
"Ayo kita samperin dia," usul Lucy dengan semangat menggebu-gebu, ia berniat agar Fania balikan lagi dengan Johan. Menurutnya, Johan adalah pria baik, yang sangat cocok bersanding dengan sahabatnya.
Lucy dan Angel berjalan lebih dulu ingin menghampiri Johan. Tapi Fania memberhentikan mereka.
"Tunggu! Mendingan jangan deh!! Dia lagi asik sama temannya," ucap Fania yang sebenarnya malas sekali ketemu mantan kekasihnya itu. Sebisa mungkin lebih baik dihindari daripada Johan merengek untuk memperbaiki hubungan mereka.
"Yaudah lo disitu aja sendiri, biar gue sama angel yang nyamperin dia," ketus Lucy seraya lanjut berjalan kearah Johan.
Dengan terpaksa Fania mengikuti kedua sahabatnya dari belakang. "Ngapain sih kepo banget sama si Johan. Padahal biarin aja, dia aja nggak peduli dan nggak tau kita ada disini," jelas Fania dengan maksud menghentikan kedua temannya tersebut.
"Udah lo diam aja. Biar gue sama Angel yang nyapa," Lucy melanjutkan perkataannya.
"Hey Jo! Tumben lo disini," ucap Lucy mengalihkan pandangan Johan yang dari tadi fokus dengan permainannya.
"Eh Lucy, ada Angel juga. Gue diajak Brian kesini. Katanya refreshing abis ujian," balasnya cepat tapi tak melihat sosok Fania yang ada dibalik tubuh Lucy dan Angel. Lalu ia melanjutkan melempar satu-persatu bola basketnya ke ring hingga permainan selesai.
Beruntung sekali Johan memiliki teman-teman yang cukup kaya. Bisa membawanya ke salah satu mall terbesar di Jakarta.
"Udahan dululah mainnya. Coba tebak ada siapa disini," kata-kata dari Angel seketika menarik perhatian Johan. Yang ada dipikirannya adalah Fania.
"Ah ya Fania! Kalau ada dua orang ini, otomatis pasti ada Fania," batin Johan.
Johan membalikkan tubuhnya, betul saja ia mendapati sosok Fania yang bersembunyi dibalik tubuh kedua temannya itu.
"Fan! Lo ngapain sembunyi disitu," sindir Johan membuat Fania langsung menyingkir dari persembunyiannya dan menatap wajah Johan.
"Kok lo disini? Bukannya belajar. Gimana mau dapat nilai bagus!" singgung Fania bernada ketus.
"Gue udah belajar tadi sama teman-teman gue. Kesini cuma main bentaran doang. Lah lo sendiri ngapain disini? Bukannya lo lebih suka belajar," balas Johan.
Angel dan Lucy saling menatap. "Eh tinggalin nggak nih mereka berdua?" bisik Anggel pada Lucy.
__ADS_1
"Iyah kasih waktu kali aja bisa PDKT lagi," jawab Lucy sambil memundurkan langkahnya diikuti oleh Angel. Mereka agak menjauh dari Johan dan Fania. Sementara teman-teman Johan tadi juga sedang asik melanjutkan permainan basketnya.
"Fan! Please gue mau kita balikan," lanjut Johan lagi padahal Fania belum menjawab pertanyaan sebelumnya. Ia melihat Angel dan Lucy menjauh, sehingga itu menjadi kesempatan baginya untuk mengajak Fania rujuk kembali alias mau berpacaran lagi.
"Jo! Lo kan tau ini lagi masa ujian. Mana bisa gue pacaran sama lo. Gue mau fokus sama ujian dan proses masuk ke kampus pilihan gue. Please Jo! Nggak usah ungkit hal itu lagi," jawab Fania dengan santai.
Saat ini ia belum kepikiran untuk berpacaran lagi. Karena fokus satu-satunya adalah bisa diterima di kampus negeri nomor satu. Universitas Indonesia, satu-satunya universitas yang ia inginkan sebagai tempat menimba ilmu.
"Kan dulu lo bisa juga belajar sambil pacaran. Kenapa sekarang engga?" tanyanya dengan hati-hati takut menyakiti perasaan Fania lagi. Johan tahu kalau dia belum dimaafkan oleh Fania, sehingga sangat sulit baginya untuk mengajak Fania balikan lagi.
"Ya kan dulu kita masih proses persiapan ujian. Pacaran itu jadi hiburan. Kalau sekarang untuk apa pacaran kalau hanya nyakitin batin doang? Mendingan gue fokus ujian dan keterima di kampus pilihan gue," tutur Fania dengan tegas menolak ajakan mantan pacarnya.
"Jadi kapan lo mau balikan sama gue? Kan lo bilang cuma break! Bukan putus, artinya lo bakal terima gue lagi kan?" Johan memastikan jawaban Fania agar ada kesempatan baginya kembali untuk memenangkan hati Fania.
"Nantilah gue pikir-pikir dulu. Mungkin kalau gue keterima di kampus pilihan gue, lo bisa jadi pacar gue lagi," balas Fania secara spontan.
"Janji lo ya? Nggak ada alasan lagi buat nolak gue kalau lo beneran diterima di kampus itu?"
Bagai bumerang baginya, Johan dengan mudah akan kembali padanya kalau mendengar Fania diterima di kampus pilihannya.
"Bego banget gue ngasih syarat yang nguntungin dia banget," batin Dira mengeluhkan perkataan yang diberikannya pada Johan secara spontan.
"Sial! Kalau gue keterima di kampus itu, mau nggak mau gue harus jadi pacar dia lagi," lirih Fania.
"Jo" panggil Fania yang ingin memberikan satu syarat lagi pada Johan. Ia tak mau hanya berjuang sendiri, dengan enaknya Johan akan menjadi pacarnya lagi.
"Ya?" jawab Johan singkat dengan tatapan tajamnya seperti menyelidiki Fania.
"Kenapa?" tanya Johan lagi.
"Syaratnya gue rubah, ada satu syarat lain yang harus lo lakuin," tandas Fania dengan datarnya.
__ADS_1
"Syarat untuk gue? apa yang harus gue lakuin? Jujur gue sayang banget sama lo! Masa kita baru pacaran saja sudah putus, apalagi bukan karena kesalahan gue," cetusnya karena tak terima dengan keputusan Fania.
"Iya! Intinya ini harus tetap lo lakuin. Kalau syarat dari gue nggak bisa lo lakuin, artinya gue nggak bisa terima lo lagi jadi pacar gue," ketus Fania dengan cukup keras membuat Angel dan Lucy mendengarnya sehingga mereka juga bertanya-tanya.
"Apa sih rencana si Fania? Cowo sebaik itu malah disia-siakan," sindir Angel.
"Iya nih, Fania kok ribet banget. Johan itu cinta sama dia, kenapa pake syarat-syarat segala," cibir Lucy.
Akhirnya Lucy dan Angel diam menunggu kejelasan hubungan Johan dan Fania, memerhatikan dengan serius dari kejauhan sembari menguping pembicaraan mereka.
"Apa syarat yang harus gue lakuin?" tanya Johan dengan sorotan tajamnya.
Ia tak mau syarat dari Fania akan menyulitkannya kedepannya. Namun disisi lain, ia juga tak bisa merelakan Fania begitu saja. Apalagi sampai berpacaran dengan pria lain.
Terutama saat Fani dimasa kuliahnya nanti, dunia baru yang akan dijalaninya. Ia akan bertemu pria-pria lebih tampan dari Johan.
"Fan?" tanya Johan ragu-ragu, karena Fania dari tadi diam saja memerhatikannya.
"Syaratnya mudah kok Jo! Asal lo giat belajar, pasti lo bisa!" jawab Fania dengan entengnya.
"Iya apa syaratnya? Jangan berbelit-belit deh!" tanya Johan semakin penasaran.
"Sekarang kita baru satu hari ujian. Nah mulai nanti malam lo belajar beneran! Supaya nilai lo bagus. Dan itu bisa jadi modal lo kedepannya," tutur Fania dengan gamang, sehingga Johan tak mengerti apa maksud dari perkataannya tersebut.
"Jadi intinya apa syaratnya?" desak Johan kian penasaran.
"Gue mau, lo masuk ke salah satu universitas negeri. Di daerah manapun itu! Gue siap kalau kita harus berjauhan. Gue akan siap menjalin hubungan LDR sama lo," ungkap Fania dengan tegas.
"Makanya dari sekarang lo siap-siap untuk ujian masuk ke universitas negeri yang ada di negara ini," pintanya dengan ekspresi yang cukup memaksa Johan karena sama halnya dengan Johan, Fania pun masih menyayangi mantan kekasihnya dan berharap Johan bisa memenuhi keinginannya.
*Jangan lupa supportnya ya sayang!! Komen, like, vote, dan masukkan novel ini ke list favorit kalian**🥰🥰*
__ADS_1