
Nadia sudah bersiap dengan ransel besarnya. Dia berjalan mengendap-ngedap melewati kamar Kak Vaya. Begitu menyentuh tangga, dia mengembus nafas lega dan berjalan kembali normal.
Sesampai di bawah mengendap-ngedap lagi karena pamannya sudah berpakaian rapi sedang duduk di depan tv, beruntung posisinya membelakangi.
"Yeah berhasil!" batin Nadia mengembus nafas lega dan langsung berlari melewati halaman dan berakhir di pinggir jalan menyebrang jalan untuk menunggu angkot. Akan tetapi tidak biasa-biasanya cukup lama, belum ada yang muncul.
Pintu gerbang kembali terbuka, Nadia celingak-celinguk dan bersembunyi di dalam estalase kaki lima milik penjual rokok. Sumpah demi apa, dia tidak mau melihat paman saking malunya.
"Pak rokok mint satu bungkus, ya." Pak Kris mengeluarkan uang lima puluh dari dompet dan menyodorkannya pada penjual yang terlihat kesulitan berjalan di gerobak. Tanpa sadar, dia memergoki keponakan bosnya. "Mbak Nadia? sedang apa di sana? bukannya harus kuliah."
Nadia tertawa kecil, menggaruk telinga sambil bangkit dari tidur. "Ah-ah tadi puyeng pak, jadi, istirahat sebentar," kata Nadia tersenyum paksa dan melirik penjual yang sudah sekongkol dengannya.
"Be-benar, tadi sempat mau jatuh," kata penjual menggaruk rambut, tergagap karena jadi ikut berakting.
Telepon berdering, Pak Kris yang adalah si sopir menerima telepon dari tuannya dan menerima instruksi, dia memasukan telepon ke dalam saku dan menerima kembalian dari penjual.
"Ayo, mbak Nadia, Tuan Guskov sudah menunggumu, sayangnya beliau takkan membiarkan kamu melupakan janji untuk menemani fisoterapi." Pak Kris megangguk dan sedikit tersenyum saat mendapati Nadia cemberut dan langsung berlari menuju mobil.
Sepanjang perjalanan Gukov dan Nadia, sama-sama membisu dan melihat ke luar jendela. Tangan Guskov menumpuk di atas tangan Nadia, dan menahan tangan mungil yang begitu dingin saat akan menariknya.
Sesampai di klinik fisioterapi, mereka menunggu giliran dengan duduk jauh dari beberapa pasien fisioterapis lain.
Guskov tidak dapat menahan gemas dan akhirnya menoleh ke Nadia yang duduk di sebelah kanan. Wajah manis itu sudah merah seperti tomat. "Apa ada sesuatu, Nadia? apa yang kau sembunyikan dariku?" Guskov gemas karena wanita itu tak mau menghadapnya, jika tidak ada orang pasti dia akan menghadapkan wajah itu dan menatap matanya untuk mencari kebenaran.
"Terimakasih untuk selimutnya," kata Guskov dengan nada sedikit menyindir, dan menyadari wajah itu makin memerah. "Ada apa Nadia? kamu melakukan sesuatu saat aku tidur?"
"Tidak," jawab Nadia dengan cepat dan geleng-geleng. Lalu menarik pandangan dari sorot curiga paman dan jatuh ke dada kokoh itu. "Aku tidak melakukan apapun."
"Yakin? kenapa kau terlihat menyembunyikan sesuatu? apa kau mencium bibirku diam-diam?" Mata Guskov kian nyalang dan refleks menangkap tangan mungil yang akan memukul dadanya saat kepala itu masih menggeleng dengan cepat. "Oh, jadi apakah aku yang mencium-mu?"
"Pamannnn, tidakkkk," geram Nadia jadi teringat tangan paman yang sudah kurang ajar, dan kini menatap pamannya saat tubuh sendiri sudah bergidik. Panas kembali terasa di dada bekas sentuhan dan perutnya kembali sakit. Nadia refleks melepas diri dari tangan Guskov, untuk duduk tertunduk.
"Sepertinya, aku yang melakukan kesalahan di sini," kata Guskov dengan suara rendah. "Apa aku melakukan sesuatu fatal, misal aku mengorok?!" mulut Guskov ternganga, citranya jatuh apalagi kini Nadia tertawa riang.
"Oh jadi aku mengorok?"
"Iya!" Nadia lalu tertawa malu-malu, dia lebih baik berbohong. Tapi senyum itu lalu pudar teringat pada bibi Milan yang belum pulang beberapa hari ini. Dia masih sibuk memikirkan siapa pria itu.
*
Selesai fisioterapi Nadia turun dari Mercedes Benz hitam, dan melirik sorot kesedihan di mata Guskov. Pria itu menyuruh sopir membawanya ke kantor, pasti untuk Bibi Milan.
Dada itu seperti terbakar, mengapa harus cemburu. Nadia mengutuk diri sendiri sepanjang menapaki paving, sudah waktunya perasaan terlarang ini berakhir. Lagipula paman sangat mencintai Bibi, tidur saja memimpikan Bibi dan tangan kurang ajar itu pasti mengira sedang menyentuh Bibi.
__ADS_1
Nadia menggigit bibir dengan getir, ternyata dirinya begitu menjijikan. "Maafkan Nadia, Bibi. Aku berjanji akan melupakan paman." Rahang Nadia mengeras, mere..mas tangan di paha kuat-kuat untuk bertekad menghentikan ini semua, tak peduli jika pamannya kembali cemburu, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dari dosa besar ini.
"Nadia!!"
Suara pria tengil kembali muncul, Nadia makin mempercepat langkah tak mau berbicara dengan kapten basket tengil.
"Hei, apa kamu tak menjawabku?" Reno merangkul bahu Nadia, dan ditepis Nadia, gadis itu tak menjawab dan tak menengok.
"Dicky, ya ampun dia begitu tak menganggap kita ada," kata Reno pada teman di sebelah kanannya yang sibuk dengan ponsel.
"Nad, Nad, sampai kapan kami menolak Reno, sudah tujuh bulan kasih dia kesempatan napa," kata Dicky datar, sementara tangannya sibuk membalas pesan Milan, dia menatap foto hasil USG. Dicky frustasi apa yang harus dikatakan pada orangtuanya.
Pendapatan dari tempat Gym sangat kecil, bukankah dia harus mencari pekerjaan lebih untuk biaya persalinan Milan nanti. Walau, Milan orang kaya, tetapi itu adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ayah dari anaknya.
Dicky memasukan ponsel ke dalam jaket, melirik pada Nadia dan Reno, kini sahabatnya itu merebut ransel Nadia yang besar.
Dicky bergidik pada Nadia, yang benar saja mengapa seorang perempuan membawa ransel besar seperti pria saja. Sangat tidak fashionable. Seharusnya, seperti Milan cantik, anggun, lemah-lembut, pikirnya.
*
Jam istirahat Dicky dan Reno kembali mendatangi Nadia dan Sera di kantin yang suasana di kantin lumayan lenggang. Sebagai wakil kapten basket, Dicky lebih hobi berteman dengan Reno yang adalah kapten basket. Ya, selain alasan lain, karena Reno selalu membayarkan makanannya.
Nadia hampir menghabiskan sotonya, ketika matanya terpaku pada jam tangan Dicky, dia jadi teringat pada tangan yang memegangi pinggang Bibi Milan.
Kringgg- Ponsel Nadia bergetar.
"Hallo, assalamualaikum ayah?" Nadia berbicara di telepon, sambil mengamati jam tangan Dicky ... pria itu selalu sibuk dengan ponsel. "Apa? ayah sudah di tempat Bibi Milan?" Mata Nadia menyipit suara ayah jadi tersamar karena suara batuk-batuk Dicky.
"Pelan-pelan, makanya kalo makan nggak usah mainan hp." Reno terlihat khawatir pada Dicky.
"Apa ayah? tidak dengar. Ah itu yang batuk temannya Sera. Nadia nggak kenal kok," kata Nadia beralasan, sikap posesif ayahnya kembali lagi, saat itu juga Nadia mendapat tatapan tajam dari Nadia dan Reno juga Sera.
"Kenapa aku yang telepon Bibi Milan? ayah saja, aku takkan pulang ke rumah bibi. Aku pulang malam, jadi langsung ke kos. Tidak ada angkot malam ke rumah Paman Guskov." Mata Nadia kembali menyipit pada Dicky yang kembali batuk-batuk.
"Ya, ini hari pertama masuk. Sudahlah ayah, besok aku ke sana. Ini hari pertama Nadia masuk kerja. Tidak akan ada apa-apa, jam sepuluh malam di sini ramai. Apa? Ernest ... Kan, Ernest teman Shelin, ya wajar datang ke kos. Sudahlah ayah jangan khawatir. Nadia mau masuk lagi. Sudah yah??? Asalamualaikum ayah."
TUT.
Tiga pasang mata menatap nya tajam. "Apa?" tanya Nadia.
"Ayahmu galak ya?" tanya Reno memasukan pentol bakso terakhir.
"Sangat galak, kalau beliau melihatmu dekat-dekat, bisa-bisa ayah mengambil golok.Aku serius, Reno. Silahkan coba kalau penasaran," kata Nadia tersenyum kecut, dia tahu betul ayah kandungnya yang memegang aturan begitu ketat.
__ADS_1
Reno mengembus nafas kasar. "Kalau begitu backstreet dong?" Reno menyeringai. "Ayuk jadi pacarku."
"Palingan juga ditolak lagi." Sera tertawa mengejek, disambut sorot tajam Reno. Dulu Sera ketakutan pada dua pria itu, ternyata aslinya orangnya baik.
"Aku mau fokus nyelesaiin skripsiku. Bener kata Sera, aku ga minat pacaran. Pacaran nggak bikin perut kenyang," ujar Nadia saat mendapati Dicky terus menatap ke arahnya tak seperti biasa.
"Kamu tinggal di tempat tantemu? di jalan apa, Nad?" tanya Dicky mencoba bersikap wajar. Begitu mendengar nama Milan-Guskov, dadanya mulai bergemuruh, mengapa namanya bisa sama.
"Jl. KH. Ahmad Dahlan. Kenapa?" ujar Nadia bingung.
"Apa kau mau menusuk dari belakang? dan mengencani Nadia?" celetuk Reno.
"Apa-an sih. Dia bukan levelku," sahut Dicky. Kini dia tahu alamat itu, dan akan memastikan apa itu beneran Milan kekasihnya atau bukan. Jika memang benar, artinya dia mengantongi alamat rumah Milan, dan mungkin akan menemui Guskov agar menceraikan Milan.
"Aku juga tidak mau denganmu, hih," balas Nadia.
"Lalu kenapa tanya-tanya?" Reno lalu menghabiskan minumannya dan melirik jam tangan. "Ah kita latihan," melirik Dicky yang disambut anggukan.
"Ya penasaran aja, ada rumah kenapa ngekos," sahut Dicky dengan malas lalu pergi disusul Reno, setelah Reno sempat menggoda Nadia.
*
Malam telah larut, Nadia mengelap keringat dengan lengannya. Badannya sudah letih tinggal tiga ember lagi perkakas kotor akan ditanganinya. Dia menyabuni gelas-gelas kotor. Setengah jam berlalu jam setengah sebelas malam, dia terduduk lemas di ruang ganti seragam.
"Kenapa ayah pake aacara ke sini? pasti bakalan sering kena marah. Ini artinya Guskov menemui ayah pertama kali." Nadia tersenyum miris, sebentar lagi ulangtahun ayah, seharusnya setahun lalu hari ini adalah impian untuk mengenalkan Guskov pada ayahnya, tetapi rencana tak seindah kenyataan.
Keluar dari resto dan menguncinya, Ernest sudah duduk di ujung halaman. "Sudah selesai?" Ernest mengulurkan helm pada wanita yang memakai selop dan jaket sepanjang paha.
"Aku kan bilang, kamu tak perlu datang ke sini." Nadia membonceng Ernest setelah memakai helm.
"Bahaya malam-malam."
"Ini hanya 500 meter, takkan ada yang jahil, lagian banyak tukang jual nasi goreng."
"Pegangan, Nadia."
"Ini sudah."
Ernest memindahkan tangan Nadia, dan menahan untuk tetap di perut Ernest, tetap wanita itu menarik tangan hingga hanya berpegangan pada pinggang.
"Yakin, Nad? kamu bisa jatuh. Pegang yang benar, kalau kebawa angin gimana?"
Nadia tertawa diikuti Ernest, tetap saja, Nadia hanya memegang pinggang itu menjaga tetap untuk tidak menempel punggung sahabatnya.
__ADS_1
Tetapi ..m