
Saat jam istirahat, Lucy dan Angel mendekati Fania. Mereka tak percaya begitu saja dengan ucapan Baby yang menjelek-jelekan Fania dibelakangnya.
"Fan, lo kenapa pindah?" tanya Angel sambil menepuk punggung Fania.
Fania mendekati kedua temannya. Tanpa Baby, hubungan ketiganya tetap baik-baik saja. Fani merasa surat kaleng itu tak ada hubungannya dengan Lucy dan Angel.
"Sorry gue nggak ngasih tahu kalian! gue pindah demi kebaikan gue. Gue nggak mau menyakiti mental gue sendiri," ucap Fania membuat Lucy dan Angel bertanya-tanya apa maksud yang dibicarakan olehnya.
Lucy bertanya "Sebenarnya ada apa sih antara lo sama Baby? ko Baby malah ngejelek-jelekin lo gitu"
Fania melirik Lucy dan heran dengan apa yang barusan dia ucapkan. Fania bahkan tak menyangka Baby berani menjelek-jelekannya kepada dua temannya itu.
Padahal Baby yang bersalah, namun kenapa malah ia menyeret dua temannya yang lain. "Jadi gini, gue kemarin mergokun si Baby nyimpan semua surat kaleng di laci gue. Jadi selama ini dia dalangnya!" cerita Fania mengagetkan dua temannya.
__ADS_1
"Trus dia malah nggak ngaku! dan malah bilang dia cuma disuruh" Fania melanjutkan ceritanya.
"Tapi gue nggak percaya! karena semua surat itu dia ambil dari tasnya dan taro semua di dalam laci gue. Kalau nggak ketahuan pasti dia pura-pura nggak tahu terus. Padahal kan kalian tahu gue udah capek banget nerima surat kaleng berisi ancaman itu. Bahkan gue sering tanya ke Baby apa dia pernah liat orang yang simpan surat itu di laci gue," ungkap Fania yang membuat mulut kedua temannya terbuka keheranan.
"Apa lo beneran Fan? Ko dia tega banget sih!" celetuk Angel yang tak habis pikir akan tingkah Baby.
"Serius gue! gue yang sengaja nunggu aksi dia. sumpah gue penasaran banget siapa pelakunya," akunya pada Angel dan Lucy yang langsung melirik Baby saat ini masih duduk diatas kursinya.
Baby semakin geram dan menghampiri ketiga temannya itu. "Apa lo semua liat-liat gue," ucapnya dengan nada tinggi dan kesal.
"Lo kenapa sih Baby? ko sekejam itu? Apa salah Fania sampe lo sebenci itu sama dia? bahkan lo juga jelek-jelekin dia tadi," keluh Lucy yang membuat seluruh teman-temannya memperhatikan mereka berempat.
"Salah dia? salah dia kenapa bisa suka sama Johan!" tegas Baby yang semakin membuat seisi kelas menjadi ribut karena membicarakan mereka.
__ADS_1
"Sudahlah! Lo duduk aja lagi. Percuma gue jelasin! udah berkali-kali gue bilang gak ada hubungan sama dia!" ketus Fania membuat Baby semakin geram.
Baby makin kesal kepada Fania, bukannya duduk di kursinya, dia malah mendekati Fania dan menarik rambutnya dengan tiba-tiba mengatakan "Gausah sok polos lo"
Fania tersentak kaget melihat kelakuan Baby yang semakin tak tertebak. Disisi lain ia tak menginginkan adanya keributan di dalam kelas, tapi dia juga tak ingin terlihat lemah didepan yang lainnya.
Fania membalas kelakuan Baby yang dari tadi tak mau melepaskan rambut panjangnya yang terkuncir kuda. Ia membalas dengan menarik rabut Baby yang terurai.
Keduanya saling menjambak dan merasakan kesakitan. Saling tarik menarik tak mau melepaskan jambakannya. Tak ada yang mau mengalah.
Saat sedang asik jambak-jambakan, Johan Satria sudah berdiri disamping mereka. Johan melihat aksi keduanya dan tersenyum kecut.
"Lucu lo berdua! jambak-jambakan karena laki-laki," ketus Johan yang masih berada disamping keduanya.
__ADS_1