Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 23 : KELUAR


__ADS_3

Sehari berlalu sejak peristiwa yang menggemparkan seisi rumah, termasuk para ART yang sudah disidang Vaya sejak sore.


Dan Milan pulang jam 8 malam, dia merasa orang-orang menghindarinya. Karena kehabisan kesabaran, malam itu Milan langsung mengumpulkan Kak Vaya, Guskov, dan Nadia, di ruang keluarga setelah mencium ada yang tidak beres.


Suasana di ruang keluarga begitu mencengkam seakan asap tebal menyelimuti seluruh ruangan membuat sesak orang-orang di dalamnya. Vaya berdiri gemetar menerima sepucuk surat dari Kak Vaya, di mana sesekali menatap tajam ke arah Guskov dan Nadia yang duduk berjauhan.


“Keluar Kalian dari rumahku!” Milan menembak dengan kata-kata. Vaya baru saja menceritakan hal tak masuk akal dan itu menyambarnya seperti kilat di atas kepala Milan. Menembus tulang belakang dengan satu pukulan yang tepat dan menghancurkan. Sebuah gambaran akhirnya mulai terbentuk di kepalanya.


Nadia, keponakannya, dan disayanginya seperti anak perempuan baginya: dalam kesulitan dan kegembiraan. Selalu terlihat tenang dan selalu membantu, tetapi mengapa bisa merangkak ke tempat tidur suaminya? Milan memang berniat akan mendekatkan mereka sebatas kesalahpahaman kecil, tetapi tidak berlebihan. Apa kini mereka menumbuk benih bersama? Milan menatap mata Guskov yang tercengang, meminta penjelasan.


“Saya? aku benar-benar tidak tahu, sayang,” kata Guskov tak berdaya.


Milan gemetar. “Nadia, apa yang kamu lakukan? Nad?” Milan menatap keponakannya bingung. “Apa ini lelucon gila?” tanyanya dengan suara patah.


Milan dengan tatapan mencela menghampiri Nadia dan gadis itu langsung  bersimpuh dengan menahan kaki Milan memohon ampun.


“Aku tidak menganggapnya lucu.” Milan hampir tidak berbisik melalui bibir kering.Segala sesuatu di dalam dirinya terbakar amarah dan merasa seperti naga.


“Ja..lang, Tikus keji!” Tamparan keras di wajah Nadia dan Milan mendorongnya tanpa rasa kasihan hingga Nadia terjengkang ke sudut lemari, Millan lalu menjauh bergidik ke sudut ruangan dan terus menunjuk Guskov untuk tidak menggerakkan kursi  roda mendekati Nadia.

__ADS_1


“Saya akan menjelaskan semuanya, bibi.” Nadia berkata dengan gemetar, ini sungguh menyakiti perasaannya, dia sangat terpukul karena ini. Tidak tahu apa yang lebih menyakitkan, pukulan bibinya atau hasil tes yang menunjukkan bahwa dirinya tidak perawan dan ditemukan cairan kehidupan Guskov. Itu sungguh di luar nalarnya. Bagaimana dia sekarang masih dalam keadaan linglung dan mencengkeram pipinya  yang terasa terbakar. Hanya memikirkan bahwa besok ayah akan menghukumnya karena sekarang ayah bahkan sedang menjemput ibu kemari. Tubuhnya kedinginan membekukan  dirinya sendiri. "Nadia kelelahan pulang kerja, dan Nadia ingat duduk di sofa ini."


“Apa yang terjadi? Kamu gila? Apa aku harus menyaksikannya itu sendiri saat suamiku  mengaduk-ngaduk tubuh kotormu.” Milan memekik merasa bodoh, begitu pula bahwa pemikirannya sedang dikerjai. Tidak, ini bukan permainannya. Apa yang terjadi di sini  dan saat ini adalah kebenaran. Kejam, dia tak pernah menyangka keponakan dan suaminya berbuat memalukan dan mengerikan. Milan bahkan tidak pernah memikirkan itu. Dari kegugupan, semua menjadi gelap di depan mata. Pertanyaanya, mengapa dia dikhianati?


“Keluar dari sini, Baji..gannnnn. Saya akan ke pengadilan besok! dan memberikan waktu kamu  satu jam sekarang untuk membereskan barang-barangmu.” Milan meringis, mendesis membabi buta. “Ini menyakitkan!’


“Kita tidak akan bercerai!” Guskov mengarahkan kursi roda ke depan istrinya, dan Milan terus mundur meringis.


Nadia menangis tanpa bersuara, gemetar karena ketakutan pada teriakan mereka yang mengerikan. Sesuatu yang ditakut-takutkannya tiba. Namun, dia meyakini tidak terjadi apa-apa di tempat tidur. Dia merasa seperti orang gila, karena nafasnya gagal, jantungnya berdebar kencang, dan kepala serta tangannya entah bagaimana bergerak dengan gugup dan tiba-tiba, seolah-olah dia sedang  mengigau.


“Kita tidak akan bercerai! Tidak sekarang, tidak nanti!”


Akan tetapi mengapa Guskov selalu memberikannya harapan palsu, dan terus menahannya. Walau berulang kali Nadia tangkap selama ini adalah fakta pada kenyataanya yang menjurus bahwa pria itu menginginkan dua cinta, dua perempuan,  dalam satu waktu. Tidakkah kah pria itu sadar ini sangat melukainya?


 Nadia menggelengkan kepala. Dia tidak mau menjadi istri nomor dua, dia juga tak ingin menikahi pria beristri, dia hanya berharap pada pria single seumuran. Dia menyayangi bibinya, yang selalu baik padanya. Tetapi dia kini sudah menjadi duri pada pernikahan bibinya.


Guskov tengah diliputi khawatir akan nasib pernikahannya.


Bukan demi jabatan atau soal dia kehilangan BAGIAN hasil kerja kerasnya. Ini hanya perkara soal calon anaknya itu sendiri.

__ADS_1


Tidak peduli juga bila Guskov hidup dalam kemiskinan. Namun, anaknya harus memiliki keluarga utuh, memiliki ayah dan ibu dalam pernikahan.


Guskov tidak mau anaknya merasakan hal yang sama, dengannya. Dia yang besar dengan perpisahan kedua orang tuannya.


Sampai Guskov memutuskan untuk kabur dari mereka meninggalkan kedua orangtuanya bertahun-tahun lamanya, dengan perasaan sakit hati yang terus mengikuti, bahkan sakit itu sendiri tak bisa terkikis oleh waktu. Dan mendarah daging pada semua inti tubuhnya.


Sampai sekarangpun dia enggan melihat wajah kedua orang tuanya atau hanya mendengarnya.


Bahkan saat pernikahan dengan Milan, dia hidup sebagai yatim piatu. Dia yang diangkat oleh keluarga Bramansyah sejak usia sebelum 15 tahunnya, lalu di biayai untuk sekolah, kuliah, sampai melanjutkan S2 di luar negeri.


Bahkan nama aslinya sendiri Guskov tidak ingat, pikirannya membatasi hingga otomatis menolak untuk mengingatnya. Mata Guskov berkaca-kaca, amarahnya tertahan dari dalam terasa berputar-putar akan meledak.


“Aku tak butuh kotoran sepertimu! Kita dari awal sudah setuju. Siapa pun yang berselingkuh lekas harus angkat kaki dari rumah ini. Kau, bahkan menumpahkan kotoran, pada rumah yang kita bangun susah-susah dari nol!!”


“Tapi … kemana aku pergi?” Guskov menatapnya kaget dan mengepalkan tangan. Saat itu Milan adalah dunianya, dia tak bisa hidup tanpa Milan saat itu. Itu saat cinta pada pandangan pertamanya. Milan seperti pijakannya. Sekarang? dia tak tahu hidup tanpa Milan akan seperti apa. ”Bagaimana nasib anakku!?” geram Guskov.


“Kau, juga ingat, Milan. Aku memeras keringat siang dan malam untuk membangun rumah ini. Untuk melunasi hutang yang ditinggalkan orang tuamu? ini bukan soal ini. Meskipun hutang ini telah lunas sepenuhnya. Kamu bisa menikmati itu. Tanpa kamu perlu susah payah lagi. Tetapi kau coba pikirkan anak kita! yang membutuhkan cinta dan kasih sayang dari papa- mamanya!!” Guskov berulang kali mengambil nafasnya yang tercekat.


Keheningan menyelimuti ruangan, menyisakan nafas tersengal  dari Milan dan Guskov. Suara yang bersahutan dengan cegukan dari mulut Nadia yang ketakutan. Vaya menatap lekat-lekat Nadia yang teronggok seperti semen di lantai. “Apa yang kamu lihat? keluar tikus got!”

__ADS_1


__ADS_2