
"Tumben pagi sudah di luar?" Guskov menyipitkan mata. "Apa kamu bermalam di luar, ada apa dengan wajah itu sungguh bercahaya, ah! apa kau bertemu Melina?'
Jerry tertawa dengan mata berbinar, "sia..lan kamu tahu juga. Jadi, apa kamu senang di sini hanya berduanya dan memiliki kesempatan besar?"
"Diamlah, Jerr. Kau membuatku malu," kata Guskov pelan dan badan condong ke depan, takut Nadia mendengar. "Jadi, apa yang kau bicarakan dengannya, mengapa wajah Nadia seperti menanggung beban."
"Tidak, hanya memanas-manasinya, kalau dia termakan, itu salahnya sendiri," kata Jerry dengan alis naik sebelah.
"Apa yang kau katakan," geram Guskov, dan langsung diam saat Nadia lewat mendorong panci besar diatas dorongan roda. Dan Jerry langsung berdiri mengambil alih dorongan hingga Nadia menyipitkan.
"Biar saya saja, Mas."
"Sudahlah, sesama manusia harus membantu. Di bawa ke depan, kan?" Jerry melengos.
"Iya." Nadia berbalik dan Guskov menatapnya dalam, membuat Nadia makin penasaran dengan apa yang dua pria itu bicarakan.
Guskov mengikuti Nadia dengan kursi roda, membawa sendok dan sterefoam dari sudut ruangan diletakan di pangkuannya. Saat dia berbalik, mendapati Jerry memegang tangan Nadia saling tatap. Dia waswas karena Jerry pandai merayu para kaum hawa, jangan-jangan Nadia termakan pesonanya. "Ehem!"
Jerry menoleh dan menahan tawa, terlihat temannya sudah memasang wajah merah padam. "Apa tenggorokanmu radang?" Dan Guskov terlihat meringis dan memicingkan mata.
Nadia melepaskan dua botol kecapnya dengan hati-hati, dan Jerry kembali ke luar. Nadia menilai sikap teman Guskov begitu baik dan luwes tanpa pandang bulu mau menolongnya.
"Nadia, kenapa kamu melamun? kamu tidak sedang terpesona, kan? Dia playboy jangan dekat-dekat."
"dekat-dekat? Siapa yang dekat-dekat, dia membantu, dan kami tidak dekat-dekat. Memangnya apa salahnya dengan dekat-dekat," ketus Nadia dan berbalik ke dapur hingga berpapasan dengan pemilik rumah. "Pagi, Nyonya Shelin."
"Kenapa pagi-pagi sudah cemberut, Nad?" Shelin menuruni tangga sambil merentangkan badan, di tatapnya Guskov yang juga cemberut. "Apa ini hari cemberut Sedunia?"
"Kenapa Nadia jadi marah sama aku? Aku kan memperingatkannya untuk menjauh dari playboy," batin Guskov dan berjalan ke depan. Dan berpapasan dengan Jerry. "Jangan menyentuh kekasihku, tanganmu kotor."
Jerry mundur ke belakang dan menjabarkan 10 jarinya di depan Guskov. "Matamu perlu diperiksakan. Ini bersih, lihatlah baik-baik, Man."
Guskov tertawa getir. "Enggak lucu, Jerry. Awas saja jika kamu menusukku diam-diam.”
Jerry berbunga-bunga karena pagi-pagi menemukan orang yang mudah dikerjain. Bergegas dia masuk ke dalam semakin berniat membakar Guskov, tetapi sesuatu menghantamnya hingga limbung.
"Ya ampun!" Pekik Shelin langsung memegang kening. "Dih kening prawanku!"
"AHHHhh" Jerry memegangi bibirnya yang sakit menabrak sesuatu, dia mengamati suara wanita dengan perawakan manusia berpayud4r4 dengan rambut di potong ala pria. "Yah itu jidat apa cor beton, keras amat."
"Hei, apa lu kata? Cor beton! sudah masuk rumah orang! Nabrak! mulutnya itu pengen gue tampolll rasanya." Shelin berkacak pinggang sambil melotot pada pria berkemeja putih yang wangi, lalu matanya menyipit dan menebak. "Om-om hidung belang, ya?! Enak aja, mengapa rumahku diisi om-om melulu!”
"Si4lan, mulutmu ya. Aku masih muda, baru 28!” Jerry mencengkram kuat kedua tangan mungil sambil membanting ke tembok dan menatap lekat-lekat netra hijau yang tajam di depannya "Kau manusia setengah pria dan setengah perempuan." Seringai Jerry. "Agghw!" Telurnya seperti jatuh ke bumi.
"Sel-lin," suara Nadia tercekat pada pria yang mengadu memegangi organ produksinya, dan Guskov juga sama terkejutnya tetapi Guskov justru tertawa terbahak-bahak pada Jerry yang duduk sampai meringkuk di lantai.
"Shelin, dia teman Guskov." Nadia menaruh sendok sarung di meja dan jongkok di dekat Jerry bingung harus berbuat apa, urat di kening Jerry sampai menonjol dan hidungnya berkerut dengan wajah merah. "Aduh, sakit ya, maaf-maaf, Mas Jerry," cicit Nadia lalu menatap Guskov yang masih tertawa. " Paman, tolongin temanmu dong, masa tertawa di atas penderitaan orang."
"Palingan dia berakting, tak usah dipikirkan, Nad."
__ADS_1
Shelin menggaruk rambutnya, lututnya memiliki kekuatan bukan main-main, dia harap tidak ada masalah dengan organ pria itu. "Lagian, salahmu sendiri, ngapain asal pegang-pegang."
"Sepertinya aku harus ke dokter," ringis Jerry. "Hei Ladies, pergilah! Jangan membuatku malu," lirih Jerry menahan ngilu setengah mati. "Jika ini pecah, kau harus tanggung jawab Lady-boy," geramnya.
Shelin berbalik lagi dan siap menendang tetapi perutnya ditahan Nadia.
"Shel, sudah dong. Kasian Mas Jerry," kata Nadia menahan sekuat tenaga. Tenaga Shelin beneran kuat, terlihat pria yang kesakitan itu sempat terlonjak lalu menyengir dan tertawa kecil.
"Ampun, Lady-Boy."
"Kamu, ya hidung belang!" Shelin menjejak-jejak tidak sampai, "minggir, Nad. Biar kuhabiskan dia sekalian Biar sekalian jadi adonan bubur kalo perlu," kata Shelin berapi-api dengan nafas terengah-engah sambil menaikan lengan pendeknya menunjukkan kekuatannya.
"Galak banged si, sorry -sorry." Jerry bangkit, bergidik jangan sampai kena pukulan lagi, dia bergegas mendorong kursi roda Guskov menjauh dari tatapan galak Lady-boy. "Payah kamu, bukannya bantu aku, Kov."
Shelin melepas kasar tangan Nadia.
"Maaf, Shelin."
"Kenapa kamu yang minta maaf? Sudahlah, aku mau mandi, tak usah dipikirkan, para pria memang songong." Shelin pergi ke pintu belakang meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. "Guskov, ini kebiasaan, kalau baru mandi kenapa enggak sekalian kursi plastiknya dibawa keluar. Sudah tahu kamar mandi kecil, hah ngeselin benar deh tuh para om-om."
Nadia mundur melongok. "Maaf, Shel, aku lupa mengeluarkan kursinya."
"Sudahlah, kamu dikit-dikit Guskov yang dibelain, memangnya kamu pelayannya dia apa," ketus Shelin dan masuk ke kamar mandi. Dia menjadi kesal karena teman Guskov, dilihatnya kedua tangan sudah membekas merah, cengkeraman pria berortot itu tadi sangat kencang. Shelin melepas seluruh pakaiannya dan selama mandi terus kesal karena keningnya kena ciuman pria yang matanya jelas seperti hidung belang!
Bubur ayam disuguhkan di depan Guskov dan Jerry dengan telur rebus yang dibelah dua. Nadia sering menahan nafas di depan Jerry akibat ulah Shelin, beruntung sepertinya Jerry sudah tidak kesakitan, dari tadi sejak dilihat dari luar sepertinya dua pria itu dari tadi membicarakan masalah serius.
"Makasih, Nadia." Jerry tersenyum hangat sebelum wanita itu mengangguk dan langsung pergi. Jerry memakan bubur dan menghentikan sementara urusan bisnisnya dengan Guskov.
"Aku ingat betul bagaimana perlakuan Nyonya Bram padamu. Bukankah aku menanamkan dana di sana karena keberadaanmu, bukan karena siapa Bramansyah Group. lagipula meski tidak demikian, banyak perusahaan mencari modal dan aku bisa mengalihkan pada mereka."
"Tetapi kasihan, Milan. Dan mungkin saja aku masih akan kembali ke kantor, karena itu masih namaku."
"Tidak, Guskov. Aku baru mendengar ini dari teman, bahwa mereka sudah mengalihkan namamu tanpa sepengetahuan mu."
"Mereka siapa? Aku tidak percaya. Aku bahkan tidak pernah menandatangani apapun, dan itu ilegal jika sampai itu terjadi. Aku memulai membanting tulang saat perusahaan itu nyaris bangkrut." Guskov jadi tidak selera makan, dia melirik keluar dan Nadia sempat melirik ke dalam, seolah penasaran. "Aku harus menemui, Milan."
Ketika Nadia membereskan dagangannya yang telah habis di jam delapan, Guskov pergi bersama Jerry. "Mereka mau kemana?" Nadia penasaran, apa pamannya itu bersiap akan ke luar negeri, Nadia merasa semakin tidak rela.
Siang itu Nadia menggunakan motor Shelin berangkat ke kampus setelah memfotokopi banyak tugas. Dia masih berharap akan ada pesanan snack lagi, uangnya mau menipis, bagaimana dia bisa membayar biaya fisioterapi pamannya.
Sesampai di parkiran, angin sepoi harusnya sejuk, tetapi dia merasa sangat dingin meliputi seluruh tubuhnya, terlihat mobil Pajero familiar sepertinya milik Bibi, mungkin hanya perasaanya saja, Hingga dia langsung berjalan cepat-cepat ke kelas.
Tiba-tiba tangannya ditarik di depan pintu kelas hingga dia terayun ke lantai. Dorongan itu begitu keras, Nadia melihat kanan-kiri pada teman-temanya yang mulai menatapnya seolah tertarik. "Apa." Mata Nadia terbelalak pada wanita yang meringis di depannya.
"Pel4cu* kau memiliki hutang tiga juta padaku, dan kau mau kabur begitu saja! Jadilah pembantu dan bayar itu semua, cih!"
Mata Nadia memanas dan berembun. Bibi Vaya menyapa teman-temannya agar mendengarkan perkataan pedasnya.
"Kalian, liat, jangan dekat-dekat. Dia ular! Pamannya sendiri saja dimakan. Apa kalian mau pacar kalian direbut dan ditidurinya?!"
__ADS_1
Nadia menggelengkan kepala cepat-cepat. Benjolan kekecewaan terbentuk di suatu tempat di tenggorokannya. Panas meremas laringnya dan suaranya tercekik.
“Tidak, Kak.” Nadia menekan rahangnya keras dan tangannya terkepal. Embun yang memburamkan pandangannya mulai menyingkir ke sudut mata, dan membuat pandangannya lebih jelas saat teman-temannya menatap begitu jijik, melebihi tatapan kemarin.
"Kak Vaya, mengapa Kakak berbicara seperti itu di depan mereka," suara Nadia tercekat.
Gadis muda itu menahan pahit dihatinya saat seluruh tubuh diliputi panas dingin, mendengar beraneka cibiran yang mulai menghujaninya. Kak Vaya berjongkok di depannya dan mencengkram dagunya sampai begitu sakit di pipi. Nadia bisa mendengar nafasnya sendiri yang sesak dan nafas Kak Vaya yang tersengal.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus membersihkan seluruh rumah adikku setiap hari."
"Tapi-aku kerja sampai malam jam 11, Kak," serak Nadia pada tatapan galak bibinya.
"Aku memberi kelonggaran padamu. Kalau begitu, kau datang sebelum jam 12 malam. Kalau tidak, aku membuatmu keluar dari kampus ini," geram Vaya.
Vaya yang menahan dada dan kepalanya yang terasa sudah mendidih. Dia menahan-nahan untuk tidak menampar Nadia di tempat umum, tetapi tangannya begitu gatal hingga dia hanya mencengkeram kuat sampai gadis licik itu merintih kesakitan.
"Nadia! Air mata buaya mu menjijikan. Kamu kotor! tak usah berpura-pura. Kau penyebab perceraian mereka. Karma itu pasti akan membalasmu, Nadia! Bagaimana kamu tak tahu berterimakasih, seluruh biaya kuliahmu dari enol Almarhum Papa Bram yang membiayai hingga kini!"
"Apa? maksud Kakak?!"
"Apa kau tak tahu? Kau kira ayah-ibumu yang hanya petani sawah kecil, memilki uang dari mana untuk kuliahmu? Bukankah karena kemiskinan itu kau jadi anak angkat, mengemis ke sana ke sini. Seharusnya kau menjaga nama mereka, lalu mengharumkannya. Namun, lihat sekarang ini!" Vaya tertawa. Dia bergidik dan melepas tangannya dengan jijik.
"Kau mura4han dan air! Kau ular, kau itu cacing kepanasan!" Vaya meludah di samping lutut Nadia. Dia lantas berdiri dengan langkah elegan membelah lingkaran teman-temannya. Vaya berhenti dan berbalik. "Kalau saya telepon, angkat, J4lang."
Nadia langsung menutup wajah dengan kedua tangan, setelah Kak Vaya pergi. Cibiran datang bertubi-tubi dan menyakitkan. Hatinya terasa begitu teriris karena semua teman-temannya kini justru tahu soal hubungan terlarangnya di masa lalu.
"Apa tidak bisa mencari yang muda dikit," suara pria.
"Misalnya dengan Udin, hahaha!" suara pria.
"Enak saja! Untuk apa perempuan receh! Aku juga lihat-lihat kali," cibir Udin.
"Tak disangka yang jual mahal dan sok menolak Reno ternyata simpanan om-om, hahaha!" suara perempuan.
Nadia semakin menutup telinga dengan kedua tangan, dan terus terisak menahan malu sampai dibun-ubun. "Aku bukan begitu, aku bukan, aku bukan. Aku bilang bukan begitu! Aku bukan!"
"Nad." Sera akan mendekat tetapi ditarik para wanita.
"Sera! menjauhlah! apa kau mau ketularan j4langnya hahaha," suara perempuan kini menarik tawa semua orang.
"Apa yang kalian lakukan, minggir! minggir!" geram Reno dengan wajah merah padam, mulai mendorong kasar kerumunan. Dia membeku begitu melihat Nadia yang duduk meringkuk loyo dengan rambut berantakan sambil terus berteriak.
Sakit merasuk ke celah hati Reno dan menyebar menginfeksi luka penolakan selama ini. Tubuh Reno terdorong oleh sebuah tangan kuat yang adalah Ernest. Pesaingnya itu yang selalu menang satu langkah di depannya, kini berjongkok dan meraih lembut tangan Nadia, akan memapahnya.
"Minggir! aku kotor! jauh-jauh!"
"Nad, aku ini Ernest." Ernest duduk bersimpuh akan memegang lengan Nadia, wanita itu terus menepis. Para wanita memasang tampang geram karena selalu saja dua pria tampan itu yang mendekati Nadia.
Reno menunjuk semua orang di situ sampai semua tawa anak-anak langsung terhenti. "Aku sudah ingat wajah kalian satu persatu, ya, dan kalian akan tahu balasannya!” Reno menatap lekat-lekat banyak pasang mata, walau dalam sekejap lihat dia akan tahu siapa, ingatannya begitu kuat, hanya tiga detik melihatnya dia akan mengingat begitu lama.
__ADS_1
"BUBAR!!!!!"bentaknya membuat anak-anak yang bergidik. Mereka semua ketakutan, langsung menyingkir dengan saling menyalahkan, terutama para pria yang siap dengan bullyan dari master bully itu.