Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
mutar-mutar


__ADS_3

"Sepertinya tidak bisa hari ini ke rumahku! Orangtuaku melarang untuk berpacaran. Lo kan dengar sendiri kalau gue adalah ketua geng anti pacaran," tolak Johan secara halus.


Fania langsung teringat dengan perkataan Kemal dan Jefri, kalau Johan memang tidak pernah berpacaran dan dicap sebagai preman anti pacaran. Oleh karena itu Fania Indriani adalah pacar pertama bagi Johan.


"Sorry! Gue baru ingat. Oh jadi karena orangtua lo yang ngelarang makanya lo nggak pernah pacaran ya?" tanya Fania.


Perlu effort yang sangat besar untuk Johan bisa mendengarkan suara Fania. Sebab, suaranya bahkan hampir tidak kedengaran karena berada diatas motor yang sedang berhalan.


"Lo bilang apa sih?" Gue nggak dengar," teriak Johan.


"Susah Jo! Capek gue harus teriak-teriak," jawab Fania.


Johan pun memberhentikan motornya dipinggir jalan. Lalu mempertanyakan kembali ucapan Fania. Terpaksa Fania harus mengulang lagi perkataannya.


"Sorry! Gue baru ingat. Oh jadi karena orangtua lo yang ngelarang makanya lo nggak pernah pacaran ya?" tanya Fania lagi.


Johan mengangguk, beruntung alasannya sangat masuk akal. "Iyalah sudah pasti! Makanya gue nggak berani ngajak lo ke rumah gue! Yang ada lo diusir sama nyokap gue. Jadi enaknya kita kemana nih?" tanya Johan.


"Mutar-mutar sajalah! Gue juga lapar, mending kita nyari makan dulu," ajak Fania yang disetujui oleh Johan.


Johan dan Fania mencari makanan dipinggir jalan. Bukan resto mewah, karena Fania juga sadar diri. Dia tidak ingin memberatkan Johan karena terus-terusan ditraktir.


"Disana aja yuk," Fania menunjuk sebuah warung nasi kecil dipinggir jalan.


Johan kebingungan, apakah benar yang ditunjuk Fania adalah warung nasi yang kecil dipinggir jalan. Karena tidak mungkin anak orang kaya seperti Fania mau makan makanan dipinggir jalan.


"Yang itu?" tanya Johan memastikan.


Fania mengangguk karena hanya itu satu-satunya tempat makanan yang dia tunjuk.


"Lo serius mau makan disitu," Johan kembali memastikan.


"Iya Johan!" jawab Fania dengan tegas.


Mereka berdua mampir di warung nasi dan memesan dua menu sederhana hanya nasi dengan telur dadar. "Lo beneran mau makan ini," tanya Johan lagi.

__ADS_1


"Iyaa! Yaampun Johan! sudah makan saja," titah Fania dengan sinis.


"Pas banget duit gue juga udah tipis! Fania ngertiin gue banget!" batin Johan sambil melahap makanan didepannya.


Makanan sederhana itu bahkan terasa nikmat. Walau hanya ditutup dengan teh tawar hangat, itu cukup mengenyangkan bagi Fania dan Johan.


"Jadi lo hari ini mau kemana lagi? Barang bawaan gue lumayan banyak nih! Tapi lo pulang ke rumah lagi kan," Johan memastikan agar Fania pulang ke rumahnya.


"Iyalah! mau kemana lagi? Sekarang gue mau ngulur waktu! Ajak gue keliling Jakarta," pinta Fania.


Johan pun mengikuti kemauan pacarnya itu. Mereka kembali naik ke motor setelah Johan membayar semua makanannya. Beruntung tidak menghabiskan uang yang banyak. Johan hanya mengeluarkan uang dua puluh ribu untuk dua porsi nasi dengan telor dadar.


"Pakai helmnya! Ayo kita keliling," teriak Johan.


Johan memutar-mutar sepanjang jalannya. Mengitari Kota Jakarta meskipun tengah hari terik demi menyenangkan Fania.


Fania tampak gembira, sesekali mereka juga berhenti dipinggir jalan hanya untuk menikmati es tes yang mereka beli untuk menghilangkan dahaganya.


Tidak terasa sudah sore hari, Johan juga sudah mulai merasa lelah mengendarai motor seharian. Belum istirahat sama sekali.


"Fan saatnya pulang ya?" bujuk Johan agar ia bisa segera beristirahat mengingat besok harus kembali masuk sekolah.


Johan kembali mengantarkan Fania ke rumahnya. Ternyata lagi-lagi mama Fania sedang berada di depan rumah.


Anggita sebenarnya khawatir daritadi kalau anaknya tidak mau pulang ke rumah. Sehingga dia sengaja menunggu Fania di depan rumah.


"Kamu lagi! Bawa kabur anak saya!" ketus Anggita.


"Maaf tante.. Tadi Fania yang ingin ikut saya. Saya tidak ada pilihan lain," jawab Johan yang masih berada diatas motornya.


Fania memberikan kode pada Johan agar ia segera pergi.


"Mama ngapain sih disini! Ayo kita masuk," Fania langsung mendorong tubuh mamanya agar memasuki halaman rumah. Dan dia dengan cepat memberikan kode anggukan kepala agar Johan segera pergi dari rumahya.


"Kamu ngapain sih dorong-dorong mama?" bentak Anggita dengan suara tingginya.

__ADS_1


"Mama kenapa sih marah-marah terus? Kan mama yang salah baca-baca diary punya Fania! Harusnya Fania yang marah-marah," balas Fania.


"Itu mama baca demi kebaikan kamu! Yang mau mama tahu sekarang! Kenapa kamu malah pacaran sama dia?" tanya Anggita penasaran.


"Namanya juga suka ma. Johan juga suka sama aku. Lagian kan aku juga sudah mulai dewasa! Mama urusin aja tuh suami berondong mama! om itu. Mama aja nikahin om itu tidak minta izin Fania. Trus kenapa Fania harus minta izin mau pacaran," amukan Fania membuat Anggita berpikir sejenak.


Selama ini dia tidak mau mendengarkan pendapat dari putri semata wayangnya. Terlebih soal rencananya dulu sebelum menikahi suaminya yang sekarang.


Dia juga tidak mengenalkan suaminya itu pada Fania sebelum pernikahan. Tahu-tahu Fania membaca langsung dari undangan pernikahan mereka yang dimeja rumahnya.


"Itu bukan urusan kamu! Udah ngapain aja kamu sama dia?" Anggita mengalihkan pertanyaan Fania tentang suami berondongnya.


"Apa maksud mama?" kecam Fania. Fania tak menyangka mamanya berpikiran buruk tentang pacarnya.


"Kok malah balik tanya. Kamu sudah menginap dengan dia, terus apa yang kamu lakuin sama dia," tegas Anggita memastikan anaknya tak melakukan hal diluar batas.


"Ya aku tidurlah ma kalau nginap bareng," jawab Fania santai.


"Laki-laki dan perempuan tidur berdua satu kamar terus ngapain?" desak Anggita.


"Kok malah nuduh yang engga-engga? Tanya dulu dong pelan-pelan gimana ceritanya! Main tuduh-tuduh aja," keluh Fania.


"Sekarang mama tanya baik-baik! Mama nggak mau anak mama yang belum lulus sekolah tiba-tiba MBA! Jadi jujur sekarang!" paksa Anggita agar Fania mengakui semua perbuatannya.


"Dih! Sok tahu mama!" Fania meninggalkan Anggita dan langsung masuk ke kamarnya. Dia bahkan dengan beraninya membanting daun pintu kamarnya sehingga membuat Anggita terkejut.


"Fania! Fania!!! Sini kamu! Mama belum selesai bicara. Berani kamu ya melawan orangtua," teriak Anggita tapi terus dicuekin oleh Fania.


Fania memasang earphone ditelinganya dengan asiknya mendengarkan musik agar suara mamanya tak lagi terdengar.


Karena merasa tak dihargai, Anggita ke Kamar putri semata wayangnya itu dan mengetuk-ngetuk daun pintu dengan kencang.


Tapi pintu tidak juga terbuka. "Fania.....aa!!!" teriakan Anggita memenuhi ruangan.


"Ada apa sayang," tanya suami brondong Anggita, Jhonny yang baru saja pulang bekerja.

__ADS_1


"Biasa si Fania selalu bikin ulah! Tadi malam dia menginap dengan laki-laki. Padahal izinnya mau pergi bersama teman-temannya. Tapi ternyata yang terjadi malah berbeda! Laki-laki itu juga dibawa ke rumah ini," cerita Anggita.


"Sudahlah! Biarkan sajalah! Fania itu sudah dewasa! Dia sudah mengerti mana yang benar dan salah. Kamu saja yang terlalu melebih-lebihkan. Tidak mungkin dia tidur sekamar dengan pria itu," ucap Jhonny menenangkan Anggita yang amarahnya terlihat sangat memuncak.


__ADS_2