
"Ke dokter aja yuk ma," ajak Fania karena rasa khawatirnya meningkat.
"Nggaklah! Udah sana kamu siap-siap, sebelum berangkat ke puncak. Jangan lupa bawa jaket nak. Khawatir cuacanya dingin." Anggita mengingatkan, setelah itu ia pergi ke kamarnya meninggalkan Fania seorang diri.
Mama ini kalau dikasih tau susah sekali! Nanti kalau udah parah sakitnya malah ngeluh!
Batin Fania meracau sendiri. Ia kemudian masuk ke kamarnya. Mulai menyiapkan barang bawaan di ranselnya. Beberapa baju ganti serta jaket tak lupa ia masukkan ke dalam ransel.
Fania mengecek ponselnya, kemudian membalas pesan dari Johan.
Fania
Oke deal ke Puncak. Tapi gue ajak sahabat gue ya! Triple date lagi..
Pesan itu diterima oleh Johan, ia melompat kegirangan setelah Fania menyetujuinya.
"Wahh! Harus kerja keras nih demi ayang beb! Semangat kerja!" gumam Johan melompat-lompat kecil ditempat kasirnya.
Beberapa pengunjung yang datang ke minimarket itu sempat melihat tingkah Johan. Tapi Johan langsung menunduk malu sekaligus menghentikan aksinya.
Johan membalas pesan dari pacarnya seraya tersenyum-senyum seorang diri.
Johan
Oke sayang! Jam 12 siang aku jemput ya!!
Balasan itu tanpa sadar membuat Fania tersenyum tipis. Di sudut bibirnya tersirat lengkungan kecil, sepertinya ia mulai menerima Johan menjadi pacarnya kembali.
__ADS_1
Fania melihat jam di dinding, ternyata sudah jam 11 siang, ia bergegas mandi. Selama dua puluh menit di dalam kamar mandi, ia keluar dengan rambut yang basah, membalutkan bathrobe di tubuhnya.
Sesekali ia melantunkan lagu kasmaran. Tapi tiba-tiba ia tersentak karena sering sekali terlihat seperti orang yang jatuh cinta.
Ahhh, kenapa aku? Malah senyum-senyum terus. Kok rasanya nggak sabar pengen ketemu sama Jo ya? Apa ini gejala jatuh cinta?
Fania bergumam seraya memakai baju kasual yang telah disiapkannya sejak tadi. Kaos putih serta celana jeans ia padukan. Tak lupa ia juga menyiapkan jaket Denim untuk nanti dipakai saat berada diatas motor agar terhindar dari terik matahari.
Sedangkan Johan menyudahi kerja part timenya. Ia pamit kepada pemilik toko yang baru saja tiba di minimarket itu.
"Bos, pulang dulu ya," pamitnya seraya menggulum senyum.
Tak sabar rasanya Johan ingin bertemu dengan Fania siang ini. Dari minimarket yang ia jaga, Johan berjalan melompat-lompat kecil karena kegirangan.
Dengan penuh semangat yang menggebu-gebu, Johan masuk ke dalam rumahnya. Ia melihat mama dan ayahnya sedang asik makan siang di depan tv.
"Ma, Yah, Johan izin mau ke puncak ya?" ucapnya sembari tersenyum lebar.
"Sama pacar!" akunya dengan jujur.
"Uuuh anak ayah udah punya pacar," goda sang Ayah.
"Udah dong. Udah ah, mau mandi dulu." Johan melangkah lebar ke arah kamarnya. Ia mengambil handuk dari gantungan baju serta masuk ke dalam kamar mandi kecil yang ada di sudut dapur mereka.
Setelah 10 menit berdandan menjadi cowok yang gagah, Johan tak lupa mengisi jaketnya ke dalam tas gendongnya. Ia juga membawa topi serta kacamata.
Setelah itu, Johan menghubungi Lhee melalui ponselnya.
__ADS_1
"Bro pinjam motor dong," ucap Johan dari seberang teleponnya setelah terdengar suara Lhee.
"Oke bro, bentar gue kesana." Lhee menutup teleponnya secara sepihak, sudah terbiasa mereka bersikap apa adanya.
Johan sesekali bersiul seraya mempersiapkan barang-barangnya serta menunggu kedatangan Lhee. Ia keluarga kamar berjalan gontai, melintasi kedua orang tuanya yang baru saja selesai menikmati makan siangnya.
"Jo makan dulu sana," titah sang mama.
"Oke ma! Ini Johan mau makan kok," jawabnya lugas setelah meletakkan ranselnya di samping tv.
Kemudian ia menuju dapur, mengambil nasi dan lauk yang hanya tersaji tempe dan tahu saja serta sayurnya. Memakannya perlahan hingga habis.
Terkadang ia merasa menyesal, sudah kerja banting tulang tetapi uangnya dihabiskan untuk berpacaran. Sementara di rumahnya pun hanya makan seadanya.
Tapi Johan bertekad untuk merubah kebiasaan itu. Ia akan mulai menabung untuk memberikan separuh hasil keringatnya pada sang mama.
Namun, untuk hari ini Johan tak langsung memberikan hasil gajinya selama satu minggu bekerja. Ia mempertahankan gaji itu karena perjalanan mereka hari ini tidak hanya berdua dengan Fania. Melainkan juga dengan sahabat sekaligus pacar mereka masing-masing.
Titttttt
Suara klakson motor Lhee terdengar hingga ke dalam rumah mereka. Meski rumah hanya sepetak. Namun, rumah itu adalah milik keluarga Johan. Hasil warisan dari neneknya Johan yang merupakan ibu dari ayahnya.
"Oi," teriak Johan merespon klakson tersebut. Johan berlari keluar rumah.
"Ma, Yah pamit dulu ya." Johan mengambil tangan ayahnya dilanjutkan dengan tangan ibunya, mencium punggung tangan itu dengan takzim.
"Heh jangan ngebut," jelas Ayah Johan mengingatkan.
__ADS_1
"Siap bos!" balas Johan.
Setelah memgambil kunci motor Lhee, Johan bergegas berangkat menjemput Fania.