Paman I Love You

Paman I Love You
PILY : SALAH APA AKU, MILAN?


__ADS_3

Nadia keluar dari ruang ganti dengan gaun yang panjangnya di bawah lutut persis. Vaya memegang dan mengelus dagu dengan bibir tergigit, mengamati Nadia yang tadinya dinilai 2 dari sepuluh. Kini dinilai 6, tinggal didandani sepertinya 8 juga masuk.


"Saya nggak cocok dengan ini kak Vaya." Nadia saling merapatkan kaki. "Ini terlalu terbuka, Nadia malu."


"Emang tidak cocok buat kamu." Vaya mendapati wajah Nadia yang tadi putih kini memerah seperti tomat. "Tapi itu udah kena badanmu, kau harus mengambilnya. Sudah cepat bawa ke kasir aku akan bayar itu."


"Kak, kalau gak cocok kenapa di beli? sayang gak dipake."


"Cepat, Nadia!!"


"Iya!!" Nadia bergegas ganti, kemudian mengikuti sambil membawa sepuluh paperbag milik kak Vaya, paper bag milik kak Vaya besar-besar ada yang ukuran 50x80cm.


Nadia tersenyum menghibur diri, hanya membawa saja rasanya bangga. Nadia membusungkan dada bergaya pamer, di dalam hati ingin tertawa dan malu. Mungkin seperti ini rasanya berbelanja, menggantung paperbag di kanan kiri, itu saja mampu membuat para wanita muda memandang iri saat berpapasan.


"Kakk-" Nadia tercekik masih menggelengkan kepala menahan dres hijau, tarik-tarikkan dengan tantenya. "Kak tiga juta." Nadia merengek geleng-geleng lebih cepat, "lagian aku tak memakinya. Itu tiga kali gajiku sebulan dulu. Tolong jangan Kak Vaya, hikss."


"Mbak, kalau nggak beli jangan ditarik-tarik Aduh!!! itu barang dagangannn." Kasir dengan sinis melotot ke Nadia dengan ngeri membayangkan gajinya akan dipotong.


Plak!


Vaya meneplak tangan Nadia dan dress itu terlepas langsung di proses kasir. "Malu-maluin saya kamu ya." Vaya menatap tak suka pada Nadia yang bibirnya melengkung ke bawah dan terlihat begitu loyo.


Keluar dari departemen store, Nadia mengikuti tantenya ke sebuah salon, masih dengan badan loyo. Dia tak bisa melepaskan diri dari keusilan tantenya, saat dirinya pertama kali potong di salon.

__ADS_1


"Kak Vaya jangan dipotong-"suara Nadia tercekik sambil menutupi kepalanya dengan lengan, "Aku sudah memanjangkannya sejak lama, kak." Nadia menangis dan memohon setengah mati, ketakutan menjalar seluruh tubuhnya, tetapi dua pria penjaga salon memegangi lengan Nadia.


Vaya geleng-geleng kepala saat kepalanya di uap setelah dipijat dengan krim spa rasa coklat. "Sudah besar juga masih nangis kaya anak TK, malu-maluin."


"Tenang saja teh kamu akan makin cantik." Pria 1 berkata dengan nada lemah gemulai.


"Iya, jaman gini harus ngikutin trend. Biar pacar nya banyak, Teh!" Pria dua dengan lemah gemulai memotong rambut sepinggang Nadia.


"Tidakkkk.....hiks." Tangannya tak bisa lepas dari tangan pria berotot yang seperti catok besi. Jiwa Nadia serasa jatuh ke bumi, sekian lama ingin tetap panjang, sekarang lenyap begitu saja. "Kak Vaya tolong..... " Nadia masih tak terima setengah bagian sudah terpotong sebahu.


Nadia sudah pasrah dalam kedongkolan tertahan hingga dadanya begitu panas, entah tantenya walau membayarkannya perawatan masker tubuh, dalam haiti dia masih merintih tak rela.


Sepanjang perjalanan Vaya melirik pada gadis itu yang terus cemberut. "Itu lebih baik tau."


Sampai di rumah jam tiga sore. Nadia membawa belanjaan dan sedikit melirik semua arah, takut berpapasan dengan Guskov.


Nadia menatap kosong pada tante Vaya yang setengah berlari karena ingin pipis, sedangkan Nadia karena bawaanya berat tak bisa berlari. Baru mau menyentuh tangga, suara panggilan familiar datang dari belakang dan Nadia langsung cepat menaikki tangga tak berani berpapasan pamannya, malunya seperti ditelanjangi, dia sangat malu bila rambut pendek pasti dirinya yakin jelek setengah mati.


"Nadiia!!!" Guskov mendengus pada tampilan rambut pendek itu yang sudah berlari hampir menyentuh lantai dua. "Ah Kaki tak berguna!!" Guskov menampar-nampar pahanya kesal.


Dia menggerakan kursi rodanya ke kamar di samping TV ruang keluarga.


Sejak tak bisa jalan, dia menempati lantai satu. Di samping tempat tidur dia akan menghubungi Nadia, tapi melihat chat Milan yang masih centang satu, membuat dadanya berdebar. "Kamu di mana si sayang? masa dari pagi masih centang terus."

__ADS_1


Guskov langsung menghubungi Sela, tetapi panggilan tak dijawab. Sekali lagi dia menghubungi dan terdengar suara keramaian.


"Haloo, Guskov?"


"Sela, maaf mengganggumu. Bisakah aku tahu Milan sedang apa?"


"Milan tak bersamaku," suara Sela tersamar suara musik.


"Maksudmu? apa Milan sedang di rumahmu dari kemarin?" Guskov bernafas lebih cepat, tak sabar.


"Ap-Pa? tak jelas. Aku tak bisa mendengarmu," teriak Sela.


"Kemarin Sela di rumahmu???"


"Aku tak dengar!! chat saja! ya! bye!"


TUT!


Rahang Guskov langsung mengeras, dipe..rasnya ponsel itu dengan gamam. Pikirannya mendadak tak tenang. Dia menelpon penjaga kantor, dan katanya Milan tidak ke kantor. "Di mana kamu sayang!! mengapa kau berubah sekali." Guskov melempar ponsel ke kasur dan semakin membungkuk, matanya memanas. Hatinya entah mengapa terasa sakit, ini sungguh aneh. Sebulan lalu dia sangat senang saat Milan berubah, tetapi sejak dia di rumah sakit, istrinya makin dingin lagi.


"Ya .... Tuhan, aku harus seperti apa lagi?? katakan untuk menyelematkan pernikah ini, aku harus apa Tuhan??!!!"


Vaya yang baru masuk terlonjak, dia tak mengira kedatangannya menjumpai hal seperti ini. Memangnya ada apa dengan pernikahan mereka. Disentuhnya tangan adik ipar yang menumpuk di tengkuk, tetapi pria itu terus tertunduk. "Hey, kami mau ke museum. Mau ikut tidak?" Vaya tidak tahu harus bilang apa, dia tak tahu cara mengobati kesedihan seorang pria. Mungkin karena itu dia belum mendapat pasangan hingga saat ini.

__ADS_1


Vaya mendapati tangan Guskov gemetar menyingkirkan tangannya. Pria itu tak menjawab, duuh hati Vaya ikutan ngilu walau tak tahu ada apa dengan mereka, tetapi aura Guskiv membuat hati bagai dipanah, sakit tak berdarah. "Aku tunggu setengah jam ya, aku akan mendandani Nadia. Kau tahu anak itu mengis di salon cuma karena potong, Hahaha.... lucu sekali." Vaya menepuk tiga kali, diam sejenak saat tak mendapati respon Guskov, dia akhirnya keluar dengan tenang dan penasaran.


Guskov duduk tegak, dan menoleh, tidak ada Vaya lagi, matanya tertuju pada cermin yang menunjukkan mata merah dan pipi basah. "Aku tak berguna. Suami tak berguna. Katakan Milan, aku harus apa?? apa aku kurang perhatian? aku bingung. Kamu masih mau tetap progam kan? dan kita akan memiliki anak yang cantik sepertimu, atau tampan-sepertiku? apa aku tampan? Pasti dia akan sepintar dan semenyangkan seperti kamu. Aku tak pernah berpikir mengapa kita akan pada titik seperti ini. Kau istriku tapi seperti orang lain bagiku, kau tak pernah menjawab pertanyaanku dan memilih langsung tidur setiap pulang jam 2 pagi. Apa aku telah berbuat salah padamu? Pasti aku telah melakukan salah padamu kan, pasti."


__ADS_2