
Suasana kelas hening, karena seluruh siswa menatap lembar soal ujian dan menjawabnya dengan tenang. Tidak ada keributan nyontek secara langsung dari para siswa karena mereka sudah siap dengan contekan masing-masing.
Selama 90 menit berlangsung, seorang siswi, Fania Indriani memberanikan diri menyerahkan lembar jawaban ujian kepada pengawas. Diikuti oleh yang lain, yang merasa dirinya juga sudah selesai.
Setelah semua lembar jawaban terkumpul, pengawas itu keluar dari ruangan. Angel dan Lucy menghampiri Fania dikursi belajarnya.
"Fan! Fan! Gimana tadi ujian lo," tanya Lucy dengan semangat yang tak henti. Entah mengapa setelah beredarnya kunci jawaban ujian yang diperjual belikan didalam lingkup sekolah, membuat semangatnya berkobar. Percaya dirinya tinggi meski tanpa belajar.
"Agh elah, kaya lo ngisi jawaban dengan benar aja! Menang nyontek aja kepedean," sindir Angel yang terkekeh melihat Lucy begitu bersemangat.
"Yeee lo juga kan! Gausah mangkir lo," ledek Lucy dengan bangganya.
"Udah! Udah! Gausah ribut. Kalau gue sih asli dari otak gue sendirilah, nggak ada tuh nyontek-nyontek kaya lo pada," tegurnya seraya menatap kedua temannya secara bergantian.
"Ya namanya juga usaha Fan. Usaha supaya nilainya bagus hahahah," kekeh Lucy.
"Yaudah yuk ke kantin," lanjut Lucy.
Mereka bertiga berjalan beriringan mengarah ke kantin. Namun ditengah jalan, Johan Satria mencegat mereka.
"Eits tunggu dulu," cegahnya dengan merentangkan kedua tangannya berada didepan Fania.
"Kenapa sih? Minggir lo ah gue lapar," sinis Fania, karena mereka sedang berada di sekolah, Fania tak ingin menjadi pusat perhatian ketika disambangi oleh bos geng tersebut.
"Tunggu dulu dong sayang! Ada yang mau gue omongin," jelas Johan. Johan tak kehabisan akal, ia terus menggoda Fania, cara itu untuk mengembalikan hati Fania yang sudah mulai luntur padanya.
"Minggir ah! Nanti aja, malas gue. Nanti kalau hasil ujian lo udah jelas semuanya isi nilainya 8 keatas," ketusnya seraya menyingkirkan tangan Johan yang ada dihadapannya.
"Galak amat sih lo Fan," celetuk Angel sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sikap Fania belum berubah meski terikat perjanjian dengan Johan.
Sikapnya masih dingin dan malas untuk menanggapi mantan pacarnya itu. "Nanti lo semua juga ngerti, kenapa sikap gue gini! Sepertinya gue udah nggak ada rasa lagi sama dia," jawab Fania lantang.
Ia harus memastikan kalau perasaannya sudah mulai menghilang. Sebab Fania masih tak terima, kalau Johan sudah tersentuh oleh wanita lain.
"Namanya juga masih remaja Fan, pasti maunya ya coba-coba," cibir Lucy tanpa merasa bersalah.
"Bagi gue nggak ada coba-coba! Gue aja sampai detik ini hanya disentuh oleh pacar gue sendiri. Dan dia satu-satunya cowok yang jadi pacar gue. Dia pacar pertama gue," sambung Fania.
__ADS_1
"Yeee lo berdua kenapa sih, malah adu mulut. Nggak asik ah. Ayo ah ke kantin, malas gue ngeributin soal cowok mulu," tegas Angel yang tak mau melihat sahabatnya saling mencibir.
Akhirnya mereka masuk ke kantin sekolah, memesan beberapa makanan untuk disantap saat jeda ujian, dan memilih meja kantin di pojokan.
Fania memesan ketoprak, sedangkan Lucy dan Angel dengan pesanan yang sama, soto ayam.
"Fan, abis ini kita kan satu mapel lagi ujiannya. Setelah itu lo langsung balik apa mau belajar bareng lagi kaya kemarin?" ucap Angel membuka suaranya setelah menghabiskan soto ayam didepannya.
"Ehmmm gimana ya?" Fania tampak berpikir. Setelah kejadian beredarnya kunci jawaban diseluruh sekolah, dia semakin malas mengajak teman-temannya belajar.
Ngapain coba belajar bareng kalau mereka aja ngandelin kunci jawaban. Nambah beban gue aja!
Fania berpikir dan bergumam seorang diri. Tapi kalau ia menolaknya, nanti kedua sahabatnya itu akan merasa kecewa.
Tapi dengan polosnya Lucy menolak usulan Angel.
"Yaelah Ngel, ngapain lagi sih belajar! Udah jelas ada kunci jawaban. Andelin itu aja, makanya besok lo datang pagi-pagi biar kebagian,"
Seketika Fania dan Angel menatap Lucy dengan tajam. Ia terlalu percaya diri mengandalkan kunci jawaban yang beredar, padahal belum diketahui itu asli atau tidaknya.
"Setidaknya lo belajar dikit lah Luc! Gimana kalau kunci jawaban itu bohongan? Gue aja nyocokin dulu sama jawaban gue setelah baca soal, baru nyamain sama kunci jawaban yang gue pegang," kata Angel dengan gamblang agar Lucy tak bersikap remeh.
"Nggaklah! Ngapain! Malas banget! Gue udah beli mahal tuh kunci jawaban. Masa palsu sih," keluhnya dengan kepala tertunduk. Sebenarnya ia jadi merasa malu pada dua sahabatnya yang lain, meskipun punya sikap urakan, tak seharusnya dia terlalu mengandalkan kunci jawaban tersebut.
"Nah! Ujian terakhir hari ini, pastikan lo jawab sendiri dulu. Baru samain jawabannya, biar nggak sia-sia gituloh gue ngajarin lo berdua kemarin," singgung Fania seraya menepuk pundak Lucy dengan lembut.
"Iyah-iyah! Nanti deh gue coba baca dulu. Nggak asal isi dengan kunci jawaban," balasnya dengan polos.
"Udah yuk ah cabut! Ke kelas lagi maksudnya heheh," Lucy melanjutkan perkataannya.
Lucy dan Angel sudah mengantongi kunci jawaban untuk ujian terakhir. Ujian bahasa Indonesia, dirasa cukup gampang.
Seraya ketiganya berjalan menyusuri lorong ruangan kelas. Angel kembali mempertanyakan tentang kepulangan sekolah mereka.
"Eh Fan gimana nanti mau belajar bareng lagi nggak?" tanyanya lagi karena belum mendapatkan jawaban valid dari sahabatnya itu.
"Gue sih mau aja! Asal lo semua belajar yang benar! Jangan ngadelin jawaban yang lo pada beli," kesal Fania dengan nada yang agak tinggi.
__ADS_1
"Kalau gue nggak ngandelin doang Fan, serius tadi soalnya gue jawab sendiri dulu. Lumayan belajar sama lo kemarin, soal-soal itu jadi bisa gue jawab," balas Angel dengan cengirnya.
"Kalo lo gimana Luc? Mau belajar apa engga?" tanya Fania memastikan.
"Ehmmm, gue sih ayo aja! Gue janji deh belajar serius biar bisa jawab soal ujian besok," jelas Lucy yang merangkul pundak kedua temannya karena berada ditengah-tengah mereka.
"Yaudah ayo deh, mau belajar dimana?" tanya Fania karena ia takut merasa kedua sahabatnya bosan jika belajar terus di rumahnya.
"Rumah gue aja lah Fan," usul Lucy karena ia ingin memperkenalkan rumahnya pada kedua sahabatnya.
"Oke!" Fania dan Angel menjawab dengan kompaknya setelah mereka masuk kedalam kelas, kemudian Fania terpisah lagi dengan Angel dan Lucy karena duduk ditempat masing-masing.
Kriiiingg\~\~Kringg
Bel sekolah berbunyi lagi, seorang pengawas memasuki ruangan kelas.
Ia membagikan lembaran soal yang diminta agar diberikan secara estafet dari depan ke belakang.
"Jangan berisik! Kerjakan saja soal didepan! Jangan saling nyontek," ketus guru pengawas seraya duduk dimejanya memerhatikan secara detail seluruh siswa yang ada dikelas.
Ternyata guru yang menjadi pengawas mereka adalah salah satu guru killer di Sekolah, yang tidak terima jika seorang siswanya menyontek sekalipun.
Dua puluh menit berlalu, siswa masih tampak tenang. Tapi tiba-tiba guru itu memperhatikan salah satu siswa yang menjadi sorotannya.
Lucy yang dari tadi gelisah, bolak balik mengecek lembaran soal dan jawabannya yang ada diatas meja, sesekali menunduk kearah laci mejanya, membuat guru itu semakin curiga penasaran.
Ia mengawasi dengan mengitari beberapa meja pelajar. Menyusuri meja itu perlahan sampai tiba berada dibelakang Lucy. Cukup lama ia memperhatikan Lucy yang bolak-balik dalam diamnya mengecek contekan dilaci meja belajarnya.
Fania yang menatap dari kejauhan memberikan kode pada Angel, kalau guru killer itu ada dibelakang Lucy. Baru saja mau menyenggol teman sebangkunya, tiba-tiba guru killer berdehem.
"Ehemmm!"
Tatapan tajam guru killer yang ada dibelakang Lucy, membuat Lucy gugup dan grogi.
"Hehehe ibu," jawabanya dengan cengengesan karena sudah ketangkap basah.
Guru itu merampas lembar kunci jawaban yang berbeda dengan lembar kertas yang diberikannya tadi dari tangan Lucy.
__ADS_1
"Dapat dari mana ini?" tanyanya dengan nada kesal yang tinggi seraya mengibaskan lembaran kertas yang berhasil dirampasnya.