
Setelah tiba di mall, Johan mengajak Fania makan siang. Berkaraoke, bermain di funworld. Keseruan keduanya sampai Fania merasa luluh dengan pria itu.
Fania dan Johan bersatu di funworld memainkan permainan yang ada disana. Mereka bermain basket, memasukkan bola ke ring dengan cepat hingga mendapatkan nilai tertinggi.
Setelah bermain basket, mereka bermain capit boneka. Keahlian Johan ditunjukkan. Ia mencoba gesekan kartu pertama, boneka gagal diambil. Mencoba kedua kali tapi tetap gagal. Hingga ketiga kalinya, ia coba lagi memainkan capit boneka. Dan berhasil! Fania bersorak kegirangan melihat keberhasilan pacarnya.
"Yeeeeyyy," teriak Fania melompat kegirangan karena boneka yang berhasil didapatkan oleh Johan adalah boneka yang besar.
"Ini untuk lo." Johan menyodorkan boneka besar itu pada Fania. Gadis itu sangat senang menerimanya.
Kemudian, mereka lanjut bermain bom-bom car. Saling beradu satu sama lain. Keseruan itu sangat dinikmati oleh Fania. Sudah lama rasanya ia tak merasa diperhatikan oleh seorang pria. Lalu lanjut permainan battle dance. Awalnya Fania sangat malu-malu tapi semakin lama semakin lihai berjoget ria. Begitupula dengan Johan, dia sangat senang bisa berjoget bersama pacarnya.
Hampir semua permainan di fun world itu mereka mainkan. Sampai Johan dan Fania merasa sangat lelah. "Seru kan?" ujar Johan setelah beristirahat di kafe dalam mall.
"Hu'um," jawab Fania singkat seraya mengelap keringatnya. Bajunya lusuh dan agak lembab karena keringat setelah lelah bermain.
Setelah hari semakin sore, Johan mengantarkan Fania pulang. Ketika di depan rumah Fania, Johan kembali mempertanyakan sesuatu.
"Besok mau jalan lagi nggak?" tawar Johan dengan senyum simpulnya.
Fania tampak berpikir sebentar lalu menjawabnya dengan lugas. "Yaudah jemput gue ke sini," ujar Fania seraya tersenyum tipis. Lalu melambaikan kedua tangannya pada Johan.
******
Pagi menyapa, terik matahari telah tinggi. Mama Fania, Anggita masuk ke kamar putri semata wayangnya. Membuka gorden serta jendela kamar Fania. Seketika cahaya terik matahari menusuk ke mata Fania dengan tajam.
Fania yang masih terlelap dalam tidurnya merasa silau. "Hmmm mama kebiasaan deh!" erang Fania karena tidurnya terganggu.
"Bangun! Sudah siang!" timpal Anggita berjalan gontai meninggalkan kamar Fania.
Kebiasaan Fania selama waktu liburnya adalah bangun kesiangan. Hari ini ia lanjut berlibur lagi, masih menunggu pengumuman untuk kelulusannya masuk ke universitas yang diinginkannya. Serta masih menunggu pihak sekolah mengeluarkan SKHU mereka.
Fania mulai membuka matanya perlahan. Silau matahari membuat matanya semakin panas. Ia terduduk diatas ranjang. Mengucek-kucek mata sembabnya. Merapihkan rambutnya yang berantakan.
Kemudian Fania beranjak, masuk ke dalam kamar mandi lalu mencuci mukanya yang sembab dengan air bersih serta menyikat giginya yang rapih.
******
Sementara Johan yang pagi-pagi sudah banting tulang melakukan kerja paruh waktu. Dia bekerja pagi sampai tengah hari berjaga minimarket yang ada di dekat rumahnya. Minimarket itu milik tetangganya. Dan ia sudah mulai terbiasa bekerja disana.
Johan sudah tak sabar untuk jalan bersama Fania. Ia mulai mempersiapkan kemana tujuan perjalanan mereka hari ini.
Sepertinya ke Puncak akan lebih seru. Johan mengambil ponsel miliknya, mengirimkan pesan pada Fania.
Johan
Fan hari ini kita ke puncak ya?
Sambil menunggu balasan dari wanitanya, ia lanjut membersihkan minimarket agar tertata rapih dan bersih.
*******
Ting.. Ting
Suara notifikasi ponsel milik Fania terus berbunyi. Ternyata tidak hanya Johan yang berkirim pesan padanya tetapi juga sahabat Fania dalam grup watsapp mereka.
__ADS_1
Lucy
Jalan yuk hari ini
Angel
Kemana kita?
Setelah keluar dari kamar mandi, Fania mengambil ponsel miliknya. Ia mengecek pesan itu satu-persatu. Dia membaca dulu pesan dari Johan tetapi belum membalasnya.
Sementara ia membuka grup watsapp miliknya, di sana ada dua pesan masuk.
^^^Fania^^^
^^^Gimana kalau jalan-jalan ke puncak?^^^
Seketika grup watsapp mereka menjadi ramai. Lucy dan Angel sepakat dengan keputusan Fania.
Lucy
Udah lama gue nggak kesana! Oke gaskeunn!!
Angel
Gue juga hayo aja sih! Naik apa nih?
^^^Fania^^^
^^^Gue naik motor sama pacar gue. Lo berdua ajak pacar gih^^^
Lucy
Angel
Tapi seru juga loh Lucy, masa hanya bertiga? Semakin ramai semakin asik
^^^Fania^^^
^^^Iya! Triple date ayolah! Gaskeunnn!!^^^
Lucy
Gue kabari pacar gue dulu ya!
Angel
sama gue juga, bentar gue telepon dia
*Hening
Fania berjalan gontai menuju dapur. Selama masih menunggu keputusan sahabatnya, ia belum membalas pesan dari pacarnya.
"Hari ini mama nggak kerja?" celetuk Fania karena tumben sekali ia melihat mamanya pagi-pagi begini ada di rumah.
"Mama lagi cuti, nggak enak badan," tandas Anggita yang menyiapkan sarapan mereka.
__ADS_1
"Om udah pergi kan ma?" Fania melirik-lirik sekitar, bola matanya memutar mencari sosok ayah sambungnya.
"Udah!" jawab Anggita singkat.
Pandangan Fania pun terhenti. Kini ia menatap lekat mamanya. "Mama sakit apa?" lontar Fania seraya menarik kursi makannya.
"Nggak tahu nih. Mama rasa mual, mungkin masuk angin," timpal Anggita.
"Oh mau dipijit nggak?" Fania menawarkan. Membuat Anggita menatap tajam putrinya. Tumben sekali gadis itu perhatian pada mamanya.
"Nggak usahlah nak. Udah buruan sarapan. Tumben amat kamu perhatian," seloroh Anggita.
"Hehehe yakali aja mamah butuh bantuan," canda Fania.
"Ma." Fania melanjutkan lagi perkataannya sembari melahap roti coklat yang dibuat oleh Anggita.
"Kenapa?" tanya Anggita.
"Fania boleh izin, hari ini mau jalan sama teman," cetus Fania.
"Teman yang mana?" Angita menatap Fania penuh selidik. Ia khawatir kalau Fania akan pergi bersama seorang pria.
"Lucy dan Angel ma." Fania tertunduk agar mamanya tak bertanya yang lain lagi.
"Benar sama mereka? Nggak ada laki-laki kan? Mama takut dibohongi lagi nih," cecar Anggita mengingat kejadian saat Fania pergi ke pantai.
"Sebenarnya sih—."
"Sebenarnya apa?" potong Anggita penasaran, karena Fania sangat lama mengucapkan kata-katanya.
"Sebenarnya Fania jadian lagi ma sama Johan." Fania masih dengan kepala tertunduk, takut mamanya akan murka.
"Hah? Apa? Sama laki-laki itu lagi? Tampangnya saja berandalan," protes Anggita.
"Kenapa sih kamu suka banget pacaran sama dia!" cecar Anggita terus-menerus.
"Ya mau gimana lagi ma, Fania janji meski pacaran nggak akan ganggu kuliah Fania nanti," sela Fania serius menatap ke arah mamanya.
"Please izinin Fania pacaran ya ma," timpal Fania.
"Oke mama izinkan! Selama kamu pacaran, kemanapun perginya harus seizin mama," kecam Anggita dengan tegas.
"Iya ma. Jadi boleh kan ma, Fania ke puncak? Sama Johan dan sahabat Fania juga," seloroh Fania kembali ke topik pembicaraan mereka.
"Nggak nginap kan?" sergah Anggita memastikan.
"Engga sih ma, cuma jalan-jalan seharian aja. Paling pulangnya malam," tutur Fania bernada lembut.
"Oke! Kalau sampai sana kabari mama." Anggita menyelesaikan sarapannya. Tiba-tiba perutnya bergejolak lagi. Terasa mual diujung kerongkongannya.
Huek... Huekk...
Seluruh sarapan yang baru saja ia telan telah keluar begitu saja di wastafel cucian piring.
"Mama nggak apa-apa?" ucap Fania melihat mamanya seperti terasa sedang sakit parah sembari mengusap-usap punggung sang mama untuk menenangkan.
__ADS_1
"Mual banget mama," akunya seraya membasuh bibirnya dari sisa makanan yang dimuntahkan.