberikan uangnya pada Johan. Anak itu adalah salah satu siswa yang merupakan anak seorang guru Matematika mereka.
Saat ini dia duduk dikelas dua dan baru saja pindah dari Bandung. Tentu saja dia tak mengenal ada geng disekolah barunya itu.
Johan marah karena anak itu tak mengenal dirinya. Dia memaksa mengambil uang dari saku anak tersebut. Tirta namanya, anak guru matematika Johan yang tak ia ketahui.
Satu hantaman mendarat di wajah Tirta. Itu balasan karena menyepelekan seorang Johan. Tingkah Johan yang sedang membully Tirta dilihat Fania dari kejauhan.
Ia tak menyangka, orang yang selama ini dia anggap temannya hanyalah seorang pembully yang menyakiti anak-anak lainnya. Tapi karakter Johan sangat berbeda saat berdua dengannya.
__ADS_1
Tidak tampak tanda-tanda seorang pembully. Dan anaknya cukup baik dan ramah. Hanya terlihat pemalas dan tak mau belajar.
Johan tak tahu kalau Fania tengah memperhatikannya dari jauh. Johan yang tengah meperingatkan Tirta agar terus memberikan uang padanya setiap hari.
Ia juga mengancam jika tidak mau memberikan uangnya. Maka pukulan lain akan mendarat ditubuh Tirta. Tirta merasa ketakutan, tetapi dia juga berniat akan melaporkan kejadian itu pada ibunya yang seorang guru di sekolah mereka.
"Sial" batin Tirta.
Johan memperbolehkan Tirta pergi. Urusannya dengan Tirta tak akan selesai begitu saja. Keesokannya dia tetap harus memberikan uangnya pada geng Johan yang sangat ditakuti di sekolah itu.
sementara Fania meninggalkan area sekolah dengan jalur lain. Dia tak mau bertemu dengan Johan yang memiliki watak keras dan arogan. Suka membully teman-teman lainnya.
__ADS_1
Fania berpikir tindakan Johan itu akan menyakiti teman-temannya bahkan akan diingat oleh mereka sampai kapanpun. Itulah yang menjadi alasan bagi Fania sehingga ia sangat benci pada seorang pembully.
Terlebih di sekolah lamanya juga ada anak yang suka membully seperti Johan. Beruntung Fania selalu tak pernah kena bully karena ia merupakan murid berprestasi di sekolah.