
Kring-Kring
Bel berbunyi, seluruh siswa angkatan terakhir kembali masuk ke kelas. Ujian hari itu cukup santai, penutupnya adalah ujian biologi. Fania dan kedua sahabatnya berhasil mengisi lembaran jawabannya dengan cara masing-masing.
Sama halnya dengan Johan, masih mengandalkan contekannya serta sebagian kemampuan otaknya.
Hingga dihari terakhir pelaksanaan ujian, mereka mejawabnya dengan hikmat. Suasana kondusif dan tenang melengkapi ujian terakhir mereka dengan penutupan mapel Kimia.
*********
Satu bulan kemudian..
Pengumuman kelulusan disampaikan melalui situs website pihak sekolah secara online. Fania dan kedua sahabatnya berkumpul di rumah Lucy, dengan jantung berdebar mereka menanti pengumuman tersebut.
Sengaja Fania dan Angel menginap di rumah Lucy, pengumuman dapat dilihat tepatnya pukul 12 malam.
Lucy sudah berada di depan laptop, disamping kanan dan kirinya diapit oleh Fania dan Angel.
"Duh nggak sabar gue," cetus Angel penasaran, saat itu hampir memasuki pengumuman. Mereka begadang tengah malam untuk melihat langsung hasil kelulusan.
"Sabar-sabar, lima menit lagi nih," celetuk Lucy menatap tajam layar laptopnya.
1..2..3..
Mereka bertiga berseru secara kompak, tepat pukul 12 malam, Lucy mengklik situs website sekolahnya. Muncul nama-nama siswa yang mendapatkan kelulusan dimulai dari prestasi teratas hingga yang dapat nilai paling rendah.
Disana juga tertulis untuk nama-nama siswa yang tidak lulus. Fania merasa bangga, namanya berada diurutan paling teratas.
Tidak perlu ia kerepotan mencari namanya. "Gila! Selamat ya Fan, nilai lo paling tinggi," ucap Angel dan Lucy kompak.
Mata mereka bergulir lagi menatap layar laptop. Mencari nama Angel dan Lucy. Angel berada diurutan tengah.
Kali ini, Fania dan Lucy kompak mengucapkan selamat kepada Angel. "Bagus juga nilai lo Ngel," ucap Fania menggulum senyum.
"Terakhir tinggal gue nih, belum ketemu nama gue hiks," celetuk Lucy dengan sendu, ia khawatir tak lulus karena kejadian contekan saat ujian berlangsung.
"Tenang Lucy! Ayo kita cari lagi nama lo," sambung Fania memberikan semangat.
Mereka meneliti satu-persatu, mulai nama yang berada dibawah Angel. Dari jumlah 300 orang siswa, satu-persatu dicek.
__ADS_1
Akhirnya, ketemulah nama Lucy diurutan lima terbawah. Lucy merasa lega meski masuk urutan ke lima paling bawah, setidaknya ia berhasil lulus.
"Lumayanlah nilai lo pas-pasan," ucap Angel datar.
"Selamat ya Lucy! Yang penting lo lulus!!" tegas Fania bersemangat, senyum simpul ia tunjukkan agar Lucy tak meratapi nilainya.
"Eh bentar... Bentar... Ada satu orang yang harus kita lihat nilainya!!" sambar Angel teringat seseorang yang sudah berjanji mendapatkan nilai rata-rata 8 pada ujiannya.
Lucy dan Fania menatap Angel dengan kompak. Satu nama yang ada dipikiran mereka yaitu 'Johan'.
Mereka meneliti satu-persatu. Mencari nama Johan tertera disana. "Waw!" pekik Angel tak menyangka apa yang ada dihadapannya.
"Eh kenapa?" tanya Lucy kebingungan.
"Itu lo lihat!! Nama Johan ternyata diatas nama gue," jawabnya histeris.
"Ah yang benar lo," geram Fania tak menyangka.
Mata Fania langsung tertuju pada satu nama diatas Angel. Johan Satria dinyatakan lulus dengan nilai rata-rata diatas 8.
"Ah mampus gue!" Fania menggerutu seorang diri, menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Yeeey, ada yang balikan nih," goda Lucy mengerling.
Sementara Lucy juga memiliki contekan yang smaa malah mendapatkan nilai yang biasa saja. Apakah selama ini Fania terlalu menyepelekan Johan, menganggapkan pria itu seperti orang bodoh?
Ataukah Johan berhasil menangkap semua pembelajaran yang ia sampaikan semasa mereka belajar bersama? Tanda tanya besar terus muncul dipikiran Fania.
"Ah galau gue! Mau nggak mau harus balikan," desis Fania.
"Yang sabar, coba aja dulu siapa tahu nanti malah lo jadi bucin gila sama tuh cowo," timpal Lucy.
"Jujur aja gue nggak mau pacaran, gue mau fokus sama kuliah gue guys," ringis Fania.
"Coba aja dulu Fan. Kan lo sendiri yang kasih syarat kedia," pungkas Angel.
Mereka bertiga merebahkan diri diatas ranjang. Larut dalam pikirannya masing-masing. Angel dengan suasana hati senang tinggal menunggu hasil tes SNMPTNnya untuk masuk ke IPB.
Sementara Lucy juga ikut mencoba tes masuk ke universitas yang sama dengan Angel, tetapi ia tak berharap lebih.
__ADS_1
Sedangkan Fania optimis bisa diterima dengan jalur nilai rapor bahkan ia memiliki nilai tertinggi diantara teman-teman satu sekolahnya.
Tapi yang saat ini Fania pikirkan, bagaimana cara menolak keputusan yang telah ia buat? Ataukan terpaksa ia harus mencoba lebih dulu hubungan dengan Johan?
"Ayo tidur, udah jam 1 pagi nih," cetus Angel merasa matanya sangat berat.
"Iya besok kita harus ke sekolahkan? Makanya buruan tidur," sambung Lucy.
"Kan agak siangan ke sekolahnya, jam 9 pagi kok. Sekali-kali begadanglah," celetuk Fania seraya meratapi nasibnya yang kelam.
"Jangan dong! Sumpah gue udah ngantuk parah. Kalau gitu gue tidur duluan," tutur Angel seraya menyipitkan kedua matanya, tak lama tenggelam dalam tidurnya.
Sementara Lucy dan Fania masih terbelalak, larut dalam pikirannya masing-masing.
"Fan, lo masih mikirin Johan?" ucap Lucy menoleh ke arah Fania dengan tatapan serius.
"He'em." Fania hanya berdehem menjawab pertanyaan Lucy, pikirannya menjadi kalut jika Johan esoknya meminta balikan.
"Emang lo serius nggak mau balikan? Gue lihat Johan itu benar-benar suka sama lo. Buktinya semasa lo menjalin hubungan, dia baik banget kan," ujar Lucy meyakinkan sahabatnya.
"Iya sih dia orangnya baik. Tapi banyak hal yang harus gue pikirkan lagi. Salah satunya tentang kuliah gue." Fania menatap Lucy dengan sendu.
"Eh tapi kok bisa si Johan dapat nilai lebih bagus dari Angel? Kan dia nggak pernah belajar," seru Fania masih tak percaya dengan nilai angka rata-rata milik Johan.
"Mungkin dia memang pintar kali. Selama ini pura-pura bodoh atau malas belajar aja," sahut Lucy mengangkat pundaknya.
"Tapi gue dulu sering ajarin dia, responnya juga biasa saja. Malah dia terkesan malas untuk belajar." Fania memiringkan tubuhnya membelakangi Angel tetapi menghadap ke wajah Lucy.
"Biasanya anak-anak berandal lebih menunjukkan sisi negatifnya. Sementara sisi positifnya dia sembunyikan. Sepertinya Johan memang pintar deh tapi dia sengaja tak menunjukkan itu," ucap Lucy gamblang.
Lucy memberikan saran pada sahabatnya sebelum mereka masuk ke dunia mimpi. "Sebaiknya coba dulu hubungan lo sama dia, kalau masih nggak yakin setelah ngejalanin hubungan itu, lo bisa putisin dia."
Setelah menuntaskan curhatan mereka, Fania dan Lucy menyusul Angel yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi. Mereka bertiga tidur dengan nyenyak.
*****
Suara riuh menggema di dalam kelas. Pagi itu, jam 9 semua siswa sudah berkumpul di kelas masing-masing dengan hebohnya. Termasuk ketiga sahabat sudah heboh membicarakan tentang persiapan kuliah mereka.
Sementara Johan duduk santai di kursinya. Sorotan mata elangnya hanya tertuju kepada perempuan yang memiliki ikatan janji padanya.
__ADS_1
Tak sabar rasanya Johan ingin menjadi pacar Fania seperti dulu. Johan ingin mencoba hubungan yang serius pada Fania, tidak hanya sekedar cinta monyet belaka.
Please,, bantu votenya ya sayaang!! Terimakasih