Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
kado terindah


__ADS_3

Rasa lelah menerpa ketiga pasangan itu setelah mereka tiba di Jakarta.


"Hati-hati ya!" ucap Fania seraya melambaikan tangannya pada teman-temannya yang baru saja pergi dari depan rumahnya termasuk pacarnya—Johan.


Mereka sengaja mampir sekaligus mengantarkan Fania hingga depan rumahnya. Fania melangkah gontai masuk ke dalam rumahnya. Ia mencari keberadaan sang mama.


"Ma ... ma ... mama dimana?" teriak Fania setelah masuk melalui pintu utama.


"Kenapa non?" tanya Bi Sukem—pembantu di rumah Fania yang datang mendekatinya.


"Mama mana bi?" Fania masih mengedarkan pandangannya mencari sosok mamanya. Ia masih teringat, saat ditinggalkan tadi siang, mamanya masih sakit pusing dan mual.


"Ke rumah sakit non," balas Bi Sukem.


"A–apa? rumah sakit?" tutur Fania tergagap.


Bi Sukem mengangguk. "Ibu tadi muntah-muntah terus. Akhirnya dibawa sama bapak ke rumah sakit. Badannya juga lemas."


Perkataan Bi Sukem membuat Fani semakin panik.


"Di rumah sakit mana bi? Kok nggak ada yang kabarin Fania?" Wajah Fania langsung kusut dan sendu setelah mendengar kabar buruk itu dari pembantunya.


"Mama nggak apa-apa kok nak," celetuk Anggita yang baru saja tiba di rumah mereka.


Fania langsung berlari memeluk Anggita begitu erat. Ia tak mau melepaskan pelukan itu. Namun, Anggita merenggangkan pelukannya lalu menatap wajah Fania penuh haru.


"Mama kenapa? Kok ekspresinya gitu?" tegur Fania yang kebingungan melihat ekspresi mamanya. Sementara suami Anggita justru senyum-senyum sendiri dari tadi melihat keakraban Fania dan mamanya ditambah kabar baik istrinya tengah mengandung.


"Ma?" panggil Fania karena tak kunjung mendapat jawaban.


"Mama hamil nak." Anggita tertunduk malu, tak berani menatap putri semata wayangnya itu.


"Hah? Apa? Mama hamil? Serius ma?" cecar Fania.


Anggita dan Jhonny mengangguk kompak. Jhonny terus mengulas senyum disudut bibirnya. Sedangkan Anggita memendam rasa takut dan sedih kalau anaknya itu akan protes dengan kehadiran calon adiknya.


"Yeeeeyyy!! Mama hamil! Horee ... hore ... Aku punya adik baru," teriak Fania kegirangan. Ia melompat-lompat di depan mama dan ayah sambungnya.


"Loh kamu nggak marah Fan?" timpal Anggita.


"Kenapa Fania harus marah? Fania bakal punya adik ma ... Fania bakal punya adik yeyeye." Fania terus saja melompat-lompat merasa bahagia dengan kehadiran adik barunya.


Seketika rasa sedih dan takut Anggita menghilang. Ia membuat lengkungan lebar dibagian bibirnya. Meski dia sudah mewanti-wanti agar tak hamil lagi. Tapi kejadian ini malah menjadi kado terindah bagi keluarga mereka.

__ADS_1


Fania ternyata sudah lama menginginkan adik. Tetapi ia tak pernah mau menyinggung hal itu pada mamanya. Terlebih, Anggita sudah berkomitmen untuk memilih tak hamil lagi.


Jhony yang berada di samping Anggita menjadi haru. Kebahagiaannya menjadi lengkap. Ia hanya tinggal menunggu kelahiran buah hatinya.


Anggita menyandarkan kepalanya pada bahu Jhonny. Rasa haru memuncak karena melihat putrinya yang merasa begitu bahagia.


"Fan ... udah sana masuk ke kamar. Istirahat! Dari tadi lompat-lompat terus. Nggak capek apa?" desis Anggita mulai merasa mual dan pusing melihat kehebohan anaknya.


Anggita berlari ke arah kamarnya. Ia masuk ke kamar mandi.


Huekk ... huek ...


Anggita terus saja memuntahkan isi perutnya. Kepalanya pusing tak terhingga padahal sudah larut malam. Seharusnya gejala kehamilannya cukup di pagi hari saja atau istilahnya morning sickness tetapi seharian penuh ia merasakan gejala kehamilan itu.


Jhonny berlari mengejar Anggita. Ia menepuk-nepuk pelan punggung istrinya agar lebih tenang. Kemudian, ia mengambil minyak kayu putih yang ada di nakas. Membalurkannya pada perut, leher dan punggung wanita itu.


Sementara Fania masih terdiam kaku ketika ditinggal oleh kedua orang tuanya. Akhirnya ia memilih masuk ke kamar. Membasuh tubuhnya agar lebih bersih sebelum naik ke tempat tidurnya.


Malam itu, Fania sudah tak sabar menunggu pengumuman kelulusan di Universitas Indonesia. Pengumuman melalui jalur prestasi nilai rapornya.


Kebetulan Fania tiba di rumah pukul 10 malam. Dan sekarang detik-detik mendekati jam 12 malam, Fania sudah duduk didepan laptopnya. Sesekali ia merefresh halaman website kampus favoritnya itu.


Fania sangat fokus setelah mencari namanya di halaman website universitas tersebut. Tiba-tiba ia menggulum senyum dibibirnya. Salah satu namanya ternyata tertera disana.


Terlebih nilai rapornya sangatlah tinggi. Sehingga kepercayaan dirinya sangat besar. Benar saja, ia berhasil lolos dari ribuan saingan yang mendaftarkan diri ke kampus itu.


Fania mengirimkan kabar kelulusannya pada pacarnya serta kedua sahabatnya.


Fania


Jo, aku berhasil masuk UI!


Dalam grup watsappnya, Fania bahkan tidak peduli kalau saat itu sudah tengah malam. Ia tetap mengirimkan kabar gembira itu pada teman-temannya.


^^^Fania^^^


^^^Guys!! Gue lolos! Gue lolos keterima di UI!!!^^^


Angel


Wah! Selamat ya Fan! Impian lo terwujud.


Lucy

__ADS_1


Yaah ... bakal pisah dong kita? Selamat Fania sayang!!


^^^Fania^^^


^^^Thankyou guys! Gue harap kalian juga keterima di universitas pilihan kalian masing-masing!!! Semangat! Yuk kita bobok! See u!^^^


Sementara Johan tak membalas pesan Fania. Johan ternyata sudah tertidur setelah ia tiba di rumahnya. Tubuhnya merasa lelah. Padahal ia hanya mencoba berbaring tetapi malah bablas ketiduran.


******


Johan buru-buru mandi setelah matahari meninggi. Ia tak menyangka bisa kesiangan pagi ini. Seharusnya dia sudah berada di minimarket sejak jam 6 pagi tadi. Namun, sekarang sudah jam 7 pagi, Johan justru baru masuk ke kamar mandi.


Hanya membutuhkan waktu lima menit, Johan sudah selesai dan keluar dari kamar mandinya. Buru-buru ia mengenakan seragam kerjaan paruh waktunya. Beruntung, jarak antara rumah dan minimarket hanya 200 meter saja.


Ia berlari-lari mengejar waktu yang terus berjalan tanpa henti.


Hah ... Haaah ...


Johan begitu terengah-engah setelah sampai di minimarket tempatnya bekerja.


"Maaf pak! Saya terlambat karena pulang ke malaman," ucap Johan yang masih menormalkan pernafasannya.


Pemilik minimarket itu hanya tersenyum tipis. Ia memaklumi keterlambatan Johan pagi ini karena biasanya Johan adalah salah satu pegawai yang paling tepat waktu.


"Nggak apa-apa. Kalau begitu saya pulang dulu. Tolong jaga tokonya ya!" balas pemilik toko itu.


Johan langsung berdiri di meja kasirnya. Ia menanti beberapa pelanggan yang ada di toko untuk melakukan pembayaran. Karena belum ada yang datang ke kasir, Johan mengambil ponselnya.


Ia baru membaca pesan yang dikirimkan Fania tadi malam.


Johan


Sorry sayang, aku baru balas. Selamat ya! Kamu mau kado apa?


Johan langsung memikirkan apa kado yang cocok yang akan diberikannya pada pacar cantiknya itu. Fania bahkan sudah mulai membuka hatinya pada Johan. Buktinya, ia mulai mengabari hal-hal kecil pada Johan. Termasuk tentang kelulusannya masuk ke kampus pilihannya itu.


Ting


Suara notifikasi ponsel Fania membangunkannya dari tidur lelapnya. Ia membuka matanya perlahan, melihat cahaya dari celah-celah horden.


"Ah ... udah pagi rupanya!" gumam Fania, dengan malas ia mencoba membuka matanya yang masih terasa berat.


Dengan mata yang masih setengah tertutup, ia mengambil ponsel miliknya dari atas nakas. Ada nama "Pacarku" disana. Fania langsung membelalakkan matanya. Membaca balasan pesan dari Johan yang sudah ia tunggu dari semalam.

__ADS_1


__ADS_2