Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
Dia marah besar


__ADS_3

Setelah Fania Indriani mengetahui sikap Johan Satria teman satu kelasnya. Fania engga menyapa bahkan diluar jam sekolah. Berkali-kali Johan mencoba untuk mengajak Fania jalan bersama tapi selalu penolakan yang ia dapatkan.


Johan tidak mengerti mengapa sikap Fania berubah dan seolah-olah marah besar dan ingin menjauhinya. Bahkan Fania telah memberhentikan kegiatan belajar bersama Johan dengan alasan kini dia harus fokus belajar untuk mengejar pembelajaran di sekolah itu.


Fania sangat benci terhadap pembully karena dulunya teman sekelasnya bahkan ada yang bunuh diri karena dibully oleh anak kelas lain di sekolah lamanya. Hingga beberapa bulan sekolah berkabung untuk memperingati kematian teman sekolahnya dulu.


Beruntung pelaku pembully itu dikeluarkan dari sekolah lamanya untuk menghargai temannya yang meninggal.


Oleh karena itu Fania tak suka dengan sikap Johan yang sering membully teman-teman lainnya. Kalau bisa ia malah tak ingin berurusan dengan para pembuly.


*****


"Johan dipanggil guru BP," kata Angel Ketua kelas mereka hingga membuat kegaduhan diruangan kelas. Anak-anak kelas saling berbisik penasaran.

__ADS_1


Johan menggaruk-garuk tengkuknya kebingungan apa alasan yang membuatnya hingga berakhir di ruangan bimbingan penyuluhan di sekolah mereka. Selama ini dia merasa aman meski sudah menjadi anak pembully, pemalak dan lainnya.


Tiba di ruangan BP, Johan masuk melihat Tirta dan Guru Matematikanya berada didalam. "Sini kamu duduk!" perintah guru matematika padanya.


Johan menarik kursi dan duduk diatasnya. Ia mulai menerima penjelasan dari guru BP dan guru Matematika. Guru Matematika, Ussyatun meminta agar Johan tak lagi memalak Tirta anaknya.


"Semua sudah diceritakan oleh anak saya. Kalau kamu sering memalak anak-anak lain. Ini peringatan pertama yang saya berikan! kalau kamu ketahuan lagi, kamu akan diskors dan tidak bisa ikut ujin," tehas Ussyatun.


Johan hanya menundukan kepalanya. Tapi dengan peringatan guru matematika dia justru semakin geram terhadap perlakukan Tirta sebagai pengadu.


Sementara guru BP memberikan konseling pada Johan. Ia mengarahkan Johan agar tidak melakukan perbuatan yang melanggar aturan sekolah seperti membully dan memalak teman-temannya.


Terlebih Johan sedang duduk dikelas tiga, sebaiknya harus lebih fokus pada pelajaran dan persiapannya ujian.

__ADS_1


Usai mendapat konseling yang kebetulan masuk jam istirahat siang, Johan mengajak anggotanya berkumkumpul dibelakang sekolah.


"Lhee loe peringatin deh tuh si Tirta! gara-gara dia gue dipanggil guru BP. Rupanya dia anak bu ussyatun!," ketus Johan Satria sambil mengambil sebatang rokoknya.


"Ohh jadi loe dipanggil karena dia ngadu? nggak bisa dibiarin tuh anak!" tegas Lhee.


Brian mengarahkan mereka harus memberikan ancaman secara baik-baik. Jika dibikin babak belur malah akan mencurigakan dan memberi bahaya pada geng mereka.


"Ancam aja dia! jangan diapa-apain. Kalau ada lebam nanti malah emaknya curiga sama kita," cetus Brian.


"Iya betul tuh. Mending cukup diamcam aja. Kalau dia nggak mau ngasih uangny yaudah. Asal jangan jadi pengadu gitu," sambung Lhee.


Johan menganggukan kepalanya menyetujuj pendapat teman-temannya. "Loe atur ajalah. Yang penting tuh anak tutup mulut!" ketus Johan dengan nada kesal.

__ADS_1


Johan juga bertanya-tanya apakah ada orang yang melihat tindakan mereka sebelumnya saat sepulang sekolah. Ia penasaran bila Fania sudah mengetahui keberadaan gengnya dan tindakan mereka yang suka memalak anak-anak lain.


"Kemarin waktu gue malakin si Tirta apa ada orang yang lihat? selain kita? tanya Johan penasaran.


__ADS_2