
Suara berisik membangunkan Nadia, dia membuka mata ketika Ibu sudah di kamar. Dan dia baru sadar sampai tertidur di kamar Guskov. "Ohhh, Ibu baru datang, kah?"
Nadia dengan muka bingung, menahan kantuk, dan ibu tersenyum lalu mencium pipi kanan-kiri.
Sebuah kehangatan langsung menyelimuti hati Nadia. Kasih sayang yang jarang didapatkannya selama 15 tahun lebih, karena terpisah oleh jarak dan waktu.
Kecupan itu sendiri bisa dihitung dengan jari. Yaitu saat kelulusan SD, kelulusan SMP dan saat akan mulai kuliah.
Ibunya tipe orang tua kolot yang tidak peduli betapa pentingnya dampak sikap kasih sayang seorang ibu pada putrinya.
Nadia ingin dunia tahu, bahwa dia juga ingin disayangi. Namun dia merasa tidak mendapatkannya, tidak ada yang melakukan itu, kecuali paman.
Guskov yang memperhatikan pada hal sekecil apapun, walau sederhana tapi begitu begitu menyentuh sampai titik terdalam di hatinya.
Bahkan sejak awal bertemu, saat itu ada semacam tisu di rambut, dan Guskov membantu untuk mengambilnya dengan senyuman yang tidak pernah dilupakannya sampai detik ini.
Satu kata yang menggambarkan Guskov : PEKA
Lalu satu hal yang selalu membuat Nadia merasa keki, bikin geli dan malu sendiri : adalah KEPERCAYAAN DIRI Guskov yang pada tingkat tinggi.
Nadia senyum-senyum sendiri karena mengingat Guskov.
"Itu ayahmu sudah ngobrol dengan Guskov. Buatkan minuman kesukaan ayahmu, sana Ndok! Malah ngguyu-ngguyu koyo wong gendeng."
Nadia langsung turun dari tempat tidur dan mencium tangan Ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu bersama Guskov.
Mata Nadia terpaku pada Guskov, rasa malu tak tertahankan kembali menyelimutinya begitu teringat kecupan tadi malam, pria itu tersenyum aneh tanpa berkedip.
"Eh'hem." Joko berdeham secara sengaja diikuti batuk-batuk dan mengejutkan dua pasang mata yang terlihat diliputi sesuatu.
Jangan bilang Nadia juga melakukan kesalahan pada pria itu, semacam menggodanya, pikir Joko, membuat dada mulai bergetar karena marah. "Nadia, ayah haus."
"Ba-ik, ayah." Sekali lagi, Nadia penasaran dengan senyuman yang belum pernah didapatkannya dari Guskov.
Nadia teringat senyuman itu beberapa kali dilemparkan Guskov pada bibinya. Nadia jadi berpikir bahwa mungkinkah itu semacam senyuman khusus sesosok suami pada istrinya!?
"Dih percaya diri banget kamu," batin Nadia mengatai diri sendiri sambil berbalik badan dengan hati bergetar karena senang.
Nadia seakan dimabuk kepayang dan hatinya terasa meleleh.
DUK!
Nadia meringis, akibat tanpa sengaja mendupak bangku di dapur, sampai dia jalan terpincang dan terus meringis.
Kumala dibuat heran pada tingkah aneh putrinya. "Kalau jalan pakai mata, Ndok. Kamu bisa jatuh. Jangan banyak ngelamun."
"Jalan pakai kaki, Ibu. Bukan mata."
"Anak ini." Kumala gemas karena gerutuan putrinya. Dia menjewer telinga Nadia sampai meninggalkan bekas merah, dan putrinya langsung menjerit memohon ampun.
Shelin terpaku pada suara keributan di dapur, lalu berlari menuruni tangga dengan penasaran.
Kemudian tersenyum geli sekaligus menahan tawa, hingga Shelin menutup mulut, dan menahan tawa agar sampai tidak terdengar dari jarak empat meter.
"Ibunya Nadia galak banged. Nyubitnya nggak main-main. ih serem," batin Shelin merinding.
Detik berikutnya Kumala menghampiri gadis yang melamun. "Shelin?"
"Ah Ibu Kumala yang cantik, sudah datang .... "
"Iyo, cah ayu. Kamu baru bangun. Lihat jam berapa? Ya ampun siangnya?! anak gadis itu harus bangun pagi.
Ini rambut ko ya jadi dipotong pendek l?" Kumala mengge..rayangi rambut yang dipotong sangat pendek.
Shelin meringis, "ah kena lagi dah! Kupikir sudah berubah, ternyata masih sama, suka ngomentarin," batin Shelin mengangguk canggung dan paling tidak suka dikomentarin.
Jika bukan Ibunya Nadia pasti Shelin sudah pergi melengos. "Ini model jaman sekarang seperti ini. Rambut pendek, Ibu."
"Mana ada model begitu. Panjangin aja, kamu cantik, sayang kan begini, nanti apa kata ibumu, Ndok?"
Shelin langsung tergigit di relung jiwa terdalam. Ibunya mah cuek bebek, mau anaknya kecemplung sumur, mana mungkin peduli!
"Beruntung sekali, Nadia. Masih ada yang perhatian," batin Shelin tersenyum masam.
Lagi-lagi Shelin mengintip Nadia yang mendapat tabokan di pantat dan langsung mengadu.
"Ibu, ih cuma ayah sama Guskov. Tidak masalah, tidak perlu pakai nampan." Nadia membawa cangkir di tangan kiri dan kanan.
__ADS_1
"Terus! Kalau dibilangin suka ngelawan. Itu nggak pantes!" Kumala kini menabok pantat Nadia menggunakan nampan. "Hormati ayahmu! hormati juga calon suamimu! hih, cah wadon nggak tahu aturan." Kumala meletakan nampan dan terlihat putrinya baru nurut.
"Iya, iya, ibu. Sudah nih, ngomel melulu. Nih, ini udah. Ini nampan."
"Nadiaa," geram kumala.
"Ampun ibuuu, aku diammmm." Nadia merinding takut kena getok, lalu berbalik dan Shelin langsung masuk kamar mandi. "Mereka bikin iri."
*
Nadia menyiapkan bumbu bubur di ruang tengah. Dia menguping obrolan ayah dan pujaan hatinya, bahwa Guskov meminta kelonggaran waktu, pada intinya upacara lamaran akan diundur dua tahun.
Nadia bercerita pada ibunya bahwa dia hanya dijebak Nyonya Bramansyah, tidak perlu lagi menuntut agar Guskov bertanggung jawab karena toh tidak ada yang terjadi dan dirinya sebetulnya masih perawan.
Mendengar penuturan itu, bergegas Kumala ke depan menceritakan pada Joko, dan Joko langsung memanggil Nadia.
"Untuk apa kamu berada di sana malam-malam, Nadia?" tanya Guskov pada Nadia yang terus menunduk.
Dengan terpaksa Nadia bercerita bahwa dia harus mengganti tiga juta atas harga pakaian yang diberikan Kak Vaya, dengan cara membersihkan rumah.
Wajah ayah langsung berubah tegang. "Kenapa kamu tidak pernah terbuka dengan ayah? Berulang kali ayah memintamu terbuka pada sekecil apapun kesulitan mu."
"Maaf, ayah, Nadia salah." Nadia menunduk malu saat dimarahi ayah, pasti Guskov akan berpikiran dia perempuan tidak patuh.
"Sekarang ikut ayah. Kita harus memberitahu Milan dan Vaya. Kamu juga Guskov."
"Maaf, saya tidak mau menginjakan kaki di rumah itu lagi, mas."
"Kamu yang terlibat dan kamu harus ikut meluruskannya." Ayah berbicara dengan tegas.
Guskov menghela nafas keputusasaan. "Maaf, saya tidak bisa. Mas juga kan sudah mendengarkan, tentang cerita saya yang tidak menyenangkan. Tolong, jangan paksa saya, karena saya tidak akan pernah ke sana lagi, mas Joko." Guskov lalu menggerakkan kursi roda ke kamar dengan wajah kelamnya.
"Ayah, biarkan saja seperti ini. Nadia tidak apa-apa. Nadia juga tidak mau bila bibi makin membenci Nadia. Kan, Nadia hanya perlu membersihkan rumah itu selama beberapa bulan lagi."
"Jika kamu tidak salah, kamu tidak perlu takut, cepat bersiap-siap. Biar nanti Ibu yang menjual bubur mu," perintah ayah Nadia dan disambut anggukan putus asa Nadia.
*
Memasukan masako ke dalam panci bubur, Kumala menatap Guskov dengan trenyuh.
Pria itu terlihat serius memotong daun bawang. Kumala heran dengan Milan suami cekatan seperti itu mengapa di sia-siakan.
"Mba turut bersedih padamu Guskov atas apa yang menimpa mu," kata Kumala, ikut sedih atas perselingkuhan Milan bahkan sampai adanya kehamilan.
"Terimakasih, mba. Apa Nadia mau menunggu saya selama dua tahun?"
"Soal itu hanya Nadia yang bisa menjawab. Sekarang mba tanya balik. Apa kamu bisa sabar menunggu sampai dua tahun? Jangan-jangan kamu nanti kepincut perempuan di luar negeri yang cantik-cantik."
Kumala menyindir Guskov, pasalnya Milan yang jauh lebih terawat dari pada putrinya, apalagi tubuh montok itu aja, diselingkuhi. Apalagi putrinya yang tidak punya uang untuk perawatan, bedak saja hanya memakai bedak bayi dan tidak pernah menggunakan lipstik.
Sebenarnya dia khawatir dengan Nadia yang tidak pernah bersolek, apalagi karena temannya tomboi. Seharusnya sebagai wanita sudah belajar bersolek.
"Lihat saja, secantik Milan aja masih diselingkuhi, aduh kenapa aku khawatir," batin Kumala makin merinding.
Guskov menaruh pisau di meja dan menatap kakak sepupu dari istrinya. "Guskov sudah berniat membangun rumah tangga dengan Nadia, insyaallah karena niatan ini, saya berusaha menundukkan pandangan dan menjaga hati saya hanya untuk Nadia, mba."
"Aamiin. Kalau jodoh tidak akan kemana, ya."
Kumala tersenyum hangat. Dia tidak pernah menjumpai Guskov datang di acara kumpul keluarga, sekali bertemunya ini, justru bertemu karena masalah rumit.
Hati ibu mana yang tidak bergetar mengetahui putrinya mencintai suami orang sampai pernah menjalin hubungan, putrinya sudah bercerita, bahwa putrinya berpacaran dengan Guskov saat Guskov mengaku dirinya single.
Kumala tahu diri dan merasa malu sendiri pada Milan dan terus diliputi rasa bersalah karena kegagalannya sebagai seorang ibu sampai ini semua terjadi.
Padahal suaminya sudah mewanti Nadia dengan melarang Nadia pacaran sampai lulus kuliah.
Namun, Kumala sadar seiring perkembangan jaman, muda-mudi sekarang semakin berani dan itu takkan terelakan.
Kumala kecewa pada putrinya yang tidak bisa menjaga diri, tetapi sekali lagi putrinya selalu meyakinkan bahwa Nadia tidak masuk ke dalam kamar Guskov.
Padahal Guskov tidak bisa jalan. Mau dipikir bagaimanapun, bahwa siapapun tidak akan percaya pada ucapan putrinya yang tidak masuk akal.
Selain itu Kumala sendiri tidak setuju dengan hubungan Guskov dengan putrinya, tetapi bisa apa saat Mas Joko bilang A, semua akan terjadi A.
HAL ITU SAMA saat Kumala harus menerima keputusan pahit bahwa dia harus dipisahkan dengan putrinya yang masih kec saat Nadia akan masuk SD.
Teringat betul tangisan histeris Nadia yang bahkan tak bisa diam walau diberi permen kesukaannya. Hingga harus menunggu Nadia tertidur. Selama sebulan Mas Joko ikut saat hendak melepas putrinya di kota lain pada keluarga jauh yang belum diberi keturunan.
__ADS_1
Semua itu hanya ketidak becusan Mas Joko. Suaminya tidak seperti pria pada umumnya yang getol mencari uang dengan cara kreatif tidak hanya mengandalkan tenaga.
Seolah Mas Joko sudah terbuai dengan bekerja mengelola sawah milik keluarga Bramansyah yang saat panen, hasilnya tak seberapa.
Bahkan saat baru lulus SMA dan Nadia dipulangkan ke rumah, karena kondisi keuangan keluarga angkat yang kesulitan, lagi-lagi Mas Joko meminta-minta pada keluarga Pamannya. Agar dibantu menguliahkan Nadia.
Sebenarnya Kumala sangat malu. Semoga Nadia membalas budi mereka semua yang sudah menyekolahkan tinggi-tinggi. Dia sendiri hanya lulusan SD dan suaminya hanya lulusan SMP.
Banyak alasan Kumala tidak setuju dengan Guskov.
Kumala takut Nadia akan merana dengan Guskov. Dia tidak mau bila Nadia merasakan hidup yang berat seperti hidupnya.
Satu. Kumala takut Guskov berselingkuh. Lagipula ada perasaan tidak enak dengan sepupu iparnya, apalagi Milan adalah kebanggaan keluarga Bramansyah, dan seluruh biaya kuliah Nadia juga telah ditanggung keluarga dermawan itu.
Yang paling mengerikan dan menyakitkan, apa kata tetangga nanti, kupingnya akan begitu panas mendengar cibiran mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...🏠Rumah Milan🏠...
Nadia terus tertunduk saat Ayahnya berbicara dengan Milan dan Kak Vaya yang terus memasang wajah menakutkan. Nadia merasa sangat malu, dia selalu diliputi rasa bersalah karena hubungan terlarang masa lalu.
"Mas Joko, sekarang menuduh mama saya atas perbuatan kotor mereka? Sudah jelas bukan, hasil tes itu nyata," sergah Milan memotong dengan tidak terima.
"Aku yakin putriku tidak salah , Milan." Rahang Joko mengeras. "Aku akan mendatangi tempat pemeriksaan itu dan menuntutnya jika itu direkayasa.
Vaya tertawa. "Dan jika itu nyata? Mas Joko, dengar ya. Mamah sudah menghentikan semua biaya kuliah Nadia. Silahkan Anda bertanggung jawab sendiri. Sudah terlalu banyak yang dikeluarkan papa untuk Nadia," desis Vaya. "Keluar dari rumah kami sekarang. Dan kamu Nadia, kau harus terus membersihkan rumah ini."
Hati Nadia begitu getir, dia merasa tak tahu diri dan sangat malu karena membuat bibinya makin marah. Dia benar-benar tertekan dan rasanya tidak nyaman di hatinya. "Baik, bibi, Nadia akan terus rutin ke sini."
Joko kehabisan kata-kata, meski dia mendapat bantuan dari Paman Bram, tetapi jika putrinya memang tidak bersalah, dia sangat ingin membersihkan namanya. Dia tidak ingin itu memukul mental putrinya.
"Aku akan kembali membawa buktinya, bahkan sekalian petugasnya."
Milan dan Vaya tertawa dan saling pandang, merasa sepupunya tidak tahu malu.
"Kamu mau kemana, Nadia? Cucian piring menumpuk, bersihkan dulu baru boleh keluar," cibir Milan dengan tatapan muak pada sepupunya, Joko.
Joko mengambil nafas berulang kali menahan sabar, dan harus menerima kegetiran karena ketidakmampuan dalam menyekolahkan putrinya, mengakibatkan Nadia mendapat perlakuan tak mengenakkan.
"Ayah, sudah, Nadia saja." Nadia tersenyum penuh saat ayahnya berdiri di westafel sebelah dan meraih piring yang sudah disabuninya.
"Sudah cepat, kamu ada kelas nanti, kan." Joko dengan cekatan membilas piring. "Maafkan, ayah ya, karena tidak becus memenuhi kebutuhan pendidikan mu, Nak.
Dari SD kamu sudah harus ikut orang lain--"
"Ayah sudah dong, ayah tidak perlu dipikirin lagi soal itu.
Allah memberi jalan hidup Nadia seperti ini. Ayah jangan merasa bersalah lagi. Kata ayah jangan menyalahkan takdir, itu sama saja artinya menyalahkan Allah.
Dan Nadia janji akan cari uang yang banyak untuk beli rumah, biar ayah dan ibu tidak mengontrak lagi.
Jadi, doakan dagangan Nadia, moga lebih berkembang ya, Ayah? terus bisa beli rumah walau kecil-kecilan."
Joko tertawa dengan mata berkaca-kaca. "Ayah bangga padamu. Apa ayah boleh request ada kandang sapinya, Ndok?"
Nadia menyipitkan mata. "Apa ayah ingin sapinya juga?"
Joko tertawa makin riang dan disambut tawa Nadia.
"Aamiin, ayah mau sapinya juga.
Biar suara yang ayah dengar diselingi suara sapi, bukan cuma omelan ibumu.
Jangan-jangan suara sapi kalah sama omelan ibu mu,
atau sapinya jadi diam karena takut diomelin ibumu."
Nadia dan Joko makin tertawa geli, di belakang ibunya mereka bisa puas tertawa tanpa omelan Kumala.
"Semoga Allah mengabulkannya. Sholatnya jangan ditinggal ya, Nak."
Nadia yang jarang sholat langsung tertunduk malu. "Baik, ayah."
Milan yang mengamati mereka merasa trenyuh. Dia tersenyum kecil.
Entah, sebenarnya dia tidak tega bersikap terlalu kejam, terutama pada semangat belajar Nadia, tetapi Mamah Bram sedang mengawasinya.
__ADS_1
Jika dia terlalu membela Nadia, Mamahnya pun akan semakin memberi hal tidak mengenakan pada Nadia.
Jika visum itu memang dipalsukan seperti apa kata Nadia yang katanya mendengar tak sengaja dari pembicaraan Mamah dengan Pak Heru. Maka, artinya Mamah Bram sungguh keterlaluan.