
"Uppss sorry!" ledek Lucy sambil cengengesan pada Fania dan Angel.
Suasana menjadi hening kembali. Fania menjelaskan beberapa soal serta jawabannya untuk persiapan besok ujian.
Angel dan Lucy hanya mendengarkan ocehan Fania menjelaskan satu-persatu soal yang ada didepan mereka.
"Gila ya! Soal-soal ujian ini bikin gue mumet! Gimana kalau kita senang-senang dulu yuk," ajak Lucy pada dua sahabatnya. Tingkah Lucy ini memang kadang rada-rada bermasalah.
Tidak seperti anak SMA pada umumnya, Lucy sangat tidak suka belajar. Dia lebih baik memilih berhura-hura menikmati masa akhir sekolahnya.
"Ihhhh! Kita kesini buat belajar loh," tegur Fania karena kesal dengan sikap Lucy yang cepat bosanan untuk mengerjakan sesuatu.
"Iyah nih! Baru juga 20 menit disini Lucy, lo sudah ingin bubar aja ngajak main-main," gerutu Angel yang memang sudah biasa menghadapi teman gesreknya itu.
"Ah kalian ga seru!" keluh Lucy dengan senyum menggodanya.
"Nonton bioskop aja lah yuk," ajaknya lagi, siapa tahu kedua temannya itu akan berubah pikiran.
"No No!! Besok ujian sayang! Kok malah mau nonton bioskop," Fania dengan tegas menolak keinginan sahabatnya itu agar lebih fokus belajarnya.
"Kita lanjut lagi ya ke soal berikutnya," Fania lagi-lagi menjelaskan soal dihadapannya.
Hingga satu jam berlalu, beberapa soal ujian yang menjadi acuan mereka untuk besok menghadapi ujian telah dibahas.
"Gue doain deh kita bertiga besok dapat nilai bagus," ucap Fania sambil menepuk pundak kedua temannya.
"Sumpah gue bored banget!!! Pusing sama soal-soal tadi, gimana kalau kita jalan-jalan bentar? Ngilangin penat," seru Lucy yang memang doyannya untuk bersenang-senang.
"Boleh juga," usul Angel karena kepalanya juga serasa mau pecah dan mumet membahas soal-soal tadi.
"Baiklah kalau gitu kita diantar supir gue aja. Emang mau pada kemana sih?" tanya Fania gamang, dia tidak pernah berpikir untuk bersenang-senang dikala memasuki waktu ujian.
"Mall ajalah," sahut Lucy dengan senyum semangatnya.
"Oke!"
Fania pamit meninggalkan kedua sahabatnya untuk meminta izin pada mamanya. Sekaligus meminta agar supirnya diizinkan membawa mereka ngemall.
"Ma, Fania sama teman-teman mau main ke mall. Boleh nggak ma?" tanyanya untuk meminta izin sang mama yang berada di dalam kamarnya sambil menatap ponselnya.
"Kalau masuk itu ketuk pintu dulu! Kalau ada papa barumu gimana. Ujug-ujug main masuk aja," sindir Anggita tak terima dengan kebiasaan anaknya, karena sebelum ia menikahi berondong mudanya, Fania seringkali masuk tiba-tiba tanpa izin.
__ADS_1
"Kan om itu kerja. Fania juga tahu kali jam berapa om itu ada di rumah," singgung Fania dengan ketusnya.
"Kamu ini dikasih tahu malah ngeyel. Lagian kan ini masa-masa ujian, ngapain juga kamu malah ngemall," ketus Anggita dengan tatapan tajamnya memperhatikan putrinya yang berdiri didepan pintu kamarnya saat ini.
"Refreshing lah ma, toh tadi mama udah lihat kan kita sudah belajar. Boleh yah ma yah," pintanya dengan wajah memelas agar diperbolehkan mamanya.
"Yasudah boleh! Minta diantarkan Pak Sudi saja," jawab Anggita seraya mamalingkan wajahnya kemudian menatap kembali ponselnya.
"Oke! Fania pergi dulu," teriaknya sambil menarik daun pintu kamar, lalu menutupnya dengan pelan agar tak mengganggu mamanya.
"Yuk guys! Mama bolehin kita pergi," kata Fania sambil merapihkan buku-bukunya diatas meja.
"Nah gitu dong!! Waktunya senang-senang," teriak Lucy sambil melompat-lompat kegirangan.
Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan rumah Fania. "Lets go!" ucap Angel dengan riang saat memasuki mobil mewah yang ada digarasi rumah Fania.
Ketiga sahabat itu ternyata setara, sama-sama merupakan anak orang kaya. Jadi baik Lucy maupun Angel sudah tak kaget melihat mobil mewah yang berderet rapih digarasi rumah Fania.
Meskipun mereka sebenarnya tak pernah memilih-milih teman. Tapi karena kebetulan saja mereka bertiga berteman, berawal saat kursi belajar mereka berdekatan.
Sesampainya di salah satu mall terbesar di Jakarta, ketiganya malah menjadi bingung mau ngapain. "Enaknya ngapain nih?" tanya Lucy yang juga bingung ketika sudah menginjakkan kakinya ke dalam mall.
Tidak mungkin sekarang mereka berbelanja. Karena kalau berbelanja lebih baik membelinya via online menggunakan kartu kredit orangtuanya.
"Ah elo lagi, jauh-jauh kesini malah ke toko buku," sindir Angel tak terima dengan saran sahabatnya itu.
"Udahlah kita ke area permainan anak-anak aja. Ada funworld disana, gue juga punya kartunya tinggal top up saja," saran Lucy karena ia sering mampir kesana untuk bermain saat bersama orangtuanya.
"Oke" dengan serentak Angel dan Fania mengucapkannya. Mereka ke lantai paling atas yang ada di mall menggunakan lift yang ada.
Baru juga sampai, hal yang pertama kali dilakukan adalah top up kartu bermain itu. Anak orang kaya yang berbeda, tidak perlu split bill segala. Lucy dengan entengnya mengeluarkan uang lima ratus ribu untuk mengisi kartu funworldnya.
"Gileee! Anak horang kaya mah beda ya," ledek Fania karena Lucy tak meminta uang padanya dan Angel hanya untuk top up kartunya.
"Seloooww! Kalau ini gue masih mampu bayar sendiri," jawabnya santai sambil mengangkat tangannya lalu menjentikkan jempolnya ke jari telunjuk.
"Udah hayo kita main sepuasnya!" teriak Lucy sambil merangkul dua sahabatnya berjalan mencari target permainan yang ia sukai.
"Roller coaster gimana?" usul Lucy karena penasaran dengan wahana itu. Dia tak pernah berani untuk menaikinya selama datang ke tempat ini, walaupun ini dalam bentuk roller coaster mini.
"Boleh juga. Lo takut ga Fan?" tanya Angel khawatir Fania malah menolak untuk naik wahana tersebut.
__ADS_1
"Cemen! Gassss!" seru Fania dengan semangatnya. Ia juga sama seperti Lucy, belum pernah menaiki roller coaster.
Angel dan Lucy duduk bersampingan, sedangkan Fania berada dibelakang mereka. Mereka bertiga mengetatkan sabuk pengamannya.
"Kalau aja si Baby nggak berulah, pasti dia ada disini bareng kita," tutur Angel dengan polosnya.
"Heh," singgung Lucy sambil menowel lengan temannya itu.
"Upss sorry salah ucap," tambahnya lagi.
"Nggak apa-apa kali. Memang benar apa kata Angel. Sorry ya kalau gue nggak bisa temenan lagi sama Baby," lirih Fania sambil menundukkan kepalanya. Tapi ia justru tak menyesal menjauhi Baby, justru merasa lega karena tidak memiliki teman ular sepertinya.
"Udah guys jangan banyak omong! Siap-siap roller coasternya mulai bergerak," teriak Lucy membuat suasana menegang.
Baru saja roller coaster itu melaju pelan, tiba-tiba kecepatan lajunya bertambah.
"Aaaaaaaaaa," teriak ketiganya membuat suasana semakin meriah.
Jantung mereka serasa mau copot. Hampir sepuluh menit naik roller coaster, ternyata rasanya sudah mencekam.
"Gila! Gue nggak mau lagi naik itu," gerutu Fania karena kesal telah menyetujui ajakan Lucy.
hahahaha
Gelak tawa Angel justru mendapat amukan dari Lucy dan Fania.
"Lo gila ya malah ketawa," singgung Lucy karena kesalnya.
"Iya nih. Apa lo udah pernah naik itu?" tanya Fania dengan tatapan tajamnya.
"Udah pernah gue! Makanya tadi gue pastiin lo mau apa engga! Soalnya lumayan ekstrim," ledek Angel dengan senyum kemenangannya.
"Eh.. Eh.. bentar deh, gue nggak salah lihat kan?" ucap Lucy sambil menepuk-nepuk lengan kedua temannya itu.
"Apaan sih?" tanya Fania bingung karena belum mengerti maksud Lucy.
"Itu lo lihat deh, itu Johan teman sekelas kita kan?" jawab Lucy kali ini sambil mengucek-kucek matanya memastikan penglihatannya tidak salah lagi.
Angel dan Fania menoleh kearah penglihatan Lucy. Benar saja, mereka mendapati sosok Johan yang tengah asik bermain bola basket bersama teman-temannya yang lain.
"Kayanya lo nggak salah lihat deh," sambar Fania sambil memelototkan matanya memastikan sosok itu adalah Johan.
__ADS_1
HEY HEY!!
*JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE DAN MASUKKAN NOVEL INI KE LIST FAVORIT KAMU YA DEAR**😍*