
Ketiga pasangan itu sampai di Puncak, Bogor. Destinasi mereka hari ini adalah menikmati indahnya kebun teh disepanjang jalanan Puncak.
Selain itu, mereka singgah di warmindo hanya untuk sekedar menikmati sajian mie instant ditemani teh hangat dengan pemandangan bukit puncak yang dihiasi daun teh.
Pemandangan hijau membuat tubuh mereka bugar. Cuaca yang sendu dan dingin mendukung suasana untuk mereka menyantap sajian makanan yang selalu dicari oleh orang banyak jika berkunjung ke Puncak.
"Gue baru kali ini ke Puncak," seru Lucy yang takjub melihat pemandangan sekitar.
"Ah masa sih? Lo orang kaya masa nggak pernah ke Puncak," cibir Angel tak percaya.
"Serius gue! Orang tua gue mana ada waktu ngajak main kesini," sesal Lucy.
"Kalau lo gimana Fan? Bukannya lo orang sini?" tanya Johan menoleh pada wajah cantik pacarnya itu.
Teman-temannya pun ikut memalingkan pandangan, menatap lekat Fania sembari menunggu jawabannya.
"Iya ... lo bukannya orang sini ya?" cecar Angel teringat kampung halaman sahabatnya.
"Biasa aja dong lo semua! Gue di kotanya, bukan tinggal di Puncak. Bokap gue masih tinggal di Kota Bogor kok," sahut Fania.
"Lah apa bedanya Puncak sama Kota Bogor? Bukannya sama-sama Bogor?" sambar Kemal.
"Kalau nggak tau nggak usah sok tau mal," cibir Angel.
"Sama-sama Bogor kok, Puncak Kabupatenya, kalau Kota Bogor, ya ... kotanya. Beda wilayah gitu. Pemimpinnya pun beda," terang Fania membuat seluruh teman-temannya manggut-manggut seperti mengerti maksud ucapannya.
"Lagian jaraknya juga jauh," sambung Fania.
Semua orang langsung mengerti ucapannya. "Tapi lo sering main kesini?" imbuh Jefri.
"Enggaklah. Kalau orang yang sudah biasa tinggal di Bogor justru malas ke Puncak. Udah sumpek duluan sama macetnya. Mending di rumah ajalah," keluh Fania.
"Iyah sih ... Kalau ke Puncak mending naik motorlah daripada mobil. Bisa kejebak macet seharian kita," beber Angel karena keluarganya sering berlibur ke Puncak.
"Bagusnya wisata apa disini Fan?" celetuk Johan penasaran.
"Disini banyak wisatanya kok. Tergantung lo maunya kemana? Ya ... Kalau yang gretongan kebun teh aja. Kalau yang lain pasti pakai biaya masuknya," ungkap Fania.
"Yaelah ... Gitu aja lo pusingin Fan. Mana rekomendasi lo? Tunjuk deh tempat wisata yang unik dan asik," seloroh Lucy.
"Ada Kebun Raya Cibodas, Taman Safari, Taman Matahari, Cimory masih banyak lagi. Lo maunya kemana?" cecar Fania.
"Banyak juga ya. Yang paling terdekat disini apa?" balas Lucy.
"Paling Cimory, Taman Matahari sama Taman Safari sih," lanjut Fania.
__ADS_1
"Oh ... kok wisata keluarga semua sih," sesal Lucy mengingat mereka yang berkunjung adalah para kawula muda.
"Ya ... rata-rata emang wisata keluarga," timpal Fania.
*Hening
Mereka masing-masing larut dalam pikirannya. Memikirkan wisata apa yang cocok untuk didatangi. Daritadi mereka hanya berswafoto di kebun teh. Lalu lanjut menikmati sajian mie instant di Warmindo. Kini, mereka bingung mau ke wisata apalagi karena waktunya masih panjang.
"Kebun Raya Cibodas aja yuk! Kayanya tempatnya asik," usul Lucy setelah menjelajah melalui internetnya tempat wisata asik di Puncak.
"Ada apa emang disana?" sahut Jefri.
"Yang gue baca sih tempatnya asik. Nongky-nonky cantik aja disana. Kaya hutan gitu tapi ada banyak spot foto," jelas Lucy menyakinkan yang lain.
"Lumayan jauh loh dari sini. Itu perbatasan Cianjur," hardik Fania.
"Iyah jauh banget itu. Bukan di Bogor lagi tapi kita ke pinggiran Cianjur," tambah Angel karena ia sendiri pernah kesana.
"Tapi tempatnya emang seseru itu sih! Cocok buat piknik dan pacaran hahahaha," sambungnya lagi.
"Yaudah ayo, mumpung masih siang." Johan makin bersemangat.
"Berapa jam lagi?" timpal Kemal.
Akhirnya mereka sepakat untuk ke Kebun Raya Cibodas. Tiga motor berjalan beriringan, lajunya pun cukup kencang.
Hanya 45 menit, mereka sudah tiba di Kebun Raya Cibodas. Lucy paling terdepan kalau soal pembayaran tiket masuk. Ia tak segan mengeluarkan uangnya untung bersenang-senang.
"Beruntung banget gue punya teman royal kaya lo Lucy!" kekeh Fania menyengir. Gigi putihnya berderet rapih.
"Itulah fungsiny gue." Lucy mendongakkan kepalanya menatap dengan angkuh.
Tiga pasangan itu masuk ke dalamnya, memarkirkan motor lalu berjalan menyusuri Kebun Raya Cibodas.
Beruntung sekali, saat itu bunga Sakura tengah mekar-mekarnya. Di bulan april hingga mei, jadwal bunga sakura mekar. Mereka tidak perlu jauh-jauh ke Jepang hanya untuk foto bersama pohon bunga sakura itu.
Jepret Jepret Jepret
Ketiga pasangan itu bergantian foto dengan background bunga sakura. Ada yang saling mangaitkan tangan, bersandar di bahu, berpelukan, melompat hingga banyak gaya lainnya.
Johan dan Fania pun tak ketinggalan momen itu. Mereka berdua foto bersama. Fania masih tampak kikuk dan kaku ketika berdekatan dengan Johan.
Johan menautkan jari-jemari Fania, mengeratkan tautan itu saat foto di ambil oleh teman-teman mereka. Bahkan Johan tanpa malu-malu menggendong Fania, membuat Fania tersontak kaget.
"Jo, nggak enak sama yang lain," keluh Fania menoel-noel lengan Johan karena merasa tubuhnya begitu berat sehingga takut jatuh kebawah.
__ADS_1
"Lucy, buruan jepret," titah Johan saat ia menggendong Fania dengan senyum lebarnya.
1 ... 2 ... 3 ...
Jepret Jepret Jepret
Momen itu berhasil diabadikan oleh Lucy. Semua hanya tertawa melihat tingkah konyol Johan.
"Eh seru juga kaya gitu ya posenya. Yuk yang, kita foto kaya gitu juga," tutur Kemal melirik Angel yang daritadi hanya diam melihat teman-temannya heboh karena tingkah Johan.
Angel diam tak merespon. "Angel ... ?" teriak Kemal membuyarkan lamunannya. Entah apa yang dipikirkan Angel begitu serius.
"A–apa? " ucapnya terbata-bata.
"Ayo foto kaya pose Johan sama Fania tadi," jawab Kemal lugas.
Angel mendekati Kemal. Lucy yang menjadi fotografernya pun kembali beraksi.
1 ... 2 ... 3 ...
Jepret Jepret Jepret
Beberapa foto Kemal dan Angel berhasil diabadikan. Angel hanya patuh terdiam mengikuti kemauan Kemal.
"Lo mau juga nggak njep?" Panggilan sayang Lucy pun akhirnya terkuak.
"Ecieee ... Enjep nggak tuh," goda Johan membuat Jefri tersipu malu.
"Hush ... itu panggilan sayang gue," tegur Lucy tak ingin panggilan itu keluar dari mulut orang lain.
"Ayolah," jawab Jefri, ia mengambil posisi dengan background bunga sakura diekori juga oleh Lucy.
"Siapa nih yang foto. Tadi gue udah baik hati ya fotoin kalian semua!" cecar Lucy memutar bola matanya menanti temannya secara sukarela untuk mengambil fotonya bersama Kemal.
"Gue!" Fani mengangkat telunjuknya, ia langsung mengeluarkan kamera dari sakunya.
1 ... 2 ... 3 ...
Jepret Jepret Jepret
Kemal yang menggendong Lucy lumayan hampir oyong. Jalannya pun sempoyongan, setelah pengambilan foto selesai, ia langsung menurunkan Lucy dengan sigapnya.
"Lo biasa aja dong! Jangan kaya orang mau mati! Padahal gue cuma 50 kilogram. Sesuailah sama tinggi badan gue," celetuk Lucy yang melihat ekspresi Kemal begitu hiperbola.
"Engap gue! Asli," kekeh Kemal karena badannya sama beratnya dengan Lucy. Bahkan tinggi mereka hampir sepantaran.
__ADS_1