
"Hah? Nggak salah syarat yang lo bilang Fan?" tanya Lucy yang mulai mendekati Fania dan Johan. Ia sangat syok mendengar syarat dari Fania karena sangat sulit untuk dipenuhi.
Menurutnya itu hal yang mustahil bagi Johan. Jangankan Johan yang jarang belajar sehari-harinya, murid seperti Lucy juga akan sulit memenuhi syarat permintaan dari Fania, padahal Lucy juga sudah lumayan keras belajar.
"Nggak ada yang salah kok! Apa yang gue bilang itu adalah hal wajar! Gimana Jo? Lo setuju dengan syarat gue?" tanya Fania sedaritadi memerhatikan Johan terdiam begitu saja mendengar syarat dari Fania.
"Fan! Gue itu memang sayang banget sama lo. Tapi kalau untuk syarat seperti itu akan sulit gue penuhi! Lo kan tau sendiri nilai gue gimana, lah tiba-tiba lo suruh gue ikut ujian masuk universitas negeri? hahahaah" Johan dengan bingungnya entah harus berucap apalagi dengan Fania, karena dia benar-benar bingung untuk memenuhi syarat tersebut.
"Mending lo usulin syarat yang ga sesulit itu deh! Atau lo suruh gue balap liar tapi harus juara satu! Atau nggak lo suruh gue tawuran deh," kesal Johan menerima syarat tak masuk akal dari Fania.
Johan tahu kalau Fania murid yang pintar, tapi semua tidak bisa disama ratakan dengan kepintarannya. Apalagi Johan berasal dari keluarga miskin, mana mampu kedua orangtuanya membiayainya untuk kuliah.
"Yang ada dipikiran gue cuma itu!" jawab Fania polos, pikirannya menjadi gamang. Ia sudah kehabisan ide untuk memberikan syarat bagi Johan agar bisa kembali menjalin kasih dengannya.
"Fan, gini aja deh! Gimana kalau syaratnya supaya Johan bisa balikan sama lo, dari hasil ujian akhir aja? Minimal semua rata-rata nilainya 8," usul Angel yang ikuti mendekati ketiga temannya itu.
"Nah mendingan itu deh, lumayan bagus tuh idenya," sambar Lucy dengan semangat, ide itu memberikan harapan agar Johan bisa diterima lagi oleh Fania.
"Iya Fan, mending itu aja deh! Biar gue belajar dari sekarang," tambah Johan menyakinkan Fania untuk merubah ide tersebut.
"Oke gue setuju! Minimal ada lima mata pelajaran yang nilanya 8 keatas, kurang dari lima mata pelajaran, lo didiskualifikasi," tegas Fania.
"Oke gue bakal tunjukin kemampuan gue!" jawab Johan lugas, ia mulai percaya diri dengan syarat yang telah diubah oleh Fania.
"Ssttt kok bisa lo kepikiran ide secemerlang itu," bisik Lucy pada Angel, padahal dari tadi Angel masih memerhatikan dari kejauhan. Ternyata ia malah memikirkan ide yang bagus untuk merujukkan teman-temannya.
"Ide kaya gitu sepele lah buat gue! Yang pasti kita harus dukung Johan supaya bisa balikan sama Fania. Atau minimal kita ajari aja dia, kan cuma lima mata pelajaran doang, gampang kali," balas Angel sambil tersenyum sinis tang ditunjukkannya pada Lucy, agar Lucy juga turut membantu Johan memenuhi permintaan Fania.
__ADS_1
Lucy mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
"Oke guys, kalau gitu sekarang kita mending lanjut main lagi deh! Bubar ya bubar," ucap Lucy memecahkan keheningan antara Fania dan Johan.
Johan pun kembali bergabung dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan Fania, Lucy dan Angel mulai lagi mencari permainan seru untuk dicoba.
"Ngel, apa keputusan gue udah tepat?" tanya Fania penasaran, ia takut ide dari Angel juga tak bisa diwujudkan oleh Johan.
"Lo tenang aja! Gue yakin Johan bisa kok kalau dapat nilai 8," jawab Angel sambil merangkul Fania dan Lucy dengan lembut.
"Udah nggak usah dipikirin lagi deh, enaknya sekarang kita main apa nih?" ucap Lucy dengan semangat mencari permainan yang cocok untuk mereka bertiga.
"Lucy, lo lihat jam sekarang udah mau malam aja. Besok kita harus ujian, gimana kalau mending kita pulang aja?" usul Fania karena ia takut akan dimarahi oleh sang mama.
Jika tidak sedang berada dimasa ujian, bisa saja ia santai untuk bermain. Tapi posisinya sekarang tidak tepat, ia harus fokus untuk mengentaskan pendidikannya diakhir masa sekolah.
Belum lagi persiapan untuk masuk ke universitas yang dia mau.
"Lagian lo sih segala nyamperin si Johan! Kalau nggak nyamperin dia, tadikan kita harusnya bisa main yang lain," ketus Angel.
Fania, Angel dan Lucy pulang ke rumahnya masing-masing diantarkan oleh supir Fania, pak Suji. Dari parkiran mereka langsung masuk ke dalam mobil.
Pak Suji mengendarai dengan pelan-pelan. Pertama ia mengantarkan Angel, dilanjutkan mengantarkan Lucy hingga didepan rumahnya lalu kembali ke kediaman Fania.
*****
"Bro gue balik duluan ya! Gue mau belajar nih," cetus Johan seraya menepuk pundak Brian dan Lhee yang sedang asik bermain bola basket bahkan tak merasa lelah sedaritadi memainkannya.
__ADS_1
"Lah tumben amat si Jo! Bentar lagilah," cegah Lhee sambil memutar bola matanya karena terkejut dengan ajakan Johan. Apalagi kalau Johan balik otomatis ia pun harus ikut pulang karena harus mengantarkan Johan.
"Sekarang aja! Gue pengen belajar," balasnya dengan tegas, karena ia sudah komitmen untuk mendapatkan nilai bagus di akhir ujiannya.
"Yaelah bro! Ngapain sih pakai belajar segala! Biasanya lo nggak peduli sama nilai," sambar Brian dengan malas melihat sikap Johan yang mulai berubah-ubah. Ia tahu kalau Johan berubah setelah bertemu Fania tadi.
"Emang si Fania mau balikan sama lo kalau lo belajar?" lanjut Brian.
Johan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum simpul. Ia sangat bahagia mendengan Fania mau balikan dengannya meski dengan syarat tertentu.
"Intinya gue harus bisa dapat nilai bagus! Supaya Fania mau balikan sama gue," tandasnya dengan semangat menggebu-gebu.
"Yaudah Lhee, lo anter deh tuh bos kita! Sebelum motor lo hancur," ledek Brian sambil mencetak gol ke gawang basketnya.
"Lo emang nggak pulang?" tanya Lhee yang sebenarnya masih ingin berlama-lama bermain basket. Mereka bahkan sudah cukup lama tak bermain basket baik di sekolah maupun diluar sekolah, karena sangat sibuk untuk mengurus persiapan ujian.
"Gue ntaran lagi. Gue masih pengen main yang lain," jawab Brian.
"Yaudah ayo bos kita pulang," ajak Lhee dengan lesu karena permainannya harus berakhir.
"Kasih gue bola satu, mau ngeshoot sekali aja!" kata Lhee sambil mengambil satu bola basket dari tangan Brian dan melemparkannya. Benar saja bola itu berhasil masuk ke gawangnya.
"Ayo buruan," Johan menarik lengan Lhee karena dari tadi tak mau bergerak dari tempatnya.
"Slow boss, ini gue sembari jalan," balasnya sambil berjalan meninggalkan Brian seorang diri.
"Emang beneran Fania mau balikan sama lo?" tanya Lhee memastikan ucapan Johan. Ia sendiri tidak percaya setelah kejadian yang menimpa Johan dan Baby, Fania ingin berbaikan lagi.
__ADS_1
Lhee bahkan sudah mendengar cerita kejadian ciuman paksa itu dari mulut Johan sendiri.
"Katanya minimal lima pelajaran gue dapat nilai 8, dia bakal mau balikan sama gue. Makanya dari sekarang gue harus belajar supaya dapat peluang itu," balas Johan.