
Johan menghampiri Fania, menyapanya dengan senyuman.
"Hai." Johan memberikan kode pada Fania agar keluar dari ruangan. Ia sudah tak sabar untuk membicarakan perjanjian mereka.
"Ngapain sih lo!" cibir Fania merasa tak nyaman dengan kehadiran pria itu.
Johan tiba-tiba menarik lengan Fania. Namun, Fania menahannya. "Mau ngapain?"
"Ke luar dulu bentar!" tegas Johan tak mau melepaskan tangannya.
"Bentar lagi wali kelas datang! Kan sekarang pengumuman kelulusan," kilah Fania tak ingin membicarakan hal itu pagi-pagi buta begini.
"Oke! Setelah diberikan surat, kita ke belakang ya!" titah Johan berjalan gontai kembali ke meja belajarnya.
"Sssttt, ada apa sih?" Lucy menoel lengan Fania penasaran. Sepertinya tujuan Johan sudah bisa ia tebak, yang tak lain adalah ingin celebek alias mengajak cinta lama bersemi kembali.
"Cieeee," singgung Angel memicingkan matanya, tahu maksud tatapan mata Fania dan Lucy.
"Ssstt berisik lo berdua! Diam! Tuh guru udah dekat," hardik Fania kesal, ia meninggalkan Angel dan Lucy, kembali ke meja belajarnya.
"Pagi," sapa wali kelas mereka. Semua siswa langsung duduk di kursinya masing-masing setelah kedatangan wali kelas mereka.
"Pagi bu!!" seru seluruh siswa kompak.
"Tanpa pemberian surat ini, kalian sudah tahu hasilnya kan?" ujar wali kelas tersenyum lebar.
"Iya dong bu," seru seluruh siswa serentak.
"Baiklah! Ini hanya formalitas saja. Syukur semua murid di kelas ibu lulus semua!" teriak wali kelas bangga.
"Iya bu! Semua berkat ibu," seloroh seluruh siswa kompak.
Wali kelas mereka mulai memanggil satu-persatu nama siswa. Dimulai dari siswa yang memiliki nilai tertinggi.
"Fania," teriak lantang sang wali kelas.
"Selamat ya! Berkat kamu, kelas kita paling unggul," imbuhnya melanjutkan, kemudian menyodorkan satu amplop yang di dalamnya surat pengumuman kelulusan.
"Terimakasih bu," balas Fania tersenyum bangga.
__ADS_1
Wali kelas itu memanggil nama selanjutnya. Hingga nama terakhir yang memiliki nilai paling terbawah.
"Lucy!"
Lucy berjalan gontai dengan raut wajah yang datar, tak ada senyum kebahagian disudut bibirnya.
"Selamat ya! Berkat kamu, kelas kita juga dicap sebagai kelas paling terbawah juga," canda wali kelas itu. Seketika suara gelak tawa memenuhi ruangan.
Menertawai guyonan wali kelas mereka. Namun, berbeda dengan Lucy ia malah cemberut dan kesal.
Tanpa wali kelas mengatakan hal itu, seluruh siswa di dalam kelas pasti sudah tahu kalau Lucy lah murid paling terbawah karena ia dipanggil paling terakhir. Memiliki nilai pas-pasan.
Lucy kembali ke kursinya. Ia duduk dengan ekspresi kesalnya sembari mendengarkan kata perpisahan dari wali kelas mereka.
"Baiklah anak-anak. Setelah satu tahun bersama. Ibu sangat bersyukur memiliki anak didik seperti kalian. Mungkin ini bukan pertemuan terakhir kita, kalian masih bisa menemui ibu nantinya."
Sang guru terus mengucapkan kata-kata bijaknya sebagai tanda perpisahan mereka. "Ibu mohon maaf bila ada salah tutur kata selama membimbing kalian dalam satu tahun ini. Semoga ilmu kalian bermanfaat kedepannya. Kalian akan menghadapi dunia sesungguhnya. Dunia pendidikan terakhir dengan jenjang waktu yang cukup lama. Atau mungkin dari kalian ada yang langsung masuk di dunia kerja."
Semua siswa menjadi terharu mendengarkan kata-kata wali kelas mereka. Para siswa masih terdiam mendengarkan apapun yang diucapkan oleh wali kelas mereka.
"Kalian semangat lagi menimba ilmunya. Bagi yang kerja, semangat untuk mencari rejeki dan semoga bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kalau begitu ibu pamit undur diri." Wali kelas itu tersenyum meninggalkan ruangan kelas.
Seketika semua siswa kembali berisik. Suara riuh kebisingan mulai menggema dalam ruangan itu. Mereka membuka isi amplop yang bertuliskan pengumuman kelulusan mereka, meski tadi malam sebenarnya semua sudah melihat kelulusan itu melalui website sekolah.
"Tunggu dulu! Gue ada janji sama Fania," ungkap Johan menarik tangan Fania.
Sontak, Lucy langsung melepaskan genggaman tangannya. Lucy dan Angel saling menatap, saling memberikan kode kalau mereka harus meninggalkan dua sejoli itu.
"Fan, gue sama Lucy duluan ya! Jangan lupa berkabar," seloroh Angel mengerlingkan matanya.
Lucy dan Angel pergi lebih dulu keluar kelas. Sementara Fania hanya diam mematung melihat kepergian dua sahabatnya. Beberapa anak di kelas sudah mulai bepergian. Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah Johan dan Fania.
Fania hanya diam daritadi mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulut pria itu. "Fan, lo udah lihat nilai gue kan?" celetuk Johan tanpa basa-basi.
"Iya," jawab Fania santai.
"Kalau gitu, mulai hari ini kita balikan?" sambar Johan.
"Hmmmm." Fania hanya menjawab dengan gumaman saja. Dengan terpaksa ia menyetujui keinginan pria itu, karena tak mungkin ia menjilat ludahnya sendiri lagi.
__ADS_1
"Yang jelas dong." Johan menatap lekat manik mata indah milik Fania.
"Iya!" jawab Fania lugas.
"Mau jalan nggak hari ini?" tawar Johan memulai pendekatan mereka.
Fania terdiam. Tetapi jika menolak dihari pertama mereka, tentu Johan akan murka dengan sikapnya.
"Boleh," jawab Fania singkat.
Johan beranjak dari kursinya, menggenggam erat tangan mungil itu. Fania hanya pasrah mengikuti apapun kemauan pacarnya.
"Mau kemana hari ini," tanya Johan menatap lekat manik mata pacarnya.
"Kemana aja. Terserah," sahut Fania datar.
Johan masih mencoba sabar dengan watak keras Fania. Ia tahu kalau semua itu terjadi karena kesalahannya tempo lalu. Hubungannya jadi fatal akibat ulah seseorang.
Johan mengirimkan pesan pada Lhee agar meminjamkan motornya. Beruntung, Lhee masih nonkrong di depan sekolah bersama teman-temannya yang lain.
Ia memberikan kunci motor itu pada satpam sekolah karena tak ingin ketahuan oleh Fania. Sebelum sampai di parkiran, Johan mampir ke pos satpam sekolah.
Disana ada pak Juned, satpam sekolah mereka. Pak Juned langsung mengulurkan tangannya memberikan kunci titipin Lhee. Siapa yang tak kenal dengan Johan, pak Juned bahkan sudah hapal dengan pria yang sering menongkrong di belakang sekolah, di depan sekolah ataupun warung-warung tak jauh dari sekolah mereka.
"Thankyou pak Juned," ucap Johan mengerling, memberikan sapaan unik pada satpam mereka.
Fania hanya menatap Johan dari kejauhan. Ia menunggu di parkiran sesuai perintah Johan.
"Ayo Fan," ajak Johan setelah mengeluarkan motor Lhee dari sudut perpakiran.
Fania naik dengan santainya. Motor Lhee pernah mereka pakai saat liburan ke pantai saat awal-awal pacaran. Jadi Fania juga sudah tak asing dengan motor tersebut.
Johan membawa Fania ke mall. Bahkan Johan sudah mempersiapkan uang untuk mengajak pacarnya itu jalan-jalan. Ia optimis akan mendapatkan nilai bagus dan kembali merajut kasih dengan Fania.
"Fan, lo jadi kuliah dimana?" teriak Johan agar terdengar oleh Fania karena mereka sedang berada diatas motor.
"Universitas Indonesia. Tapi gue nunggu pengumuman dulu sih," balas Fania.
"Lo sendiri?" sambungnya melontarkan pertanyaan.
__ADS_1
Johan seketika diam. Niatnya untuk kuliah memang sulit. Terlebih orang tuanya tidak akan memiliki uang untuk biaya kuliahnya.
"Belum tahu! heheh," gurau Johan mengalihkan.