Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
berenang


__ADS_3

"Iya juga sih! Beruntung banget lo Lucy! Apalagi lo anak tunggal waww," ucap Fania bangga, menepuk-nepuk kedua tangannya.


"Ah lo berdua lebay! Udah buruan, katanya mau belajar." Lucy mengalihkan pusat perhatian kedua temannya itu. Ia tak mau terus-terusan dipuji karena harta kekayaan kedua orangtuanya.


"Eh iya jadi lupakan lo Fan. Kita kesini mau belajarr eeeuyyygh," ledek Angel.


*Hening


Mereka bertiga mulai pembelajaran, esok mereka akan mengikuti dua ujian diantaranya biologi dan bahasa inggris. Beberapa buku pelajaran sudah tertumpuk diatas meja.


Fania mulai membuka soal-soal yang diyakininya akan keluar esok. Mulai dari pelajaran biologi. Pelajaran itu cukup mudah, cukup menghafalnya saja.


Satu jam berlalu, Fania, Angel dan Lucy saling melempar pertanyaan. Secara bergantian mereka juga menjawabnya. Setelah merasa cukup untuk menguasainya, mereka beralih pada pelajaran bahasa inggris.


Bagi kaum milenial seperti mereka, generasi z zaman sekarang, justru pelajaran bahasa inggris sudah diluar kepala. Disekolah bahkan sehari-harinya mereka berbicara dengan bahasa inggris untuk mempermudah pengucapannya.


Lagi-lagi Fania melontarkan pertanyaan yang menyangkut dengan pembahasan pelajaran mereka. Lucy dan Angel berhasil menjawabnya. Ia sedikit memuji kedua sahabatnya itu lantaran sudah memiliki keahlian dalam berbicara bahasa inggris.


"Udah mantaplah lo berdua belajarnya. Kalau bisa besok jangan nyontek lagi ye!" Fania memperingatkan kedua sahabatnya terutama Lucy. Dia tak ingin lagi melihat Lucy terkena masalah.


Kalau ketahuan lagi oleh guru, bisa saja Lucy terancam tak lulus dari sekolah ini.


"Waktu masih panjang nih. Gimana kalau cari kegiatan lain," usul Lucy mengerling, menggoda kedua sahabatnya itu untuk bermain.


"Ah elo mah kebiasaan. Minta belajar tapi kebanyakan mainnya," celetuk Angel dengan wajah sinisnya.


"Hehehehehe" Lucy tertawa meski tak ada yang lucu.


"Garing loe," timpal Fania tak mau kalah.


"Jadi gimana nih? Mau apa enggak? Kalau mau mending kita berenang aja. Mumpung masih jam empat sore," sambung Lucy dengan tatapan tajamnya, menggoda terus kedua sahabatnya agar usulannya disetujui.


"Yaudah hayoklah!" ucap Fania tak ingin membuat Lucy kecewa.


"Hmmmmm" gurau Angel.

__ADS_1


"Lo berdua bisa pake baju renang gue, noh ambil sendiri di lemari. Pilih aja" tutur Lucy berjalan kearah lemarinya, membuka pintu lemari itu dengan lebar.


Disana telah menggantung pakaian renang miliknya. Ukuran mereka bertiga sama, jadi tak menyulitkan Lucy jika baju-bajunya juga bisa dikenakan oleh dua sahabatnya itu.


"Baju renang aja segala dikoleksi si Lucy mah," sindir Fania dengan logat sundanya.


"Hehe! Iya dong! Wajib, jadi kalau kemana-mana bisa gonta-ganti," sahut Lucy dengan polosnya.


Setelah mereka bertiga berganti baju, mereka berjalan menyusuri rumah luas milik Lucy. Di halaman belakang rumahnya terletak kolam renang yang besar bahkan ada perosotannya juga. Diarea sudut kolam renang juga dibangun sebuah gazebo untuk mereka bersantai ria.


Tak lupa Lucy memberikan kacamata renang untuk Fania dan Angel.


"Lucy, bokap nyokap lo mana si? Daritadi nggak kelihatan," tutur Fania membuka pembicaraan mereka saat masih merendam kakinya di kolam renang.


"Kerjalah," ketus Lucy kecewa.


Sebenarnya ia malas membahas tentang kedua orangtuanya yang sedang sibuk bekerja. Acapkali Lucy kesepian di rumah, kedua orangtuanya tak pernah memiliki waktu untuknya.


"Santai dong lo! Gue kan nanya baik-baik," kilah Fania tak terima dengan nada bicara Lucy.


"Lo apa?" sungut Lucy.


"Gue juga bingung. Kayanya gue nggak ada kelemahan. Orangtua gue walaupun sibuk tapi selalu menyempatkan waktu untuk kumpul sama gue dan adik-adik gue. Gue juga nggak pernah kesepian karena punya adek lima. Oh kelemahan gue, ya itu suka berantem sama adik-adik gue heheheh," canda Angel.


"Ah nggak seru lo," hardik Lucy.


"Udahlah. Ngapain juga kita bahas itu, ayo renang," ajak Fania penuh antusias.


Byuuuuuurr


Suara percikan air terdengar sangat keras. Ketiganya melompat dari tepian kolam renang. Bermain-main air, melempar air kearah satu sama lain.


Susana semakin heboh, ketika ketiganya mencoba wahana perosotan yang ada di rumah Lucy.


"Asik juga ya punya kolam pribadi," goda Fania.

__ADS_1


"Makanya lo sering-seringlah kesini," tuntut Lucy dengan senyum lebarnya.


"Jujur gue senang kalau lo berdua sering kesini! Rumah gue jadi ramai!!"


"Ya asal lo nggak keberatan, gue pasti sering kesini. Ya nggak Ngel?" desis Fania.


"Hmmm gimana ya? Kalau gue nggak bisa sering kesini, gue juga harus temani adik-adik gue di rumah." Angel memberikan segudang alasannya, sebenarnya dia bebas untuk bermain. Adik-adiknya bahkan punya pengasuh tersendiri.


Cuma dia merasa kasihan kalau adik-adiknya hanya ditemani oleh nanny mereka. Tanpa kehadiran kakaknya, bahkan ia selalu dicari-cari bila tak kunjung pulang ke rumah.


"Iya deh yang punya adik banyak," cibir Lucy. Ia sangat iri dengan keharmonisan keluarga Angel. Bahkan dimatanya, keluarga Angel tak ada minusnya.


Memiliki kedua orangtua yang perhatian, bahkan memiliki lima orang adik yang lucu-lucu. Tak heran kalau Angel betah tinggal di rumahnya sendiri.


"Hussh, kita nggak boleh saling nyerang. Syukuri aja apa yang kita miliki," ucap Fania sok bijak.


Setelah berenang selama setengah jam, mereka beristirahat di gazebo. Para pembantu Lucy telah menyiapkan makanan dipelataran gazebo tersebut.


Makanan dan minuman yang banyak. Perut Fania, Angel dan Lucy merasa begah karena kekenyangan.


"Guys bentar lagi kita pisah. Padahal baru setengah tahun kita bersama huh," decak Fania menyesali kedatangannya sangat terlambat.


Ia sangat beruntung telah memiliki sahabat seperti Angel dan Lucy. "Gue sayang banget sama lo berdua. Mungkin kalau kita udah kuliah masing-masing, pasti nggak akan ada momen seperti sekarang ini," keluhnya lagi.


"Lo berdua pasti masing-masing punya teman baru lagi, begitupula dengan gue. Sulit rasanya untuk ngumpul bareng kaya sekarang."


"Lo jangan pesimis dong! Kan kita bisa luangkan waktu untuk ngumpul," sahut Angel merangkul pundak Fania dan menyandarkan kepalanya ke kepala Fania.


"Iya ih, pokoknya kita harus luangin waktu nanti ya! Sesekali perlulah ngumpul kaya gini. Sedih ya, bentar lagi kita udah mau pisah aja!" sosor Lucy, ikut-ikutan menyandarkan kepalanya ke kepala Angel.


"Lo pasti kuliah nggak Luc?" Fania mengalihkan pembicaraan, ia masih penasaran pada keputusan temannya itu.


"Nggak tahulah gue! Lihat nanti aja, gue juga pengen sih kuliah. Punya dunia baru gitu, tapi otak gue mampu nggak ya? hahahaha," kilah Lucy seraya tertawa terbahak-bahak.


"Tenang! Gue yakin lo mampu kok. Makanya belajar yang benar, emang lo nggak mau cari pacar baru? Nggak bosan lo sama si Jefri?" seloroh Angel menyakinkan.

__ADS_1


__ADS_2