
"Ehmm ... Da-dari teman bu," dengan terbata-bata Lucy menjawab pertanyaan guru killernya.
"Teman siapa? Yang jelas kalau mau ngasih tahu. Kalau tidak, kamu akan mengulang semua ujian dari awal," kecam sang guru.
Lucu menjadi sangat gugup, sementara Angel kebingungan menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena takut akan ketahuan juga. Dari kejauhan, Fani tampak santai saja karena ia tidak pernah menyontek.
Sayangnya, dia tetap khawatir akan nasib sahabatnya. Tapi Fani tak bisa berbuat apapun. Hanya bisa membantu dengan doa agar lolos dari amukan guru killer mereka.
"Cepat jawab!" desak sang guru lagi.
Lucy menyikut lengan Angel, memberikan kode apakah harus menjawab secara jujur atau tidak. Tetapi Angel menggelengkan kepalanya, suatu pertanda agar Lucy tetap merahasiakan lembaran jawaban yang berhasil dijual belikan dilingkup sekolahan.
Hufffttt
Lucy membuang nafas kasarnya. Ia telah memutuskan, apa yang harus ia katakan.
"Dari teman yang ada dikelas lain bu. Dia juga katanya dapat dari temannya juga. Makanya dibagikan ke teman-teman lain, agar tidak ada siswa yang memiliki nilai jelek," ungkapnya dengan hati-hati.
"Semua berdiri! Saya akan menggeledah kalian," teriak guru dengan penuh penekanan.
Alhasil, semua siswa berdiri mengikuti kemauan guru pengawas. Termasuk Lucy dan Angel yang masih berada disamping guru killer tersebut.
Guru mulai menggeledah satu-persatu. Lucy yang menjadi pertama kali sasarannya. Tapi tidak ada kertas lain, hanya yang ia rampas.
Sedangkan Angel saat digeledah malahan tak ketahuan, ia aman karena berhasil menyembunyikan contekannya didalam ****** ********. Nggak mungkinkan guru menggeledahnya sampai kesana?
Hampir setengah siswa telah digeledah, mereka semua bermain cantik. Belum ada satupun siswa yang ketahuan, terkecuali Lucy.
Selama setengah jam, guru pengawas menggeledah para siswa, akibatnya kelas menjadi ribut. Siswa ketakutan, tapi otak mereka lebih pintar mengecoh guru pengawas.
"Apa hanya kamu yang membawa ini?" ucap sang guru dengan rasa kecewa karena tak menemukan siswa lain yang membawa contekan yang sama dengan Lucy.
__ADS_1
"Saya nggak tahu bu! Kan saya bilang, kalau contekan itu saya dapat dari teman dikelas yang berbeda," sesal Lucy menundukkan kepalanya.
"Yang lain lanjutkan ujiannya. Waktu akan saya tambah 30 menit karena kejadian penggeledahan tadi. Untuk kamu Lucy, lanjutkan juga menjawab ujianmu," tegas guru seraya mengintip name tag Lucy sebelum mengucapkan namanya.
"Baik bu!" lirih Lucy, kemudian ia melanjutkan menjawab soalnya.
Setelah guru killer kembali ke kursinya, Lucy dan Angel berbisik. Sedangkan Fania hanya melirik mereka berdua sesekali.
"Lo gimana sih bisa sampai ketahuan gitu," keluh Angel karena sahabatnya terlalu urakan dan terburu-buru menjawab soal-soal ujian, terlebih ia sangat mengandalkan contekan yang telah dibeli sebelumnya.
"Sorry! Padahal gue sudah hati-hati. Mungkin tuh guru merhatiin gue terus hiks," lirihnya dengan sendu.
"Lo terlalu rusuh sih! Untung anak-anak lain nggak ketahuan termasuk gue hehehe," beber Angel dengan bangganya.
"Kok bisa lo nggak ketahuan? Lo simpan dimana emangnya? Padahal tuh guru killer ada disebelah kita dari tadi," bisik Lucy, sesekali juga ia melirik guru killer agar tak ketahuan sedang asik mengobrol.
"Gue simpan disini hehehe," ungkap Angel sembari menunjukkan bagian bawahnya.
"Ya diam-diam tadi saat lo kena marah sama guru killer itu. Tapi gila sih tuh guru, beneran galak! Makanya kerjain soal pakai otak sendiri, jangan ngandalin contekan lagi," titah Angel mengingatkan.
Kemudian, Angel mulai mengecek kembali jawabannya. Beberapa soal masih tersisa, belum ia baca. Sama halnya dengan Lucy, ia juga mulai membaca soal-soal yang ada dihadapannya.
Tapi karena pikiran Lucy sudah buyar, kegep langsung oleh guru killer mereka, ia menjadi tidak fokus lagi untuk menjawab lembaran soal ujiannya.
"Bagi gue please!!" pinta Lucy memelas, agar Angel membagikan jawabannya. Setengah jawaban ujian Lucy belum tercoret, artinya masih kosong. Dan ia sudah tak bernafsu lagi untuk mengisinya.
Angel menggeser lembar jawaban ujiannya agar terlihat oleh Lucy. Dengan sigap Lucy mencoret jawaban sesuai nomor urutnya setelah mengintip dari lembaran jawaban milik Angel.
Satu-persatu siswa mulai mengumpulkan ujiannya dan keluar dari ruangan. Diluar kelas mereka rusuh, karena Lucy sudah menjadi topik hangat.
"Eh kenapa kelas lo lama banget keluarnya," tanya siswa dari kelas sebelah pada teman sekelas Lucy.
__ADS_1
"Iya tadi ada kehebohan di kelas gue! Ada anak yang ketahuan nyontek. Bego banget sih tuh anak," cibir teman sekelas Lucy.
"Hah? Kok bisa sih? Kenapa nggak main cantik? Harusnya dia bisa lebih jeli lagi. Masa bisa sampai ketahuan. Terus ada anak lain lagi yang ketangkap?" tanyanya penuh semangat.
"Untungnya sih nggak ada, anak-anak lain udah pada pintar. Termasuk gue hehehe. Mana yang jaga guru killer lagi tuh, pusinglah semua orang dalam satu kelas," balas teman sekelas Lucy.
"Gila sih! Kalau udah ketahuan gitu, apa besok kita aman? Maksud gue, bakal ada kunci jawaban yang diperjual belikan lagi nggak?" keluh anak kelas sebelah.
"Nggak tahulah gue. Gue sih ngarepnya tetap ada dong! Itu kan membantu kita memperbaiki nilai ujian ahahahah," ujarnya seraya mengangkat kedua tangannya.
Gosip tentang Lucy yang ketahuan menyontek telah menyeruak keseluruh siswa sekolah ditingkat terakhir.
Lucy keluar dengan lesu setelah menyerahkan lembaran jawaban ujiannya pada guru killer. Beruntung ia tidak disuruh datang ke ruangan guru tersebut, untuk menindaklanjuti soal contekannya tadi.
Angel dan Fania sudah keluar kelas lebih dulu. Lucy menyusul mereka yang berada di kantin. Sebenarnya sudah jadwal pulang sekolah, karena ujian telah berakhir. Tapi sebelum keluar kelas, Angel berpesan untuk kumpul dulu di Kantin.
"Guys! Sorry banget tadi gue ketahuan!" lirihnya dengan sendu, kepalanya pun ikut tertunduk, kini ia duduk di meja kantin bersebelahan dengan Fania dan Angel.
"Nggak apa-apa! Itu pelajaran buat lo. Lain kali, lo lebih hati-hati lagi," ucap Fania dengan bijak menenangkan Lucy.
"Iya untung aja lo nggak disuruh ngulang semua ujian. Itu guru killer masih ada baiknya juga sih," puji Angel.
"Baik apanya! Gue udah dimarah-marahin kaya tadi masih lo bilang baik," cibir Lucy karena merasa bersalah pada temannya yang lain. Akibat ulahnya, satu kelas terkena imbas, berakhir dengan penggeledahan.
"Ya baiklah, apa lo mau dihukum guru? Udah disuruh ngulang ujian plus ada hukuman lainnya. Tapi sekarang lo pasti udah terkenal tuh dikalangan guru-guru lain hehehe," canda Angel tak tahu tempat.
Padahal Lucy sudah tak bersemangat, tetapi perkataan Angel membuat Lucy semakin gusar dan kecewa. Bukannya mendapatkan suport, ia terus mendapatkan cibiran.
"Nah, lihat tuh anak lain aja terus ngomongin lo! Pokoknya lo jadi topik hangat hari ini di sekolah kita," canda Angel lagi.
"Sssttt Angel! Nggak boleh gitu! Kasian Lucy, udah ketahuan malah lo ejek terus," sela Fania membela sahabatnya yang tengah lesu dan sedih.
__ADS_1