Pacarku Bos Geng Di Sekolahku

Pacarku Bos Geng Di Sekolahku
kunci jawaban


__ADS_3

Hari kedua ujian akhir, para pelajar ada yang sibuk belajar, ada yang tidak peduli, ada yang membuat contekan, bahkan ada juga yang memberikan kunci jawaban.


Beberapa siswa berkumpul di lorong sekolah, mereka menyiapkan satu lembar kertas berisikan kunci jawaban yang beredar pada siswa satu sekolah ditingkat akhir.


Kunci jawaban itu bahkan diperjual belikan. Faktanya banyak yang membelinya dengan harga fantastis, termasuk juga Lucy dan Angel. Terkecuali Fania, ia tidak percaya pada hal seperti itu.


Barangkali kunci jawaban itu dipalsukan. Fania juga tak ingin pikirannya dinodai hanya dengan selembar kunci jawaban yang belum tentu benar adanya.


Sia-sia gue belajar mati-matian kalau toh akhirnya nyontek beli kunci jawaban!


Ia bergumam sendiri menyesali kelakuan teman-temannya yang terjebak dengan kunci jawaban yang beredar tersebut.


Padahal saat hari pertama ujian tampak kondusif, berbeda sekali saat memasuk di hari kedua. Seluruh pelajar sangat ribut menginginkan kunci jawaban yang dijual.


Calo kunci jawaban tak lain adalah masih dikalangan siswa ditingkat akhir. Kabarnya, dia merupakan salah satu anak guru di sekolah itu.


Tapi itu hanya sekedar kabar burung, karena kunci jawaban telah menyebar pada satu sekolah, belum diketahui siapa dalang yang sesungguhnya.


"Fania! Fania!" teriak Lucy dari kejauhan seraya membawa selembar kertas berisikan kunci jawaban.


"Lo harus lihat ini. Ini kuncinya lengkap banget," tuturnya polos tanpa memerdulikan seperti apa soal ujiannya nanti.


"Emang udah pasti itu jawabannya?" ucap Fania sombong.


"Dengar-dengan emang ini jawabannya. Lo mau nggak?" tanya Lucy menawarkan.


"Enggak deh buat lo aja," balas Fania dengan cepat menjawab pertanyaan Lucy.


"Yah sayang sekali!! Nilai lo bisa 100persen benar loh dari jawaban ini. Lo beneran nggak mau? Gue kasih nih tanpa lo bayar," tawarnya sekali lagi menyakinkan Fania.


"Serius gue nggak mau," sahut Fania sambil mendorong selembar kertas yang disodorkan oleh Lucy.


"Ah elah! Sayang banget sih! Gue belinya mahal banget ini," ungkap Lucy polos.


"Berapa emang?"


"Sumpah ini mahal banget! Dua ratus ribu untuk satu mapel,"


"Hah? Terus lo percaya gitu aja?"


"Iya kata anak-anak lain emang beneran ini jawabannya! Bisa dipercaya 100persen,"


"Gila lo percaya kaya gituan!" Fania marah besar pada sahabatnya. Ia tak menyangka Lucy sangat mempercayai hal bodoh seperti itu.


"Terus Angel juga beli?" tanyanya lagi.


Lucy mengangguk menjawab pertanyaan Fania.


"Gila lo berdua! Sebelum lo asal jawab, gue peringatkan untuk baca soalnya dulu!" sindir Fania kesal, ia berjalan masuk ke dalam kelas diikuti oleh Lucy.

__ADS_1


"Angel mana?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan kelas, tapi tidak juga ditemukannya Angel di dalam ruangan.


"Nggak tahu, tapi tadi setelah beli ini dia mau langsung ke kelas," ujar Lucy. Ia jadi penasaran kemana perginya Angel setelah tadi masih bersamanya saat membeli lembar kunci jawaban.


Kringg kringg


Bel sekolah berbunyi, pertanda ujian akan dimulai. Seluruh siswa mulai memenuhi ruangan seraya menunggu kedatangan guru yang menjadi pengawas ujian.


Lucy menunggu dengan cemas, karena Angel tak kunjung datang. Begitu pula dengan Fania, ia sesekali melirik Lucy yang bangkunya berjauhan tetapi Lucy mengangkat pundaknya karena tak tahu.


Lo dimana? Ujian udah mau mulai loh!


Fania berkirim pesan melalui watsappnya kepada Angel, karena keberadaanya tidak diketahui.


Pengawas ujian tiba-tiba masuk, membawa tumpukan kertas ditangannya. Kertas itu kemudian dia bagikan ke seluruh siswa beruntutan dari siswa paling depan memberikan soal secara estafet ke belakang.


"Sudah masuk semua kan?" tanya pengawas memastikan.


"Ada satu yang belum datang bu," jawab Fania dengan lantang.


"Sudah izin, sakit atau bolos?"


"Tadi sih ada di sekolah bu, tapi sampai sekarang belum masuk kelas," ungkap Fania.


"Oke tunggu disini, ibu akan memeriksanya disekitar sekolah. Jawab soalnya dengan tenang, nanti akan ada pengawas pengganti selama ibu mencarinya," ucapnya sambil berjalan ke arah luar pintu.


"Apa siswa ini yang belum hadir?" tanyanya memastikan sambil menunjukkan wajah Angel meski ia belum sempat mencarinya.


Fania tersenyum lega melihat sahabatnya itu datang terlambat, tidak melewatkan ujiannya.


"Ya bu benar!" jawab Fania dengan lugas.


Pengawas pun mempersilahkan Angel duduk ditempatnya. Sebelum Fania kembali lagi menatap lembaran soal ujian, ia melirik Angel yang masih merapihkan rambutnya karena tampak berantakan setelah berlari-lari.


Fania memberikan kode gerakan mulut pada sahabatnya, dengan wajah yang dikesampingkan agar bisa menatap wajah Angel.


Kemana aja lo?


Angel tak menjawab pertanyaan Fania, hanya memperlihatkan senyumnya saja.


Tetapi Lucy yang berada disampingnya menjadi kepo. Penasaran tingkat akut, kenapa temannya itu bisa terlambat padahal sejak pagi sudah datang.


"Lo abis darimana sih?" bisik Lucy pada Angel yang sedang membuka lembar soal ujiannya.


"Sorry tadi gue dari toilet. Ternyata gue baru datang bulan. Dan sedikit tembus ke rok sekolah gue. Makanya gue keluar sekolah beli pembalut," ceritanya sambil berbisik.


"Oh kenapa nggak bilang? Kan gue sama Fania bisa bantu!"


"Udah nanti aja ceritanya. Sekarang kerjain aja dulu soal-soal ini," tutup Angel seraya membaca soal ujian dan menjawabnya dengan telaten.

__ADS_1


Meski Angel sudah membeli kunci jawaban dari calo yang merupakan temannya juga, tapi ia tidak serta merta langsung menyaplok jawaban itu. Pelajaran yang telah diajarkan oleh Fania ada gunanya juga.


Karena beberapa soal yang keluar telah mereka pelajari. Tinggal dia mencocokkan kunci jawaban miliknya, dengan jawaban pribadinya yang sudah ia tandai.


Berbeda dengan Lucy, ia malah dengan mantapnya langsung menjawab soal dari kunci jawaban yang dibelinya. Tanpa membaca lembaran soal ujian yang ada didepannya.


"Heh! Baca dulu soalnya jangan langsung nyontek," tegur Angel yang memerhatikan gerak-gerik Lucy.


Ia geleng-geleng melihat tingkah Lucy yang begitu polos berharap kunci jawaban itu benar semua.


"Udah lo tenang aja! Aman itu," balas Lucy dengan bangganya.


"Astaga anak ini!" sindir Angel.


Tapi setelah Angel mencocokkan jawaban yang ia tandai dengan kunci jawaban yang dibelinya. Ada beberapa jawaban yang ia tandai berbeda.


Mungkinkah jawaban dariku yang salah?


Ia kemudian menyelidiki soal yang tandanya salah. Kemudian berpikiran sepertinya dialah yang salah menjawab itu.


"Eh gila! gila! Kayanya kunci jawaban ini benar semua," bisik Angel histeris sambil menepuk lengan Lucy serasa tak percaya.


"Tuhkan apa kata gue!! Percaya sama apa yang gue bilang," jawab Lucy dengan percaya diri. Tidak sia-sia ia malas belajar, karena lembar kunci jawaban itu akan membuatnya sebagai salah satu murid yang pintar untuk mendapatkan nilai sempurna.


"Lumayanlah 200 ribu gue, ada manfaatnya juga," singgung Angel dengan bangga.


hahahahaha


"Besok-besok kita nggak usah belajar, enakan nyontek kaya gini," celetuk Lucy dengan senyum kemenangannya.


Sementara dari bagian belakang, Johan tampak serius membaca soal-soal yang ada dihadapannya.


Hemmp, bener nggak ya jawaban gue?


Tatapan serius Johan ternyata tidak seperti kenyataannya. Nyatanya ia malah sedang mencocokkan lembar kunci jawaban dengan soal yang ada dihadapannya.


Ia mendapatkan kunci jawaban itu secara gratis.


Gue kan bossnya, nggak salah sih kalau gue dapat ni kunci secara gratis!! Kalau gini caranya berarti gue bisa balikan sama Fania. Pikirnya dengan bangga.


Yuk jangan lupa supportnya..


Vote


vote


vote


*bantu biar novel ini semakin banyak pembacanya!!**🥰*

__ADS_1


__ADS_2