
"Kok kamu malah belain dia yang?" tanya Anggita merasa tak terima dengan suami berondongnya.
"Emangnya kamu mau dulu sebelum nikah. aku tiduri meski sudah bercerai? Sifat kamu sama Fania itu sebelas dua belas! Sulit untuk diluluhkan! Aku beruntung saja bisa mendapatkanmu," jawab Jhonny sambil memegang tas kerjanya dan berjalan menuju kamarnya.
"Ah kamu bisa aja yang!" goda Anggita sambil mengikuti suaminya dari belakang dan menyubit pinggang suaminya itu.
"Hush jangan genit gitu, gimana kalau Fania keluar dari kamarnya,"
Jhonny masuk kedalam kamar dan mengganti bajunya. Ia teringat semasa melakukan pendekatan dengan istrinya, Anggita. Anggita berkali-kali menolak lamarannya karena umur mereka terpaut cukup jauh.
Perbedaan usia lima tahun membuat Anggita khawatir dan takut kalau Jhonny bersikap kekanak-kanakan. Bahkan Anggita merasa Jhonny tidak akan mampu menjadi seorang ayah sambung bagi anak gadis berusia tujuh belas tahun yang memiliki watak keras sama seperti ayah kandungnya.
"Kamu ingat nggak sih ketika nolak lamaran aku? Sakit tahu diremehkan begitu. Meski aku lebih muda, tapi sikapku sudah dewasa," ucap Jhonny memulai ceritanya mengingatkan Anggita pada kisah mereka setahun yang lalu.
"Iya berondongku! Sebenarnya yang aku takutkan kamu nggak bisa diterima oleh Fania. Makanya aku nggak pernah minta izin Fania sebelum menikah. Jadinya sekarang, mau tidak mau menerima kamu apa adanya," cerita Anggita yang memang belum diketahui oleh Jhonny.
"Oh jadi itu alasan mengapa kamu nggak mau kenalin aku sama Fania semasa kita pacaran?" tanya Jhonny.
"Aku pikir alasannya kamu nggak cinta sama aku! Makanya kamu nggak mau memperkenalkan calon suamimu ini dulunya,"
Anggita melirik berondongnya itu. Sebelum menikah memang Anggita tidak mencintai Jhonny. Namun ia membutuhkan teman dimasa tuanya nanti, sehingga dia menerima pinangan dari berondong muda kaya raya seperti Jhonny.
Terlebih Anggita tidak perlu mengkhawatirkan soal uang jika menikahi pria muda yang sama sekali belum pernah menikah. Meski Jhonny pria kaya raya, Anggita tetap memilih menjadi wanita mandiri karena tetap bekerja sebagai wanita karir disebuah perusahaan swasta.
Padahal Jhonny sudah memintanya untuk berhenti bekerja dan menikmati hidupnya saja. Tapi dengan keras Anggita menolaknya.
"Aku beruntung sekali menikah denganmu berondongku! Karena kau sangat berbeda jauh sifatnya dengan mantan suamiku yang keras kepala dan dingin. Setelah aku sadari, ternyata sekarang aku sangat mencintaimu," jawab Anggita dengan senyumannya.
Anggita mencoba jujur pada suaminya. Sudah beberapa bulan terakhir dia semakin mencintai suaminya. Jhonny sangat romantis dan mengerti perasaan Anggita. Bahkan dia selalu ada disaat dibutuhkan baik bagi Anggita maupun anak semata wayangnya.
Apalagi Anggita dan Jhonny berkomitmen untuk child free atau tidak akan memiliki anak semasa pernikahan mereka. Sebab Anggita mau fokus pada anak semata wayangnya. Selain itu, alasannya berkomitmen child free juga karena usianya sudah sangat rentan untuk hamil yang sekarang sudah memasukk 40 tahun.
__ADS_1
"Benarkah? Aku juga bersyukur bisa menikahimu! Apalagi aku sudah punya seorang putri yang dewasa!" ledek Jhonny. Sebenarnya Jhonny menginginkan anak dari rahim Anggita, tapi syarat dari Anggita sebelum pernikahan mereka adalah tidak boleh memiliki anak lagi.
Sehingga sehari sebelum pernikahan, rahim Anggita diangkat. Jadi dia tidak perlu untuk KB ataupun takut kebobolan.
"Yang penting kamu menemaniku disaat tua nanti! Aku ingin menikmati masa tuaku dengan tenang," balas Anggita.
Kenangan masa lalu mereka memang unik. Anggita yang mengenal Jhonny sebagai kolega dari perusahannya dulu. Jhonny terpikat akan kecantikan Anggita dan kepiawaiannya bekerja. Bahkan ia mengejar-ngejar Anggita setelah mengetahui Anggita adalah seorang single parent.
"Kenangan kita memang unik! Tentu aku akan selalu berada disampingmu hingga kita tua nanti," janji Jhonny.
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu menghentikan cerita tentang ingatan masalalu mereka.
"Siapa?" teriak Anggita yang menyangka kalau yang mengetuk pintu adalah pembantunya.
Anggita menghampiri dan menarik daun pintu. Sosok anaknya telah berada didepan pintu. "Tumben kamu keluar sendiri! Tadi mama teriak-teriak didepan kamarmu tidak digubris. Ada apa?"
Anggita keluar dari kamarnya meninggalkan suaminya agar tidak terlihat oleh putrinya.
"Mana om itu? Sudah pulangkan?" tanya Fania sambil mengintip-intip ke dalam kamar mamanya.
"Sudah! Ada perlu apa kamu tanya dia? Biasanya kamu tidak pernah mau bertemu dengannya! Lagian pertanyaan mama tadi belum terjawab! Ngapain aja kamu selama nginap sama pacar kamu?" tanya Anggita sinis.
"Nggak penting banget deh ma! Aku mau ketemu om itu," jelas Fania.
Semenjak menikah dengan mamanya, Fania enggan menatap suami baru Anggita. Bertatapan saja tidak pernah apalagi mengobrol.
Fania merasa kesal karena mamanya telah direbut darinya. Fania juga tidak menginginkan mamanya untuk rujuk dengan sang ayah, karena perilaku ayah kandungnya sangatlah keras sehingga ia sering mendengar pertengkaran dalam rumah tangga dan membuatnya trauma pada laki-laki. Hal itulah yang membuat Fania tidak pernah berpacaran dan sekarang ia mulai membuka hatinya pada Johan.
__ADS_1
Namun semenjak menikah dengan Jhonny, mamanya terlihat berbeda. Aura bahagia terpancar, riang bahkan menjadi sangat perhatian juga pada Fania.
Fania ingin melakukan pendekatan pada berondong mamanya yang sekarang sudah menjadi ayah sambungnya. Bahkan ia juga ingin tahu bagaimana dunia laki-laki untuk mengetahui sosok Johan Satria sebenarnya.
"Ada apa sih emangnya. Nggak biasanya kamu cariin suami mama," Anggita bertanya-tanya terus.
Tidak menyangka anaknya sekarang ingin mengetahui sosok ayah sambungnya. Selama ini Fania juga sering menghindari Jhonny, padahal Jhonny sudah melakukan banyak hal untuk mendekati putri sambungnya tersebut.
"Panggil aja mah," pinta Fania penasaran.
Ternyata Jhonny telah menguping sejak tadi dibalik daun pintu kamarnya. Ia keluar menemui Anggita dan Fania. Jhonny seketika langsung berkata "Ada apa cari saya?"
Fania membalikkan tubuhnya mencari sosok Jhonny yang sudah ada dibelakangnya. "Duduk dulu om," ucap Fania dengan santai.
"Om kan selama ini nggak pernah secara resmi memperkenalkan diri! Sebelum menikah, mama juga nggak kenalin om ke saya! Jadi saya ingin mengetahui seperti apa sosok ayah sambung saya sekarang," Fania mengucapkan dengan kata-kata formal agar terlihat lebih santun.
"Loh kan om selama ini sudah mendekati kamu. Kamunya saja yang terus menghindar," balas Jhonny dengan nada lembutnya.
"Saya nggak suka aja selama ini sama om. Sekarang saya harus ikhlas karena om sudah menikah dengan mama saya," kata Fania.
"Jadi mau kamu apa nak?" Jhonny bertanya dan mulai merasa sok akrab dengan Fania.
"Saya juga ingin diperhatikan oleh kedua orangtua saya. Diajak jalan bersama keluarga, makan bersama, belanja bersama. Tapi semenjak om nikah, om belum pernah tuh ngelakuin itu,"
"Gimana ya? Bagaimana om mau ngajak kamu? Kalau kamunya terus menghindar. Jadi kamu mau jalan bertiga sama mama dan om? Yaudah hari ini kita langsung jalan," tegas Jhonny.
"Oh ya om! Tadi Fania sempat dengar kalau om belain Fania. Terimakasih untuk pembelaannya tapi om sebenarnya nggak perlu ngelakuin itu. Mama juga! Harusnya mama tahu, anak mama punya batas dan nggak mungkin ngelakuin hal aneh dengan seorang pria," ketus Fania.
Fania pergi meninggalkan Jhonny dan Anggita. Ajakan dari Jhonny untuk keluar hari ini juga belum dijawab olehnya. Dia malah masuk ke kamarnya lagi.
"Loh jadi pergi nggak nih?" tanya Jhonny pada Anggita.
__ADS_1
Anggita malah tersenyum dan menepuk jidatnya. Ia juga kebingungan dengan sikap putrinya saat ini.