
Jefri akhirnya memilih untuk tidak menjawab pertanyaan pacarnya, Lucy. Dia memilih untuk bernyanyi.
Lagu yang ia nyanyikan dengan lantunan gitar, gitar itu mereka pinjam dari pemilik villa tempat mereka menginap. Suara Jefri juga sangat merdu. Sangat cocok dengan Lucy yang memiliki suara yang indah dan bernada tinggi.
"Pertanyaan gitu doang nggak bisa lo jawab Jef! Jef," singgung Johan membuat Jefri emosi.
"Lo diam aja nggak usah sok tau," balas Jefri. Bagi Jefri persoalan itu adalah hal penting. Status Jefri dan Johan sama- sama dari keluarga miskin yang hidupnya melarat. Bedanya, Johan mau bekerja keras untuk mentraktir pacarnya dan tidak mengandalkan duit pacarnya.
Sedangkan Jefri sangat pemalas dan hanya ingin memanfaatkan pacarnya saja untuk mendapatkan semua keinginannya. Jefri dan Lucy berbeda sekolah, tidak heran Jefri juga memiliki kesempatan untuk berselingkuh dengan teman satu sekolahnya yang tidak diketahui oleh Lucy.
Lucy benar-benar polos soal percintaannya. Ia mengenal Jefri sejak dulu, mereka bersekolah di SMP yang sama. Masih cinta monyet, tapi nyatanya rasa suka Lucy tidak pernah pudar hingga mereka sekolah di SMA yang berbeda.
Lucy terus mengejar-ngejar Jefri, hingga selama SMA Jefri mengerti tentang pentingnya uang. Ia mengetahui sejak dulu Lucy anak orang kaya, tapi ketika SMP dia belum memperdulikan uang dan kekayaan.
Setelah SMA, dia sering kali tidak bisa mengikuti gaya teman-temannya yang memiliki banyak uang dari kedua orangtuanya. Dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran dengan Lucy selama kemauannya terpenuhi.
Keadaan Jefri yang memilih tidak menjawab pertanyaan sepele dari Lucy membuat suasana menjadi tegang.
"Udah deh lo semua nggak perlu sewot. Kan gue yang nanya, karena dia nggak jawab, malah lo semua yang marah," kekeh Lucy membuyarkan suasana yang tegang saat itu.
"Gimana kalau kita bakar jagung? tadi bapak yang punya villa bilang, mereka punya jagung dan disiapkan secara gratis," ajak Fania dengan riang sehingga Lucy tak mengingat kesedihannya.
Hayooook!!
Dengan serentak Angel dan Lucy menjawab ajakan Fania. Mereka langsung ke dapur mengambil jagung yang sudah dibersihkan oleh pemilik villa dan tinggal membakarnya.
Jagung seember ternyata cukup banyak untuk mengisi perut mereka malam itu. Sehingga mereka memilih tidak untuk makan malam karena kekeyangan memakan jagung bakar.
Akhirnya mereka semua masuk ke kamar masing-masing untuk tidur dan bangun kembali sebelum matahari terbit.
Baru saja jam lima pagi, Fania, Angel dan Lucy terbangun karena tidak ingin melewatkan momen matahari terbit.
__ADS_1
"Buruan Fan! lo lama banget deh," ketus Lucy yang dari tadi sudah siap bersama Angel. Sedangkan Fania masih memakai sweaternya karena tidak kuat dengan angin dingin diluar.
Mereka langsung keluar kamar dan menunggu dipinggiran pantai. Sedangkan Johan, Jefri dan Kemal malah belum bangun, padahal sebelum tidur sudah diingatkan untuk kesempatan melihat momen sunrise.
"Ngel! Lo deh bangunin mereka! Biar bisa lihat sunrise! masa dilewatkan gitu aja, padahal udah jauh-jauh kesini! buruan deh!!" kata Lucy.
Angel langsung kembali ke villa dan membangunkan tiga pria itu. Ia mencoba menggedor-gedor pintu kamar. Tapi tidak ada tanda-tanda diantara ketiganya yang terbangun.
Suara alarm yang daritadi sudah berbunyi juga tak mempan membangunkan ketiga pria itu. Angel terus berteriak agar ketiga pria itu segera terbangun.
Akhirnya Johan pria pertama yang terbangun. Dia membuka pintu dan melihat langit diluar masih gelap. "Ada apa angel? teriak-teriak! kan masih gelap," ucap Johan yang merasa terganggu.
"Katanya mau lihat sunrise! udah jam lima lewat nih. cepat bangunin yang lain," ketus Angel.
"Iyaa!"
Johan langsung masuk lagi ke dalam dan membangunkan Jefri dan Kemal. Masih setengah sadar, Johan langsung membawa dua pria yang tidurnya seperti orang pingsan.
Baru juga ketiga pacar mereka duduk dipinggiran pantai, matahari langsung muncul dan mulai naik keatas. Langit-langit mulai cerah.
Baru kali ini Fania melihat sunrise di pantai. Sangat indah rasanya menikmatinya langsung dari pinggiran pantai tersebut.
Fania, Angel dan Lucy berlari-lari dipinggiran pantai. Menikmati suasana pagi itu. Tidak terasa setelah sunrise mereka akan kembali lagi ke Jakarta.
Setelah sarapan pagi ini dipinggiran pantai. Mereka berenam mengemasi barang-barangnya. Mereka tidak ingin kelelahan setiba di Jakarta nanti.
Semua barang sudah dirapihkan diatas motor. Dan ada yang menggendong sebagian barang miliknya. Seperti kemarin, mereka kembali touring menuju Jakarta dengan hati-hati.
Keseruan itupun mereka rasakan saat diperjalanan pulang. Jalanan pagi itu masih sepi. Bahkan mereka sempat sengaja berhenti dibeberapa pantai yang dilintasi.
Fania, Angel dan Lucy janjian untuk berdiri diatas motor dan mengangkat tangan mereka ala-ala film titanic.
__ADS_1
Moment yang tidak pernah dilupakan orang-orang dari tragedi tenggelamnya kapal itu. Laju motor sengaja beriringan dan sangat lambat. Para perempuan berdiri, menyanggah kaki mereka dengan pijakan kaki motor.
Mengangkat kedua tangannya dan menikmati angin dari suasana laut yang tidak jauh dari jalan utama. Siuran angin membuat rambut mereka berterbangan.
"Gilaaaaaa!! Momen yang seru yaa" teriak Fania.
"Iyaaaaa! Lain kali kita harus kesini lagi," sahut Lucy.
"Setuju," balas Angel dengan teriakannya yang keras.
Para pacar mereka hanya tersenyum melihat aksi kocak pacarnya masing-masing.
Setelah masuk Jakarta, ketiganya berpisah kearah jalan rumah mereka masing-masing. Fania, Angel dan Lucy saling melambaikan tangan tanda perpisahan.
Johan mengantarkan Fania tepat didepan rumahnya. Baru saja turun dari motor Johan, mamanya Fania keluar dan membuka gerbang rumahnya.
Mama Fania, Anggita mengernyit. Dia penasaran dengan sosok pria yang baru saja mengantarkan anak semata wayangnya pulang.
Meski sudah berpisah dengan ayah kandung Fania, dan Anggita sudah menikah lagi. Namun ia berkomitmen dengan suami barunya untuk tidak lagi memiliki anak.
Ia ingin sepenuhnya memperhatikan anak semata wayangnya sampai tua kelak. Bahkan dia tidak ingin Fania merasa sendirian dengan statusnya kini yang sudah menjadi anak yang broken home.
"Ma.. ma.." kata Fania dengan terbata-bata karena melihat kehadiran mamanya didepan gerbang rumahnya. Sebelum kepergiannya, ia sempat berpamitan dan hanya mengatakan akan pergi ke pantai bersama para sahabatnya bukan juga bersama pacar.
Johan pun tidak bisa berkutik dengan kehadiran mama pacarnya. Ia hanya terdiam dan tidak berani untuk berpamitan pergi.
"Siapa dia?" tanya Anggita dingin.
"Dia pacarku ma," jawab Fania dengan gugup.
"Loh bukannya kamu bilang mau ke pantai bersama sahabatmu? kenapa malah sama pacar? kamu nggak bilang kemarin pacarmu ikut," ketus Anggita.
__ADS_1
"Iya ma! aku sama sahabatku juga! dan kami membawa pacar masing-masing. Fania nggak ngapa-ngapain ma! serius," jawab Fania karena takut akan dimarahi oleh sang ibu karena tidak jujur sejak awal.
Fania memang sengaja tidak mengatakan akan mengajak pacarnya, karena takut akan dilarang oleh mamanya. Kejadian inipun diluar kendali Fania. Ia tak menyangka mamanya malah berada di depan rumah melihatnya diantar oleh Johan Satria.