
"Lama sekali?" Guskov menyipitkan mata, lalu Milan mengecupi pipinya, hingga kekalutan Guskov pun luntur berganti senyuman kerinduan.
"Iya, kan, maklum sejak ngurusin kantor, aku nggak pernah nge-Gym lalu ibu-ibu pada nanyain aku, Mas, nggak enak kalau nggak dijawab. Ayo makan dulu, sudah pada nungguin, kan," kata Milan dengan lemah lembut di depan wajah suaminya.
Terlihat suaminya langsung tak berdaya, dan menurut. Milan lalu mendorong kursi roda, melewati ruang tamu, dan ada Kakak perempuan, juga ada Sepupu jauh yang adalah ayah Nadia yang siap mengelilingi meja makan.
Guskov duduk pada kursi, di ujung meja panjang. Dua orang yang dicintai sedang bersamanya, itu lebih dari cukup, dan kedamaian menyelimuti relung hati yang terdalam.
"Kau terus mengaduk-ngaduk makanan tanpa memakannya, Nadia?" Guskov berbicara dengan tenang pada Nadia di sebelah kanannya, membuat perempuan itu refleks melahapnya.
"Ngelamunin Ayang, pasti." Vaya yang duduk bersebelahan dengan Milan, lalu menyenggol sikut kiri Milan, adiknya itu juga sering termenung.
"Memang, Nadia punya pacar?" Milan menyipitkan mata ke depan persis tempat Nadia duduk, dia menangkap tatapan aneh dari keponakannya, tak seperti biasa.
"Apa Nadia butuh uang?" batin Milan.
"Pacar?!" Joko yang adalah ayah Nadia, menaruh sendok, terlihat putrinya menggelengkan kepala perlahan.
"Tidak, tidak ada, ayah. Kak Vaya, aku akan dimarahin ayah, loh," ringis Nadia pada tantenya yang selalu usil.
"Mas Joko, dia sudah 22 tahun, sudah waktunya memiliki pacar." Vaya berdehem, "siapa tuh yang kemarin panggil ayang di Museum."
Mata Nadia membesar dan geleng-geleng, tatapan tajam datang dari Guskov lalu ayahnya jauh lebih galak.
"Re--re--no ya? Iya Reno, kan?" Vaya makin kegirangan dan bahu Nadia langsung merosot.
"Huft ... ayah, Nadia nggak bohong. Itu Reno memang anaknya seperti itu, tapi nggak pacaran dan nggak sengaja ketemu di sana, masa iya aku harus diam, aku kan nggak bisu." Nadia mengelus lengan kiri ayahnya yang sudah mengatubkan bibir.
"Reno, yang kemarin waktu ayah telepon itu? coba bawa dia ke sini. Ayah mau lihat." Joko beralih ke Milan, "boleh kan, Dik?"
"Ha?" Milan ternganga. "Apa? Mas Joko tadi tanya apa?"
"Boleh tidak, teman Nadia dibawa kemari, aku ingin melihatnya," kata Joko lagi.
Milan mengangguk dan melirik Guskov yang sedang mengaduk-ngaduk makanan. "Mas Guskov, apa makanannya tidak enak?"
"Tidak ada yang salah dengan makanannya." Guskov melirik ke kiri pada pelayan pria. Guskov berpindah ke kursi roda. "Teruskan makanan kalian." Dia menggerakan kursi roda meninggalkan ruangan.
Milan berulangkali memijat kening, dia harus keluar rumah untuk menemui Dicky, tetapi selang-selang otak tidak menemukan jalan keluar.
"Aku bingung sekali, gimana ya. Tidak bisa begini terus. Apa aku alasan pergi ke luar kota?" batin Milan, kemudian menaruh sendok dan bergegas menyusul suaminya ke serambi dan Nadia tanpa sadar telah mere..mas sendok garpu, sekarang saat paman-bibinya berduaan, semua pikiran buruk langsung menyerang dan selang-selang otaknya semakin kisut.
Milan mendekat dengan rasa bersalah. Entah apa yang dipikirkan suaminya yang asik termangu lalu menoleh dan tersenyum. "Milan."
"Iya, Mas?" Milan duduk di sofa pinggir, hingga dia bersebalahan dengan Guskov dan mengelusnya. "Kamu kenapa?"
"Apakah kamu menyesal karena menikah denganku, Dik?"
__ADS_1
Kalimat serius Guskov bagai tamparan di hati Milan, dia mengira suaminya mulai curiga. "Ih, Mas kenapa. Berbicaranya ko gitu. Aku beruntung sekali memiliki mu! Ada apa si, ayo katakan?"
"Ya, soalnya kamu seperti terus menghindariku, kan? Kemana saja seminggu kemarin?"
"Aku kan sudah bilang di rumah Sela. Kenapa sih?"
Guskov menggertakan gigi karena kebohongan Milan. Dia merasa tertimpa karma karena dulu berbohong dan selingkuh. Kini dia menjadi ketakutan, takut bila istrinya melakukan hal yang sama.
"Tidak. Tidak Guskov, jangan berpikir buruk. Tidak pernah ada masalah di antara kita, tidak akan," batin Guskov lalu mengelus pinggang Milan.
"Tunggu di sini ya."
"Mau kemana lagi?" Guskov menyipitkan mata ketika istrinya membuat gerakan agar tetap di tempat.
Nadia bebersih piring kotor, dan melanjutkan menyapu ruang makan, pikiran Nadia terus melayang pada perkataan Kak Vaya yang menurutnya menyebalkan.
Sebuah teriakkan mengejutkan Nadia, hingga dia langsung berlari ke serambi lalu bertubrukan dengan Kak Vaya, dan disusul dorongan tangan ayah.
Terlihat Guskov teriak-teriak kegirangan dan bibi menatap ke arah kami sumringah. Guskov terus menciumi perut Milan dan terus menggumamkan kehamilan.
Mata Nadia membesar dan hatinya mengekerut, panas, satu titik di bawah tulang rusuk terasa begitu menyakitkan.
Ayah dan Kak Vaya langsung memeluk Bibi Milan, tetapi Nadia sendiri membeku. Langkahnya terasa begitu berat dan justru mundur lima langkah sampai dirinya terhalang dinding, dan dia tak sadar sudah berlari menaiki tangga dengan hati hancur.
Pintu kamar terbanting dan Nadia jatuh merosot begitu tajam. Dia menarik lututnya dan meringkuk di tengah dadanya yang teramat amat sesak.
"Ya, Tuhan mengapa aku harus terluka? Mengapa aku begitu sakit? Akulah manusia busuk yang iri pada tatapan kasih sayang Guskov saat mengusap perut bibi. Aku tak rela pada tatapan kasih sayangnya. Kenapa aku begitu menjijikan. Ya Tuhan, tolong hilangkan perasaan cintaku, aku begitu lelah karena ini tak pernah berakhir. Jangan hukum aku seperti ini, Ya, Tuhan-"
Kringgg--
Nadia merangkak dengan tak bertenaga ke tempat tidur. "Er-nest." Nadia terus menghirup ingus. "A-ada apa?"
"Suaramu kenapa? kamu di rumah bibi ya, ku jemput woy!" Ernest yang di rumah Shelin lalu berpandangan dengan Shelin. Telepon itu di speaker dan isakkan Nadia membuat Shelin memberi kode dengan tanganya dan diangguki Ernest. "Ah Shelin sedang sakit, aku butuh bantuanmu," kata Ernest mengabaikan kode Shelin.
"Apa, perasaan tadi baik-baik kok," rengek Nadia tanpa malu-malu. Ernest sudah biasa mendengar tangisannya, dia memang cengeng di depan sahabat prianya itu.
"Dia pingsan. Sudah aku kompres tapi belum turun, kamu siap-siap deh, sepuluh menit aku sampai!" Ernest menutup telepon.
*
Di tempat lain,
"Kenapa lu bilang aku demam?! ndoain gua ya, Er?" Shelin memukul tulang belikat kiri pria berkaos tanpa lengan.
Ernest cengengesan. "Yeee, kamu sendiri kasih kode nggak jelas. Tetapi kenapa Nadia mewek?"
"Pasti karena pria tua itu lagi."
__ADS_1
"Ah, susah amat si membelokan hati si cengeng ini."
"Kenapa nggak nyatain perasaan elu aja, sih? siapa tau lalu dia nggak pernah mewek lagi." Shelin menyalakan TV lagi, kemudian mundur untuk bersandar di kursi kayu tua.
"Buat apa menyatakan kalau ujung-ujungnya ditolak. Lihat saja Reno, seperti apa dia dengan gencarnya, tetap, dan tetap nggak berhasil."
"Ada yang ngomongin aku, ya? kupingku panas." Reno yang baru sampai ruang tamu mendengar ucapan Ernest.
"Pede gile," cibir Shelin, yang menatap Ernest siap-siap memakai jaket dan berjalan ke ruang tamu.
"Mau kemana? ya bagus kabur wus wussst .... " Reno menggoyangkan kedua tangan seperti menyingkirkan hewan.
"Kamu nggak ada kerjaan banged. Temanmu itu di kos sebelah. Kesasar ya?" Ernest meraih kunci di motor dari atas meja, dan menatap Reno yang membawa dua bungkus makanan.
Ernest tersenyum licik, menebak pasti pria itu mengira Nadia di atas.
"Kamu sendiri juga terus kemari." Reno memicingkan mata pada Ernest yang mulai memakai sepatu karet.
"Ye, Shelin mah temen gua sejak TK."
"Shelin juga temen gua sejak kuliah," cibir Reno tak mau kalah. Dia menunggu dan puas melihat pria itu akhirnya menggerungkan motor sport lalu hilang dari halaman. "Wus pergi."
Reno berjalan ke ruang tengah. "Mbak Shelin yang cantik."
"Masih berani ke sini? Lu udah bakar kasur gua. Sia.alan lu," kesal Shelin pada pria yang duduk di sebelah. "Aku nggak terima sogokan, ya!"
"Nasi padang ayam sayur, pake peyek udang, perkedel, plus telur dadar ya tebell. Ada 2 bungkus. Belinya di pojok perempatan, antriannya sampai lima belas menit. Yakinnnn?!"
Shelin berdehem dan menelan ludah, langsung menyerobot dari tangan Reno. "Tiap hari kerjamu nyogok, udahlah elu kawin aja ama gue sih?" Shelin terkikik dan membaca pesan dari Nadia.
"Walau kamu cewek terakhir di dunia ini aku nggak mau nikahin elu. Cewek kagak, cowok-setengah." Reno bergidik pada cewek tomboy di depannya, lalu celingak-celinguk. "Nadia, di atas ya?"
"Lagi ... beli gorengan di sebelah, tunggu saja. Mending lu pijitin pundak gue nih ya, kalau enggak gua usir."
Reno mengerucutkan bibir dan Shelin dalam hati tertawa, mengerjai Reno lagi.
*
"Mau kemana, Nad?" Guskov celingak-celinguk sekitar dan menggerakkan kursi roda mengikuti Nadia yang berjalan terus menunduk mengabaikannya. "Sayang."
Nadia menghela nafas berat dan berbalik, dan menatap tatapan kesedihan pamannya. Seharusnya, pria itu berwajah senang karena akan jadi ayah.
Nadia mengerucutkan bibir, lelah dengan hatinya sendiri yang nggak tegaan dengan tatapan Guskov itu. Dia terus diam sampai Guskov sudah di depannya dan meraih tangan kanannya. Nadia melirik ke dalam, walau bibi Milan dan kak Vaya sudah ke luar rumah, tapi dia takut ayah memergoki.
"Bisakah aku memelukmu?" Guskov dengan nada rendah sarat akan keputusasaan membuat hati Nadia begitu perih.
"Tidak, tidak boleh, Nadia. Sampai kapan kamu akan terus seperti ini," batin Nadia dengan bibir saling meremas, frustasi.
__ADS_1