
"Tentu saja!" ketus Fania.
Fania memelototi Johan karena tak suka melihat pandangan tajam padanya. Fania juga meneriaki teman-temannya berhenti untuk menggodanya.
"Berisik! gue sama dia nggak ada apa-apa!" tegas Fania sehingga menciptakan suasana hening didalam kelas.
huuuuuu.... teriak anak-anak di dalam kelas.
Selesai dengan kasus Baby, Fania tetap enggan untuk berteman kembali pada Baby. Ia mulai menyeleksi teman-temannya.
Sedangkan Johan Satria sedang memikirkan hukuman apa yang tepat diberikan pada ketua Fans Club Pecinta Johan Satria.
Semua siswa bubar karena istirahat makan siang. Fania memilih untuk ke kantin bersama Lucy dan Angel. Sedangkan Baby dipanggil ke belakang sekolah untuk menemui Johan.
Johan yang sedang asik menyedot es teh didalam plastik melihat kedatangan pembuat onar di sekolah.
__ADS_1
"Jo pleasee!! jangan hukum aku! apa salah aku menyukaimu?" tanya Baby dengan polos sehingg membuat Johan tersedak saat asik meminum es teh.
Johan langsung melirik Baby dengan tatapan tajam dan berpikir sejenak. Saat ini dia belum memutuskan hukuman apa yang pantas diberikan pada Baby.
"Diam!" bentak Johan.
Baby terkejut dengan suara bentakan seorang Johan Satria. Tak heran ia dijuluki preman sekolah hingga sangat ditakuti oleh seluruh anak uang bersekolah disini.
"Please Jo! aku takut," Baby memohon agar Johan tak menyakitinya.
"Lo pikir lo siapa hah? berani-beraninya lo bilang suka sama gue!" ucap Johan sambil menunjuk-nujuk wajah Baby.
Menurut Johan, dia sudah berbaik hati tidak memberikan hukuman didepan anak-anak sekelasnya. "Hukuman lo udah gue tentuin! lo jadi kacung gue selama satu bulan. Apapun yang gue suruh harus lo lakuin," ancam Johan membuat tubuh Baby gemetar karena mendengar suara beratnya.
Tapi Baby malah tak menjadi takut dengan Johan Satria. Hukuman itu malah menjadi kesempatan baginya untuk terus berada didekat pujaan hatinya itu.
__ADS_1
"nggak masalah gue jadi kacung lo. gue bersedia selama gue bisa tetap ada disisi lo," lirih Fania pelan yang terdengar oleh Johan.
"Apa maksud lo? dekat sama gue? heh gue mau jadiin lo pembantu gue! gue bebas suruh-suruh lo. Bukan berarti lo bisa dekat sama gue," ketus Johan sambil menduduki kursi kebesarannya meski hanya sebuah bekas sofa rusak di belakang sekolah.
"Iya gue jadi kacung lo, tapi kan intinya gue pasti selalu kemana-mana sama lo," Baby mempertegas ucapannya.
Johan berpikir sejenak, ia menjadi galau dengan hukuman yang ia berikan pada Baby. Hukuman itu bisa jadi malapetaka baginya. Terlebih benar yang dikatakan Baby, itu justru akan menjadi peluang Baby untuk terus bisa berdekatan dengan bos yang paling ditakuti.
Namun Johan menjadi bingung, jika bukan menjadi kacungnya, harus ia apakan gadis centil yang ngaku-ngaku suka padanya sejak kelas satu.
"Udah sana lo pergi! mulai besok lo harus mau gue suruh apapun! oh ya jangan lupa lo datang lebih pagi," titah Johan.
Baby meninggalkan Johan dibelakang sekolah sendirian. Baby tersenyum-senyum mengingat hukuman yang diberikan Johan kepadanya. Ia justru senang mendapat hukuman yang biasanya paling tidak disukai oleh anak-anak sekolah.
"Duhhh... kapan lagi gue bisa dekat sama ketua geng" batin Baby sambil kesemsem dan membuat pipinya memerah.
__ADS_1