
"Lagi hamil nyokap gue. Dari kemarin muntah-muntah terus!" beber Fania.
"Yaelah! Itu mah biasa Fan! Ngapain juga lo khawatir." Angel tertawa terbahak-bahak melihat kepolosan temannya.
"Yah! Namanya juga gue baru lihat nyokap gue begitu! Gimana nggak khawatir? Tapi gue senang dong mau punya adik," papar Fania tersenyum lebar.
"Eh ... ngapain lo berdua ngerumpi di situ?" cecar Lucy setengah berteriak karena ia tak mau meninggalkan tempatnya yang tak jauh dari posisi kedua sahabatnya.
"Kepo aja lo, yeee!" ledek Angel mengibaskan tangannya pada Lucy agar ia tetap fokus berbelanja.
Tapi Lucy bukannya melanjutkan memilih-milih barang, ia malah menimbrung dengan dua sahabatnya. "Ada apaan sih? Kok serius banget?" bisik Lucy setelah mendekati kedua temannya.
"Nyokap Fania bunting!" sahut Angel.
"Hah? Bakal punya adik lo Fan? Selamat ya!" Lucy menjabat tangan Fania memberikan selamat atas kehadiran adiknya.
"Lebay ih! Biasa aja kali!" gerutu Fania terkekeh melihat kelakuan sahabatnya yang satu itu.
"Udah ayo belanja lagi!" ajak Angel antusias.
Angel dan Lucy kembali berburu. Mencari baju-baju yang mereka sukai. Sedangkan Fania masih menatap ponselnya. Ia akhirnya membalas pesan untuk pacarnya.
Fania
Besok aja ya Jo? Pagi atau siang gitu? Kalau malam gue nggak enak sama nyokap hiks...
Ia memasukkan ponselnya ke dalam saku setelah membalas pesan dari Johan. Melanjutkan untuk melihat baju-baju yang terpajang di butik itu. Satu baju dress menarik perhatiannya. Mengingatkan janjinya untuk pertemuan dengan Johan besok.
"Kalau pakai dress bagus nggak ya?" gumam Fania malu-malu memikirkan pendapat Johan ketika melihatnya mengenakan dress.
"Beli aja Fan! Cantik banget itu! Cocok buat lo, cobain deh." Angel menepuk bahu Fania menyakinkan.
"Masa sih?" tanya Fania yang diam mematung di depan dress yang dipandanginya.
Salah satu pelayan datang mengunjungi mereka karena daritadi hanya memerhatikan dress tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu mbak?" ujar pelayan itu pada Fania dan Angel.
"Apa saya bisa mencobanya?" pinta Fania yang tampak ingin memiliki dress tersebut.
__ADS_1
"Tentu saja mbak!" Pelayan itu mengambilkan lalu memberikannya pada Fania.
Fania masuk ke ruang ganti, mencoba dress yang ia pegang. Sambil berkaca di cermin saat sedang memakainya.
Dress berwarna hijau tosca dengan panjang hingga selutut sangat cantik saat ia kenakan. Fania tersenyum tipis setelah melihat tubuhnya dari pantulan cermin. Satu kata yang ia ucapkan saat berdiri di depan cermin. Cantik.
Ia kembali membuka dress itu, memasukkannya dalam totebag belanjaannya untuk diserahkan ke kasir.
"Udahan belum?" tanya Fania mendekati Angel dan Lucy yang masih sibuk memilih-milih bajunya.
"Cukuplah gue! Kebanyakan malah." Lucy mengangkat totebag belanjaannya yang terisi penuh.
"Lo gimana?" tanya Fania menoleh ke Angel.
Angel mengangguk pelan. Ia juga sudah mendapatkan baju setelah dicobanya tadi. "Yuk ke kasir!" ajak Angel.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kasir, menyerahkan totebag yang digunakan sebagai keranjang belanjaan mereka. Kasir mulai menghitung belanjaan mereka satu-persatu. Ketiganya langsung melakukan pembayaran sesuai nominal belanjaannya.
"Makan yuk? Lapar nih," usul Lucy karena merasa perutnya bergejolak. Rasa lapar mulai menyerang ketiga wanita itu.
"Ayo!" Fania dan Angel menjawab dengan kompak. Mereka mampir disalah satu restoran makanan yang masih ada di dalam mall. Siang itu, mereka duduk bertiga dengan tenang. Menyantap makanan lokal yang tersaji pada restoran tersebut:
Fania memesan nasi goreng ayam, Angel memesan mie goreng, sedangkan Lucy memesan steik ayam.
Suara notifikasi ponsel membuat ketiga wanita itu menoleh, mencari sumber suara.
"Ponsel siapa tuh? Kayanya bukan gue," ujar Lucy menggelengkan kepalanya.
"Gue kayanya." Fania mengeluarkan ponselnya. Disana ada satu pesan dari Johan.
Pacarku
Besok siang sayang? Aku jemput jam 1 siang ya?
Fania langsung membalas pesan itu dengan singkat. Ia setuju saja karena tidak ada kegiatan apapun di hari itu.
Fania
Oke!
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, ketiganya melanjutkan berkeliling mall. Sampai akhirnya memutuskan untuk bermain di fun world untuk mencoba beberapa permainan.
Lucy sibuk bermain capit boneka, Fania sibuk bermain basket, dan Angel memilih untuk bermain dance.
Setelah merasa bosan, mereka memilih untuk pulang. "Naik mobil gue aja ya! Gue antar sampai depan rumah lo masing-masing," kata Lucy.
Fania dan Angel hanya mengangguk mengikuti langkah kaki Lucy menuju perparkiran di halaman depan mall. "Eh ... kapan pengumuman hasil SNMPTN?" celetuk Fania setelah mereka bertiga masuk ke dalam mobil.
"Nanti malam!" ucap Angel penuh keyakinan kalau ia akan lulus, masuk ke universitas impiannya.
Lucy hanya memutar bola matanya sekaligus hanya menyiimak percakapan kedua temannya.
"Lucy, lo gimana? Lo kemarin ikut ujian bareng Angel kan?" timpal Fania penasaran.
Lucy mengangguk, mengiyakan pertanyaan sahabatnya. "Sebenarnya gue pasrah. Kalau keterima syukur, nggak keterima juga nggak masalah sih!"
Angel dan Fania saling menatap mendengar jawaban Lucy. Mereka sangat mengerti dengan sifat Lucy yang sebenarnya malas melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
Itu sudah keputusan dari sahabatnya. Mereka pun bahkan tak bisa protes, karena itu pilihan hidup dari Lucy. Dia yang menjalaninya, tak baik jika mereka sebagai sahabat malah mencibirnya.
"Gimana kalau malam ini nunggu kelulusan kita nginap di rumah Lucy?" usul Fania dengan semangat.
"Iya ayo!" teriak Lucy bersemangat. Ia ingin sekali di rumah ramai, ditemani orang tuanya tak mungkin terjadi. Kalau ditemani oleh sahabatnya tentu saja dia tak akan menolaknya.
"Yaudah yuk cus langsung ke rumah lo Lucy! Suruh bibik-bibik di rumah lo masak yang enyak-enyak," papar Angel bernada kekanakan.
"Gue telepon nyokap dulu deh," lanjut Angel.
"Aman!" jawab Lucy.
Lucy masih fokus pada kemudi stirnya, sedangkan Fania sibuk menatap layar ponselnya yang terasa sunyi. Angel sedang berbicara dengan sang mama untuk meminta izin menginap di rumah temannya.
Setelah memasuki daerah perumahan Lucy, Angel dan Fania hanya menatap bahkan berandai-andai. Kapan mereka bisa memiliki rumah seperti rumah milik Lucy.
"Eh ... kalau kita tetanggan kayanya seru deh celetuk Angel terbahak menghayal menjadi orang kaya raya seperti Lucy.
"Kalau gue tiap hari nginap di rumah Lucy! Rumahnya saja sama, yang beda isi rumahnya hahaha." Fania ikut terbahak dengan penuturannya.
"Seru sih! Apalagi masa kuliah, nggak kebayang serunya kaya gimana. Kita bisa tiap hari ketemu. Sayang, kampusnya saja berbeda apalagi rumahnya," lirih Lucy datar sekaligus fokus memarkirkan mobilnya di halaman rumah.
__ADS_1
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, berjalan gontai menyusuri ruangan. Lalu, langsung masuk ke kamar Lucy. Angel dan Fania langsung merebahkan tubuh mereka di atas ranjang yang empuk dan lebar.
Mereka berlanjut dengan makan bersama, bersantai ria bersama sampai menunggu jam 12 malam, pengumuman hasil SNMPTN disampaikan. Lucy sudah menyalakan laptopnya, tak sabar menantikan hasil tes kelulusan untuk mendapatkan tempat di kampus bergensi di Kota Bogor.