Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 7 : KEPUTUSAN


__ADS_3

Nadia turun dari angkot dengan menyodorkan uang sepuluh ribu, ke jendela depan dan di terima sopir yang mengelap keringat di wajah dengan handuk hitam lusuh.


Nadia menatap pagar hitam. Tak kuasa menahan malu dan rasa bersalah kepada bibi Milan. Dia berniat memencet Bel di tembok putih, ketika suara roda besi berdecitan.


Pintu gerbang terbuka dan sedan hitam Mercedes Benz berhenti, disertai bunyi rem berdecit.


“Nadia … “ Guskov mendorong tuas mobil ke posisi N, dan menduga Nadia akan pulang dan pria itu langsung keluar dari mobil.


Nadia berusaha tetap tenang. Sampai kemudian Guskov menatapnya dengan tanpa ekspresi.


 Guskov mengayunkan kepala ke kiri pada security. “Nadia, kamu akan pulang, kan?”


“Bisakah kita berbicara di dalam?” Nadia dengan serius. Pria itu mengelap keringat di kening entah karena suhu siang yang terik atau gugup, menatap rambut gadis didepannya yang tersapu oleh angin hingga sedikit melambai ke arah dadanya.


Sudah lima menit Guskov duduk di ruang tamu menunggu Nadia berbicara, tampaknya wanita itu sangat tenang dan terlihat sudah memutuskan sesuatu, pasti akan kembali ke rumah ini.


“Paman, Nadia mau minta maaf.” Nadia dengan wajah datar, teringat omelan ayah.


“Nadia santai saja.” Guskov sudah siap-siap menunggu Nadia mengatakan niat akan pulang ke mari, dan dia akan menjawab ‘ini juga rumahmu’ pikir Guskov mengabaikan rasa tak nyaman dengan sebutan Paman.


“Nadia benar-benar minta maaf untuk ‘semua’ “ Nadia merasa bersalah pada bibi.


“Aku sudah bilang, santai saja. Ayo ku bantu ambil tas-tas mu.”


“ … “ Nadia mencoba mencerna kalimat Guskov. “Tas?”


“Kamu akan kembali ke sini, kan?”


Nadia menggelengkan kepala dengan cepat. “Aku ke mari hanya untuk minta maaf karena pergi tanpa minta persetujuan dari Paman dan Bibi.” 


Guskov mengernyitkan kening dan bibir saling memelintir, menatap dua tangan kamila yang meremas di pangkuan. “Kamu akan kembali ke sini kan?!”


“Aku telah mengekos dan akan tetap di sana.” Nadia menatap lembut, menunggu jawaban Guskov yang kini berwajah sangat dingin.


Mereka terdiam melihat ke arah lain.  Nadia memutar bola matanya dan jari kaki mengetuk di lantai marmer. Guskov mengetuk jari di paha,ini tak seperti yang dia duga.


"Terkadang orang sangat ingin bersama seseorang sehingga mereka akan menerima persyaratan apa pun." Nadia membuka suara," tetapi kemudian mereka menjadi milik mereka sendiri, dan berpikir, ini penting bagi diri mereka sendiri. Saya memiliki perasaan dan dorongan seperti itu.


Ini hal yang sulit untuk dibicarakan dengan jujur, tetapi lebih sulit untuk tidak membicarakannya, dan saya memutuskan untuk menganggap hubungan kita tak pernah ada," kata Nadia dengan hati bergetar dan merasakan tatapan tajam Guskov yang lalu meredup.


"Apa itu mau mu, Nadia? untuk kita ke depan?" Guskov tak percaya semua runtuh seketika. Begitu pahit seperti makan biji mahoni. Sakitnya sampai ke ulu hati.


“Iya, saya mau seperti itu. Ehm, apa Paman mau teh?” Nadia tertunduk seraya berkedip cepat, merutukki kebodohan-pakai acara menawarkan minuman.Bibir itu keceplosan karena tak bisa menghadapi situasi canggung.


“Boleh.” Guskov menatap kepergian Nadia, padahal dia belum selesai menjawab. Bahkan tas jinjing itu di bawa Nadia ke dapur?

__ADS_1


Nadia menyalakan kompor dengan panci berisi sepertiga air, dia terus menepis perasaan aneh dari dalam hati. Sampai air mendidih, wanita yang tak menyadari kedatangan Guskov, memandang gelembung-gelembung itu yang seperti pikirannya, meluap-luap karena rasa bersalah pada bibi.


“Lama sekali kan ada dispenser.”


Nadia terkejut lantas berbalik mendapati Guskov melipat tangan di dada. “Pake kompor lebih mantap, kan.”


“Tapi itu dah mendidih. Apa kamu mau mengeringkan isi panci?” Guskov tertawa, merasa lucu dengan ekspresi kebingungan Nadia yang sontak mematikan kompor, tangan mungil itu memegang cangkir mengangkat ke atas panci, tapi lalu di letakkan lagi di meja pantry dan terdiam sesaat memegang kening. Kemudian kini membalik stepnya, membawa panci ke gelas, tapi batal dituangkan dan menaruh panci ke kompor lagi, langsung berbalik.


“Apa?” Guskov tersenyum miring pada wanita itu yang kini di depannya, apa wanita itu mau pelukan atau adegan romance?


“Teeh.”


Guskov melirik ke belakang pada arah yang ditunjuk Nadia. “Ambil sendiri, Nad, kamu punya tangan, kan?” Guskov tetap di posisi dan tidak mau kalah. Menunggu apa yang akan dilakukan wanita yang kini bibirnya terkatub dan berjalan ragu, lalu berdiri di samping persis.


Guskov menahan deguban jantung yang menguat dan menghadap Kamila dengan tangan masih terlipat,


Tubuh wanita itu begitu tegang, jelas sekali di kelopak mata yang bergetar. Guskov tetap memandang pipi putih semu-semu merah itu sambil tangan menjangkau toples teeh, dan meraba , kebetulan menumpuk di tangan Nadia yang sudah menyentuh kabinet gantung.


Guskov mendapati Nadia yang menoleh ke arah nya dengan wajah memerah dan berubah tertekuk, pria itu memandang penuh kasih sayang, sampai kemudian Nadia menjijit bertumpu dengan tangan kiri di meja pantry untuk lebih tinggi, menyingkirkan tangan Guskov, dan toples justru terdorong makin ke dalam dan Guskov tertawa girang.


Nadia hanya melirik Guskov. Kemudian pergi meraih tasnya di meja kayu.


Guskov berhenti tertawa lantas menghalangi jalan. “Aku mau kopi.”


“Bisa kamu tunggu di depan?” Nadia menerima toples, menahan sabar, dan berjalan ke kompor.


“Ehm ... Nadia .... “ Kata Guskove lagi, sudah kembali berdiri di tengah pintu kaca.


“Ya? “ Nadia menoleh tapi pria itu sudah melengos lagi. "apa sih? Gak jelas."


"Kamu bisa, Nadia," gumamnya


Menguatkan diri untk membangun semangat. "Asal paman dan bibi bahagia. Tuhan masih melindungiku.” Nadia mengaduk kopi.


“Tidak apa Nadia terima. Aku mencintainya. Tidak apa. Semua akan baik-baik saja. Suatu saat semua akan kembali normal. Jangan lawan dirimu- stres, Nadia."


Guskov mengintip dari balik dinding, berdebar-debar dengan monolog mantan pacarnya.


Entah mengapa semua menjadi kacau seperti ini. Dia juga akan belajar untuk kembali mengatur hatinya yang sudah berantakan antara bingung dengan perasaan yang lebih condong ke Nadia daripada Milan. Dia  berjanji akan mulai setia pada Milan.


“Tapi aku gembira ketika bersamamu. Itu tak pernah kurasakan saat bersama orang lain, seolah kamu adalah setengah bagian diriku. Dan aku akan mendukung keputusanmu,” gumam Guskov saat dia menatap lampu gantung. Guskov meyakini itu keputusan terbaik dari pada menghadapi kebencian Nadia terus menerus.


Guskov dan Nadia duduk berjauhan sambil minum kopi. Mereka yang pada  awalnya canggung tetapi kedipan senyum ketulusan dari mereka satu sama lain, perlahan menghangatkan hati. Dan tersenyum penuh arti dengan sorot mata menghargai.


“Kalian di sini.” Mila yang baru masuk ruang keluarga, langsung beseri-seri. “Ah, sepertinya ada sesuatu yang baik. Tunggu, ya!”  Milan naik ke atas lantai dua, berganti pakaian, dan menaburkan parfum relaksasi pada dasternya dan kembali pada dua orang itu yang saling diam menonton TV.

__ADS_1


Milan duduk menempel di kiri suaminya, dan mengelus dada Guskov, dia meyakini suaminya tegang. Tatapan  Nadia dan Guskov saling bertemu, dan pada detik ketiga Nadi menatap TV di kirinya dengan mnggaruk pelipis.


Nadia mengembus nafas pelan begitu juga Guskov yang berkeringat dingin saat tangannya dalam genggaman tangan hangat istri. Guskob mengeratkan  genggaman di pangkuan Milan dengan melirik Nadia.


“Kemari, Nadia," panggil Milan.


“Apa?” Nadia menoleh ke kanan pada bibinya yang menggerakkan tangan agar datang. “Aku sudah Pewe, Bibi Mila.” Nadia tergugu saat Guskov menyipitkan mata tampak kaget.


“Cepat sini, atau aku bilang pada ayahmu bahwa kamu belum datang kemari.”


“Jadi, bibi yang menelpon ayah?” tanya Nadia kecewa setengah mati, dia sudah dimarahi ayah, walau tidak dengan  nada keras, tetapi penuh penekanan.


“Maaf, Nad. Kamu dalam pengawasan Bibi. Ayahmu menitipkanmu pada bibi selama di kota ini.”


Guskov mengatub bibir, jadi Nadia kesini karena perintah ayahnya dan bukan karena kemauan sendiri.


“Cepat, Nadia,” titah Milan. Nadia tak kuasa menolak titah orang yang lebih tua. Dia menghampiri duduk berjauhan, tetap bibi menepuk di kirinya, hingga dia sangat dekat bibi, jantungnya makin terasa perih, walau dia menepis perasaan sakitnya saat mendapati tangan mereka berpegangan.


Milan yang masih memegang tangan Guskov dengan tangan kanan. Lalu tangan kirinya meraih tangan kanann Nadia yang lunglai. Dia mempertemukan tangan dua orang itu hingga telapak tangan suami dan ponakannya bertemu dan dia menumpuk telapak tangannya menutup punggung tangan mereka di pangkuan. Milan membuang perasaan tak tenang di hatinya.


Nadia dan Guskov tersentak sampai duduk tegap saat merasakan telapak tangan familiar.


Nadia dan Guskov  merasakan keringat dingin di telapak tangan satu sama lain yang sama-sama gemetar. Mereka merasa tertekan tetapi tak bisa melepas itu karena Milan menahan kuat di pangkuan Milan.


Milan tersenyum menoleh kanan dan kiri bergantian, dia akan merekatkan dua orang ini.  “Tidak baik, loh, marah-marahan terus.”


Tangan kanan Nadia membeku, telapak tanganya menjadi sensitip pada tekanan tangan Guskov yang membuat Nadia makin tak karuan dan matanya memanas dan hati kian berkerut takut pada perasaanya, dan perasaan bersalah kian membordardirnya, pada bibi yang sangat baik. Bagaimana jika bibinya sampai tahu dia pernah berpacaran dengan Guskov?


“Tangan kalian dingin si?!” Milan membuat dua orang itu salah tingkah. Milan tak menyadari perasaan dua orang yang bercampur aduk itu.


Guskov tidak berani melihat arah Nadia. Bagi Guskov, kali ini Istrinya betul keterlaluan dan gila. Dia baru mulai bersikukuh untuk menjauh dari Nadia dan menetralkan isi hatinya, cobaan apa lagi ini. Guskov menarik tangan tetapi ditahan Milan.


“Ni aku ceritakan ya.” Milan  melirik bergantian pada dua orang itu yang melihat ke arah lain. "Aduh marahnya udah  dong.”


“Bibi kami tidak marahan, ah aku haus.” Nadia menggerutu sambil menarik genggaman kuat Bibi.


“Aku berharap ke depan tidak ada keributan lagi, ya?” Milan mengabaikan perkataan Kamila.


“Ya.” Nadia dan Guskov menjawab putus asa bersamaan. Sentuhan telapak tangan kedua mantan kekasih itu sunggu memukul perasaanya. Sentuhan yang dulu membuat nyaman tapi kini tidak yang justru menghantu hati dua orang itu yang makin gelisah.


Milan tersenyum  pada jawaban mereka. Itu berlangngsung sekitar satu jam, sampai Guskov beralasan ingin menggaruk punggung dan akan ke toilet, baru istrinya mau mengalah dan membebaskan tangan mereka. Guskov meninggalkan ruang keluarga dengan perasaan dongkol.


Milan melempar kepala ke sandaran kursi masih memegang tangan Nadia, gadis itu yang kini bersandar di bahu kirinya.


Dalam keadaan terpejam, Milan teringat pada setiap  sentuhan instruktur olahraga di tempat gym tadi, dia belum pernah merasa sesemangat itu, bahkan dengan Guskov. Apa karena itu, dia menjadi bersikap aneh seperti barusan, untuk menutupi rasa bersalah pada Guskov.

__ADS_1



__ADS_2