Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
mantan


__ADS_3

Sore itu, Fania dan Angel pulang dengan gembira. Meninggalkan Lucy seorang diri di rumahnya tanpa kehadiran kedua orangtuanya.


Angel dan Fania berpisah, mereka dijemput oleh supir masing-masing. Lucy merasa sangat kesepian lagi ketika sudah ditinggal oleh kedua sahabatnya.


****


Pagi hari menyapa, suasana kelas masih berisik dengan riuh canda, tawa, obrolan dan lainnya.


Namun, setelah bel berbunyi, suara berisik itu menghilang. Guru pengawas datang membawa soal ujian untuk pelajaran pertama. Pagi itu disambut dengan ujian pelajaran bahasa inggris.


Guru memberikan soal ujian kepada siswa paling terdepan, agar digulirkan secara estafet dengan teman-teman yang ada dibelakang mereka.


"Kerjakan soalnya dengan tenang," pesan guru pengawas pagi itu. Dia berlanjut duduk ikut membaca soal ujian sesekali mengawasi para siswa.


Satu siswa yang selalu disorot oleh guru pengawas yakni Johan Satria. Anak yang dulu sempat membully anaknya, Tirta.


Guru pengawas mereka adalah mamanya Tirta yang masih menyimpan dendam pada bos geng di sekolahan mereka.


Entah mengapa pandangannya sedikitpun tak teralihkan dari meja pojok paling belakang, tempat dimana Johan sedang duduk mengisi lembaran jawaban ujiannya.


Gelagat Johan terus diperhatikan, guru itu tak mau lolos mendapatkan momen saat Johan tengah menyontek. Apalagi ia mendengar kabar dari anaknya, meskipun masih ditingkat dua, anaknya sering bercerita tentang desas-desus di sekolah.


Termasuk menyebarkan kunci jawaban ujian yang diperjual-belikan secara ilegal oleh para siswa.


Selama 90 menit ujian berlangsung, guru pengawas itu merasa kesal. Menggerutu seorang diri, karena Johan berhasil mengelabuinya. Johan yang tampak tenang mengisi lembar jawaban, ia sudah ahli dibidang contek-menyontek.


Guru itu tak mudah untuk menciduknya. Johan tau kalau selama ujian berlangsung, ia disorot tajam oleh guru pengawas mereka.


Huftttt


Johan mengeluarkan nafas kasarnya dengan berat. Sesekali ia melirik guru pengawas yang menatapnya dengan tajam.


Tapi dengan santainya ia tetap menyontek lembar jawaban yang sudah disiapkannya pagi tadi, sebelum ujian berlangsung.


Johan sangat tenang menghadapi ujiannya. Sebenarnya Johan memiliki satu keahlian, meski ia malas belajar tetapi untuk persoalan bahasa inggris sudah diluar kepalanya.


Karena hobby bermain game online yang menuntutnya untuk mengerti berbahasa inggris, ia menjadi ahli bahkan menguasai bidang bahasa itu.


Oleh karena itu, ia sesekali membaca soalnya dengan teliti. Menjawabnya satu-persatu. Kemudian mencocokkan hasil jawabannya dengan contekan kunci jawaban yang disimpannya.

__ADS_1


Nggak bakal bisa lo nangkap gue!! Hahaha


Johan meledek guru pengawas yang ia ketahui adalah mamanya Tirta. Anak yang dulu sempat ia palak, tetapi ditentang anak tersebut. Meski pada akhirnya, Tirta sendiri yang memberikan uangnya pada Johan secara sukarela.


kringgg...


Bel berbunyi. Semua siswa berhamburan keluar setelah memberikan lembar jawabannya kepada guru pengawas hari itu.


"Bro gimana ujian lo?" tanya Lhee penasaran, ia tahu guru pengawas itu pandangan sejak mulai masuk mengawasi sampai akhir ujian tetap menyorot tajam wajah Johan.


"Biasa aja!" sahut Johan dengan angkuh. Ia tahu apa maksud Lhee mempertanyakan seperti itu.


"Gue tahulah maksud lo," sindir Johan melanjutkan.


"Iya! Habisnya tuh guru ngeliatin lo mulu bro! Heran gue. Emang ada apa sih?" sambar Brian menimbrung obrolan temannya itu.


"Lo nggak ingat itu guru siapa?" tanya Johan seraya mengangkat kakinya.


Mereka bertiga hari itu ngumpul seperti biasa dibelakang sekolah. Meski jam istirahat hanya 15 menit, mereka sempat menyiapkan contekan untuk ujian berikutnya sekaligus sambil membahas tentang guru pengawas yang sengaja mengincar Johan.


"Siapa emang?" Brian menggelengkan kepalanya, menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung dengan pertanyaan bosnya.


"Masa lo nggak tahu sih," celetuk Lhee menepuk pundak Brian dengan keras.


"Dia itu guru yang bikin gue masuk BP! Emaknya si Tirta," decak Johan.


"Hah? Pantas ajalah dia lihatin lo terus kaya mau nerkam hahahaha," canda Brian.


"Untungnya gue pintar!" dengus Johan merasa bangga karena berhasil mengelabui guru pengawas mereka.


"Iya kok bisa lo nggak ketahuan sih! Padahal guru itu nggak pernah beralih pandangannya," sambar Lhee penasaran.


"Semua ada triknyalah! Gue gituloh," ucap Johan mengibaskan rambut cepaknya.


Bukan cepak mekar ala dilan kw ya bahahah


"Eh udah beres lo semua nyatat contekannya kan?" sambung Johan lagi.


"Udah!" Brian dan Lhee serentak menjawab dengan kompak.

__ADS_1


"Cabut yuk ke kantin. Bentar lagi bel," ajak Johan, ia sudah merasa lapar sekaligus ingin menagih uang anak-anak seangkatannya.


"Biasa lo berdua atur ye!" titah Johan mengingatkan dua sahabatnya untuk menagih hasil palakan mereka.


"Aman!" jawab keduanya serempak.


Mereka bertiga berjalan beriringan, meski sudah mendekati kelulusan sekolah, geng milik Johan tetap sangat ditakuti termasuk oleh para siswa ditingkat akhir.


Tak ada yang mau menolak permintaan Johan si ketua geng di sekolah itu. Entah bagaimana nantinya nasib geng sekolah mereka setelah Johan lulus. Masih menjadi teka-teki, apakah akan ada penerus Johan Satria di sekolah mereka ini atau tidak.


Saat berjalan menuju kantin, terkadang Brian dan Lhee merampas uang yang ada disaku anak-anak sekolah yang mereka lintasi.


Brian dan Lhee hanya menengadahkan tangannya saja, anak-anak itu sudah mengerti. Ada yang memberikan uang lima ribu, 10 ribu, dua ribu, tergantung kemampuan sang anak sesuai uang jajannya.


Johan bahkan tak mempermasalahkan nominalnya. Yang terpenting dia memiliki uang untuk membayar jajanannya saat di kantin nanti.


Sesampainya di kantin, Johan melihat Fania yang asik bercanda dengan dua sahabatnya. Sengaja Johan duduk dikursi yang bersebelahan dengan Fania.


Jika Fania melirik, Johan mengerling serasa menggoda wanita idamannya itu. Tapi Fania bukannya luluh malah merasa jijik.


"Eh cowo lo tuh," sindir Lucy menoel lengan Fania secara spontan.


"MANTAN," ucap Fania penuh penekanan.


"Bentar lagikan balikan," imbuh Angel tak mau ketinggalan.


"Iyah sih, udah terima aja. Buktinya dia sengaja noh ngedekatin lo lagi," ledek Lucy tak kehabisan akal.


"Malas ah bahas dia, ayo cabut," ajak Fania beranjak dari kursinya. Melintasi Johan begitu saja dengan tatapan amarah.


Johan hanya memperhatikan punggung Fania dan kedua sahabatnya itu. Ia tak akan menyerah untuk mendapatkan kembali hati wanita idamannya.


"Tunggu Fan, lo bentar lagi akan jadi milik gue hahaha," cetusnya dengan senyum tipis.


Brian dan Lhee baru saja kembali mengambil pesanan Johan. Ditangan Lhee sudah ada gorengan, sedangkan ditangan brian ada mie ayam.


Mereka memberikan makanan itu pada Johan.


"Lo merhatiin apa sih daritadi? Senyum-senyum sendiri lagi!" cibir Brian melihat gelagat aneh bosnya.

__ADS_1


"Buruan makan," titah Johan tak mau menjawab pertanyaan Brian.


Mereka bertiga asik makan, menghabiskan dengan lahap makanan yang baru saja diambil. Perut ketiganya merasa sangat kenyang tapi tiba-tiba bel berbunyi, tanda mereka harus masuk untuk melanjutkan ujian pelajaran terakhir.


__ADS_2