
Anggita mulai tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh putrinya. Ia bahkan mulai mengintrogasi Fania Indriani. Bahkan dia tidak memperbolehkan Johan untuk pulang dan malah menyuruhnya untuk masuk ke rumahnya.
"Mama ingin kalian berdua segera masuk ke rumah! parkirkan motor itu di halaman dalam," titah Anggita pada Fania dan Johan.
Anggita bergegas masuk ke dalam rumah dengan rasa kesalnya. Sedangkan Fania mulai mendekati Johan.
"Tenang ya Jo! Jangan takut sama mama. Mama itu sebenarnya orang baik kok!" ucap Fania yang menenangkan Johan karena Johan terlihat sangat panik.
Bagaimana tidak panik, seorang laki-laki masih anak SMA malah pergi membawa anak gadis orang tanpa izin dari kedua orangtuanya.
"Tenang gimana Fan! Sumpah gue jadi takut!" balas Johan dengan suaranya yang bergetar karena ketakutan.
Bagaimana jika ia diminta untuk segera memutuskan Fania yang baru saja menjadi pacarnya? Baru juga satu minggu jadian, hubungan mereka kini berada diujung tanduk.
Tidak terpikirkan oleh Johan akan bertemu mama Fania secepat ini. Hubungan mereka seketika mendadak jadi serius ketika diketahui oleh orangtua Fania.
Fania dan Johan masuk ke dalam rumah. Fania memasukkan semua barangnya ke dalam kamar, sedangkan Johan masih berada di ruang tamu. Dia bahkan tidak berani untuk duduk sebelum dipersilahkan oleh pemilik rumah.
Anggita baru saja keluar dari kamarnya dan mendekati Johan Satria.
"Duduk" perintah Anggita pada Johan dengan ekspresi dinginnya.
Johan langsung terduduk dan diam. Dia siap mendengarkan apapun yang keluar dari mulut calon mertuanya. Eitsss! belum pikirnya, Fania belum tentu menjadi istrinya nanti.
Mama pacarnya maksud Johan. Baru juga pacaran pertama kali, tapi mengapa ia seolah-olah akan diintrogasi oleh mama pacarnya sendiri. Tidak ada persiapan yang dilakukan Johan, cukup dengan diam dan mendengarkan apa keinginan mama Fania.
"Sudah berapa lama kamu pacaran dengan anak saya?" tanya Anggita dengan nada kesalnya.
Ia tak menyangka putrinya sudah dewasa bahkan sekarang sudah berani memiliki pacar. Meski Anggita sangat sibuk dengan pekerjannya, tapi tak sekalipun ia tidak memperhatikan anaknya.
Dengan diam-diam, Anggita selalu mengecek keadaan Fania serta kondisi di sekolahnya. Dan baru kali ini ia mengetahui kalau Fania punya pacar, padahal beberapa waktu lalu ia sempat membaca diary milik Fania dan disana dikatakan Fania belum pernah sekalipun pacaran.
Tapi dalam diary itu tertulis bahwa ada pria yang sangat dia benci yaitu Johan Satria.
__ADS_1
"Baru seminggu tante," jawab Johan dengan nada lembut. Dari tadi Johan berpikir bagaimana ia akan lolos hari ini.
Apalagi kalau mamanya Fania mengetahui dia adalah anak orang miskin dan tidak cocok bersanding dengan anaknya. Dari rumah Fania yang besar dan megah saja sudah membuktikan orangtua Fania sangat berada.
Mobil yang terparkir di garasinya saja ada empat, tapi Johan tidak pernah melihat Fania diantarkan oleh supir dan tidak pernah terlihat seperti anak orang kaya. Karena Fania hanya menunjukkan kalau dia adalah orang yang sederhana.
"Kenapa kamu mau pacaran sama anak saya?" tanya Anggita lagi.
"Karena kita sudah sangat dekat tante dan saling menyukai," balas Johan.
"Siapa nama kamu?" Anggita melanjutkan pertanyaan yang sempat ia lupakan. Nama adalah hal terpenting untuk diketahuinya karena dari nama itu tentu dia akan mengingat setiap isi diary milik putrinya.
"Johan Satria," jawabnya singkat.
Anggita bergeming, bagaimana mungkin yang berpacaran dengan anaknya saat ini adalah pria yang dibenci Fania seperti tertulis dalam diarynya.
"Johan Satria? bukannya kamu dibenci oleh Fania," tanyanya sinis.
Fania baru saja keluar dari kamarnya. Dan ia mendengarkan percakapan antara Anggita dan Johan. Kata terakhir membuat Fania terkejut. Darimana mamanya mengetahui kalau Johan adalah anak yang dibencinya?
"Dari mana mama tahu kalau aku benci Johan," tanya Fania dengan sinis.
Anggita mengernyit dan bingung harus menjawab apa. Kalau dia jujur, Fania akan menyimpan diarynya secara tertutup dan tidak akan bisa dilihatnya lagi.
Kalau ia tahu dari teman Fania? justru tidak mungkin hal itu terjadi. Belum pernah sekalipun Fania membawa temannya ke rumah ini, ke rumah baru setelah mereka pindah. Apalagi teman Fania semua adalah teman baru, karena ia baru saja pindah sekolah.
"Ma!" tanya Fania lagi memecahkan keheningan ruangan saat itu.
Terpaksa Anggita harus jujur dan menjawab pertanyaan Fania. "Dari diary kamu! mama sudah baca semuanya," tegas Anggita tanpa merasa bersalah karena tak memberikan ruang privasi bagi anaknya sendiri.
"Apa? mama baca diary aku? kenapa mama baca sih," keluh Fania dan ia mulai menujukkan amarahnya.
"Supaya mama tahu aktivitas kamu! dan kamu juga akan terkontrol," tegas Anggita lagi.
__ADS_1
"Nggak seharusnya mama baca diary Fania ma! Fania benci mama," ketus Fania.
Fania keluar dan menarik tangan Johan. Ia merajuk pada mamanya karena sudah bersikap semena-mena.
"Fania! Fania! jangan berani kemana-mana kamu!" teriak Anggita tapi dihiraukan oleh Fania yang saat itu sudah berlari keluar bersama Johan.
Fania meminta Johan untuk menyalakan motornya dan ia juga duduk dibelakang Johan. Beruntung masih dihari libur mereka dan masih siang hari, jadi Johan dan Fania masih bisa kabur dari mamanya saat ini.
"Kenapa lo malah ikut sama gue," tanya Johan yang tidak tahu apa yang direncanakan Fania saat ini.
"Gue kesal sama nyokap gue Jo! Kenapa dia selancang itu baca-baca diary gue! padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli sama gue! bahkan dia kawin lagi sama om itu saja tanpa minta izin gue," keluh Fania yang tanpa ia sadari kalau air matanya sudah menetes.
"Tapi lo emang sebenci itu ya sama gue," tanya Johan mengalihkan Fania agar tidak menangis disepanjang jalan.
"Iya! Gue benci lo! dulu! sebelum gue tahu sebenarnya lo orangnya kaya apa," ketus Fania sambil sesenggukan.
"Tapi sekarang gimana?" tanya Johan lagi.
"Sekarang gue sayang sama lo! kayak gitu aja harus lo tanya sama gue," ketusnya lagi.
"Terus sekarang kita mau kemana nih. Karena gue sendiri nggak tahu harus kemana," kekeh Johan yang daritadi kebingungan mau kemana dan ia memutari sepanjang jalan.
Fania terdiam karena daritadi dia tidak memikirkan tujuannya. Merajuk pada mamanya tanpa planing yang jelas.
"Kemana ya," Fania malah balik bertanya pada Johan.
Johan sendiri masih membawa barang-barangnya yang cukup berat. Memang hanya baju kotor tapi lumayan banyak bawaannya. Tapi dia sangat tidak ingin membawa Fania untuk pulang ke rumahnya.
Kalau Fania tahu keadaannya yang sebenarnya, apakah Fania akan mengajaknya putus berkencan?
Keluarganya yang miskin bahkan tinggal di daerah kumuh Jakarta sangat tidak cocok bagi Fania.
"Kerumah lo aja," cetus Fania yang sebenarnya ingin mengetahui rumah Johan.
__ADS_1
"A.... Apa?" tanya Johan terkejut. Apakah ia harus memberikan alasan untuk menolak Fania agar tidak menuruti keinginannya untuk pergi ke rumahnya yang kumuh?