Paman I Love You

Paman I Love You
PILY 35 : APA KAMU JUGA SELINGKUH?


__ADS_3

Milan miring ke kanan, hatinya mulai berdebar dan mencium sesuatu tidak enak, hanya sebuah insting wanita.


“Aku mendatangi tokonya tiap berbelanja kebutuhan konsumsi kantor, kamu tahu itu bukan tugasku, dan entah tiap kali kamu beralasan tidak akan pulang, aku membuang kesepian ku dengan berbelanja apapun di toko itu. Dan rasanya sangat menyenangkan, Milan.”


Guskov menyeringai dan melirik ke Milan menunggu reaksinya. Dia kembali menatap jendela, seolah ada hal yang menarik di luar jendela, selain panasnya siang ini seperti hatinya yang panas setelah Milan menceritakan mantannya, jadi dia juga memberi kejutan sama seperti Milan yang mengejutkannya dengan alasan dibalik sikap aneh Milan selama 6 tahun pernikahan. Ini sungguh pukulan telak baginya.


"Mengapa aku harus sedih merana sendirian?" batin Guskov.


“Apa maksudmu?” Milan menyipitkan mata dan meremas gaunnya, menatap punggung kokoh suaminya. “Kenapa kamu jadi membahas keponakanku. Kau mau balas dendam  karena aku menceritakan Bobi lalu kamu mengarang cerita karena kau mau membuatku jadi  makin marah?”


“Tidak, Milan, aku jujur. Buat apa aku mengarang?" Guskov tertawa getir.


"Milan, karena kamu jarang pulang, hmm aku bukan menyalahkan mu, sih. Aku juga butuh teman mengobrol dan ingin ada seseorang yang mau mendengarkan ku?”


“Dan kau mengobrol dengan Nadia, sebelum Nadia masuk ke dalam rumah kita? Apa itu alasan Nadia dan kamu bersikap aneh saat Nadia ke rumah pertamakali? Ya kalian hanya saling mengobrol, kan?”


“Aku belum selesai Milan.” Guskov membalikan kursi roda dan tersenyum masam, menatap kegeraman istrinya. ”Dan aku mulai berbohong pada ponakan mu bahwa aku masih single.”


Guskov tersenyum puas mendapati keterkejutan Milan hingga bibir istrinya terus berkedut bahkan tubuh itu sampai gemetar, entah mengapa ini sangat menghibur hatinya.


"Aku akan membuktikan padamu bahwa bukan hanya kamu yang bisa berbuat semaunya.


Aku juga bisa melakukan apapun, tidak seperti selama ini yang selalu mencoba bersabar dan diam karena kamu selalu menganggapku tidak ada, dan keluargamu beberapa kali merendahkanku, benar katamu bahwa aku hanya ikut menumpang pada keluarga Bramansyah.


Ya memang benar, tetapi aku bisa menerimanya saat itu. Tetapi, kini dengan perkataanmu jika kamu itu tidak pernah memiliki perasaan terhadapku?! apa kamu bercanda, Milan?! kamu sangat keterlaluan aku menjadi muak melihatmu. Apa bahkan hanya setitik cinta darimu, aku tak bisa mendapatkannya, Milan?" kata Guskov dengan nada tinggi yang lepas. "Bahkan aku bisa mendapatkan dari keponakanmu!"


Milan tertawa dengan getir dan makin meremas tas Hermes.


“Milan, aku terus mendatanginya tiap malam, aku seperti menemukan tempat persinggahan baru dan rumah baru? aku mulai mengajaknya menonton, dan bahkan kami ke luar kota bersama setelah kami jadian, kau mau tahu itu enam bulan sebelum Nadia ke rumah kita." Guskov tersenyum kegirangan untuk menutupi rasa sakitnya. Menatap lekat-lekat pada mata Milan yang memasang wajah merah padam, kamar itu memang gelap, cahaya siang dari luar jendela menyinari istrinya cukup sampai tonjolan di keningnya istrinya begitu jelas.


“Apa tujuanmu menceritakan ini padaku, Guskov?”

__ADS_1


“Sepertinya pernikahan ini hanya  formalitas, kan? lebih baik kita buka-buka an saja, menyengkan, kan."


"Kamu benar-benar gila, Guskov!"


"Dan aku ingin bertanya, siapa pemuda yang kemarin kamu jemput di kampus? Aku baru ingat itu pemuda yang sama dengan yang  mendatangi kita di gerbang rumah? Dan itu pemuda yang mencium pipimu bahkan saat aku belum siuman?!!! Ah apa itu yang namanya BOBI?" Guskov memindai tatapan Milan yang tajam kaku,  seakan ada sesuatu di dalamnya yang belum dia ketahui.


"Dari mana Guskov tahu banyak soal Dicky?" batin Milan was-was.


“Aku akan membuat perceraian ini cepat selesai, dan kau bisa meneruskan rumah asmara barumu dengan keponakanku.” Milan beranjak dari kasur.


Guskov  menggerakkan kursi  roda dengan cepat untuk menghalangi istrinya. “Mengapa kamu terburu-buru? Kita belum selesai dan kamu belum menjawab siapa pria itu? Mengapa kau bisa mendatanginya untuk tipe orang cuek sepertimu? Ah aku ingat itu teman Gym KAMU, KAN?!”


Milan merasakan sesak di dada, dia tidak mau sampai Guskov  mengetahui semua.


“Kenapa wajahmu berubah pucat istriku?! Apa dia spesial?” Guskov berkata asal dengan senyum menyindir, tetapi bahasa tubuh istrinya sungguh bukanlah yang dia harapkan. “Jangan bilang kau memiliki hubungan dengannya, Milan!?” Guskov menatap Milan makin berapi-api, meski mendapati gelengan kepala  Milan tetapi  tatapan itu. Guskov mulai menyadari itu tatapan penuh kebohongan.


Milan gemetar melewati suaminya yang memasang aura menakutkan seakan siap meledakkan kemarahan. Dia berusaha menghindarinya tanpa menunjukkan ketakutan, lalu menggoyangkan gagang pintu berulang kali.


Milan tertawa pelan dan mendesis tetapi dingin menjalar di punggungnya, “Itu asli, kau ingat saat beberapa hari kamu baru siuman? banyak yang kamu tandatangani, kan?”


“Itu-" Guskov mencoba mengingat. "Kamu bilang itu hanya persetujuan anggaran operasional perusahaan!?” Guskov baru kali ini mendapati Milan meringis dengan menggigit bibir bawah dengan senyuman menjijikan itu.


Milan tertawa licik dan bergidik, dia tidak yakin bisa bertahan lebih lama di sin. “Ups! kan kamu tidak membaca suratnya sampai kebawah, dan tapi itu tanda tanganmu asli. Sekarang cepat buka pintunya. Dan, Guskov karena kamu yang berselingkuh terlebih dulu, kamu tidak akan mendapatkan apa-apa.”


“Apa maksudmu dengan ‘aku berselingkuh lebih dulu’ ?  Apa kamu juga berselingkuh?!” Guskov menggertak dan menggerakkan kursi rodanya ke arah Milan dengan tubuh bergetar karena marah.


Milan mengulurkan tangan tetapi tangannya terlihat tremor tanpa bisa terkontrol dan kepalanya sakit, dia terus berpikir untuk mencari cara keluar. “Berikan kuncinya, atau kamu takkan bisa menemui anak ini.”


Guskov mendesis, dengan kesal terpaksa memberikan kuncinya. Dia menatap penuh kebingungan pada nasib anaknya saat Milan memutar kunci. Bukan pembicaraan seperti ini yang diharapkan. Seharusnya dia tidak menyudutkan Milan.


“Guskov, sebaiknya kita membuat ini mudah, karena ini,” Milan menunjuk perutnya, “ini bukan darah daging mu,” sindir Milan dengan seringai penuh,  dengan sekali kedipan mata kanan lalu cepat pergi.

__ADS_1


Seakan-akan Guskov merasakan dirinya dilempar ke laut dan terbawa badai, tenggelam tanpa bisa mencapai permukaan air, menelan air, menyakitkan dan begitu perih, tetapi ombak besar itu tak pernah berhenting, dia terombang-ambing.  “Tidak mungkin.” Kekecewaan naik ke ubun-ubun, dia  mengejar Milan.  “Katakan, itu tidak benar, Milan! itu anakku!”  sampai di ruang tamu, dia melirik Reno dan Shelin yang menatap ke arahnya dan makin membuat Guskov geram. 


Guskov mendekati Milan yang berhenti di serambi  saat menatap Nadia yang matanya  sangat merah dan seketika pikiran Guskov teralihkan dari Milan pada Nadia yang terlihat kacau, lagi-lagi dia tak bisa menjaga hati Nadia?


“Pasangan selingkuh, puaskan dirimu, senang ya?!” cibir Milan pada Nadia yang akan masuk  ke dalam rumah.


“Bibi, kami hanya dijebak,” kata Nadia pelan ingin menjelaskan, tetapi  kata-kata tertahan di tenggorokan karena ada Shelin dan Reno yang menatap kearahnya seakan penuh tanya yang makin membuat Nadia begitu malu seperti ditelanjangi.


“Diam! kalian membuatku geli, hah. Bilang ke keluargamu jangan pernah muncul dalam pertemuan keluarga Bramansyah!” Milan menatap tajam ke Nadia dan Guskov, lalu melihat ke lebih jauh pada dua teman Nadia. Dia geleng-geleng masih tak percaya. Milan menuju mobil, dan pada saat yang sama sebuah motor vario ungu baru tiba di halaman.


Membuat Milan menyipitkan mata  pada postur tubuh itu dan terlebih setelah melepas helm.


"Dicky? Untuk apa di sini," batin Milan saat bertatapan dengan Dicky.


"Milan? kamu diam-diam masih menemui Guskov," batin Dicky dengan dada yang terasa panas, terlebih pada tatapan empat orang itu, tapi sepertinya Milan diserang mereka. Mata Dicky menyipit pada Guskov yang juga menatapnya dengan tajam.


"Si..al sepertinya Dicky marah padaku," batin Milan dan bergegas menuju mobilnya melewati Dicky, terasa aura pacarnya itu mengintimidasi.


Di dalam mobil, Milan menyalakan mesin dan melirik Dicky yang berbicara dengan mereka tapi terlihat tak bergegas masuk ke serambi dan sesekali melihat ke arah mobilnya


Milan mulai melajukan  mobil sambil mengetik dengan suara, pesan ke Dicky agar segera pergi menyusulnya. Dia sedang merasa gila dan butuh dukungan untuk menenangkannya. Tanpa sadar air matanya mulai berjatuhan dan Milan sesenggukan memukul-mukul tombol di pintu dengan lengan.


"Betul ini yang kuinginkan. Nadia dan Guskov! tetapi kenapa? kenapa rasanya seperti ini?" Milan tidak suka saat Guskov menyebut nama keponakannya. Dia merasa sakit, karena Guskov bilang menemukan cinta lain!


"Aku tak percaya, pasti kamu hanya mencintai aku, kan!" teriak Milan sambil menyalakan musik ke volume maksimum.


"Kau hanya mencintaiku, Guskov! kau hanya mengamumiku!" Milan sesenggukan dan berkali -kali mengelap embun di mata yang menghalangi pandangannya.


"Wong edan! emang dangdutan keliling apa lagi nanggep hajatan," sembur penumpang sepeda motor di belakang mobil Milan.


"Orang kaya baru kali, bu. Sudah. Memang mungkin lagi sena-senangnya punya mobil baru. Doakan saja Bapak bisa beli seperti itu, yo, Bu," sahut bapak pengemudi motor sambil terkagum-kagum melihat mobil mewah Pajero.

__ADS_1


"Ya, aamiin, Pak. Tapi mau kerja dua puluh tahun dan beli yang bekas juga kayanya nggak kesampean. Mimpi ojo ketinggian, ya, Pak. Kalau jatuh sakitnya, duuuh."


__ADS_2