
Gue nggak perlu kado! Ucapan selamat dari lo udah cukup kok Jo!
Fania mengirimkan pesan itu pada Johan. Dengan rasa malas ia beranjak dari kasurnya. Ia membasuh wajahnya agar lebih segar dan bugar.
Berjalan ke luar kamar, mencari sosok mamanya pagi ini. Pagi menjelang siang tepatnya.
"Ma ... mama?" teriak Fania dari ruangan dapur.
"Nyonya kerja non," ucap Bi Sukem menganggetkan Fania.
"Astaga Bi! Nongol darimana sih? Tadi nggak ada orang disini," keluh Fania seraya memegang dadanya lantaran terkejut.
"Dari belakang non! Lagi nyapu halaman belakang tadi," jawab Bi Sukem berjalan ke dekat kompor, memulai rutinitasnya untuk memasak.
"Mama kerja?" tandas Fania menanyakan langsung pada pembantunya.
"Iya non!" Bi Sukem mengangguk pelan seraya memotong sayurannya.
"Oh kirain mama libur lagi. Emang udah nggak sakit?" cecar Fania pada Bi Sukem.
"Yang namanya orang hamil bukan sakit non. Itu hanya gejala umum kehamilan saja!" beber pembantuanya itu.
"Tapi mama nggak apa-apa kan bi? Maksudnya sehat-sehat aja gitu?" sambung Fania polos.
"Tenang non, nyonya baik-baik saja! Hanya mual dan pusing. Paling cuma tiga bulan mengalami itu, selanjutnya ya biasa lagi," terang Bi Sukem diikuti anggukan oleh Fania.
Fania duduk di kursi makannya, mengoleskan selai coklat pada roti yang ada di atas meja. Ia menyantap sarapannya sekaligus menatap ponselnya. Menunggu pesan balasan dari pacarnya.
Fania memang sudah mengganti kontak nama Johan menjadi 'pacarku' setelah ia merasa kalau perasaannya sudah mulai menerima Johan.
Perhatian-perhatian kecil dari Johan memang membuat Fania luluh. Seperti pagi ini, niat mengucapkan selamat bahkan memberikan kado pun sangat istimewa bagi Fania.
*****
Johan masih sibuk dengan kerja paruh waktunya. Banyaknya pelanggan yang berbelanja tidak sempat memberikannya waktu untuk membalas pesan Fania.
Pagi itu, Johan juga harus mengisi rak-rak yang kosong di dalam minimarket. Beberapa stok dari gudang telah datang. Ia mulai mengisi ruang-ruang kosong dengan beberapa produk yang habis terjual.
******
__ADS_1
Bosan nih! Jalan yuk?
Pesan itu baru saja dikirimkan Lucy melalui grup watsappnya. Ia mengurung diri di dalam kamarnya sejak tadi pagi. Malas beranjak dari kasurnya. Kedua orang tuanya pun sudah tidak ada di rumah sejak pagi buta.
Fani dan Angel langsung menjawab ajakan Lucy. Selama beberapa bulan ke depan mereka benar-benar gabut. Tidak ada pekerjaan apapun sampai menunggu melanjutkan masa perkuliahan mereka.
"Ayo."
"Ayo."
Kedua pesan itu kompak dikirimkan oleh Fania dan Angel. Lucy langsung menghubungi kedua sahabatnya dengan video call di dalam grup watsappnya.
"Eh ... mau pada kemana nih?" tanya Lucy melalui sambungan teleponnya.
"Menurut lo?" lontar Fania karena ia juga kebingungan tujuan liburan mereka hari ini.
"Ngemall aja! Belanja gitu," usul Angel, kebetulan ia sendiri ingin shopping. Sudah lama rasanya tidak berbelanja langsung di butik. Keseringan belanja online juga membuatnya jenuh karena tidak bisa mencoba langsung baju yang dibelinya.
"Boleh deh! Persiapan ngampus! Biar agak stylish gue hehe," seloroh Fania.
"Lo gimana Lucy?" cecar Angel.
"Sekarang siap-siap. Ketemu di mall yang paling hits itu ya! Jam 10 oke?" tambah Angel.
"Oke!" Lucy dan Fania menjawab dengan kompaknya. Mereka bertiga langsung masuk ke kamar mandi.
Bersiap-siap untuk berbelanja pagi ini. Fania diantarkan oleh supirnya–Pak Sudi karena ia sedang malas naik kendaraan umum. Sedangkan Lucy mengendarai mobilnya sendiri.
Angel memilih untuk menaiki kendaraan umum taksi online. Karena mobil di rumahnya semua sedang dipakai oleh kedua orang tuanya serta menjemput adik-adiknya ke sekolah.
"Hai!" Fania melambaikan tangannya di halaman mall pada kedua temannya yang baru saja tiba. Lucy memilih vallet parking agar tak jauh dari pintu masuk mall. Sedangkan Angel memang sengaja minta diturunkan di depan pintu mall.
Mereka bertiga berjalan gontai memasuki mall tersebut. "Bosan nggak sih libur kelamaan?" celetuk Lucy merasa jengah dengan keadaannya seorang diri di rumah hanya ditemani para pembantunya.
"Iya bosen gila! Parah gue suntuk di rumah! Adik-adik gue sekolah semua," keluh Angel meratapi nasibnya yang baru lulus.
"Apalagi gue! Tadi pagi bangun, nyokap udah berangkat kerja. Cuma ada pembantu gue doang di rumah," sungut Fania.
"Tapi kan ada pacar lo Fan, yang perhatian!" ledek Lucy.
__ADS_1
"Lah, emang lo nggak punya pacar? Pacar gue juga punya kesibukan kali," sembur Fania memicingkan matanya pada sahabatnya yang suka celetuk seenak jidadnya tanpa berpikir panjang.
"Hehehe! Santai dong! Langsung ngamuk aja lo," sindir Lucy seraya tersenyum lebar.
Sementara Angel masih sibuk memilih butik-butik yang mereka lintasi. Ia bingung mau masuk ke butik mana untuk membeli bajunya.
"Eh ... berantem mulu lo berdua! Ayo masuk ke sana," ajak Angel menunjuk salah satu butik incarannya lalu menarik tangan kedua sahabatnya untuk masuk ke sana.
Fania dan Lucy mengekori langkah sahabatnya itu. Mereka masuk ke salah satu butik yang cukup besar. Disana berjejer baju-baju yang sedang hits dan booming.
Mulai dari kaos, kemeja, dress, gaun, jeans, semuanya lengkap. Sampai-sampai kedua bola mata mereka berputar menatap banyaknya baju-baju stylish jaman sekarang.
"Uhh cantik-cantik," ujar Fania mengedarkan pandangannya, menatap seluruh isi butik dengan mata berbinar.
"Iya! Keren-keren bajunya! Ayo berburu!" teriak Lucy dengan semangat menggebu-gebu. Masalah belanja, Lucylah orang nomor satu yang akan memborong seisi butik.
"Jangan kalap lo ye!" Fania mengingatkan Lucy agar memilih sesuai selera yang akan dipakainya nanti.
"He'em." Lucy berlari mengitari isi butik. Mengambil satu-persatu baju yang menggantung di sana.
Sedangkan Angel sudah bergerak dari tadi. Ia mencoba bajunya satu-persatu di kamar ganti. Beberapa baju sudah ada ditangannya untuk dibayar.
Fania memilih beberapa kemeja dan kaos untuk dipakainya nanti ke kampus. Tak lupa ia juga membeli jaket denim untuk dipadukan dengan kaos-kaos yang dibelinya.
Beruntung Fania memiliki tabungan dari uang saku pemberian mamanya. Ia tidak pernah menghabiskan uang sakunya, selalu menyisihkan untuk dana darurat maupun tabungan saat ia perlukan nanti.
Ting
Bunyi notifikasi ponsel Fania menghentikan langkahnya yang sedang berjalan menyusuri baju-baju yang terpajang di dalam butik.
Pacarku
Sayang, nanti malam bisa ketemu?
Fania baru saja membaca pesan dari pacarnya–Johan. Tiba-tiba Angel menyambanginya. "Kenapa Fan? Kok diam di sini?" tutur Angel menatap lekat wajah Fania.
"Cowok gue pengen ketemu nanti malam. Ehmmm ... gimana ya? Mana nyokap gue lagi nggak enak badan, muntah-muntah terus," ungkap Fania merasa tak enak jika harus keluar malam ini.
"Emang nyokap lo sakit apa?" Angel menatap serius wajah sahabatnya itu, menunggu jawabannya.
__ADS_1