Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
menata kembali


__ADS_3

"Yeyyy!! Gue lulus!!!" Angel melompat-lompat diatas ranjang milik Lucy. Sementara wajah Lucy tampak pias, ia gagal mengikuti jejak sahabatnya.


"Sabar Luc! Masih bisa masuk ke universitas swasta kok!" jawab Fania menenangkan sahabat satunya.


Lima menit yang lalu, mereka mengulirkan layar laptop yang sudah dibawa ke atas ranjang. Rasa deg-degan menyelimuti kedua pelajar yang baru saja lulus dari SMAnya.


Mereka menantikan detik-detik pengumuman SNMPTN melalui online. Setelah melihat pengumuman itu, yang satunya tampak bahagia. Sedangkan yang satunya lagi justru bersedih hati.


Angel langsung menghentikan aksinya melihat kekecewaan diraut wajah sahabatnya. Ia langsung duduk mendekati Lucy dan Fania. "Nggak apa-apa kok kalau kita nggak bisa satu kampus! Yang penting nanti kita masih bisa kumpul bareng! Lo masuk ke universitas swasta aja seperti kata Fania. Universitas swasta juga nggak kalah bagusnya kok!"


Perkataan Angel cukup menenangkan dihati Lucy. Ia mengira akan dicibir dikala kemampuannya tak seperti kedua sahabatnya. Tapi ternyata tidak, kedua sahabatnya itu tetap mendukungnya.


Setelah dirasa cukup malam, ketiganya langsung bergegas tidur. Meskipun besok mereka masih libur tetapi banyak hal yang harus dikerjakan terutama untuk Angel harus mengabari orangtuanya tentang kelulusannya. Mereka juga harus melakukan daftar ulang ke kampusnya.


******


Pagi menyapa, di rumah Fania, Anggita tampak sibuk mempersiapkan selembar kertas untuk pengajuan resign di kantornya. Ia sudah meminta izin dari suaminya untuk mengundurkan diri sehingga tidak bekerja lagi.


Sebab, diusianya yang sudah memasuki masa-masa yang cukup dianggap tua dan rentan seharusnya sudah tidak selayaknya untuk mengandung buah hati lagi. Oleh karena itu, ia harus menjaga masa kehamilannya agar tidak terjadi hal yang tak diinginkan.


"Sayang, ayo berangkat!" ajak Anggita pada suaminya yang sudah berjanji sejak semalam untuk mengantarkannya ke kantor.


"Kamu sudah yakin yank mau resign?" Jhonny membulatkan matanya, menatap lekat wanita yang sudah duduk di dalam mobil tepat disampingnya.


"Kamu udah berpuluh tahun loh kerja disana." Jhonny masih meragukan keputusan istrinya tapi jika itu keputusan yang tepat, mau tidak mau ia harus menyetujuinya.


"Yakin yank. Kamu jangan bikin aku galau lagi deh!" keluh Anggita menyeka keringatnya karena merasa kegerahan pagi ini. Entah mengapa setelah masa kehamilannya, ia mudah sekali merasakan kegerahan.


"Yaudah kalau gitu ayo kita berangkat!" tutur Jhonny menancapkan gasnya. Mobilnya pun keluar dari garasi. Ia mengantarkan istrinya, lalu berangkat untuk bekerja.


Anggita langsung menyerahkan surat pengunduran diri itu pada atasannya. Dengan rasa tidak enak hati, ia menyodorkan satu amplop putih di atas meja atasannya.


"Maaf pak ... saya ingin mengundurkan diri. Dengan berat hati saya mengatakan hal ini. Semua saya lakukan demi buah hati saya." Anggita melemparkan senyum lebarnya seraya mengelus perutnya yang masih datar.


"Tidak masalah bu Anggita. Ibu sudah sangat lama mengabdi untuk perusahaan ini. Kita akan mengadakan acara perpisahan untuk hari ini," sahut CEO di perusahaannya.


Jabatan Anggita padahal sudah cukup tinggi, ia sebagai manager di perusahaannya. Namun, karena kondisi kehamilan ia harus merelakan jabatan itu. CEOnya pun langsung memberikan pengumuman langsung pada karyawan lainnya. Mereka mengadakan perpisahan dengan acara makan-makan di dalam kantor.


*********


"Heh! Bangun! Udah jam 12 siang loh!" pekik Fania setelah mendapatkan satu pesan masuk di ponselnya.


Ia baru saja membaca pesan dari Johan tentang pertemuan mereka hari ini.


Pacarku

__ADS_1


Mau aku jemput?


Pria itu menawarkan penjemputan sebelum mereka berdua jalan bersama. Fania pun langsung membalas pesan itu.


Fania


Jemput gue di rumah Lucy ya? Alamatnya di Jalan Pucuk di Cinta Ulam Pun Tiba, no 20, Jakbar.


Ting


Suara ponsel Fania pun berbunyi lagi, Johan langsung membalas pesan itu. Saat ini, Johan telah bersiap-siap usai pulang dari kerja paruh waktunya.


Pacarku


Oke sayang!


Fania langsung tersenyum-senyum malu. Sementara kedua temannya belum bangun, ia memilih untuk langsung mandi saja. Menunggu kedua wanita itu bangun justru akan membuatnya terlambat bertemu jodohnya.


Selama 20 menit di kamar mandi, Fania keluar memakai bathrobe milik Lucy. Dia pun mencari bungkusan yang dibawanya setelah berbelanja kemarin. Dalam bungkusan itu, diambilnya satu dress berwarna hijau tosca untuk dipakai bertemu Johan.


Tak lupa, Fania juga memblow rambutnya agar tertata rapih dan cantik. Dibagian bawah rambutnya ia sengaja membuat gelombang curly agar tampilannya semakin manis.


Ting


Pacarku


Suara ponsel notifikasi Fania berbunyi. Johan ternyata sudah tiba di depan rumah Lucy.


"Eh woi! Bangun lo berdua! Gue balik duluan ya! Mau jalan sama ayang beb!" ucap Fania heboh saat kedua temannya masih mencoba sadar.


Fania pun menciumi pipi kedua sahabatnya, lalu berlari membawa seluruh barang bawaannya. Ia berlari ke depan rumah Lucy.


Johan dari kejauhan langsung kesemsem melihat kecantikan pacarnya. Baru kali ini, ia melihat Fania sangat cantik mengenakan dress dan rambut yang tertata rapih. Seperti ingin menemui seorang pangeran. Pangerannya tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.


"Cantik banget!" puji Johan membuat Fania tersipu malu.


"Iya dong! Kan mau ketemu pacar aku," balas Fania malu-malu, pipinya merona tapi tak ia sembunyikan. Fania sudah kembali melabuhkan hatinya pada bos geng di sekolahnya itu.


"Ayo naik," titah Johan menepuk kursi motor di belakangnya. Fania pun langsung naik ke motor itu. Dan memakai helem pemberian dari Johan.


"Kemana kita?" tanya Fania yang belum mengetahui rencana Johan hari ini.


"Ke rumah aku," jawab Johan gamang.


"Maksudnya? Ke rumah kamu ngapain?" cecar Fania kebingungan.

__ADS_1


"Aku mau nunjukin gimana kondisiku sebenarnya," lirih Johan mulai menyalakan motornya.


"Hah? Maksudnya apa?" Fania hanya menatap punggung pacarnya seraya penuh tanya.


"Udah ikut aja! Aku mau kenalin kamu sama mama dan ayahku." Johan pun melajukan motornya.


Dengan penuh rasa bingung dan takut, Fania mencoba tetap tenang. Mereka baru pacaran ala remaja tetapi kenapa harus dikenalkan pada kedua orang tua pacarnya.


Degupan jantung Fania berdetak begitu kencang. Aliran darahnya pun berpacu cepat ketika mereka memasuki gang kecil rumah Johan. Ia meneliti kawasan kumuh dengan rasa penasaran dan penuh tanya.


Ini beneran rumah cowok gue?


Rasa tak percaya memuncah dipikiran Fania. Entah harus menerima apa adanya atau menolak pacarnya itu. Padahal, Fania baru saja menata kembali hatinya untuk pria yang paling ditakuti semasa SMA mereka.


Johan memberhentikan motornya tepat di depan rumahnya. Sebelum mereka turun dari motor, Johan membuka helemnya dan menyodorkan satu kotak dengan hiasan cantik berwarna merah muda.


"A–apa ini?" Fania yang baru membuka helemnya langsung meraih kotak kecil itu.


"Buka saja!" titah Johan menatap lekat pacarnya.


Fania terharu melihat sebuah kalung yang ada di dalam kotak itu. Kalung berwarna silver dengan permata di liontinnya. Sangat cantik dan indah.


"Itu hasil kerja kerasku! Terimalah. Dan yang ada dihadapanmu saat ini adalah rumahku. Ini kondisi sebenarnya dari hidupku," celetuk Johan seraya mengulas senyum disudut bibirnya.


"I–ini rumah kamu? Yang benar?" cecar Fania masih merasa tak percaya.


Johan pun mengangguk. Lalu menarik lengan pacarnya untuk turun dari motor dan memasuki rumah kecil berdinding semen serta masih berlantai semen.


Fania mengikutinya masih dengan rasa tak percaya. "Ma, Yah, ada tamu nih," teriak Johan setelah berada di depan pintu rumahnya.


Kedua orang tua Johan langsung datang menghampiri. Dengan senyum dan rasa bahagia, kedua orang tua Johan sangat menerima kehadiran Fania.


"Kenalin tante, om, saya Fania pacar Johan." Fania mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan kedua orang tua itu secara bergantian.


"Iya sayang, selamat datang ya. Beginilah keadaaan kami. Seadanya dari keluarga kecil," ungkap mama Johan dengan melebarkan senyumannya sangat ramah. Sebelum Johan berangkat, ia sudah berpesan pada mama dan ayahnya kalau hari ini akan mengajak pacarnya ke rumah.


"Iya nggak apa-apa tante," balas Fania seraya melayangkan senyuman lebar.


"Ayo masuk!" ajak wanita itu.


Fania pun mengikuti langkah kaki kedua orang tua pacarnya. Ia merasa haru dan bangga pada Johan karena tak malu memperkenalkan orang tua serta memperlihatkan kondisi keluarganya.


Bahkan, Johan rela bekerja keras demi membelikannya sebuah kalung. Fania menggulum senyum lebarnya menatap Johan penuh haru. Tatapan itupun dibalas oleh Johan dengan senyuman tipisnya seraya mengangguk pelan menatap lekat Fania dengan rasa bahagia karena telah menerimanya menjadi pacarnya.


...THE END/ TAMAT...

__ADS_1


Terimakasih sudah setia membaca novel ini...


__ADS_2