
Seharian dari pagi Baby telah mengikuti Johan Satria kemanapun ia pergi terutama saat jam istirahat.
Berbagai hal Baby lakukan sesuai dengan perintah Johan mulai dari mengangkat tas johan, mengelap sepatunya, membelikannya makanan, hingga memegangi minumannya saat ia sedang minum dengan sedotan.
Baby dengan gembira melaksanakan perintah Johan sebagai kacungnya. Baby tak merasa keberatan selama dia berada didekat pujaan hatinya.
Baby juga disuruh untuk mengerjakan PR milik Johan. Dengan senang hati Baby mengerjakan tanpa menolaknya. Menurutnya itu salah satu cara agar bisa terus berada didekat ketua geng sekolahnya.
Namun ada yang membuat Baby kecewa. Cintanya bak bertepuk sebelah tangan, meski Johan telah terang-terangan menolaknya dan mengatakan tak perlu lagi menyukainya. Johan menganggap Baby hanya sebagai teman satu kelasnya.
Johan tertangkap oleh Baby sering mencuri-curi pandang pada Fania. Ketika saat belajar, saat keluar kelas bahkan saat berkumpul dengan teman-temannya. Hal itu membuat Baby jengkel dan kesal.
Baby menerka-nerka kalau sebenarnya antara Johan dan Baby ada sesuatu. Dari ekspresi pria preman sekolah yang kejam dan galak itu justru terlihat sosok yang berbeda ketika ia memandangi Fania.
Seperti orang yang sedang jatuh cinta. Sering kali ia mencuri-curi pandangannya. Kadang Johan senyum-senyum sendiri ketika melihat sosok cantik Fania. Anak broken home yang periang dan ramah. Semua teman sekelasnya langsung menyukainya meski ia seorang murid pindahan.
*****
Johan masih mencoba berbaikan dengan Fania. Dari dalam kelas ia sering sekali melirik Fania. Sedangkan Fania sendiri acuh tak acuh melihat sosok Johan.
Fania Indriani juga lebih senang menjauhi pria keras seperti Johan yang suka membully dan kasar.
"Fan! gue mau minta maaf sama lo," bisik Johan yang sengaja berdiri disebelah kursi Fania.
Fania terkejut dengan kehadiran Johan. Daritadi ia memandangi sekitar, mengapa tiba-tiba ada Johan disampingnya. Entah darimana kemunculan pria itu. Apa yang merasukinya hingga berani meminta maaf pada perempuan seperti Fania.
__ADS_1
Fania melihat ke arah Johan. Beberapa anak-anak berbisik. "Apa maksud lo kesini? pergi sana!" ketus Fania.
Johan membalas ucapan Fania "Gue serius! gue mau baikan lagi sama lo! mau temenan kaya dulu," kata Johan memelas.
Fania langsung keluar kelas berharap Johan tak mengikutinya. Namun prediksinya salah, Johan malah mengejarnya. Mungkin lebih baik ngobrol diluar kelas daripada jadi cibiran anak-anak sekelas.
"Fan," teriak Johan tapi tak menghentikan langkah Fania. Beruntung saat itu masih jam belajar jadi tidak ada siswa yang berada diluar kelas. Sedangkan di kelas Fania kebetulan guru yang mengajar tidak masuk, hanya memberikan tugas saja kepada anak-anak.
Johan terus mengejar Fania. Fania berlari kearah belakang sekolah, tempat biasa Johan berkumpul bersama teman-temannya. Ia tak mau kejadian seperti kemarin menimpanya lagi.
Tak mau membut rumor disekolah semakin kacau. Karena Fania sangat terusik dengan rumor-rumor tentang dirinya yang dikabarkan telah menjalin hubungan dengan Johan Satria.
Saat dibelakang sekolah, Fania menghentikan langkah kakinya. "Mau lo apa sih? gue kan udah bilang kalau gue nggak mah temenan sama lo lagi," tegas Fania.
"Gue mau lo ngajarin gue lagi Fan. Gue mau kita temenan lagi. Please lah! lo maafin gue. Gue akui gue memang jahat sama anak-anak. Tapi gue nggak sejahat yang lo pikir fan," balas Johan membuat Fania semakin bertanya-tanya.
Johan membalas kembali ucapn Fania. "Sejak awal gue nggak maksa anak-anak untuk ngasih uangnya ke gue. Tapi mereka sendiri yang bersedia ngasih. Gue malah bantu mereka kalau ada yang dibully anak-anak lain tinggal nyebut nama gue, mereka akan aman. makanya mereka dengan senang hati ngasih uangnya ke gue,"
Perkataan Johan membuat Fania semakin bingung. Bagaimana mungkin seorang preman malah menyelamatkan anak-anak yang dibully. Padahal dulu ia sempat melihat anak lain dibully dan dipalak uang sakunya hingga masuk ke BP.
"Terus anak yang lo pukul kemarin gimana?" tanya Fania sinis.
"Ohh si anak guru itu? dia anak baru nggak kenal gue. Gue hanya kasih tanda pengenalan aja kok. Gue juga minta baik-baik uang sakunya dia, tapi dia malah ngajak ribut. Ya gue balaslah. kan akhirnya berakhir di BP," jawab Johan santai.
Fira kaget kalau preman sekolahan itu bisa juga dipanggil ke BP. Meski akhirnya hanya diberikan peringatan oleh sang guru. "Bisa juga lo masuk BP," lirihnya.
__ADS_1
"Ya bisalah kalau ada yang ngadu. Tapi tuh anak udah gue kasih pelajaran. Karena dia tahu dari anak-anak lain. Dan sekarang si Tirta dengan sukarela malah ngasih uang sakunya buat gue," kekeh Johan.
Fania bingung harus merespon Johan Satria seperti apa. Dia juga bingung harus menerima permintaan maafnya atau justru sebaliknya.
"Oh ya! lagian gue udah nyelamatin lo kan dari Baby dan teman-temannya. Gue tahu kok kalau mereka suka banget neror lo. Makanya gue hancurin tuh fans club yang nggak guna," keluh Johan.
"intinya sekarang lo mau balik temenan sama gue nggak? gue udah jelasin semuanya,"
Fania mendekati Johan dan melihat wajah Johan yang tampan namun juga terlihat galak. Perasaannya yang selama ini iya sembunyikan. Suara degup jantung Fania bergerak sangat cepat.
Yap! Fira merasakan perasaan saat dulu berada disekitar Johan. Preman sekolah yang takluk padanya. Tapi juga Fania merasakan perasaan yang aneh. Sepertinya ia sangat menyukai Johan.
Johan dan Fania saling menatap satu sama lain. Johan memerhatikan wajah Fania dengan jarak yang sangat dekat. Tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Fania. Ia hanya memerhatikan wajah Johan.
"Aneh! kenapa detak jantung gue cepat banget ya," tanyanya dalam hati.
Fania belum menyadari kalau selama ini dia sudah jatuh cinta pada Johan Satria. Rasa cintanya lebih ditutupi dengan rasa benci yang memuncak karena ia melihat tindakan bully serta teror yang menghantui Fania selama beberapa hari terakhir.
"Heh! kok lo diam?" tanya Johan yang menghentikan lamunan Fania.
"Jadi gimana?"
Fira kemudian melihat wajah tampan Johan. Ia mulai mendekat dengan jarak lima centimeter. Tinggi Fania bahkan hampir sama dengan Johan. Fania memiliki kaki yang jenjang.
Tak perlu ia kerepotan mengangkat tubuhnya hanya untuk mendekati wajah ketua geng itu. Tanpa disadari Fania ternyata mencium pipi Johan yang agak kasar.
__ADS_1
Johan terkejut hingga berjalan mundur menjauhi tubuh Fania. "Hah? kenapa dia malah menciumku," batin Johan.