
Nadia menatap pantulan diri di cermin ruang ganti. Cahaya putih dari lampu neon menampakkan detail bulir keringat di wajah dan kening.
Wajah kusam semu-semu merah dan nampak lelah. Dia menatap seluruh tubuhnya dari atas ke bawah, kakinya yang polos tanpa alas kaki.
Kulit kenyal halus dan belang di bagian pergelangan kaki akibat sering tertempa terik matahari hingga terlihat seperti gelang. Dia memutuskan ke depan akan memakai kaus kaki panjang, agar lebih enak dipandang.
Nadia bersyukur atas kesehatan yang sempurna dari Tuhan Maha Kuasa.
Ini cukup untuk modal hidup ke depan.
"Saat orang dengan mudah mematahkan semangat, maka kita tidak boleh menyerah! Kakek Bramansyah berbuat baik, akupun harus membalas budi. Namun, jika Kak Vaya merendahkan harga diriku itu tidak boleh, dan tidak aku benarkan! Secara pribadi aku menolaknya! Aku memang salah tidak bisa mencegah itu terjadi, tetapi aku yakin tidak ada niat di hatiku menghancurkan keluarga Bibi Milan. Aku harus kuat, aku bukan perebut atau penggoda, aku bukan ular! aku selalu menjaga diri, bila sesuatu terjadi di luar kendali … itu bukan salahku! aku sudah menjauh, aku sudah menjauh dari Guskov!”
Nadia berhenti dari monolog, mulai mengatur nafas pendek menjadi teratur. Dia mengangguk-angguk sambil menatap netra zamrudnya, sampai baru sadar tenggorokannya sangat kering.
Setelah berbicara dengan diri sendiri ada kelegaan menyejukkan. Dia menolak kata-kata buruk dari luar, dan berkata kepada alam bawah sadarnya dengan 100 persen penuh keyakinan.
Kata-kata buruk hanya akan menimbulkan luka di waktu yang akan datang.
Dengan niat hatinya yang sungguh masih murni tanpa beritikad jahat, Nadia lalu tersenyum untuk diri sendiri. “Terimakasih, Nadia. Terimakasih diriku. Terimakasih untuk kerja kerasmu selama empat tahun ini.”
Merasa lebih baik, walau seperti ada paku linggis tertancap di hatinya, setidaknya dia sudah menjaga alam bawah sadarnya.
Dengan bergegas mengganti pakaian seragam yang sudah basah, lalu dimasukan seragam itu ke dalam tas. Dia berjalan ke arah pintu dengan terus mengatakan dorongan positif.
Dia teringat dengan perkataan seseorang, bahwa orang menyikapi semua keadaan hanya digolongkan menjadi dua. Menyikapi dengan positif atau negatif.
Positif akan membawa diri lebih baik. Negatif, kita akan semakin kehilangan kendali diri.
"Aku memilih positif! aku hebat! terserah orang berkata apa, yang penting aku hebat untuk diriku sendiri!" gerutu Nadia mengajak alam bawah sadarnya terus berbicara. "Nah, apa aku harus sedih karena celaan mereka, toh aku tidak diberi makan mereka, kalau aku sedih lalu tidak bekerja, mereka justru akan senang! Semangat Nadiaaaa!" teriak Nadia menggema di lorong. Dia membuka rolling door dan menutupnya kembali.
Ketika berbalik ...
Mata Nadia melebar, yailah, Reno sudah berdiri dibawah pohon ciplukan dengan duduk di corcoran. Nadia ingin tertawa sekaligus kasihan, begitu pria itu mendongak tampak wajah itu sumringah dengan ternganga.
“Kamu, lebih malam?” Reno sudah berjalan ke tengah parkiran. “Memang tidak bisa cari pekerjaan yang pulang sore, ini bahaya tahu malam-malam, aduh kamu ….”
“Reno stop, kenapa sih kamu? aku aja santai-santai, ya memang si kelewat malam.” Nadia berjalan ke arah gerbang. Pria itu tampak kehabisan kesabaran dan begitu geregetan.
“Nih, aku kan takut, kalau sampai ada laki-laki jahilia di dunia ini, tapi ya memang banyak si. Tidak semuanya berpikir normal dan waras. Dan untungnya aku waras dan normal. Kadang nakal sih." Reno terkekeh dengan menggaruk kening yang tidak gatal, "tapi dikiiiit," dia menggoyangkan telunjuk dan jempol yang terkatub di depan wajah Nadia, tidak tahu cara berbicara yang baik dan benar, di depan Nadia gimana!
"Apa aku terdengar nakal ?" batin Reno, merasa canggung luar biasa karena tatapan keingintahuan Nadia membuat jantungnya seperti habis lari maraton 1000 kilometer.
"Ya, maksudku takut ada yang 'gila' dan memanfaatkan keadaan, keadaanmu yang berjalan sendiri malam-malam. Maksud aku- tidak baik tanpa ada yang mengantar. Aku maksudku kalau aku mengantar kan, jadi aman.“ Reno meringis karena lidahnya terus menerus kesleo. Sepertinya ini lidah minta diurut atau senam lidah!
"Kenapa gadis ini polos banged si, mentang-mentang belum pernah ngalamin," batin Reno yang melihat Nadia mengangguk-angguk seolah menunggunya terus mengeluarkan pendapat lalu sekarang terlihat Nadia tersenyum.
"Tunggu, sepertinya Nadia sudah tidak sedih, syukur deh!" batin Reno kembali deg-deg ser, beruntung tidak sampai pingsan.
Reno sangat heran dengan perubahan drastis emosi Nadia.
"Apakah wanita ini sangat terpukul walau diluar tersenyum tapi di dalam menangis," batin Reno begitu ngilu, lalu tersadar dan menepis pikiran buruk! Dia lebih baik meyakini semangat Nadia. "Ya, Baguslah, sebaiknya begini."
"Terimakasih, Reno. Sudah mengkhawatirkan ku, yah, kamu sangat baik, ya?" Nadia menekuk leher ke belakang, dengan tulus berusaha mengurangi kecanggungan pria itu yang langsung mengangguk dengan cepat-cepat.
"Seperti husky! ya ampun manisnya," batin Nadia dengan gereget.
“Mau apa kamu ke sini?” Nadia meraih ponsel dari ransel, dan mengembalikan ransel ke punggung.
"Aku tadi habis dari tempat gym nya dicky, tetapi lalu diusir, si..alan padahal aku mau tidur di sana. Dia pelit banged hobinya menyendiri, padahal dulu dia tidak seperti itu. Sepertinya, dia punya pacar, masa aku mencium parfum perempuan di sana," ujar Reno mengadu.
"Ya, wajar sih punya pacar. Ya, dia kan secara sendirian di kota ini seperti katamu, ya, kan. Mungkin saja butuh sosok perempuan untuk berbagi keluh kesahnya."
__ADS_1
"Nah iya! apa- eh!? aku boleh berbagi keluh kesah denganmu, dong?" Reno mengangkat alis tinggi-tinggi karena tatapan ingin tahu Nadia. Dan wanita itu kembali menatap layar hp. "Sebagai teman! sudahlah aku menyerah kok, tidak akan mengejar mu lagi. Buat apa dikejar kalau tidak mau." Reno mendapat senyuman hangat dari Nadia.
"Oke."
"Beneran, kita bisa berteman mulai sekarang?" Reno menatap penuh harap walau Nadia tidak menoleh.
"Iya-iya, memangnya selama ini kita musuhan? engga, kan?"
Suara Nadia yang tenang dan percaya diri tanpa menyudutkan atau mengintimidasi, mampu melelehkan hatinya, hingga dia makin bersemangat untuk bersabar menunggu Nadia. Segala tentang Nadia begitu indah dimatanya, dia bahkan tidak mempercayai isu buruk di sosial media. Reno melirik Nadia sedang mengatur pesanan gojek.
“Nadia, kamu mau ke KH.Ahmad Dahlan? bukankah orang itu kasar padamu tadi siang? ups! maaf.”
Reno ketakutan dengan pernyataan barusan, ternyata ketakutannya salah. Nadia tidak berubah sedih tetapi perempuan itu tetap ceria. “Aku antar kamu, ya?! Sopir gojeknya laki-laki loh, bahaya, nah!?”
Mata Nadia menyipit. “Reno, mereka sudah terdaftar di perusahaan. Aku rasa mereka takkan berani kurang ajar, jika sampai pelanggan memberi bintang 1 kan mereka rugi dan kena SP.”
Reno mengerucutkan bibir dan membenarkan perkataan Nadia. “Ayolah, temanku, kita kan teman …. lagian sayang uangmu 25 ribu, ya ampun, kalau denganku gratis, lagian aku tidak mengeluarkan bensin bangak-” Reno meringis penuh harap, lalu lima detik berikutnya.
Mata Reno berbinar karena Nadia berjalan ke motor lalu memakai helm!Reno bergegas mengeluarkan motor dari parkiran dan Nadia menutup gerbang restoran.
“Terimakasih, Reno,” kata Nadia dengan tulus begitu duduk di jok dan memegang bahu Reno, terlihat aneh si, tapi mau bagaimana lagi.
“Sama-sama, Nadia. Jangan sungkan.” Reno mulai menjalankan motor perlahan dan setibanya di depan rumah yang dituju, mata Reno menyipit dengan satu alis terangkat. “Kamu yakin ke sini? gerbangnya tutupan sepertinya-”
Reno terdiam karena anggukan Nadia, wanita itu memberikan helm dan menekan Bel sampai dibukakan security.
Nadia masuk ke dalam baru Reno mulai jalan. Setidaknya Reno sudah berpesan agar Nadia menelpon bila ada apa-apa.
Dengan hati sesak, Nadia menapaki halaman dan berhenti, mematung di depan pintu.
Security bilang jika Bibi Milan dan Kak Vaya tidak di rumah. Meskipun demikian, dia tetap merinding, seakan malam yang menggemparkan dan malam pengusiran ditampilkan ulang di depannya.
“Nadia hebat, Nadia hebat.” Nadia membuang nafas kasar dan menelan liur yang berproduksi banyak, hingga dia berulang kali mengecap bibir.
Wajahnya pucat pasi seperti melihat hantu.
Keringat dingin mulai bercucuran dan Nadia meraba apapun di sekitarya.
Dia melorot dan putaran ingatan kemarahan Bibi Tersayang merajamnya.
Tangannya bergetar meringkuk, menutupi diri dan menutup rapat-rapat, tetapi dia tetap menggigil hebat.
Butuh waktu cukup lama, melawan dirinya.
Suara dentingan jam menyadarkan Nadia. Dia melirik jam 11 malam, dia dengan linglung bangun, dengan kaus basah dan mulai melepas jaket, menuju dapur dengan kaki terseret, begitupun tasnya diseret, tenaganya hilang entah kemana.
“Yah, tidak ada siapa-siapa. Sebaiknya, aku cepat-cepat bebersih dan pulang sebelum mereka sampai rumah," lirihnya.
Rumah telah di sapu, kecuali : kamar Kak Vaya, kamar Bibi Milan, yang terkunci.
Kamar di sebelah TV juga tidak dipikirkan. Nadia tidak siap untuk membersihkan kamar di sebelah TV, melihat pintunya saja sudah mau pingsan.
Tadi, saat menyapu di depan TV, dia sama sekali tak menghadap ke kamar itu, membelakanginya saja membuat merinding. Nadia memilih menolak ingatan dan menutup rapat-rapat.
Hanya perlu minum pil KB, semua akan beres ke depannya. Dia ingin melupakan kepahitan terbesar dalam hidup lalu terus melangkah maju karena hidup masih panjang, dan syukur jika masih diberi umur panjang.
Kantuk begitu tidak tertahankan, saat Nadia mau mengepel di lantai dua. Baru saja Nadia menutup pintu kamarnya, dia duduk di balik pintu dengan menatap pel dan ember di depan dengan aroma pewangi lantai lavender, dia mulai teringat cucian piring sudah menumpuk.
“Kak Vaya masak sendiri? sepertinya tidak bisa masak, deh. Atau Bibi Milan yang memasak, ya, sepertinya.” Nadia menutup mulutnya yang berulang kali menguap.
Dengan cepat mengibaskan kepala untuk membuang kantuk, tapi matanya begitu berat, dan hidungnya sedikit meler flu, pasti karena angin malam saat di motor. Nadia menatap jam 12 malam kurang 15 menit.“Hanya tidur sebentar, 15 menit.”
__ADS_1
Dia membenamkan wajah di lututnya. “Mata kalau sudah ngantuk, mau duduk dimanapun nikmatnya luar biasa,” gumamnya melantur. Dia hobi meringkuk seperti bayi, tak peduli duduk maupun tidur, itu posisi ternyaman.
*
Mobil Nyonya Bram memasuki rumah Milan, Pak Heru menginjak rem di depan Lobby. Tuas di oper ke N, lalu menarik rem tangan, dia keluar dan berlari mengitari mobil dengan tergesa-gesa untuk membuka pintu kiri mobil.
Pak Heru memicingkan mata pada Nyonya Bram dengan tubuh yang sudah mulai menyusut di usianya, masih melangkah dengan lincah, meski demikian wanita dengan rambut selalu dengan cat merah yang digelung, selalu membawa tongkat.
Tongkat untuk menyabet orang, Pak Heru sudah terbiasa disabet nenek galak menjengkelkan ini.
Pak Heru sudah memarkirkan mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumah, nah, perempuan itu sudah tak terlihat di tangga. Sungguh lincah.
Di dapur Pak Heru membuatkan teh, dicampur obat tidur. Hanya begini cara terbaik untuk menidurkan nyonya. Jadi, tidak akan banyak menyusahkan.
Hal ini hanya dilakukan Pak Heru ketika Nyonya ada masalah besar. Atau saat wanita itu melamun dengan wajah mau mengumpat, baru saat itu Pak Heru memberi obat tidur.
Lagi pula dia berniat baik, pasalnya bila wanita tua itu kurang tidur, keesokannya lalu darah tinggi wanita itu langsung kumat.
Pak Heru masuk kamar, mendekati nyonya dan meletakan cangkir teh dengan kepulan mengguggah jiwa siapapun yang melihatnya.
Nyonya Bram sedang mengetik di laptop sambil berbicara dengan petugas Laboratorium.
Nyonya Bram sedang naik pitam, lalu mengusek rokok yang mengepul di asbak. Padahal alasan petugas masuk akal menunggu surat kepindahan.
“Heru! kau gimana, sih!? kerja saja yo, enggak pernah becus. Kaya gitu minta gaji naik! Kirim orang! bawa anak dan istri Fahri ke luar kota! lakukan itu sebelum pagi,” teriak Nyonya Bram dengan naik-turun begitu marah, setelah memutuskan panggilan dan membanting ponsel di buku.
Heru berharap ponsel itu mati, lalu di buang. Saat itu maka dia akan menservis ponsel rusak ke konter, lalu untuk anggota keluarganya. Dengan biaya sedikit untung berlipat, ya selama ini begitulah, lumayan.
“Nyonya, Fahri sedang mengurus surat pindahan putra-putrinya dari sekolah.”
“Hei, kalau sampai ada yang mengusut bahwa NADIA MASIH PERAWAN, dan hasil tes itu TIPUAN. awas ya! awas ya, langsung! kau ku sunat lagi,” desisnya sambil menunjuk-nunjuk dengan geram ke organ reproduksi Pak Heru menggunakan tongkat dan dengan suara sangat tinggi.
“Ampun, nyonya! habis dong,” celetuk Pak Heru melongo dan langsung menutup di bawah pinggul, nyatanya hal itu semakin membuat nyonya makin geram, dia menghindar ....
Wshhh-Bet!
Pak Heru meringis panas linu di tulang kering. “Baik! Nyonya, saya akan urus sekarang. Minum dulu chamomile nya, Anda lupa belum minum malam ini.”
kau tidak sedang mengata-ngatai aku pikun, kan?” satu alisnya terangkat tinggi dan satu sudut bibir berkedut.
"Tidak, Nona. Eh Nyonya! Aku tidak bilang begitu Agh!!" pekik Pak Heru, linu menjalar di perutnya yang kena tonjok tongkat.
Nyonya Bram lalu meraih secangkir teh, dan meringis, dia hafal setiap gerakan menghindar Pak Heru, tentu saja sabetannya selalu lebih cepat.
Semua yang dikerjakan Heru tidak pernah beres. Dia menyeruput teh, dengan penuh kenikmatan, melupakan sejenak para anak perempuannya yang hobi keluyuran, tidak di rumah, tidak di sini, selalu saja mereka jarang di rumah.
Di luar pintu, Nadia mengangkat ember berisi air dan kain pel dengan hati-hati, menjauh dengan cepat tanpa menimbulkan suara.
Butuh waktu untuk cakram otaknya menggiling informasi yang batu didengarnya, yang dia kira ada pencuri masuk. Mata Nadia berkedip, mencerna putaran cakram di otak. Seketika bolam lamou cerah menyala di otaknya. Aha! tergambar jelas bayangan.
“Palsu?” Nadia melotot dan langsung tersenyum kegirangan. “AKU MASIH PERAWAN, YA TUHAN!” batinnya dan meringis seperti orang o’on tanpa sadar menjatuhkan ember dari depan dada.
Tumpah dengan suara keributan dari tongkat besi menyentuh lantai dan ember bertubrukan lantai.
Air kotor berceceran, matanya masih terus berbinar meraih kain lap di depan pintu kamar sebelah.
Dan saat berbalik ada dua orang sudah berdiri di depannya. Mata Nadia berkedip kebingungan dan refleks berdiri menatap nenek dan laki-laki berpakaian formal malam-malam, apa pria itu baru saja pulang dari menghadiri undangan makan malam, hingga masih memakai jas, padahal nenek di depannya memakai pakaian tidur.
"Apakah, Nadia mendengar dan menguping pembicaraan kami?!" batin Nyonya Bram diliputi kengerian.
"Sejak kapan ada gadis ini di rumah? kok aku tidak melihatnya tadi, ya?" batin Heru mencoba mengingat kembali dengan hati gelisah.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan di sini? kenapa senyum-senyum, apa kau gila? dan apa ini?” Nyonya Bram mengepalkan tangan di depan gadis muda oon di depannya yang sudah mengotori rumah putrinya. “Nadia, kamu benar-benar, ya!!”
Nadia meringis bingung dengan alis menempel ke mata, kenapa wanita ini tahu namanya?