
Sudah empat minggu berlalu, akhirnya Nadia bisa membawa paman pulang. Diia mendorong kursi roda melewati lorong rumah sakit. Sopir membuka bagasi mobil untuk memasukan dua tas pakaian ganti paman, lalu menyanggah lengan untuk pindah ke jok belakang.
Sepanjang perjalanan tangan Paman menggenggam Nadia, hingga gadis itu tak berkutik takut sopir memergokinya.
Sesampai di rumah, Nadia kembali mendorong kursi roda itu dan membawa ke ruang keluarga, memegangi kursi roda saat paman berpindah duduk di sofa. Ya, Pamannya patah tulang di paha terhimpit box sebulan lalu. Dan Nadia masih selamat dan hanya luka lecet di kaki. Sementara Nadia masih dihantui rasa bersalah dan ketakutan saat melihat nyawa tak selamat sopir box itu, malam-malam tidurnya menjadi mengerikan. Dia merasa semua ini karena kesalahannya, dan dia terpaksa berbohong ke polisi bahwa dia tak ingat apa-apa.
"Nad, pergilah, tak usah menunggu. Aku bisa mengerjakan segala sesuatu sendiri," kata Guskov dingin dan meraih remote tv.
"Aku sudah membawa beberapa buku kemari untuk mengerjakan tugas. Lagian bibi memintaku menjaga Paman."
"Ya, Milan menjadi sibuk dengan kantor, aku merasa tak berguna , Nad." Guskov menghela nafas berat tak mau menatap Nadia, memindahkan chanel tapi pikirannya kacau.
"Paman, tidak boleh begitu. Harus semangat!" Nadia meminggirkan kursi roda. "Tunggu, aku ambil buku dulu."
__ADS_1
Jam berganti jam, Guskov lelah terus duduk. Beruntung hiburannya memandangi Nadia yang begitu fokus pada laptop dan buku-bukunya.
Sampai malam, Nadia mendorong kursi Paman ke kamarnya dan membantu Paman berbaring. Awalnya canggung saat Bibi Milan meminta dia merawat Guskov, tetapi dia tak memiliki pilihan karena Bibi harus menggantikan Paman di perusahaan. Entah apa yang dikerjakan Bibinya sampai tiap hari pulang jam 2 dan berangkat jam 7 pagi, mungkin nyaris tak pernah melihatnya mereka duduk bersama.
*
Di tempat lain di kantor, Mila terbahak-bahak karena Dicky terus menggelitik nya di sofa kantor. Kekasihnya itu sudah rela-rela datang dari jam delapan dan berlama-lama tinggal di kamar yang terhubung dengan kantor direktur utama.
Telepon berdering di ponselnnya, dengan malas Milan menerima telepon dan duduk, disamping Dicky mengelus kehamilannya.
Ponsel direbut Dicky, Pria itu kembali menggelitik calon ibu dari anak-anaknya. Alangkah bahagianya Dicky, mengetahui kehamilan itu dan semua rencana Milan.
*
__ADS_1
Di dalam kamar di rumah tantenya, Nadia mengatuk-ngatuk dahi ke meja. Sejak dia tak masuk toko selama dua minggu, pekerjaan itu telah diisi orang lain. Kini dia bingung setengah mati, tabungannya menipis terancam tak bisa membayar kos. Lalu uang dari orang tuanya hanya cukup untuk kebutuhan kuliah. "Harus cari pekerjaan kemana?" pipi kiri Nadia terbenam di meja. "Ayah, aku ingin pulang ..." tangannya mengukir pola aneh di meja.
Dengan malas, Nadia membuka chat ...
~ Nad, aku menemukan lowongan, tapi hanya jadi pencuci piring di sebuah resto? apa kamu mau? gajinya mingguan.~ Chat dari Ernest.
Seutas senyuman terukir di bibir Nadia. "Tak masalah. Ya Tuhan, terimakasih," kata Nadia bergetar, dengan sangat bersyukur. "Terimakasih, Ya Rabb, Engkau memberikan jawaban setelah seminggu ini hamba begitu bingung."
Nadia berdiri dan berjalan ke tempat tidur, sebelum itu, dia sempatkan bersujud tak tahu harus bagaimana lagi setelah dua minggu terakhir merawat Guskov di rumah sakit. Lalu dua minggu awal begitu sungkan pada Shelin dan Ernest yang berjaga bergantian untuknya. Karena itu menjadi tak enak bila harus telat membayar uang kos pada Shelin.
*
Keesokan harinya, Nadia senang setengah mati, dia diterima!
__ADS_1
Hanya saja sekarang harus membagi waktu, karena restoran tutup jam 9 malam, dan dia harus bebersih dapur komersial hingga jam 10 malam. "Tidak apa-apa, Nadia! semangat!" Nadia berpikir lagi, tugas kuliahnya bisa dikerjakan setelah itu.