
"Gue balik duluan deh! Malas gue bahas soal tadi lagi. Angel juga terus-terusan ngejek gue," keluh Lucy dengan manyun. Kepalanya ditekuk, sudah tak ada lagi semangatnya.
"Eh tapikan hari ini kita mau belajar bareng. Apa lo nggak mau ikut," celetuk Angel mengingatkan rencana mereka untuk belajar bersama lagi.
Hufttt
Lucy membuang nafas kasarnya, entah mengapa ia sudah tak bernafsu untuk melakukan apapun. Termasuk berlajar bersama dengan kedua temannya itu.
"Lo berdua aja deh," lirihnya dengan kepala tertunduk.
"Jangan gitu dong Lucy! Ayo ikut bareng kita, semangat belajarnya. Biar bisa jawab soal pelajarannya sendiri," kata Fania menyemangati.
"Jujur gue takut guys!" sambung Lucy.
"Takut apalagi Lucy? Kan masalah tadi sudah kelar," ketus Angel lantaran kesal pada sahabatnya tersebut.
"Gue takut gue nggak dilulusin sama pihak sekolah! Apalagi tadi guru killer udah ngegep gue. Pasti dia bakal bilang ke kepala sekolah kita. Apa jangan-jangan besok ada penggeledahan lagi?" sungutnya masih dengan tertunduk.
"Udah nggak usah dipikirkan lagi. Intinya lo belajar aja ikut kita! Kalau tuh guru mau hukum lo, pasti sekarang lo nggak ada disini," racau Angel seraya menepuk pundak Lucy penuh keyakinan.
"Yaudah deh, ayo! tapi di rumah guekan? Sesuai kesepakatan kemarin!" ujarnya dengan lesu.
"Iyaaaa!!" ucap Fania dan Angel secara kompak.
Ketiganya keluar dari sekolah beriringan. "Naik apa nih?" tanya Fania seraya mereka berjalan keluar sekolah.
"Mobil gue ajalah!" sahut Lucy.
"Lah, bawa mobil lo?" celetuk Angel.
"Yoi!" balas Lucy singkat.
Ketiga sahabat itu berjalan ke arah parkiran sekolah. Lucy yang sudah berumur 18 Tahun sudah mengantongi SIM. Bahkan dia belajar mengemudi sejak usia 16 Tahun, tepat diusianya yang ke-17, kedua orangtuanya menghadiahkan sebuah mobil. Oleh karena itu, Lucy langsung ikut tes mengemudi sehingga berhasil menyabet SIM miliknya.
Berbeda dengan Angel, dia lebih suka balapan dengan motornya. Naik motor dianggapnya lebih keren dan macho, tidak seperti wanita biasa. Selama ujian, dia tidak pernah mengendarai motor sendiri, lebih memilih diantarkan supir keluarganya.
__ADS_1
Kalau Fani dengan kesederhanaannya, ia lebih sering naik angkutan umum. Terkadang langsung diantar oleh mamanya, sekaligus mamanya berangkat kerja.
"Masuk gih, terserah siapa yang mau didepan. Asal jangan lo berdua dibelakang, gue malah jadi kaya supir," kecam Lucy menunjukkan wajah seriusnya.
"Yaudah gue aja didepan," celetuk Fania. Kesepakatan itu disetujui oleh Angel. Angel memilih duduk dibelakang, sesekali ia bergeser ke tengah-tengah saat sedang mengobrol agar mendengarkan jelas pembicaraan mereka.
"Fan gimana hubungan lo sama Johan. Besok udah hari ketiga ujian, lusa kita udah beres ujian nih," sambar Angel membuka pembicaraan mereka didalam mobil.
Lucy yang sedang fokus menyetir seketika menoleh, jiwa kejulidannya mulai muncul.
"Iya nih, apa lo udah siap balikan sama dia? Gue perhatiin sih dari kemarin dia dapat juga tuh kunci jawaban yang kaya punya gue sama Angel pegang," cetus Lucy, rasa antusiasnya yang mulai meningkat lagi.
"Hmmmm,"
"Gue juga bingung! Gue masih galau sama perasaan gue. Perasaan gue mulai memudar, sudah nggak ada tekad mau melanjutkan hubungan ini," sambung Fania.
"Masalahnya, gue kemarin nggak bilang satu persyaratan cara mendapatkan nilai itu. Gue hanya bilang asalkan dia dapat nilai 8, otomatis gue mau balikan," keluh Lucy seraya mengeluarkan nafas beratnya.
"Iya juga sih! Jadi kalau nilainya bagus, lo nggak bisa nolak dong?" cecar Angel.
"Itu lo tahu! Gue jadi serba salah sih. Asli gue pengennya fokus sama pendidikan saja sekarang," kelit Fania.
"Sebenarnya gue takut, karena gue berasal dari anak broken home. Gue takut banget sakit hati, tersakiti karena laki-laki. Berhubung pacaran gue sama dia baru dua minggu, jadi gue nggak terlalu kecewa kemarin. Jujur aja gue pengennya dapat pacar beneran sayang sama gue dan tentunya perhatian," tambahnya kemudian.
"Iya gue ngerti perasaan lo Fan! Ya mau gimana lagi. Lo yang udah janji sama dia. Tapi lo coba aja dulu jalin hubungan lo sama Johan. Kali aja benih-benih cinta itu muncul lagi," seloroh Lucy.
"Eh, btw udah sampai nih. Ini rumah gue," timpal Lucy dengan senyum merekahnya, ia memarkirkan mobilnya didalam deretan garasi milik keluarganya. Seketika semangatnya mulai muncul, bahkan persoalan ujian tadi telah ia lupakan.
"Gila!! Besar banget rumah lo Lucy! Pantas aja lo royal banget," tukas Fania seraya keluar dari dalam mobil, ia menyorot rumah mewah berkonsep desain eropa yang ada didepannya, Fania benar-benar terpukau melihat luas rumah Lucy.
Sedangkan Angel dengan ekspresi datarnya, dia sudah terbiasa datang ke rumah itu. Karena mereka sudah sahabatan sejak bersama dikelas satu.
Dulunya sih bersama Baby, mereka bertiga akrab sekali. Tetapi, entah mengapa Angel dan Lucy ikut-ikutan memusuhi Baby, padahal kesalahan Baby hanyalah pada Fania.
"Ayo masuk," ajak Lucy dengan semangat.
__ADS_1
Didepan pintu rumah sudah ada lima pelayan yang menyambut kedatangan mereka bertiga. Lucy merupakan anak satu-satunya, selama ini hidup dengan bergelimangan harta.
Orangtuanya adalah salah satu pebisnis hebat di Jakarta. Tapi bagi anak-anak SMA seperti mereka, tidak pernah memperdulikan tentang harta kekayaan bahkan status orangtua mereka. Semua berteman biasa saja, tanpa memandang status sama sekali.
Lain halnya dengan Angel, dia juga memiliki rumah yang besar seperti Lucy. Orangtua Angel bukan pebisnis, melainkan pejabat terpandang di ibu kota.
"Mbak, tolong bikinin minum sama cemilan ya. Antar ke kamar aku saja," titah Lucy seraya merangkul kedua sahabatnya menuju kamar miliknya.
"Gila Lucy, rumah lo asli gede banget! Beruntung gue punya temen kaya lo," celetuk Fania seraya menyorot seisi ruangan yang dibalut dengan interior minimalis.
"Biasa aja kali Fan," sahut Lucy dengan malu-malu.
Lucy menarik daun pintu kamarnya yang bercat putih. Setelah iya buka, kamar minimalis berwarna tosca itu lagi-lagi mendapat pujian dari Fania.
"Nah, kalau yang ini kamar gue. Ayo kita masuk," ajaknya dengan semangat.
"CK," decak Fania penuh kekaguman.
"Bagus banget kamar lo! Plus luas banget," puji Fania dengan mata berbinar.
"Kamar dia memang senyaman itu sih Fan," sahut Angel menimpali.
"Udah jangan banyak omong, kita belajar diatas karpet aja, pakai meja lipat," sambung Lucy, mengambil sebuah meja lipat didalam lemarinya.
Karpet bulu yang lembut dan tebal terbentang luas didepan ranjang miliknya. Kamarnya persis kamar anak remaja kekinian.
Ruangan dibalut cat tosca, dipenuhi foto-foto didinding, foto mulai dari Lucy bayi hingga dewasa. Didalam kamar itupun diisi dengan perabotan mewah dan mahal mulai dari lemari, meja rias, meja belajar semuanya tertata rapih dan bersih.
"Sini duduk," ajak Lucy seraya menganggukkan tangannya pada Fania dan Angel.
Angel daritadi duduk santai diatas ranjang Lucy. Sedangkan Fania sedang berdiri, menyusuri ruangan, tatapannya juga terhenti pada pajangan foto lucu milik Lucy.
"Lucy, pantas aja lo nggak minat belajar. Apalagi mikirin lanjutan sekolah lo, orang lo udah kaya dari orok," sindir Fania.
"Ya lo mikir aja Fan, uang mama papanya nggak bakal habis tujuh turunan meski si Lucy nggak kuliah hahaha. Makanya dia malas belajar, udah ada warisan yang nunggu noh," timpal Angel dengan banyolannya.
__ADS_1