
Nadia menggoyangkan badan ke kanan-kiri dari belitan kain, "gerahhhh iiihhh," dan membuang kain itu asal hingga terlempar ke ujung tempat tidur Super King size.
Betapa berdebar hatinya setelah kepergian Guskov, pria itu sudah membuat Nadia merasa panas. Kini dia tengkurap ingin melindungi diri dari rasa gereget.
Dia tidak bisa mengontrol luapan kegembiraan setelah yang barusan Guskov lakukan di kamar mandi. Ya ampun benar ada ya pria seperti itu.
Hidungnya mengusek-ngusek sprei, dan menikmati bau parfum Guskov, seolah-olah dia seperti tidur di atas tubuh Guskov yang berbau kayu cendana.
"Muaah Muaah Muaahhhh!" Nadia berulang kali mencium kasur, dan menghirup dalam-dalam. "uhhh Pamannnn aku kangeeeeen."
Nadia pikir sangat menyukai bau pria, hingga dia merasa mabuk karena membayangkan malam pertama di sini. Saat nanti dia resmi menjadi istri Guskov, lalu para tetangga akan memanggilnya 'Ibu Guskov, Ibu Guskov'. Nadia terkikik membayangkan reaksi para tetangga di kampung.
Dalam impian Nadia kala remaja tidak pernah terpikirkan akan memiliki pasangan yang mendekati paras dan kelakuan yang nyaris sempurna seperti Guskov. Siapa yang tidak senang dengan keberuntungan ini, mendapat suami kaya, ini seperti mustahil.
"Aku mau memborong chiki, lalu membawanya kemari. Aku ingin melakukannya. Rebahan dengan aneka chiki. Dapatkah aku menuangkan se truk Taro ke tempat tidur? oh itu keren aku akan tidur, di atas keripik Taro.
Aku ingin 'rasa rumput laut'. "
Nadia menelan salivanya, lalu mata terbuka. Dia mengira sudah di atas chiki karena dia sudah mencium bau asin dari apa yang dibayangkan dan membuat perutnya lapar.
Sejak kecil dia sadar keluarganya kesulitan keuangan. Dulu di kampung setiap kali ayam bertelur, itulah kebahagiaan, karena saat itu keluarganya bisa makan enak. Ibu akan memasak satu butir telur, lalu dicampur secentong tepung bersama bumbu ajaib ala ibu. Setelah di goreng dan dibagi dua, setengahnya ibu berikan untuk Nadia, sementara setengahnya lagi dibagi lagi untuk ayah dan ibu.
Nadia ingin membahagiakan ibu, tabungannya baru terkumpul sedikit dari hasil blogger. Dia ingin segera membangun rumah untuk ibu. Jadi, ibu tidak khawatir mikirin biaya kontrakan lagi setiap akhir tahun.
__ADS_1
Lalu matanya kini terpaku pada bingkai foto di atas meja. Nadia berjalan ke meja rias, dan mengamati barang-barang Guskov.
Dia mengambil botol kaca, menari penutup berwarna silver dan membawanya ke ujung hidung untuk dihirup.Satu kali disemprot ke dada. Matanya terpejam dan menghirup nya berulangkali. "Apa aku boleh minta sebotol parfum ini? baunya manis ini cocok untukku."
Nadia menaruh parfum. Dia mengamati secara bergantian semua perawatan Guskov, pouch cream, botol protein otot. "Apa ini untuk sejenis nutrisi penambah masa otot? Kalau aku ikut minum ini, otot tanganku jadi ikut kencang, ya?"
Nadia meletakan botol vitamin lalu berjalan sambil memeluk foto seukuran buku. Pandangannya mengitari kamar bergaya ketimuran.
Dia menusuk sakelar lampu yang berjajar di dekat lukisan nyamuk, itu benar-benar lukisan seekor nyamuk. Nadia tertawa heran, calon suaminya sangat absurd.
Nadia terkesiap saat menusuk sakelar secara bergantian pada deretan sakelar, hingga nyala lampu bergantian, ungu, pink, kuning, terang, redup, sangat terang, semua ada.
Nadia akhirnya memilih lampu yang bergambar bintang bertaburan di langit-langit kamar. Langit kamarnya sendiri sudah indah bernuansa emas putih dan tulisan romawi berwarna hitam. "Kalau gini nikah besok mah ayuk, mas, aku betah disini."
"Ini foto kita, mas. Kamu memelukku dengan penuh kasih sayang, sampai saat itu aku berfikiran bahwa aku adalah orang paling beruntung dan paling bahagia, sedunia.
Aku ingin ke sini lagi, kebun teh wonosobo. Aku merindukannya. Bisakah kita bulan madu di sana? lalu makan nasi goreng dekat alun-alun.
"Terimakasih, mas, terimakasih. Mau memilihku yang banyak kekurangan ini untuk menjadi istrimu."
Nadia menggosok matanya yang basah.
Malam itu menjadi malam terbaik bagi Nadia, hatinya terus bergetar karena bahagia.
__ADS_1
💓
Guskov melangkah dengan pelan dan jantung berdebar saat memasuki kamar. Tangannya menggeser bingkai foto dari jari-jari Nadia, takut bila kacanya pecah dan menusuk Nadia.
"Aku kangen kamu. Sorry, karena aku egois, tak memberi kabar, dan kamu jadi berpikir negatif.
Mulai besok, kamu tidak akan pernah cemas lagi. Calon istriku, aku janji padamu. Nadia Adelia, manisku, sayangku, cintaku."
Kecupan halus mendarat dua kali di bibir Nadia. Guskov memperhatikan hembusan panas dari hidung mungil. Perempuan ini yang sudah membuatnya selalu khawatir, meskipun berada di dekatnya. Bagi Guskov, Nadia seperti seorang bayi, sangat rentan, yang harus benar-benar dijaga. Dia tidak mau melihat wanita itu menderita lagi setelah apa yang disebabkannya, seperti membohongi Nadia.
Sebuah selimut tipis dikeluarkan Guskov dari lemari dan menutupi tubuh menggoda kekasihnya. Sebenarnya, selimut di kasur sudah ada, tetapi tertindih badan Nadia. Ini saja menyelimuti sangat amat pelan, sampai Guskov menahan nafas, dan kening berkeringat dingin.
Pria itu tersenyum dengan penuh cinta, dan mengusap pipi Nadia dengan sangat lembut, menahan ditengah rasa gemas karena ingin menggigit bibir mungil lagi.
Foto dikembalikan di dekat parfum, di atas meja. Begitu Guskov menutup pintu kamar, dia langsung memukul udara dan melompat. "MOOOO! luar biasa. Rasanya luarrr biasa!" pekiknya dengan gemas dan hati bergetar. Dia sangat bersemangat, dan menutup mulutnya, lalu membuka pintu dan mengintip, untung Nadia tidak bangun.
Guskov menutup pintu lagi. Tangannya menyibak rambut ke belakang dengan gagah lalu berjalan kembali dengan langkah percaya diri. "Aku memang menawan. Nadia semakin dewasa, bertambah cantik, sampai aku malu apa dia masih mau menerima ku? Dia bisa saja memilih Ernest yang lebih muda.
Tau lah, pusing.
Aku akan mengambil alih pesta pernikahan Jefri!Hahahahah .... Akan ku kenalkan Nadia sebagai calon istriku, memamerkan pada rekan-rekan bisnisku."
Hanya baru dengan membayangkan saja, rasanya Guskov seperti mau serangan jantung.
__ADS_1
Guskov membuka pintu kamar tamu. "Ahhhhh Jefri ini gila! Aku tak sabar menyusulmu bulan madu!"