Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 10 : GUSKOV KAKU


__ADS_3

Senyum tawa dari sepasang suami istri yang adalah pengasuh panti membuat Nadia dan Guskov terhanyut dalam keakraban hingga jam sebelas malam, dan lalu dua orang itu pamit setelah Guskov mendonasikan uang sebesar lima juta.


Guskov dalam perjalanan mengantar Nadia ke kos. Sesekali mereka saling pandang dan tersenyum dengan sorot menghargai dan kadang hanyut dalam obrolan lucu ketika bapak panti menggoda apa sudah punya pacar belum, dan sampai menanyakan mantan Nadia. Tentu saja Nadia tak menceritakan jika mantannya adalah lelaki yang bersamanya.


Mobil melewati jalan samping kampus dan terparkir dibawah pohon mangga yang tengah berbuah. Guskov keluar dan membuka pintu, Nadia keluar sambil mencari kunci di dalam tas.


"Apa kau tak menawarkan aku kopi?" Guskov bersandar di mobil sedan Mercedes Benz hitam, saat jalan raya masih ramai lalu-lalang kendaraan di malam yang mulai membuat menggigil.


"Paman sudah minum tadi, kan, nanti asam lambungnya bisa kambuh kalau-" Nadia mematung saat Guskov maju satu langkah sambil meraih sesuatu dari saku celana Guskov.


"Ya, sudah aku akan pulang, berikan ponselmu."


"Kenapa?" Nadia meraih ponsel dari dalam tas dan memberikannya. Lalu mengamati Guskov yang duduk di jubin pelataran untuk memasang sebuah bandul kubus dengan kilatan menyala tiap kali terkena cahaya.


Bandul mini yang besarnya dibawah biji tasbeh, berjumlah sepuluh biji, yang panjang talinya sekitar sepuluh senti. "Itu sangat cantik, Paman." Nadia masih mengaggumi orang yang sibuk itu lalu Nadia mengernyitkan alis ketika Guskov seperti membuka buku menu di ponsel "Apa yang kau lakukan," wajah Nadia menegang.


"Aku membuka blokirnya. Jangan blokir lagi dan balas chatku. Besok siang aku chat kamu."


Guskov ternsenyum manis dan mengembalikannya. "Terimakasih, Nadia. Dahh .... "


"Terimakasih kembali," lirih Nadia memandangi kepergian sosok itu dan kembali menatap bandul unyu dengan penuh arti. Dia pergi ke kamar dengan setengah melompat kegirangan, dia tak tahu moodnya sedang sangat baik.

__ADS_1


Di tempat tidur, dia terlentang membayangkan saat Guskov memilih itu untuknya dan Nadia sudah memeluk ponsel berbandul itu dengan senyuman terpahat jelas di wajahnya saat terlelap di alam mimpi. Bahkan di mimpinya lelaki itu terus mendatanginya.


*


Pagi sekali, Guskov sudah hendak berangkat kerja dan menepi di pinggir jalan menunggu seseorang. Semalam Milan tidak pulang lagi, dan tidak membalas teleponnya. Pasti istrinya tidur di rumah temannya


Guskov turun dari mobil dan berjalan ke orang yang baru turun dari mobil Xenia silver. Guskov mengulurkan uang satu juta ke karyawannya itu. Karyawan yng sudah meneriman uang, langsung jalan ke sudut gang di belakang kampus untuk membeli semua dagangan Nadia. Dan bubur itu akan dibawa ke kantor untuk karyawannya.


Sejak enam bulan lalu Guskov tahu Nadia jualan bubur dari istrinya, diam-diam Guskov selalu membelinya. Setengah jam Nadia setelah buka lapak, maka dia akan membeli habis. Ya, kecuali hari minggu, karena karyawannya libur


Meski dagangan itu habis, tapi sepertinya Nadia tidak berniat menambah jumlah jualannya.


Sebuah notifikasi khusus dari nomor istrinya yang dibedakan, mengganggu lamunan Guskov yang langsung kembali ke dalam mobil.


Guskov tersenyum, meremas ponsel, istrinya akhirnya mulai akan peduli? dia berharap begitu. "Apa kejutannya, Milan?"


*


Jam empat sore, Guskov sudah bergegas pulang dan mencari Milan yang jarang pulang, dan ketika membuka pintu kamar, ruangan itu sudah dipenuhi aroma bunga dan lilin aroma terapi yang menyala. "Milan, dimana kamu."


Guskov berjalan perlahan dan otomatis tubuhnya menegang pada kelopak mawar yang betebaran di lantai. Guskov melepas sepatunya di lorong itu dan mendapati istrinya berpakaian mini setengah duduk dan memegang wine dengan sangat cantik. "Sayang???" Dua sudut bibir terangkat penuh.

__ADS_1


"Ambil kejutan mu, Mas Guskov." Milan dengan nada sensual, dan yakin suaminya akan tergoda, jelas suaminya langsung melucuti pakaian sendiri.


"Setelah tujuh bulan. Hadiah ini luar biasa, istriku." serak Guskov sambil mulai merangkak di ujung tempat tidur di sela gejolak yang membuncah.


"Aku sudah tidak KB, mas." Milan menahan jijik saat Guskov menyentuhnya, justru rasa bersalah pada Dicky memenuhi hatinya. Dia tidak mau karena perasaanya lalu hidupnya hancur, apalagi pria labil miskin takkan bisa menanggung biaya hidup tingginya yang menyentuh lima puluh juta per bulan. Dicky takkan mampu memberikan itu.


Menit berlalu, dan Guskov yang sudah lama tidak mendapatkan haknya, tidak memakan waktu lama hanya lima menit sudah jatuh di atas tubuh polos istrinya yang matanya terpejam sepanjang pergulatan. Apa istrinya tak menikmati? atau dia kurang pintar?


"Tubuhmu cantik, Milan." Guskov memuji istrinya dan berniat menyelimuti Milan tetapi istrinya dengan halus pergi ke kamar mandi. Guskov menatap kosong, tubuh polos sang istri, sikap Milan masih sama, ini semua seperti terpaksa. Atau istrinya sedang mencoba memperbaiki pernikahan hambar ini? tak masalah semua akan baik-baik saja.


Milan dengan jantung berdebar, berharap semoga suaminya tidak menyadari, setelah dua hari lalu dia berhubungan intim dengan Dicky.


Ketika Milan keluar dari kamar mandi, suaminya terlentang dengan tubuh polos, dengan setengah hati Milan menutup tubuh suaminya dengan selimut. Tetapi tangannya ditarik hingga dia dia jatuh terlentang di atas suaminya dengan menghadap langit saat Guskov memeluk dadanya.


"Milan ... kita perbaiki hubungan ini?"


"Ya, mas. Apa tiket bioskopnya masih?"


"Apa?" Guskov tergagap, "bukannya kemarin kamu sudah tidak mau?" Guskov merasakan tangan Milan menumpuk di tangan Guskov yang menggenggam dua bongkahan daging.


"Aku sekarang mau menonton, kita akan mulai semua dari nol." Milan menelan saliva, harus mulai belajar merayu suaminya, jika Guskov terlena akan mudah baginya mengalihkan semua aset.

__ADS_1


"Lusa aku beli lagi, ya." Guskov terlanjur janji nonton besok dengan Nadia.


"Tapi aku maunya besok." Milan hanya memiliki besok, dan lusa dia akan menemui Dicky untuk meminta maaf. Dia kasihan pada pria rapuh itu, lucu, tidak seperti Guskov yang kaku. Dia butuh sosok lucu, berenergi, pandai membuat lelucon seperti Dicky yang mewarnai hidupnya selama tujuh bulan ini.


__ADS_2